Sejak lahir, Varren Kaelor tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Di balik wajah tampan yang dikagumi banyak orang, tersembunyi sebuah rahasia yang bahkan tidak boleh ia akui pada dirinya sendiri. Setiap langkah, setiap senyum, bahkan setiap hubungan yang ia jalani hanyalah bagian dari sandiwara yang dipaksakan oleh seseorang.
Ketika harus memasuki sekolah paling bergengsi di negeri itu, Varren yakin ia hanya perlu bertahan seperti biasanya.
Namun, semuanya berubah saat seseorang mulai menembus tembok yang selama ini ia bangun.
Semakin dekat orang itu, semakin sulit Varren membedakan mana kebohongan yang harus dipertahankan, dan mana perasaan yang tidak seharusnya pernah tumbuh.
Lalu... apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Kaelor?
"Aku tidak takut jika dunia membenciku. Aku hanya takut... saat dunia mengetahui siapa diriku sebenarnya." — Varren
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Varren cowok idaman..
Pagi hari ini Varren melakukan sebagaimana janjinya, jika dirinya akan masak makanan untuk Sylas. Varren start dari jam 5 pagi untuk masak dan siap-siap ke sekolah.
Rupanya kulkas berisi penuh dengan sayur-sayuran dan juga daging. Bahkan rempah-rempah semuanya lengkap membuat Varren semangat dan senang menatap semua bahannya.
Melihat banyak sayuran itu sangat membangkitkan kesenangan dirinya. Jika begini ia merasa dunianya terporsir habis dengan semua makanan yang ia buat. Tapi waktu pagi tak banyak untuk ia kenakan. Hanya mampu masak yang simple seperti ayam goreng rempah dan capcai sayur. Hanya dua menu saja karena dirinya juga harus siap-siap ke sekolah.
"Wah gilak si Ren. Bisa-bisanya apa yang loe masak seenak ini, loe pernah ikut les masak yah?" tanya Reja diangguki Tavian di sebelahnya, mulut Reja penuh nasi menatap Varren yang makan dihadapannya tenang berbinar senang.
Varren menggeleng. "Nggak sih. Cuma coba-coba aja." ujar Varren jujur.
"Coba-coba aja seenak ini apalagi kalo beneran belajar. Loe pasti bisa ikut lomba nyanyi Ren!!!" ujar Reja yang kepalanya segera digeplak Tavian.
Tavian menatapnya sengit. "Nggak nyambung bego!" Reja terkekeh pelan.
Tavian menggeleng saja. "Ini namanya kita perbaikan gizi kalo Varren setiap hari masak. Bisa gemuk ini.." jelas Reja. Tavian dan Reja tos ria karena setuju dengan kekehan mereka.
Varren terkekeh makan dengan tenang. Tatapannya beralih pada Sylas yang sudah menghabisi tiga potong ayam. "Jangan banyak banget makan daging. Nanti kolesterol. Makan sayur juga." ujar Varren menaruh sayur di piringnya Sylas. "Sayur, daging, nasi harus seimbang. Biar sehat." jelas Varren lagi kepada Sylas.
Sylas yang makan tenang menatap Varren tidak suka. "Gue nggak suka sayur." jelasnya menyisihkan sayur brokoli di piring.
Varren menahan sendok Sylas. "Coba dulu dikit. Kalo nggak enak boleh deh nggak dimakan," ujar Varren.
Sylas menatap Varren serius. "Bener yah dikit?" ujarnya. Varren mengangguk. Menyuapi Sylas sayur brokoli dan wortel. Sylas dengan pelan mendekati bibirnya di sendok dan makan wortel di sana tenang.
Sejenak ia mengerjap menatap Varren. Reja dan Tavian menatap Sylas dengan penuh tanda tanya. Sylas berdehem, "Nggak buruk." ujarnya lalu makan sayur di atas piringnya tenang. Tidak seperti biasanya.
Varren terkekeh melihatnya lalu menaruh sayur lagi di atas piringnya Sylas. "Gue punya adek yang susah banget makan sayur juga, soalnya dia bosen." ujar Varren tenang.
