NovelToon NovelToon
Merebut Kembali Takdirku

Merebut Kembali Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28

Audit belum resmi dimulai, tetapi kepanikan sudah lebih dulu bekerja.

Pukul tujuh malam, Karina mengirim foto dokumen kepada Alya.

`Timku menemukan pola transfer Pradipta Foundation ke tiga vendor kecil. Salah satunya terkait fasilitas yang akan dikunjungi Rafi.`

Alya membuka foto itu.

Nama vendor pertama: Cipta Medika Abadi.

Vendor kedua: Sinar Bunda Sehat.

Vendor ketiga: Pelita Karya Nusantara.

Nilainya tidak terlalu besar untuk ukuran Pradipta Group, tetapi cukup sering. Terpecah, berulang, dengan deskripsi umum: edukasi kesehatan, distribusi alat, konsultasi lapangan.

Pola klasik.

Jangan curi terlalu besar sekaligus.

Curi sedikit, sering, dan bungkus dengan kata baik.

Arga duduk di sofa dengan kompres hangat di leher. Rapat siang tadi membuat tubuhnya protes. Namun begitu Alya menyebut vendor, ia langsung membuka mata.

"Tunjukkan."

"Kamu istirahat."

"Tunjukkan."

Alya menyerahkan tablet.

Arga membaca pelan. "Cipta Medika pernah muncul di laporan lama."

"Kamu ingat?"

"Sedikit. Dulu Ayah pernah menanyakan vendor itu. Daren bilang hanya penyedia lokal."

"Tahun berapa?"

Arga berpikir. "Mungkin empat tahun lalu. Aku ingat karena malamnya aku tidur hampir dua hari."

Alya mencatat.

Arga menatapnya. "Kamu tidak terlihat terkejut."

"Aku sudah jarang terkejut."

"Menyedihkan."

"Efisien."

Ponsel Alya bergetar lagi.

Kali ini dari nomor Rafi.

Ia menatap layar beberapa detik.

Arga melihat. "Angkat."

"Kenapa?"

"Aku ingin tahu apakah dia cukup pintar untuk takut."

Alya mengangkat dengan speaker.

"Rafi."

Suara Rafi terdengar rendah. "Alya, maaf mengganggu."

"Ada apa?"

Hening sebentar.

"Aku mendapat tugas audit lapangan yayasan. Ada beberapa vendor dan klinik. Kamu pernah bilang jangan tanda tangan apa pun tanpa membaca."

"Lalu?"

"Ada dokumen yang diminta Yoga kutandatangani sebagai saksi kunjungan awal. Katanya formalitas. Tapi tanggalnya kosong."

Alya menatap Arga.

Arga mengangkat alis.

Setidaknya Rafi takut.

"Jangan tanda tangan."

"Aku belum."

"Kirim foto."

"Kalau Nabila tahu aku menghubungimu, dia akan marah."

"Kalau kamu tanda tangan, kamu mungkin masuk penjara."

Rafi terdiam.

"Kirim foto," ulang Alya.

Beberapa detik kemudian, foto masuk. Dokumen itu menyatakan bahwa tim lapangan telah menerima beberapa paket alat kesehatan dari vendor dan menyaksikan distribusi awal. Tanggal kosong. Nama lokasi kosong. Tanda tangan Rafi diminta di halaman akhir.

Alya berkata, "Mereka ingin memakai namamu sebagai saksi distribusi fiktif."

Rafi mengembuskan napas kasar. "Aku bodoh."

"Belum. Kamu baru hampir."

Arga menutup mulut.

Rafi bertanya, "Apa yang harus kulakukan?"

"Simpan dokumen. Jangan beri tahu Yoga kamu mengirim foto kepadaku. Bilang kamu ingin membaca dulu. Kalau dipaksa, rekam."

"Nabila..."

"Jangan seret Nabila sebelum kamu tahu dia berdiri di sisi mana."

Rafi diam terlalu lama.

Alya tahu.

Ia mulai ragu pada istrinya.

"Rafi," kata Alya, "kamu ingin dihargai keluarga Pradipta?"

"Ya."

