Raffi adalah anak di luar nikah dari Mahesa Pratama, Presiden Direktur Pratama Group Hotel, hasil hubungannya dengan Maya Indira. Meski lahir tanpa status yang diakui keluarga, Raffi mewarisi kecerdasan, bakat kepemimpinan, dan naluri bisnis yang membuat Mahesa diam-diam berniat menjadikannya penerus kerajaan bisnisnya.
Namun, keputusan itu memicu amarah istri sah Mahesa. Demi memastikan putra kandungnya, Julian, menjadi satu-satunya pewaris Pratama Group Hotel, ia menyusun berbagai rencana licik untuk menyingkirkan Raffi. Berbagai fitnah, pengkhianatan, hingga perebutan hak waris membuat Raffi kehilangan segalanya dan dipaksa memulai hidup dari nol.
Dengan tekad yang tak pernah padam, Raffi membangun kembali kariernya dari bawah. Ia berjuang membuktikan bahwa kesuksesan bukan ditentukan oleh status kelahiran, melainkan kerja keras, kemampuan, dan keteguhan hati. Langkah demi langkah, ia bangkit untuk merebut kembali tempat yang seharusnya menjadi miliknya dan cintanya dengan dewi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tawaran yang mengubah takdir
Pagi itu, Ratih terbangun lebih awal. Mimpi semalam masih terbayang jelas di benaknya. Rasa penasaran membuatnya tak bisa tenang. Ia teringat name tag Maya yang sempat berada di tangannya sebelum acara dimulai.
Ratih kemudian meminta salah seorang staf hotel menunjukkan data singkat karyawan yang bertugas pada acara semalam dengan alasan administrasi. Tatapannya langsung tertuju pada nama Maya. Perlahan ia membaca informasi yang tertera, lalu menghitung hari kelahirannya.
"Kamis Kliwon..." bisiknya pelan.
Ratih terdiam beberapa saat. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ternyata apa yang dilihatnya semalam bukanlah sebuah kekeliruan. Ingatan tentang mimpi dan ucapan tetua tiga tahun lalu kembali memenuhi pikirannya. Meski begitu, ia segera menggeleng pelan.
"Aku tidak boleh menyimpulkan apa pun hanya karena sebuah mimpi," gumamnya, berusaha mengusir prasangka yang mulai tumbuh.
Di ruang makan, meja telah dipenuhi berbagai hidangan hangat. Tuan Pratama dan Ratih menikmati sarapan sambil membicarakan beberapa urusan keluarga.
Tak lama kemudian, Naura menuruni anak tangga dengan langkah malas. Rambutnya masih sedikit berantakan, menandakan ia baru saja bangun tidur. Ia tersenyum tipis seolah tak terjadi apa-apa.
"Selamat pagi, Ayah... Ibu," sapanya.
Ratih hanya mengangguk singkat sebelum kembali menyeruput teh hangatnya.
"Baru bangun?" tanyanya datar.
"Iya, Bu. Semalam tidur agak larut," jawab Naura sambil menarik kursi.
Ratih meletakkan cangkirnya pelan. "Aneh sekali. Semalam justru yang paling sibuk melayani tamu adalah para karyawan hotel. Sementara kamu lebih sering menghilang dari ruang utama."
Naura menghentikan gerakannya. Senyumnya memudar.
"Aku hanya kurang enak badan," kilahnya.
Ratih menatap menantunya lekat-lekat.
"Atau... kamu sengaja menghindari para tamu?"
Naura menelan ludah. "Maksud Ibu?"
Ratih mengembuskan napas pelan.
"Setiap kali ada acara keluarga, pertanyaan mereka selalu sama. Kapan kalian punya anak? Kapan keluarga Pratama memiliki penerus? Mungkin kamu sudah bosan mendengarnya, jadi memilih menghindar."
