NovelToon NovelToon
Kabur Ke Gunung Kawi Nyasar Ke Pelaminan Yang Di Dua Kan

Kabur Ke Gunung Kawi Nyasar Ke Pelaminan Yang Di Dua Kan

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Pernikahan Kilat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan di pintu kamar utama membuyarkan tangis Diaz.

Dari balik daun pintu jati yang tebal, terdengar suara bariton Ganda yang memanggil namanya.

"Diaz? Buka pintunya, Diaz. Tolong, keluar sebentar," pinta Ganda dari luar, suaranya terdengar menuntut namun ada nada lelah di sana.

Diaz mengusap air matanya dengan kasar. Dengan gerakan malas, ia memutar anak kunci dan membuka pintu kamar hanya setengah badan.

Ia menatap pria yang baru beberapa jam lalu menjadi suaminya itu dengan pandangan dingin dan kosong.

"Mau apa lagi?" tanya Diaz datar, mengabaikan keberadaan Laura yang masih berdiri di belakang Ganda dengan senyum sinisnya.

"Ayo kita keluar lagi, Diaz. Salami para tamu yang tersisa. Acaranya belum selesai," ajak Ganda, mencoba meraih pergelangan tangan Diaz.

Namun, Diaz dengan cepat menarik tangannya ke belakang.

Ia menatap lurus ke dalam manik mata Ganda, menyalurkan seluruh rasa sakit yang sejak tadi ia pendam sendiri.

"Aku lelah. Dan tolong, hargai aku sebagai manusia, Ganda."

Kalimat singkat namun menohok itu membuat Ganda tertegun di tempatnya.

Belum sempat Ganda mencerna perubahan sikap sang istri, Diaz sudah melangkah mundur.

Ia menutup pintu kamar itu dengan tegas di depan wajah Ganda—kali ini tanpa memutar anak kuncinya dari dalam, seolah menunjukkan bahwa ia sudah terlalu lelah bahkan hanya untuk sekadar mengunci pintu.

Melihat respons dingin Diaz, Laura langsung mengambil kesempatan.

Ia maju selangkah dan dengan manja menggandeng erat lengan suaminya.

"Sudahlah, Mas. Ayo kita tinggal saja perempuan tidak tahu untung itu. Lebih baik kita kembali ke pelaminan," bujuk Laura, bibirnya mengerucut manis sebelum akhirnya ia berbisik memanas-manasi Ganda.

"Mas, lagipula kalau dipikir-pikir, lebih baik kamu ceraikan saja dia secepatnya. Dia cuma bikin repot dan merusak hari bahagia kita."

Ganda langsung menoleh tajam. Napasnya memberat karena emosinya yang mulai tersulut sejak drama subuh tadi.

Ia menghempaskan tangan Laura dari lengannya dengan kasar.

"Diam kamu, Laura! Jangan mengaturku!" bentak Ganda dengan suara tertahan, membuat Laura tersentak kaget dan langsung bungkam seribu bahasa.

Sementara itu di dalam kamar, Diaz tidak memedulikan lagi perdebatan sepasang kekasih di luar sana.

Baginya, ruangan ini adalah satu-satunya tempat ia bisa bernapas.

Dengan gerakan perlahan namun pasti, ia melepas satu per satu pin dan aksesori hijab mewah yang menempel di kepalanya, lalu meletakkannya begitu saja di atas meja rias.

Ia meraih beberapa lembar kapas dan cairan pembersih, lalu menggosok wajahnya dengan kasar.

Riasan pengantin yang tadinya membuat semua orang pangling perlahan luntur, menyisakan wajah polos Diaz yang tampak pucat dengan mata yang sembap.

Setelah itu, ia menanggalkan gaun pengantin mewah milik pihak WO tersebut.

Diaz memilih mengenakan kembali kaus oblong hitam longgar dan celana jinsnya yang sempat ia pakai saat kabur subuh tadi.

