NovelToon NovelToon
Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.

Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.

Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.

Mampukah mantan ku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Awal Mula

Matahari baru saja mengintip dari balik perbukitan Desa Sukamaju, tapi Bumi sudah berdiri di depan cermin retak yang menggantung di dinding anyaman bambu rumahnya. Rumah peninggalan orang tuanya itu sudah tampak ringkih. Atapnya banyak yang bocor kalau hujan, dan tiang penyangganya sudah agak miring. Bumi menghela napas pendek, lalu membenarkan posisi kaos oblongnya yang sudah mulai pudar warnanya.

"Bumi! Woii, Bumi! Udah siap belum?" teriak sebuah suara dari luar pagar.

Bumi bergegas melangkah keluar, mengunci pintu kayu rumahnya yang sudah agak seret. Di depan pagar, berkacak pinggang seorang pria paruh baya dengan handuk kecil melingkar di leher. Itu Pak Joko, mandor bangunan di desa mereka.

"Eh, Pak Joko. Sudah, Pak. Ini baru aja mau keluar," jawab Bumi sambil tersenyum sopan.

"Ya sudah, ayo cepat. Hari ini material semen sama batako datang. Tenaga kamu sangat dibutuhin buat ngangkut ke dalam gang. Kuat, kan?" tanya Pak Joko sambil berjalan mendahului.

"Siap, Pak. Kuat kok. Kan yang penting sarapannya tadi sudah banyak," seloroh Bumi.

"Halah, kamu ini. Sarapan pakai apa rupanya?"

"Nasi sisa semalam digoreng pakai garam aja, Pak. Sama teh anget. Alhamdulillah kenyang."

"Sabar ya, Bum. Namanya juga hidup. Yang penting kamu itu tekun, gak milih-milih kerjaan. Gak kayak anak muda zaman sekarang, maunya kerja kantoran tapi malas nyari," puji Pak Joko sambil menepuk pundak Bumi.

"Hahaha, saya mah apa atuh, Pak. Gak punya ijazah tinggi. Kerja apa aja yang penting halal dan bisa buat makan besok."

Sesampainya di lokasi proyek pembangunan rumah salah satu warga kaya di Desa Sukamaju, sebuah truk engkel bermuatan penuh sudah menunggu. Debu jalanan beterbangan saat angin berembus.

"Nah, itu dia kenek andalan kita datang!" seru Kang maman, salah satu tukang bangunan senior.

"Wah, Kang Maman bisa aja. Mana nih yang harus diturunin duluan?" tanya Bumi sambil menggulung lengan kaosnya.

"Itu batako di bak belakang. Tolong estafet ya sama si Dani. Tapi kamu yang di bawah, kuat gak ngangkatnya sendirian dari bak?"

"Bisa, Kang. Selow aja. Sudah biasa."

Dani, pemuda seusia Bumi yang juga ikut kerja serabutan, naik ke atas bak truk. "Bum, siap-siap ya! Ini agak berat, agak basah soalnya kena embun tadi malam."

"Oke, Dan. Lempar pelan-pelan aja, jangan langsung diguyur kayak air," canda Bumi.

"Satu... dua... tangkap!" Dani mulai menurunkan batako satu per satu.

Bumi menerima batako-batako itu dengan cekatan. Otot lengan dan punggungnya yang terbentuk karena kerja keras sehari-hari tampak menegang. Keringat mulai bercucuran di pelipisnya, membasahi kaos oblongnya yang langsung berubah warna menjadi lebih gelap.

"Bum, istirahat dulu gih. Udah tiga puluh menit kamu gak berhenti," teriak Pak Joko dari kejauhan sambil membawa segelas kopi.

"Bentar, Pak. Tanggung, tinggal dikit lagi yang di pojok bak ini," sahut Bumi tanpa menghentikan gerakannya.

"Kamu ini bener-bener ya. Gak ada capeknya. Anak yatim piatu kayak kamu ini malah biasanya mentalnya lebih baja dibanding yang punya orang tua lengkap tapi dimanja," bisik Kang Maman yang sedang mengaduk semen di dekatnya.