"Maka berhenti menjadi orang yang bisa dipakai karena haus dihargai."

Telepon berakhir tanpa kata manis.

Arga menatap Alya. "Kamu menyelamatkannya lagi."

"Aku menyelamatkan bukti."

"Dan dia."

"Kalau dia memilih tetap bodoh setelah ini, aku berhenti."

Arga tidak membantah.

Di apartemen Rafi, Nabila berdiri di ambang pintu kamar, wajah pucat.

Ia mendengar sebagian percakapan.

"Kamu menelepon Alya?" tanyanya.

Rafi menoleh cepat. "Aku hanya bertanya soal dokumen."

"Kenapa harus dia?"

"Karena dokumennya aneh."

"Mas bisa tanya Daren."

"Daren yang memberi tugas."

"Melalui Yoga, bukan langsung."

"Itu tidak membuatku lebih tenang."

Nabila masuk, menutup pintu. "Mas, kalau Bu Ratna tahu kamu bicara dengan Alya, dia akan marah."

Rafi menatapnya.

"Kenapa kamu lebih takut Bu Ratna marah daripada aku dijebak?"

Nabila seperti ditampar.

"Aku bukan begitu."

"Lalu bagaimana?"

"Aku hanya... aku hanya tidak mau kesempatanmu hilang. Ini pertama kalinya mereka memberi Mas pekerjaan."

"Pekerjaan atau perangkap?"

"Jangan langsung percaya Alya!"

"Aku tidak langsung percaya. Aku membaca dokumennya."

Nabila menangis. "Sejak menikah, semua selalu kembali ke Alya. Kamu juga sekarang bertanya pada dia. Apa aku tidak cukup?"

Rafi lelah.

Dulu tangis Nabila membuatnya ingin melindungi. Malam ini, tangis itu membuat kepalanya sakit.

"Ini bukan soal cukup atau tidak. Ini soal dokumen kosong."

"Tapi Alya pasti senang kalau kamu gagal. Dia ingin membuktikan aku salah memilih."

Rafi menatap istrinya lama.

"Apakah kamu memilihku karena aku?"

Nabila membeku.

"Mas..."

"Atau karena kamu percaya aku akan menang?"

Nabila tidak menjawab.

Di ruangan itu, pertanyaan yang selama ini mereka hindari akhirnya berdiri di antara mereka.

Rafi tertawa pelan, pahit.

"Aku kira kamu satu-satunya orang yang melihatku."

"Aku memang melihatmu."

"Tidak. Kamu melihat sesuatu yang kamu pikir akan kumiliki."

Nabila menangis lebih keras. "Itu tidak adil."

"Mungkin."

Rafi mengambil dokumen dan memasukannya ke tas.

"Aku akan menyimpan ini."

"Mas mau ke mana?"

"Ke tempat yang tidak ada Bu Ratna, tidak ada Daren, tidak ada kamu menangis agar aku berhenti berpikir."

Nabila menahan napas.

Rafi keluar.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia meninggalkan Nabila di ruangan tanpa berbalik.

Di kediaman Arga, Alya menerima pesan dari Rafi.

`Aku simpan dokumennya. Kalau terjadi sesuatu padaku, salinannya ada di email yang kujadwalkan terkirim ke kamu.`

Alya menunjukkan pesan itu pada Arga.

Arga berkata, "Dia tidak sepenuhnya bodoh."

"Belum."

"Kamu terdengar kecewa."

"Aku hanya menyesuaikan ekspektasi."

Arga bersandar. "Vendor itu bisa menghubungkan yayasan, Daren, dan mungkin Ratna."

"Iya."

"Langkah berikutnya?"

"Kita biarkan Rafi menjadi umpan yang sadar dirinya umpan."

"Kejam."

"Lebih baik daripada umpan yang tersenyum."

Arga menatapnya lama.

"Kamu pernah melakukan ini sebelumnya."

Alya tidak menjawab.

Ia membuka dokumen vendor di tablet.

Di antara nama-nama kecil itu, ada jalan menuju sesuatu yang lebih besar.

Dan kali ini, kalau Rafi jatuh, ia jatuh dengan mata terbuka.