Pakaian sederhana inilah identitas aslinya. Diaz duduk di tepi ranjang besar, memeluk lututnya sendiri sembari menatap kosong ke arah jendela, bersiap menghadapi malam pertama paling dingin dalam hidupnya di pondok pesantren ini.

Jam lima sore, gaung selawat dari pengeras suara pondok menandakan bahwa rangkaian acara resepsi pernikahan yang melelahkan itu akhirnya benar-benar selesai.

Para santri mulai membersihkan pelataran ndalem.

Abah yang baru saja mengantar tamu terakhir, menepuk bahu Ganda yang tampak kuyu di teras.

"Ganda, segera mandi dan bersihkan dirimu. Sebentar lagi Maghrib tiba, bersiaplah untuk mengimami di masjid," perintah Abah dengan nada kebapakan yang menenangkan.

Ganda mengangguk takzim. Ia melangkah masuk ke dalam rumah, melewati koridor sepi dengan pikiran yang berkecamuk.

Begitu tangannya mendorong pintu kamar utama yang tidak terkunci, gerakannya mendadak terkunci.

Di atas ranjang besar berseprai putih, Diaz sudah duduk tegak. Ia tidak lagi memakai gaun mewah ataupun riasan tipis.

Gadis itu kembali mengenakan kaus oblong hitam dan celana jinsnya.

Di pangkuannya, tas ransel hitam miliknya sudah terdekap erat, siap untuk disandang kapan saja.

"Diaz, kamu mau kemana?" tanya Ganda, suaranya tercekat di tenggorokan.

Ada rasa panik yang tiba-tiba menjalar di dadanya melihat pemandangan itu.

Diaz mendongak, menatap Ganda dengan sepasang mata yang terlampau tenang—ketenangan yang justru terasa mematikan.

"Duduklah, Ganda. Aku mau bicara."

Melihat keseriusan di wajah istrinya, Ganda menurut tanpa bantahan.

Ia berjalan perlahan lalu duduk di kursi kayu tepat di hadapan Diaz, matanya tak lepas memandang wajah polos perempuan yang baru beberapa jam lalu ia halalkan tersebut.

"Pernikahan kita tidak usah dilanjutkan," ucap Diaz lambat namun telak, setiap katanya diucapkan tanpa keraguan.

"Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini."

Diaz merogoh kantong ranselnya, lalu mengeluarkan sebuah amplop tebal berisi dokumen dan slip transaksi berharga fantastis.

Ia meletakkannya di atas kasur, tepat di antara mereka.

"Ini uang mas kawin dua ratus juta yang kamu berikan tadi. Masih utuh, tidak berkurang satu rupiah pun. Aku kembalikan."

Diaz mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak yang kembali bertamu di dadanya.

"Semoga kamu bahagia dengan Laura."

Setelah menuntaskan kalimatnya, Diaz bangkit dari duduknya.

Ia menyandang ransel hitamnya ke pundak, bersiap melangkah melewati Ganda untuk keluar dari kamar itu, keluar dari hidup pria itu selamanya.

"Jangan pergi, Diaz. Aku mohon," pangkas Ganda cepat. Ia ikut bangkit, tangannya bergerak refleks menahan lengan Diaz.

Sorot matanya menunjukkan gurat ketakutan yang nyata.

Demi apa pun, ego dan harga dirinya runtuh seketika saat melihat Diaz benar-benar ingin melangkah pergi.

Diaz menepis tangan Ganda dengan halus, namun tegas.

Ia menatap Ganda lurus-lurus dengan senyum getir yang menyakitkan.

"Aku harus pergi. Dan aku tidak mau kamu mempertahankan pernikahan ini hanya karena utang budi," desis Diaz, suaranya bergetar menahan perih.

"Kamu dan aku tidak saling mencintai. Jadi, maaf, aku harus pergi."

Deg.

Ganda seketika terdiam mematung, seolah seluruh pasokan udara di sekitarnya tersedot habis.

Kalimat "utang budi" dan "tidak saling mencintai" itu menghantam kesadarannya bagai godam berat.