Ucapan itu membuat suasana ruang makan mendadak sunyi. Naura menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang mulai muncul. Ia memaksakan senyum kecil, tetapi jemarinya yang saling menggenggam erat menunjukkan bahwa perkataan Ratih tepat mengenai kegelisahan yang selama ini ia sembunyikan.
Ratih tidak melanjutkan sindirannya. Ia kembali menikmati sarapannya, sementara Naura kehilangan selera makan. Entah mengapa, sejak pagi itu ia merasa mertuanya memandangnya dengan cara yang berbeda, seolah sedang menyimpan sesuatu yang belum ingin diungkapkan.
Naura menarik napas panjang sebelum akhirnya mengangkat wajahnya. Sorot matanya dipenuhi rasa lelah yang selama ini ia pendam.
"Ibu, bukan berarti aku sengaja menghindari mereka," ucapnya pelan. "Hanya saja... setiap bertemu tamu, pertanyaan mereka selalu sama. Kapan punya anak? Kapan keluarga Pratama punya cucu? Lama-kelamaan aku juga lelah mendengarnya."
Ratih tetap diam, membiarkan Naura melanjutkan ucapannya.
"Aku tahu semua orang berharap kami segera memiliki keturunan. Aku juga menginginkannya, Bu." Suara Naura mulai bergetar. "Tapi kalau memang belum diberi, apa yang bisa kulakukan? Bukankah semua itu juga takdir?"
Naura menundukkan kepalanya. "Aku dan Mahesa sudah berusaha semampu kami. Kami sudah berkonsultasi dengan dokter, menjalani berbagai pemeriksaan, mengatur pola hidup, bahkan mengikuti beberapa program kehamilan. Tidak ada satu pun yang kami lakukan dengan setengah hati."
Ia tersenyum pahit.
"Setiap kali program itu gagal, yang kecewa bukan hanya keluarga. Aku juga hancur. Jadi, tolong jangan berpikir aku sengaja menghindari tamu hanya karena tidak ingin ditanya."
Suasana ruang makan menjadi sunyi. Ratih memandang menantunya tanpa berkata apa-apa. Di balik ketegasannya, ia dapat melihat kepedihan yang terpancar dari wajah Naura.
Namun, kata-kata itu justru membuat dada Naura semakin sesak. Bayangan tentang rahasia yang ia simpan kembali menghantuinya. Ia menatap hidangan di depannya, tetapi selera makannya menghilang begitu saja. Aroma makanan yang biasanya menggugah kini terasa hambar.
Perlahan ia meletakkan sendok yang baru saja dipegang.
"Maaf, Bu... aku tidak berselera makan."
Tanpa menyentuh sedikit pun sarapan yang telah disiapkan, Naura berdiri dari kursinya. Ia berusaha tersenyum sopan sebelum melangkah meninggalkan ruang makan.
Ratih hanya memperhatikan punggung menantunya yang semakin menjauh. Sementara itu, Naura terus berjalan menuju kamarnya dengan langkah berat. Setiap ucapan tentang keturunan terasa seperti beban yang menekan hatinya, terlebih karena hanya dirinya yang mengetahui rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan dari keluarga Pratama.
Begitu pintu kamar tertutup, Naura mengembuskankan napas kasar. Ia melepaskan sandal dengan sedikit hentakan, lalu berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Wajahnya dipenuhi amarah dan kekecewaan.
"Kenapa semua orang selalu membicarakan anak?" gumamnya kesal. "Seolah-olah nilai seorang menantu hanya ditentukan dari kemampuannya melahirkan penerus."
Ia mengepalkan kedua tangannya. Sindiran Ratih di meja makan masih terngiang jelas di telinganya. Semakin ia berusaha melupakannya, semakin kuat rasa tertekan yang memenuhi dadanya.
Naura berhenti di depan cermin. Tatapannya tertuju pada bayangan dirinya sendiri.
"Aku pasti akan memberikan keluarga Pratama seorang penerus," ucapnya lirih namun penuh tekad. "Apa pun yang terjadi... aku akan memiliki anak. Aku tidak akan terus dipandang rendah."
