NovelToon NovelToon
Janji Om Jangan Ngomong

Janji Om Jangan Ngomong

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia / Pelakor / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sisi Ryri

Terdesak masalah hidup, Rina Amelia terpaksa menjadi wanita simpanan Adrian Wibawa—tanpa sadar bahwa pria itu adalah suami dari Profesor Eliza, dosen paling ditakutinya. Merasa dibohongi, Rina ingin mengakhiri hubungan terlarang itu, namun rayuan dan janji manis Adrian berhasil meluluhkannya.

Kini ia terjebak di antara dua dunia yang berbahaya: kekasih rahasia sang pengusaha, sekaligus mahasiswi yang nasibnya ada di tangan istrinya sendiri. Mampukah Rina bertahan di tengah jerat kebohongan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Ryri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bunga-Bunga Darmawan

“Mmm, tapi aku lihat dia lumayan juga. Ganteng, punya kerjaan, enggak jelek lah kalau aku jadi pacarnya,” lanjut Rina lalu mulai terlelap setelah seharian bekerja membangun usaha barunya di perantauannya.

Keesokan harinya saat matahari pagi mulai bersinar, Rina terbangun oleh sebuah pesan masuk di ponselnya.

Mmmmm!

Mata dan tangannya melirik cepat ke layar guna mencari tahu siapa yang mengirim pesan pagi itu.

"Mmm! Bukan Om Adrian," lirihnya lalu membuka matanya lebih lebar.

(Darmawan, Perdana Wisata)

“Pagi Rina, apa kabar hari ini?”

“Eh, kok dia WA lagi?” Rina tersenyum senang lalu bergegas bangun. “Ah, jangan-jangan ini yang namanya cinta pada pandangan pertama?” ucapnya polos lalu melangkah menuju sofa.

“Rin, udah bangun?” tanya ibu sambil menyodorkan segelas teh hangat. “Ini Ibu buatkan teh, minum ya. Maaf kalau semalam Ibu buat kamu marah.”

“Ibu, makasih.” Rina bangkit dari tempat duduknya lalu memeluk wanita yang telah melahirkannya itu. “Maaf Rina kalau kemarin kata-kataku kelewatan.”

“Enggak apa-apa, Nak. Ibu memang sering terlalu kepo sama urusanmu. Maklum, waktu Ibu sakit cuma kamu yang Ibu pikirin.”

Rina menatap wajah ibunya yang terlihat begitu menyesal atas perkataannya kemarin. Ia lalu meraih gelas teh dari tangan ibu dan meneguknya perlahan. “Terima kasih, Bu. Tehnya enak sekali,” pujinya dengan mata berkaca-kaca.

“Syukurlah kalau kamu suka. Ngomong-ngomong, hari ini ada kerjaan apa yang bisa Ibu bantu?”

Rina melirik ke arah dapur. Ada beberapa barang yang harus ia kembalikan ke dalam lemari. “Itu aja, Bu. Mari kita beres-beres,” ucap Rina ringan, lalu mulai bergerak.

Ibu yang melihat putrinya begitu bersemangat mulai membantu. Beliau terlihat senang mendapatkan perhatian dari putrinya. 

Rina juga tak kalah bahagia karena akhirnya ia bisa kembali merasa nyaman setelah beberapa kali sempat kesal dengan perkataan ibunya yang terdengar kurang menyenangkan.

Setelah semua barang rapi di tempatnya masing-masing, Rina melangkah menuju jendela. Matanya menyapu area sekeliling dan menemukan seorang tukang bubur di bawah.

“Aku beli bubur dulu di bawah ya, Bu. Ibu tunggu di sini.”

“Iya,” jawab ibunya patuh.

Rina meraih sweaternya dan melangkah menuju lift. Matanya masih fokus pada layar ponsel yang menunjukkan bahwa Adrian tidak memberi respons atas pesannya. 

“Dasar laki-laki kardus!” kesalnya dalam hati lalu mematikan layar ponsel.

Ia berjalan mendekati tukang bubur yang dilihatnya dari jendela apartemen tadi, kemudian memesan secepat mungkin agar tidak meninggalkan ibunya terlalu lama.

Saat selesai memesan bubur, tiba-tiba...

“Rina!” panggil seorang pria dari kejauhan.

Mata Rina bergulir ke arah sumber suara. Betapa kagetnya ia ketika melihat Darmawan sedang memarkirkan mobilnya. “Hai! Kamu tinggal di sini?”

“Astaga, kenapa dia selalu ada dimanapun aku berada?” ucap Rina dalam hati.

Ia lalu memasang wajah malu-malu saat melihat Mas Darma yang semalam udah bikin dia berbunga-bunga berjalan mendekat.

“Hai, Mas. Dari mana?” tanya Rina dengan wajah yang begitu bahagia.

“Kok kebetulan banget kita ketemu di sini. Kamu beli apa?” tanya Darma basa-basi.

