Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Pertemuan yang Dingin
Langkah kaki Kaynara terhenti tepat di depan pintu gerbang kayu jati yang menjulang tinggi. Ia merapikan rok kainnya yang sedikit kusut, menyapu helai jilbab instan ke belakang pundaknya, lalu menarik napas panjang.
Menginjakkan kaki di rumah ini selalu membutuhkan persiapan mental yang matang. Di balik pintu itu, aturan bukan sekadar imbauan, melainkan hukum mutlak yang tidak bisa ditawar.
Ponsel di dalam tasnya bergetar pendek. Nara buru-buru merogoh benda kecil itu sebelum ketukan bunyinya memancing perhatian dari dalam. Layar ponselnya menyala, menampilkan satu nama yang sukses mengikis rasa tegang di dadanya.
Devino.
"Sudah sampai rumah, Sayang? Jangan lupa istirahat. Nanti malam aku telepon seperti biasa, ya."
Sebuah senyuman tipis terukir di bibir Nara. Dua tahun. Sudah dua tahun lamanya ia menyimpan nama itu rapat-rapat di celah kehidupannya yang terawasi ketat.
Devino Nugraha Wijaya, seorang pengusaha muda yang sukses membangun bisnis kulinernya sendiri dari nol, adalah tempat Nara melarikan diri dari impitan ekspektasi keluarga.
Devino adalah sosok yang hangat, penuh perhatian, dan yang paling penting: membuat Nara merasa dihargai sebagai dirinya sendiri.
Namun, di rumah ini, Devino hanyalah bayangan. Sosok yang tidak pernah boleh ada.
"Nara? Kenapa berdiri di depan pintu saja?"
Suara bariton yang berat dan tenang memecah lamunan Nara.
Ia mendongak dan menemukan papah, Pak Rahardja, sedang berdiri di teras rumah dengan kacamata baca di pangkal hidungnya. Tatapan mata ayahnya selalu sama: tajam, penuh perhitungan, dan menuntut kepatuhan.
"Eh, papah. Baru saja mau masuk, Yah," jawab Nara cepat sembari menyembunyikan ponselnya ke dalam tas. Ia berjalan mendekat, mencium tangan ayahnya dengan sopan.
"Masuklah. bunda dan tamu kita sudah menunggu di dalam," ujar Pak Rahardja singkat, membalikkan badan dan berjalan mendahului Nara.
Jantung Nara mendadak berdegup kencang. "Tamu? Jam segini?"
Nara melangkah masuk ke dalam ruang tamu bergaya klasik Jawa yang didominasi ukiran kayu gelap. Di atas sofa kulit, ibunya sedang duduk berhadapan dengan seorang pria berjas abu-abu gelap.
Pria itu membelakangi Nara, namun dari gestur tubuhnya yang tegap dan kaku, Nara bisa merasakan aura dingin yang sangat dominan.
"Nah, ini dia Nara baru pulang," ucap Bu (Bunda Mayang) Rahardja dengan senyum merekah, jenis senyum yang hanya keluar jika ada hal besar yang sudah disiapkan.
"Nara, duduk sini, Nak."
Nara berjalan mendekat dengan ragu. Saat pria berjas abu-abu itu menoleh untuk menyambut keberadaannya, mata Nara berbenturan dengan sepasang iris mata hitam pekat yang tajam.
Pria itu memiliki rahang yang tegas, wajah tampan namun sangat minim ekspresi. Tidak ada senyum ramah atau sapaan hangat. Pria itu hanya menatapnya datar, seolah-olah Nara hanyalah sebuah berkas laporan kerja yang sedang dievaluasi.
"Nara, kenalkan. Ini Zaid," kata Pak Rahardja sambil duduk di kursi utamanya. "Zaid ini putra dari almarhum sahabat Ayah. Dia baru saja kembali dari luar negeri beberapa bulan untuk memimpin cabang perusahaan familinya di sini."
Pria bernama Zaid itu mengangguk tipis. "Zaid," ucapnya singkat dengan suara rendah yang dalam, tanpa mengulurkan tangan.
Nara menelan ludah, merasa kikuk dengan sikap pria di hadapannya. "Nara..." balasnya pelan.
Ibu (Bunda Mayang) Nara terkekeh kecil, mencoba memecahkan kekakuan di ruangan tersebut.
"Zaid ini orangnya memang sedikit pendiam, Nara. Tapi dia pria yang sangat bertanggung jawab dan mandiri. Sangat cocok denganmu."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut sang ibu, namun efeknya bagaikan petir di siang bolong bagi Nara. Tangannya yang memegang tali tas mengepal erat.
"Maksud bunda... bagaimana?" tanya Nara, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha keras menyembunyikannya.
Pak Rahardja meletakkan cangkir tehnya ke tatakan porselen, menimbulkan bunyi klenting yang nyaring di ruangan yang hening itu.