Memorinya berputar cepat, langsung teringat pada ucapan yang ia lontarkan kepada Laura di koridor beberapa jam lalu.

Ganda benar-benar tidak menyangka jika Diaz mendengar semua percakapan rahasianya dengan Laura di balik pintu.

Penyesalan teramat besar mendadak melingkupi hati sang anak kiai, tepat saat langkah kaki Diaz mulai bergerak meninggalkan kamar.

Ganda bergerak secepat kilat. Sebelum jemari Diaz sempat menyentuh gagang pintu, tubuh bidang pria itu sudah bergeser, menghadang tepat di depan daun pintu jati yang tertutup rapat.

Ia mengunci satu-satunya jalan keluar, menolak melepaskan Diaz terlepas dari rasa bersalah yang kini meremukkan dadanya akibat ucapan "utang budi" yang telanjur didengar oleh sang istri.

Napas Ganda memburu. Ia menatap Diaz dengan tatapan yang campur aduk antara panik, menyesal, dan ketakutan yang nyata.

"Minggir, Ganda," desis Diaz, suaranya terdengar parau dan teramat lelah.

"Tidak, Diaz. Aku tidak akan minggir," tegas Ganda. Suaranya bergetar menahan gejolak emosi di dada, namun terdengar mutlak tanpa bisa dibantah.

Ia memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Diaz yang bengkak.

"Aku akui ucapanku tadi salah. Aku menyakitimu, dan aku minta maaf. Tapi dengarkan aku, pernikahan di hadapan Allah dan takmir masjid tadi bukan main-main! Aku tidak pernah menganggapnya sebagai lelucon atau taktik belaka."

Ganda mencengkeram kedua bahu Diaz dengan lembut namun erat, mengunci pergerakan gadis itu.

"Aku sudah mengucapkan rida atas dirimu di depan Abah, di depan ratusan umat. Demi Allah, Diaz. Aku bersumpah tidak akan pernah menceraikanmu. Kamu istri pertamaku, dan selamanya akan tetap begitu."

Mendengar sumpah mutlak itu, Diaz justru merasa kepalanya semakin berdenyut nyeri.

Ia sudah berada di batas kemampuannya. Secara fisik, tubuhnya sudah compang-camping akibat pelarian subuh tadi, ditambah dehidrasi parah setelah mengendarai motor sport berjam-jam di bawah terik matahari Kepanjen.

Belum lagi syok mental bertubi-tubi—mulai dari akad nikah dadakan, makian histeris dari mamanya tentang kebangkrutan keluarga, hingga kenyataan pahit bahwa dirinya dipoligami dan hanya dianggap sebagai pembalas utang budi.

"Lepaskan aku, Ganda! Lepas..." Diaz mencoba memberontak.

Ia memukul dada bidang Ganda dengan sisa tenaga yang ia miliki, berniat menjauhkan pria itu dari hadapannya.

Namun, baru dua kali pukulan lemah itu mendarat, gerakan Diaz mendadak melambat.

Detak jantungnya bertalu terlalu cepat hingga telinganya berdenging.

Kesadaran Diaz perlahan merosot. Pandangannya mendadak mengabur, memutih, sebelum akhirnya semuanya berubah menjadi gelap gulita.

"Diaz?!" Ganda memekik panik saat merasakan tubuh di hadapannya mendadak kehilangan tumpuan.

Sebelum tubuh ringkih itu menghantam lantai marmer yang dingin, lengan kekar Ganda dengan sigap menangkap pinggang Diaz.

Tubuh lemah gadis itu langsung limbung dan jatuh pingsan sepenuhnya di dalam dekapan hangat Ganda.

Di dalam kamar yang sunyi itu, sang anak kiai mendekap erat istri pertamanya yang telah tumbang oleh badai takdir, menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa melepaskan wanita ini lagi.