“Ini, beli bubur buat aku dan Ibuku,” tunjuk Rina pada tas kresek di tangannya.

“Oh, kamu tinggal di mana?” tanya Darma dengan wajah tampannya.

“Tuh,” jawab Rina singkat sambil menunjuk ke arah tower apartemennya.

“Wah, dekat banget! Aku tinggal di sana,” tunjuk Darma ke tower apartemen yang berseberangan dengan milik Rina.

“Wah, dekat banget, ya... Wah, jangan-jangan kita...”

“Kita apa?” tanya Darma berusaha menatap wajah gadis cantik di hadapannya itu tetapi Rina malah menunduk.

“Jangan-jangan kita emang ditakdirkan tetanggaan!” terkeh Rina, yang langsung direspons Darma dengan tawa renyah.

“Wah, beneran, nih. Kayaknya kita emang harus sering ketemu. Boleh aku kapan-kapan main ke apartemenmu?”

“Ah, tentu saja boleh! Aduh, tapi apartemenku berantakan...”

“Enggak apa-apa, aku cuma mau main kok, enggak mau aneh-aneh. Janji,” ucap Darma, membuat hati Rina semakin berbunga-bunga dibuatnya.

“Wah, yang ini pasti gak kayak Om Adrian yang hidung belang,” tebak Rina merasa mendapat pengganti dari pria yang selama ini sudah membuatnya begitu terluka karena cintanya yang palsu.

Tilulit!

Ponsel Darmawan menyala tapi begitu dia tau siapa yang menghubunginya dia segera pamit pada Rina. “Ya, udah. Aku pulang dulu, ya.” 

“Oh, Iya. Mas. Sampai jumpa.” Rina melambaikan tangannya dan Darmawan bergegas menyebrang jalan di depannya.

Dengan wajah sumringah Rina kembali ke apartemen. Senyumnya merekah seharian dan dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya itu.

Meski tau putrinya sedang senang, kali ini Tina tidak berani bertanya. Wanita paruh baya itu hanya menyimpan sendiri kebahagiaannya sampai akhirnya makan malam tiba.

“Kayaknya lagi senenag banget?” tanya Tina berharap pertanyaannya kali ini tidak menyinggung putrinya.

“Iya, Bu. Aku lagi seneng. Kayaknya aku mulai betah di kota ini,”

“Syukurlah kalau kamu mulai betah. Ibu juga merasa kota ini indah, walau kita emang belum pernah tinggal di sini.”

“Iya, aku harap kita bisa membangun hidup kita yang baru di sini. Walau jujur aja, sebenarnya aku masih pingin balik ke Jakarta.”

“Mmmm! Kenapa kamu ngak nyari kerja di Jakarta dari awal?” tanya Tina dengan polosnya.

Rina tidak menjawab pertanyaan itu. Baginya mimpinya memang masih di kota besar itu tapi setelah Adrian pergi dari hidupnya rasanya terlalu naif kalau dia kembali ke sana untuk merajut mimpinya.

Melihat putrinya tak menjawab, Tina kembali terdiam. 

Sepertinya ekpresi ini membuatnya ketakutan. Dia khawatir kalau dia kembali bertanya putrinya akan kembali tersinggung.

Malam itu percakapan berakhir dan Tina kembali ke kamarnya tanpa Rina.

Rina kembali terdiam di ruang tengah meratapi keputusannya yang salah soal Adrian.

Banyak andai-andai di kepalanya yang membuatnya sangat sedih dan menyesal. Sangat menyesal hingga akhirnya dia hanya bisa menangis.

Pagi kembali datang dan kaki Rina kembali melangkah turun dari unit apartemennya. 

Selain beli bubur tentu dia kini berharap bisa bertemu dengan Darma walau cuma sebentar.

Dia merasa kalaupun dia tidak jadi pacar pria tampan itu paling tidak senyuman mas-mas tampan ini bisa jadi pelipur laranya.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saat kakinya mendekati pintu apartemen senyum Darma merekah tepat di ambang pintu.

“Hai, Cantik. Apa kabar?” tanya Mas Darma yang langsung membuat  Rina senyum.

 “Lupakan Adrian! Mas ini lebih tampan!” seru Rina dalam hati sambil melambaikan tangannya ke arah pria yang baru dia kenal ini.

“Hai, Mas,” jawab Rina. “Aku baik. Udah nunggu aku dari tadi?” canda Rina membuat Darmawan tersenyum lebar.

1
Raudhatul Zannah
Rina Jangan sampai ketahuan ya kamu..
Cilia
Waduh, gimana tuh kalau ketauan si Rina??
mbak Shaka
mati aja
mbak Shaka
awal ceritanya bikin kasihan sama prof Eliza tp ternyata justru prof Eliza menunjukkan taringnya dia tidak lemah
Raudhatul Zannah
waduh jebakan..
Cilia
Sugar daddy ternyata si adrian wkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!