Di apartemen, Nabila mondar-mandir tanpa suara.

Rafi duduk di meja makan dengan laptop terbuka. Semua dokumen yang dikirim Yoga ia salin ke penyimpanan lain, lalu ia kirim ke alamat email baru yang diberikan Karina.

"Kamu benar-benar mau melawan Mas Yoga?" tanya Nabila.

"Aku mau membaca sebelum tanda tangan."

"Itu sama saja."

Rafi berhenti mengetik. "Sama bagi siapa?"

Nabila menggigit bibir. Ponselnya bergetar. Nama Ratna muncul.

Ia tidak langsung mengangkat.

Rafi melihat layar itu. "Angkat saja."

"Tidak penting."

"Kalau tidak penting, kenapa tanganmu gemetar?"

Nabila mematikan panggilan, tetapi sedetik kemudian pesan masuk.

`Pastikan Rafi tidak keluar dari jalur. Kalau dia mulai banyak bertanya, ingatkan siapa yang selama ini membantu kalian.`

Rafi membaca pesan itu sebelum Nabila sempat menutup layar.

Ruang makan menjadi sunyi.

"Selama ini?" tanyanya pelan.

"Itu bukan seperti yang kamu pikir."

"Aku belum bilang aku pikir apa."

Nabila duduk di kursi seberang. Wajahnya yang biasanya siap menangis kini kosong, seperti orang yang baru sadar air matanya tidak lagi cukup.

"Aku cuma tidak mau kita jatuh," katanya.

"Kita jatuh karena siapa, Nab?"

"Karena Alya membuat semuanya kacau."

Rafi tertawa pendek. Bukan tawa lucu. "Alya tidak menyuruh aku tanda tangan kosong. Alya juga tidak menyuruh kamu melapor ke Bu Ratna setiap kali aku ragu."

Nabila menunduk.

Ponselnya bergetar lagi. Kali ini pesan dari nomor Daren.

`Besok pagi Rafi harus tetap datang ke gudang arsip. Jangan biarkan dia membawa siapa pun.`

Rafi mengambil foto layar itu dengan ponselnya sendiri.

"Mas Rafi!"

"Apa? Ini kan demi kita tidak jatuh."

Nabila menatap suaminya seolah baru melihat orang asing.

Untuk pertama kalinya, Rafi tidak meminta izin pada rasa takut istrinya. Ia mengirim foto itu ke Alya, lalu menambahkan satu kalimat.

`Kalau aku masih bodoh setelah ini, tampar saja aku. Tapi sekarang aku ingin tahu semua.`

Alya membaca pesan itu di ruang kerja Arga.

"Akhirnya?" tanya Arga.

"Akhirnya dia bertanya sebelum tenggelam."

Arga menatap layar. "Kamu akan menamparnya?"

"Kalau perlu."

"Kasihan."

"Dia mantan suamiku, bukan bayi tabung."

Arga terbatuk karena menahan tawa. Alya menyodorkan air tanpa mengubah ekspresi.

Di luar candaan kecil itu, peta permainan berubah. Rafi masih lemah, masih mudah panik, tetapi kelemahan yang sadar dirinya lemah bisa dipakai untuk memancing orang yang merasa paling kuat.

1
Aisyah Suyuti
menarik
Rossy Annabelle
next thor 💪,alurnya menarik sih thor ada bab ambisius gitu .tentang orang² besar yah🤔tp seru sih
Irsyad layla
kapan lanjut lagi thor
Irsyad layla
tapi tadi dia bawa mobil sendiri
Rossy Annabelle
bayi tabung GX tuh yg Segede gaban/Facepalm/
Rossy Annabelle
next ,doble up-nya thor/Chuckle/
Rossy Annabelle
next💪
Rossy Annabelle
sampe sini bagus thor ceritamu ada vote buat author 😁
Rossy Annabelle
apakah Maya kartu as Ratna y thor
Dewi Sartika
lanjutt Thor
Dewi Sartika
bagus ceritanya.,ga bertele² ,gass thor
ririn nurima
cerita nya seru ...aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!