"Kamu tentu masih ingat kesepakatan keluarga kita, Nara. Sejak kecil, kamu tahu bahwa persoalan masa depan dan pasangan hidupmu adalah tanggung jawab papah dan bunda . Kami yang paling tahu apa yang terbaik untukmu."
Nara merasa dadanya sesak. Udara di ruang tamu itu mendadak terasa sangat tipis. "Tapi pah, Nara kan sudah dewasa. Nara bisa—"
"Tidak ada tapi, Kaynara," potong Pak Rahardja tegas, tanpa menaikkan nada suaranya namun sanggup membungkam argumen apa pun.
"Kami tidak pernah melarangmu menuntut ilmu atau berkarier, tapi untuk pendamping hidup, aturan di rumah ini tidak berubah. Zaid adalah pilihan terbaik yang sudah kami pertimbangkan matang-matang."
Nara melirik ke arah Zaid, berharap pria itu merasa terganggu atau setidaknya menunjukkan penolakan atas situasi perjodohan yang dipaksakan ini. Namun, Zaid hanya duduk tenang, menyesap tehnya tanpa riak emosi sedikit pun di wajahnya.
Pria itu seolah tak peduli bahwa hidup seorang gadis sedang diputarbalikkan di depannya.
.
.
Malam harinya, kamar tidur Nara terasa seperti penjara yang dingin. Ia duduk di tepi ranjang, menatap layar ponselnya yang berkedip.
Nama Devino tertera di sana. Dengan tangan bergetar, Nara menggeser tombol hijau dan menempelkan telepon ke telinganya.
"Halo, Nara? Kamu baik-baik saja? Suaramu terdengar beda," suara Devino terdengar lembut dari seberang telepon, penuh perhatian yang selalu berhasil menenangkan Nara.
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes juga. Nara menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan isak tangannya agar tidak terdengar.
"Dev..." suara Nara serak.
"Ada apa, Sayang? Cerita sama aku. Ada masalah di rumah?"
Tanya Devino dengan nada khawatir yang jelas terdengar.
Nara menyapu air matanya kasar. Bagaimana ia bisa mengatakan kepada pria yang telah menemaninya selama dua tahun terakhir bahwa orang tuanya telah menjodohkannya dengan pria asing?
Bagaimana ia harus menjelaskan bahwa cinta rahasia mereka kini berada di ujung tanduk karena tembok aturan keluarga yang tak tertembus?
"Orang tuaku... mereka menjodohkan aku, Dev," bisik Nara akhirnya.
Kalimat itu terasa begitu berat saat diucapkan.
Hening sejenak di seberang telepon. Hening yang mencekam, hanya terdengar helaan napas berat dari Devino.
"Dijodohkan?" tanya Devino, suaranya berubah pelan dan dalam.
"Siapa pria itu, Nara? Kenapa bisa mendadak seperti ini?"
"Namanya Zaid. Dia... anak dari sahabat papahku. Aku baru tahu tadi sore saat pulang ke rumah,"
Terang Nara dengan nada putus asa.
"Dev, aku harus bagaimana? Kamu tahu sendiri papah tidak bisa dibantah. Kalau aku menolak, papah tidak akan segan-segan..."
"Tenang dulu, Nara," potong Devino, berusaha tetap tenang meski suaranya menyiratkan emosi yang tertahan.
"Kita sudah bertahan dua tahun secara sembunyi-sembunyi. Aku membangun usahaku ini juga supaya pantas berdiri di depan ayahmu. Beri aku waktu untuk bicara langsung dengan orang tuamu."
"Jangan, Dev! Jangan sekarang!" cegah Nara panik.
"Papah sangat benci kalau tahu aku berpacaran di belakangnya. Kalau kamu datang tiba-tiba, papah justru akan makin keras dan makin cepat menikahkan aku dengan Zaid."
Devino menghela napas panjang. Ada jeda cukup lama sebelum ia kembali berbicara.
"Lalu kita harus bagaimana, Nara? Aku tidak mau kehilangan kamu. Dua tahun ini bukan waktu yang singkat untuk kita."
"Aku akan cari cara untuk bicara pelan-pelan dengan bunda," kata Nara berusaha mencari celah harapan, walau ia sendiri ragu.
"Aku janji akan berjuang, Dev. Tolong beri aku waktu."
"Baik. Aku percaya sama kamu. Tapi ingat, kalau situasinya makin sulit, kabari aku. Aku tidak akan tinggal diam," tegas Devino.
Setelah menutup telepon, Nara menyandarkan kepalanya pada sandaran ranjang. Pikirannya kalut. Di satu sisi, ada Devino yang begitu hangat dan telah mengukir banyak kenangan manis bersamanya.
Di sisi lain, ada titah orang tua yang selama ini tak pernah sanggup ia langgar, serta sosok Zaid yang dingin seperti es.
selamat ya Nara dan Zaid semoga samawa ya🙏