Akan tetapi, keyakinan itu perlahan goyah ketika ucapan cenayang kembali terlintas di benaknya.
"Kau akan memiliki anak laki-laki... tetapi bukan dari suamimu."
Seketika tubuh Naura menegang. Ia memejamkan mata rapat, berusaha mengusir kalimat tersebut, tetapi semakin ia melawan, semakin jelas suara itu terdengar dalam ingatannya.
"Mustahil..." bisiknya pelan.
Keraguan mulai menyusup ke dalam hatinya. Selama ini ia berharap semua ucapan cenayang hanyalah omong kosong. Namun, jika benar dirinya sulit memperoleh anak laki-laki dari Mahesa, lalu bagaimana dengan impiannya memberikan penerus bagi keluarga Pratama?
Naura terduduk lemas di tepi ranjang. Tatapannya kosong menembus lantai, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan yang saling bertabrakan. Di satu sisi ia ingin mempertahankan rumah tangganya, tetapi di sisi lain ia dihantui keinginan yang begitu besar untuk melahirkan seorang pewaris.
"Aku tidak boleh kalah oleh takdir..." gumamnya lirih. "Apa pun yang terjadi, aku harus menjadi ibu dari penerus keluarga Pratama."
Ucapan itu meluncur bersama tekad yang semakin menguat. Namun jauh di lubuk hatinya, Naura juga sadar bahwa setiap keputusan yang diambil dengan dilandasi kebohongan hanya akan membawa konsekuensi yang jauh lebih besar di kemudian hari.
Ratih masih memikirkan sosok Maya sejak pagi tadi. Semakin ia mencoba mengabaikan firasat yang muncul, semakin besar rasa penasarannya.
Ia kemudian memanggil asisten pribadinya ke ruang kerja.
"Rina, ada sesuatu yang ingin kuberikan sebagai tugas untukmu," ujar Ratih sambil meletakkan cangkir tehnya.
"Silakan, Bu."
Ratih terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "Karyawan hotel yang kemarin bertugas di acara kita, namanya Maya. Aku ingin mengenalnya lebih jauh."
Rina mengangguk pelan. "Apakah ada keperluan khusus, Bu?"
"Jangan lakukan sesuatu yang melanggar privasinya," jawab Ratih tenang. "Cukup tanyakan kepada pihak hotel informasi yang memang bersifat umum. Misalnya sejak kapan ia bekerja, bagaimana penilaian atas kinerjanya, dan apakah benar ia dibesarkan di panti asuhan seperti yang sempat kudengar."
"Baik, Bu. Saya akan mencari informasi yang bisa diberikan secara resmi."
Ratih menganggukkan kepala.
"Kalau memang memungkinkan dan ia bersedia, aku juga ingin bertemu dengannya. Katakan bahwa aku hanya ingin mengucapkan terima kasih atas kerja kerasnya saat acara semalam."
"Baik, Bu Ratih."
Setelah mendapat instruksi, Rina segera meninggalkan ruangan. Sementara itu Ratih berdiri di dekat jendela, menatap taman rumah yang masih basah oleh embun pagi.
"Ada sesuatu tentang gadis itu yang membuatku terus penasaran," gumamnya lirih. "Entah mengapa, rasanya seperti takdir sedang mempertemukan kami."
Beberapa jam kemudian, Rina kembali membawa kabar.
"Bu Ratih, pihak hotel mengatakan Maya memang karyawan baru. Mereka juga membenarkan bahwa sejak kecil ia dibesarkan di sebuah panti asuhan. Soal latar belakang keluarganya, pihak hotel tidak memiliki informasi lebih lanjut."
Ratih terdiam. Fakta itu justru membuat rasa ingin tahunya semakin besar.
"Kalau begitu, tolong sampaikan undangan kepadanya. Bila ia tidak sedang bekerja dan berkenan, aku ingin bertemu dengannya sore nanti."