Bumi tersenyum tipis mendengar ucapan Kang Maman. "Gak ada pilihan lain, Kang. Kalau saya manja, rumah warisan bapak bisa roboh menimpa saya pas tidur."

"Iya juga sih. Tapi kamu gak pernah ngeluh ya? Saya perhatiin dari dulu senyum terus."

"Ngeluh gak bikin batako ini pindah sendiri, Kang. Mending dibawa happy aja."

"Bener juga omonganmu. Nih, minum dulu," Dani melemparkan sebotol air mineral dingin setelah bak truk benar-benar kosong.

"Wah, makasih, Dan. Segar bener," ucap Bumi setelah meneguk air itu sampai tinggal setengah.

Siang harinya, setelah makan siang darurat berupa nasi bungkus warung tegal, Pak Joko menghampiri Bumi yang sedang meluruskan kakinya di bawah pohon rindang.

"Bum, ini upah kamu buat hari ini. Maaf ya, cuma bisa ngasih segini. Soalnya anggarannya emang lagi ketat dari yang punya rumah," kata Pak Joko sambil menyodorkan beberapa lembar uang kertas yang sudah agak lusuh.

Bumi menerima uang itu, menghitungnya sekilas, lalu mengangguk bersyukur. "Alhamdulillah, Pak. Ini lebih dari cukup buat beli beras sama lauk beberapa hari ke depan. Makasih banyak ya, Pak."

"Iya, sama-sama. Besok kayaknya di sini gak ada bongkar muatan lagi. Kamu ada kerjaan lain?"

"Belum tahu, Pak. Paling nanti sore saya mau keliling desa, nanya-nanya kalau ada yang butuh bantuan."

"Oh, iya. Tadi pagi saya dengar Pak Haji Somad lagi nyari orang buat nyabit rumput di lahan belakang rumahnya. Katanya udah tinggi-tinggi banget, mengganggu pemandangan. Coba kamu ke sana nanti."

"Wah, info bagus itu, Pak. Makasih ya, Pak. Habis ashar saya coba ke rumah Pak Haji."

Sesuai rencana, sore harinya Bumi sudah berjalan kaki menuju rumah Pak Haji Somad yang berada di ujung Desa Sukamaju. Di bahunya tersampir sebuah sabit yang sudah diasah tajam, lengkap dengan karung goni besar.

"Assalamu’alaikum, Pak Haji!" seru Bumi dari balik pagar besi rumah Pak Haji Somad.

Tak lama, seorang pria tua berpeci putih keluar dari pintu samping. "Wa’alaikumussalam. Eh, Bumi. Ada apa, Bum?"

"Anu, Pak Haji. Tadi siang dapat kabar dari Pak Joko katanya lahan di belakang rumah Pak Haji rumputnya sudah tinggi ya? Saya mau nawarin jasa buat nyabit, Pak. Kalau boleh."

Pak Haji Somad melihat ke arah sabit dan karung yang dibawa Bumi, lalu tersenyum. "Kebetulan banget, Bum. Memang bapak lagi pusing nyari orang. Anak-anak muda sekarang kalau disuruh nyabit rumput puyeng katanya, takut gatal lah, takut cacing lah."

Bumi tertawa kecil. "Saya mah gak takut gatal, Pak Haji. Yang penting upah rumputnya halal."

"Ya sudah, langsung ke belakang aja. Itu lahannya luas loh ya, kamu sanggup sendirian menjelang magrib gini?"

"Sanggup, Pak Haji. Dapat setengahnya dulu juga gak apa-apa, besok pagi bisa saya lanjutin lagi."

"Oke, silakan. Kerjain serapih mungkin ya. Nanti masalah upah gampang, bapak gak bakal pelit sama orang rajin kayak kamu."

"Siap, Pak Haji. Terima kasih banyak."

Bumi mulai mengayunkan sabitnya ke arah rumput liar yang tingginya sudah mencapai lutut orang dewasa. Gerakannya konstan, berirama, dan sangat hati-hati agar tidak mengenai batu tersembunyi yang bisa merusak mata sabitnya.

"Bum! Bumi!" panggil sebuah suara perempuan dari arah dapur rumah Pak Haji.