Sylas melirik Varren yang bicara. Varren tersenyum. "Dia punya penyakit jantung bawaan dan nggak boleh makan asal atau bebas. Jadi gue harus mutar otak deh biar dia bisa makan sayur setiap hari." jelas Varren dengan semangat. "Adek gue lucu banget sih," gumam Varren terkekeh.
Sylas diam beberapa detik melihat wajah Varren yang tiba-tiba berubah lembut ketika membicarakan adiknya. Untuk pertama kalinya, Sylas melihat ekspresi yang benar-benar tulus di wajah Varren.
"Jadi setiap hari aja loe masakin gue, anggap aja gue adek loe." jelas Sylas.
Reja dan Tavian langsung melotot.
"Buset... Pak Ketua baru kenal seminggu udah minta dirawat." ujar Reja terkekeh.
"Besok-besok sekalian minta disuapin." timpal Tavian sambil menggeleng.
Varren mendengus. "Nggak lah. Badan loe kekar gini nggak cocok jadi adek gue, cocoknya jadi titan." jelas Varren terkekeh menunjuk lengan Sylas.
"Hahaha." tawa Reja menggema.
Sedangkan Sylas menyelesaikan makannya.
"Udah udah. Cepet habisin makanan kalian." ujar Varren tenang sembari bangkit. "Kayak kemarin yah beresin. Kayaknya gue hari ini duluan yah. Soalnya gue harus persiapan debat lagi." jelas Varren tenang di sana kepada mereka.
Reja Tavian mengangkat jempol mereka semangat. "Siapppp yang mulia." jelas keduanya.
Varren terkekeh menunjuk susu di atas meja yang belum mereka minum. "Itu susu juga jangan lupa diminum biar sehat. Gue duluan." jelas Varren memakai sepatunya sebelum pergi menutup pintu.
Reja menatap teman-temannya yang di sana. "Menurut kalian Varren itu gimana?" tanyanya tenang.
Tavian menggeleng pelan. "Sejauh ini sih dia baik banget dan kelihatan ambis banget. Masa gue lihat dia semalem belajar sampek jam dua. Katanya kemarin dia capek kan." ujarnya dengan wajah julidnya.
Reja melebarkan matanya. "Iya sih dia kayak ambis gitu. Kalo baik gue lihat dia sejauh ini baik banget. Dan kayaknya dia juga nggak tau kita siapa, atau bahkan dia nggak tau siapa Sylas." jelasnya menatap Sylas yang meminum susu dari Varren tenang.
"Kalau dia ternyata mata-mata Kings of Asphalt?" tanya Tavian tiba-tiba.
Sylas menatap mereka dingin. "Nggak."
Reja menaikkan alis. "Kenapa loe yakin banget?"
Sylas meneguk susunya habis lalu berdiri. "Gue percaya insting gue." jelasnya singkat lalu pergi meninggalkan keduanya.
Mereka mencibir satu sama lain melihat Sylas tidak tau diri.
"Bos nggak ikut cuci piring bos?" tanya Tavian kepada Sylas yang menjauh.
Sylas melirik mereka malas. "Gue yang beli sayurnya, kalo kalian lupa, kalian cuma numpang harus tau diri." jelas Sylas ketus kepada keduanya.
Keduanya harus mengelus sabar jantung mereka yang terasa ngilu. Bos mereka ini memang bermulut pedas sekali. Mampu menggoyangkan mental orang lain.
---
Varren dengan senang keluar dari ruang belajar debatnya.
"Varren." panggil perempuan teman tim debat Varren. Varren menatapnya dan menghentikan langkahnya.
Varren tersenyum ramah. "Eh Gea ada apa?" tanya Varren lembut.
Gea segera mendekati Varren. "Bareng aja ke kelasnya. Kita searah kok." jelas Gea ceria.
"Kelas gue di atas loe di bawah." jelasnya lagi membawa buku-buku debat di pelukannya cukup banyak. Varren mendengarnya mengangguk pelan.