"Baik, Bu. Akan saya sampaikan dengan sopan."
Ratih mengangguk pelan. Tanpa ia sadari, pertemuan yang tampak sederhana itu perlahan akan menjadi awal terungkapnya rahasia besar yang selama bertahun-tahun tersembunyi.
Sinar matahari sudah meninggi ketika Maya perlahan membuka matanya. Seluruh tubuhnya terasa pegal setelah bekerja tanpa henti hingga larut malam di acara keluarga Pratama. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping bantal.
Mata Maya langsung membelalak.
"Astaga...!"
Belasan panggilan tak terjawab memenuhi layar ponselnya. Semuanya berasal dari atasannya di hotel.
Wajah Maya seketika pucat. Jantungnya berdegup lebih cepat.
"Ya ampun... aku kesiangan. Jangan-jangan aku sudah dipecat."
Dengan tangan sedikit gemetar, ia segera menghubungi kembali nomor atasannya.
"Halo... Pak, maaf sekali. Saya ketiduran karena semalam pulang terlalu larut. Saya benar-benar minta maaf. Kalau Bapak marah, saya siap menerima konsekuensinya."
Di seberang telepon terdengar suara atasannya yang justru terdengar tenang.
"Maya, tenang dulu. Saya tidak menelepon untuk memarahimu."
Maya mengernyit bingung.
"Bukan karena saya tidak masuk kerja, Pak?"
"Bukan. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."
"Siapa?"
"Ibu Ratih Pratama."
Maya terdiam beberapa detik.
"Ibu Ratih... pemilik rumah tempat acara semalam?"
"Iya. Beliau menghubungi pihak hotel dan meminta izin untuk bertemu denganmu. Karena kamu tidak masuk kerja, beliau menitipkan pesan agar kami menanyakan di mana kamu tinggal."
Maya semakin kebingungan.
"Alamat saya... untuk apa, Pak?"
"Saya juga kurang tahu. Beliau hanya mengatakan ingin berbincang langsung denganmu. Tidak ada keluhan mengenai pekerjaanmu. Justru beliau memuji kinerjamu selama acara."
Mendengar itu, Maya mengembuskan napas lega. Beban di dadanya sedikit berkurang, tetapi rasa heran justru semakin besar.
"Kalau begitu... apakah saya melakukan sesuatu yang salah semalam?" tanyanya ragu.
"Tidak. Setahu saya tidak ada masalah. Kalau kamu bersedia, saya akan menyampaikan alamatmu setelah meminta izin darimu. Atau kamu bisa memilih bertemu beliau di hotel."
Maya terdiam cukup lama. Ia sama sekali tidak mengenal Ratih secara pribadi. Mengapa seorang wanita terpandang seperti Ratih tiba-tiba ingin menemuinya?
"Baik, Pak. Saya akan datang ke hotel saja nanti siang."
"Itu lebih baik. Saya akan menyampaikan kepada Ibu Ratih."
Setelah sambungan telepon berakhir, Maya masih menatap layar ponselnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Ada apa sebenarnya? Kenapa Ibu Ratih ingin bertemu denganku?" gumamnya pelan.
Semakin dipikirkan, semakin sulit ia menemukan jawabannya. Pertemuan yang tampaknya sederhana itu perlahan menumbuhkan firasat bahwa hidupnya akan segera berubah dengan cara yang tak pernah ia bayangkan.
Dengan perasaan campur aduk, Maya akhirnya tiba di Grand Hotel Pratama. Setelah melapor kepada resepsionis, seorang staf mengantarnya menuju ruang VIP di lantai atas. Selama bekerja di hotel itu, ia hanya pernah melihat pintu ruangan tersebut dari kejauhan. Hari ini, untuk pertama kalinya ia dipersilakan masuk.