Bumi menghentikan aktivitasnya, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. "Iya, Neng Siti? Ada apa?"

Siti, anak gadis Pak Haji Somad, berjalan mendekat sambil membawa nampan berisi segelas teh manis hangat dan dua potong pisang goreng. "Ini, Kang Bumi. Kata bapak disuruh minum dulu. Capek kan baru datang langsung kerja keras begitu."

"Walah, ngerepotin aja, Neng. Makasih banyak ya," kata Bumi sambil meletakkan sabitnya di tanah.

"Nggak repot kok, Kang. Kebetulan emang lagi bikin buat bapak juga. Kang Bumi hebat ya, apa aja dikerjain. Kemarin saya lihat lagi bantu benerin jembatan desa, sekarang udah nyabit rumput lagi."

"Ya gimana lagi, Neng. Kalau gak gerak, dapur gak ngebul," jawab Bumi santai seraya mengambil pisang goreng yang masih hangat.

"Tapi rumah Kang Bumi yang di dekat mushola itu... apa gak mau dibetulin? Kemarin lewat sana, atapnya kayaknya udah ada yang melorot."

Bumi mengunyah pisang gorengnya, lalu tersenyum simpul. "Mau banget sih, Neng. Cuma celengannya belum cukup. Sekarang fokus buat makan sehari-hari dulu. Kalau rumah mah, selagi belum roboh total, masih bisa ditempatin."

"Kang Bumi kok bisa sesabar itu sih? Padahal sebatang kara, kerjaannya serabutan, rumahnya begitu..." Siti menatap Bumi dengan rasa kagum bercampur iba.

"Sabar itu kan gratis, Neng. Gak perlu bayar. Kalau saya ngamuk sama keadaan, emangnya keadaan bakal berubah jadi kaya raya dalam semalam? Kan nggak. Mending dijalanin aja dengan tekun, gusti Allah mboten sare."

"Iya juga sih. Kagum saya sama pemikiran Kang Bumi. Ya sudah, dilanjutin lagi Kang kerjanya. Tehnya dihabisin ya."

"Siap, Neng Siti. Makasih ya pisang gorengnya, enak banget."

Matahari makin merunduk, menyisakan semburat jingga di langit Desa Sukamaju. Bumi berhasil mengumpulkan dua karung penuh rumput liar, membuat lahan belakang rumah Pak Haji Somad tampak jauh lebih bersih dari sebelumnya.

"Pak Haji, ini sudah selesai sebagian besar. Karungnya saya taruh di pojok dekat kandang ya," lapor Bumi saat menemui Pak Haji Somad di teras depan.

"Wah, cepat banget kamu kerjanya, Bum. Bersih lagi," puji Pak Haji sambil memeriksa hasil kerja Bumi. "Ini upahmu, sekalian ada sedikit bonus buat beli lauk."

Pak Haji memberikan beberapa lembar uang kertas kepada Bumi. Jumlahnya ternyata lebih banyak dari perkiraan Bumi untuk kerja sesingkat itu.

"Loh, Pak Haji, ini kebanyakan uangnya," kata Bumi, berniat mengembalikan sebagian.

"Sudah, ambil saja. Jangan ditolak, itu rezeki kamu karena kerjaanmu bagus dan kamu anak yang jujur. Jarang ada pemuda setekun kamu di desa ini."

Bumi menunduk dalam, hatinya dipenuhi rasa syukur yang membuncah. "Terima kasih banyak, Pak Haji. Semoga berkah buat Pak Haji sekeluarga."

"Amin. Sudah, ganti baju sana, sebentar lagi magrib. Pulang ke rumah, istirahat."

"Baik, Pak Haji. Saya permisi dulu. Assalamu’alaikum."

"Wa’alaikumussalam."

Bumi berjalan pulang menyusuri jalanan setapak Desa Sukamaju yang mulai menggelap. Di tengah keterbatasan hidupnya, langkah kakinya tetap terasa ringan. Dia tahu hidup ini berat, tapi dia memilih untuk tetap sabar, tekun, dan menjalani hari-harinya apa adanya tanpa pernah mengeluh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!