1
merry yuliana
hmmmmm jangan bolak balik kak
sri hastuti
akhirnya ketemu, ayo diaz, pelan2 hilangkan trauma mu, ganda mencintaimu sungguh2 itu, ayo bangkit lg diaz, raih kebahagiaanmu kembali, umi yg kyk iblis sdh pergi, dan madumu jg sdh dicerai 🙏
sri hastuti
waduuh diaz, kenapa km buru2 keluar rumah sakit, ayo km hrs kuat hadapu semua, ganda sdh mencintaimu , 😭😭 ayo thor pertemukan kembali dng ganda ,kasihan diaz ,msh trauma dng umi yg kyk iblis kelakuannya 😡😡

😡😡😡😡😡😡😡😡
Elia Rosa
syukurin buat kalian berdua.. ibu mertua Dan menantu durjana🤭
sri hastuti
lanjuuttt thor sdh gak sabar topeng istri pemilik pondok yg spt iblis dibuka dan istri durhaka yg dengki di libas 😡😡😡
Elia Rosa
tambah seru NIH.. di tunggu kelanjutannya Thor 💪👍
sri hastuti
istri pemilik pondok kyk iblis ya, kelakuan nya , hiiihhh ngeri juga ,penuh tipu muslihat dan kejam , 😡😡😡😡
sri hastuti
ayo ganda kmnhrs tegas ,meski itu umi mu yg kelakuannya spt iblis, kyai jg hrs tegakkan keadilan ,meski itu istrimu ,yg sdh kyk iblis
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
sri hastuti
kelakuan umi kok kyk iblis 😡😡😡
Ana Yasrotin
Serius tanya..memang dipondok ada kelakuan se orang yg disebut umi dan dihormati py watak yg tdk manusiawi begitu 🤔
Ana Yasrotin
Terus terang thor dr awal novel saya br koment ini..saya bukan tipe orang yg suka dg novel genre poligami..tp sejauh ini saya ikuti alur cerita krn aktor pria tegas..semoga akhirx Ganda bisa memilih salah satu antara Diaz dan Laura krn mmg si Laura tdk pantas bersanding dg Ganda..mdhn diakhir cerita bs memuaskan pembaca 🙏
sri hastuti
bagus diaz, buka semua kedok kemunafikan mereka, terutama umi yg jd orang tua gak tau diri, cm ego saja yg dibesar besarkan, dan umi yg gak jd contoh baik 👍👍😡😡😡
sri hastuti
ahh lama2 pengen tak huhhh ,umi sm menantu laknat semua , thor , bikin jengkel aja, orang kok gak punya belas kasih, apalagi katanya umi , tp kelakuan e kyk 😡😡😡🤭
merry yuliana
💪💪💪😍👍🙏
Asra
Cerita kamu bagus, Kak. Bintang 5 nih, kayak kurang hhuhu, kamu berhasil bikin orang (terutama aku) bisa mendalami ceritamu, dibikin kesel, dibikin sedih, dan seterusnya^^✨

Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
sri hastuti
thor, aku kok jd jengkel dan mual dng kelakuan umi , gitu kok istri pemilik pondok to ??, trus anak didik e spt apa itu, ???? arogan ,apalagi laura itu. wanita yg bikin jengkel 😡😡😡
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
merry yuliana
ganda pdhl peluk obat termanjur buat diaz...ga salah sebuah pelukan utk hati yang patah...semangat crazy upnya kak...please crazy up banyakkan dikit boleh ya😍💪💪💪🙏👍
sri hastuti
bagus Abah,hrs tegas , umi nya juga ternyata spt itu, bikin 😡😡
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
sri hastuti
blm tentu ganda bisa adil dng 2 istri, kasihan biar lepas dari Ganda, kecuali Ganda bisa melindungi dng baik, kl tdk pendreritaannya semakin menjadi nanti 🙏🙏
sri hastuti
kasihan diaz thor, blm nanti menghadapi nyai nya ganda dan laura yg sdh punya rencana jahat, biarkan diaz bahagia thor, 🙏🙏🙏
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!