Begitu pintu terbuka, Maya langsung melihat Ratih telah duduk dengan anggun di sebuah sofa. Secangkir teh hangat tersaji di atas meja, sementara suasana ruangan terasa tenang dan mewah.
"Silakan duduk, Maya," ujar Ratih dengan senyum ramah.
"Terima kasih, Bu," jawab Maya sopan sambil duduk di tepi kursi. Rasa gugup jelas terlihat dari caranya menggenggam kedua tangannya.
Ratih memperhatikan gadis itu beberapa saat sebelum membuka percakapan.
"Aku memanggilmu bukan karena ada kesalahan dalam pekerjaanmu. Justru aku ingin mengucapkan terima kasih. Semalam kamu bekerja dengan sangat baik."
Maya mengembuskan napas lega.
"Terima kasih, Bu. Itu memang sudah menjadi tanggung jawab saya."
Ratih mengangguk pelan.
"Kalau boleh tahu, sejak kapan kamu bekerja di hotel ini?"
"Baru beberapa bulan, Bu."
"Keluargamu tinggal di mana?"
Maya tersenyum tipis, tetapi senyum itu menyimpan kesedihan.
"Saya dibesarkan di panti asuhan, Bu. Jadi saya tidak mengetahui siapa orang tua kandung saya. Setelah dewasa, saya memilih hidup mandiri dan bekerja."
Ratih terdiam. Jawaban itu membuat rasa penasarannya semakin besar, meski ia tidak ingin memperlihatkannya.
"Kamu pasti sudah melalui banyak kesulitan."
Maya hanya mengangguk pelan.
"Sudah terbiasa, Bu. Yang penting saya bisa bekerja dengan jujur dan memenuhi kebutuhan hidup saya."
Ratih tersenyum penuh penghargaan.
"Itulah salah satu alasan aku ingin bertemu denganmu."
Maya mengangkat wajahnya.
"Maksud Ibu?"
Ratih mengambil sebuah map dari atas meja, lalu meletakkannya di hadapan Maya.
"Aku sedang mencari seseorang yang bisa menjadi asisten pribadi sekaligus membantu beberapa pekerjaan keluarga dan perusahaan. Dari pengamatan semalam, aku melihat kamu teliti, tenang, dan bertanggung jawab."
Mata Maya membulat.
"Saya... Bu?"
"Iya. Tentu saja kamu bebas menolak jika tidak berminat."
Ratih lalu menyebutkan nilai kompensasi yang telah ia siapkan.
"Sebagai permulaan, aku menawarkan gaji sebesar lima puluh juta rupiah per bulan, di luar fasilitas tempat tinggal dan tunjangan."
Maya membeku. Ia yakin pendengarannya salah.
"Ma... maaf, Bu. Berapa?"
"Lima puluh juta rupiah per bulan."
Tubuh Maya seakan kehilangan tenaga. Nominal itu jauh melampaui penghasilannya saat ini. Baginya, angka tersebut terasa mustahil.
"Bu... saya hanya karyawan biasa. Saya bahkan belum pernah memegang jabatan seperti itu. Kenapa Ibu memilih saya?"
Ratih menatap Maya dengan tenang.
"Karena aku tidak hanya mencari orang yang berpengalaman. Aku mencari seseorang yang bisa dipercaya. Soal kemampuan, semuanya bisa dipelajari."
Maya masih belum mampu menjawab. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan. Tawaran yang datang secara tiba-tiba itu terasa seperti mimpi. Di satu sisi, kesempatan itu dapat mengubah hidupnya. Namun di sisi lain, ia tidak mengerti mengapa seorang wanita terpandang seperti Ratih begitu yakin memilih dirinya yang hanyalah seorang gadis yatim piatu.
Dengan suara pelan, Maya akhirnya berkata, "Bu... bolehkah saya meminta waktu untuk memikirkan tawaran ini?"
Ratih tersenyum hangat.
"Tentu. Keputusan sebesar ini memang tidak seharusnya diambil dengan terburu-buru."