"Ya ayok." ujar Varren sembari berjalan diikuti Gea. Gea kelas 11 salah satu anak yang terkenal akan kecerdasannya dalam public speakingnya yang luar biasa. Salah satu juara satu pidato tingkat internasional.
Dia juga memiliki wajah yang cantik dan berkulit putih. Sayangnya dia hanya orang biasa dan menggunakan beasiswa. Jadi beberapa orang tidak mau bermain atau berteman dengannya.
Gea melirik Varren yang di sebelahnya tenang. "Varren kelas 1 kan? Hari ini udah terakhir MOS kan?" tanya Gea sopan dan lembut. Suara Gea itu sangat merdu dan syahdu untuk didengar.
Varren mengangguk pelan lagi. "Iya kelas satu." jelas Varren tenang. Segera tatapan Varren menatap buku di tangan Gea yang ia bawa sejak tadi. "Mau dibantu bawa bukunya?" tanya Varren.
Gea menggeleng tapi Varren segera mengambil buku-buku tersebut dari tangan Gea.
Gea tertegun menatap Varren tak enak. "Biar gue aja. Gue kan cowok." ujar Varren. Buku yang dibawa salah satunya buku kampus besar paling lengkap, lalu materi-materi yang cukup banyak. Varren menjadi kasihan melihatnya.
"Tapi aku nggak ngerepotin kamu kan? Soalnya itu berat." ujar Gea kepada Varren tidak enak dan meringis. Ia hanya membawa satu buku catatan tipis lagi sedangkan semua sudah dibawa oleh Varren.
Varren menggeleng pelan. "Nggak kok." jelas Varren tenang.
Gea tersenyum kecil di dalam hati.
Ternyata rumor tentang Varren benar ya...
Ia menatap sosok Varren yang berjalan di dekatnya dengan tatapan penasaran. Dia memang berbeda dari yang kubayangkan.
Tak lama mereka sampai di depan kelas Gea. Varren menurunkan buku-buku itu di meja terdekat.
Gea tersenyum. "Makasih ya, Varren."
Tiba-tiba...
"Sayang!"
Suara Celine menggema di koridor. Semua murid menoleh.
Celine berlari kecil mendekati Varren dan langsung memeluk lengannya erat. Lalu menatap Gea dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan tajam.
"Maaf ya, Kak." ujar Celine dengan nada manis tapi menusuk. "Dia tunangan aku."
Gea membeku. Senyumnya menghilang digantikan ekspresi kaget dan sedikit sakit. Matanya beralih ke Varren, menunggu konfirmasi.
Varren memejamkan mata sejenak. Tangannya mengepal pelan di sisi tubuh. Ia tidak membantah, tapi juga tidak mengiyakan. Hanya diam.
Gea menatapnya lebih lama, mencoba membaca ekspresi Varren. Ada sesuatu di sana—ketidaknyamanan yang ia tangkap.
Dia tidak bahagia.
Pikiran itu muncul begitu saja di kepalanya.
Di ujung koridor, Sylas yang kebetulan lewat berhenti sejenak. Ia memandang tanpa ekspresi. Tatapannya beralih dari Celine yang memeluk Varren, ke wajah Varren yang tertunduk, lalu ke Gea yang terlihat kaku.
Tanpa berkata apa pun, Sylas melanjutkan langkahnya—meninggalkan pemandangan yang baru saja ia lihat.
Celine tersenyum puas. "Ayo Sayang, anterin aku ke kelas."
Varren membuka matanya. "Cel... nanti." ujarnya pelan.
Tapi Celine sudah menarik lengannya, membawanya pergi dari hadapan Gea.
Gea masih berdiri di tempatnya, menatap punggung Varren yang menjauh. Hatinya terasa aneh.
Tunangan?
*****
Sepanjang jalan, Celine terus berbicara tentang rencana mereka, tentang masa depan, tentang pernikahan. Varren hanya mendengarkan dengan setengah hati.
Matanya justru mencari-cari sesuatu. Seseorang.
Bersambung...