Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5
Keesokan harinya.
Di dalam kelas, murid-murid X IPA 2 duduk dengan gelisah, menunggu tiga lembar kertas putih berisi soal pilihan ganda dan esai. Saat soal akhirnya dibagikan, suara pena mulai beradu dengan kertas, memenuhi ruangan dengan bunyi berdesit samar.
Di depan kelas, seorang guru memandang tajam ke arah para siswa, sambil mengamati setiap gerak-gerik mereka.
"Tolong kerjakan dengan jujur. Dilarang melihat kanan-kiri, dan fokuslah pada soal masing-masing. Jika ada yang ketahuan menyontek, tidak akan naik kelas. Paham?" ucapnya dengan nada tegas.
Seluruh murid mengangguk serempak, menyembunyikan keresahan di balik ekspresi patuh. Namun, Valeska tampak mengernyit, kedua alisnya bertaut bingung. Dia membolak balikkan lembar soal, namun setiap kata terasa asing, seakan seluruh materi yang sudah dipelajari selama ini menguap tanpa bekas. Padahal, Valeska termasuk orang yang paling cepat tanggap dalam menyelesaikan soal.
Di sampingnya, Laksha yang memperhatikan perubahan ini, berbisik pada Anaya, "Biasanya begitu soal dibagikan, Valeska langsung tancap gas. Tapi lihat dia sekarang ... masa iya, semua yang kita pelajari tiba-tiba hilang gitu aja?"
Valeska yang jaraknya tak jauh, mendengar bisikan mereka dan membalas dengan wajah masam. "Gue nggak ngerti kenapa, Lak. Otak gue kayak kosong. Kalau dipaksa mikir, kepala gue rasanya ingin meledak," keluhnya pelan.
Bukannya menertawakan, Prisha malah mengeluarkan sebotol air mineral dan menyodorkannya ke Valeska. "Minum dulu, mungkin otak lo butuh penyegaran. Waktunya cuma sembilan puluh menit, sementara soal ada lima puluh, pilihan ganda dan 5 esai."
Valeska menatap Prisha dengan mata bulat. "Lima puluh lima soal, serius?"
Prisha mengangguk tenang. "Iya, makanya ayo fokus. Kita nggak punya banyak waktu."
Valeska mencoba menenangkan diri, tapi matanya tetap berat memandangi soal. Sesekali dia memijat kening dan menepuk pelan kepalanya. Dari meja guru, sang pengajar Biologi memperhatikannya sejak awal, dan akhirnya tak lagi bisa menahan diri.
"Valeska Delina Putri!" serunya, lantang.Valeska terlonjak.
"I-iya, Bu?"
"Saya perhatikan sejak tadi, kamu belum mulai mengerjakan soal satupun. Kamu bahkan belum menulis apa-apa," tegurnya dengan tajam.
Valeska mengangguk kaku, lalu dengan enggan mulai menjawab soal pilihan ganda tanpa benar-benar membaca. Dalam hatinya, ia merasa semakin tertekan.
"Ini kenapa sih? Dipaksa mikir malah pusing. Kalau salah semua gimana nanti?" pikirnya, khawatir.
Dari samping, Prisha berbisik lembut. "Soal ke lima jawabannya bukan B, tapi A. Soal ke enam juga, harusnya D, bukan B."
"Kok, lo bisa tahu?" bisik Valeska dengan heran.
"Itu kan materi yang kita bahas dua hari lalu di rumah Anaya. Masa lupa?" jawab Prisha sambil tersenyum tipis.
Valeska mengangguk dan segera menghapus jawabannya. "Kalau difusi itu apa?" tanyanya lagi, sambil menunjukkan soal yang belum terjawab.
Prisha terkekeh kecil. "Pergerakan molekul zat dari konsentrasi tinggi ke rendah tanpa membran khusus,"
"Makasih ya," ucap Valeska, menuliskan jawaban baru di kertasnya. Lalu dengan setengah bercanda, ia mengedikkan kepala ke arah guru Biologi.
"Tapi soal-soal ini susah banget, sih."
Prisha menahan tawa. "Bukan soalnya yang susah, tapi lo aja yang lagi nggak fokus. Dia itu guru kita, lho. Nggak sopan kalau ngomong gitu."
"Ya, tapi dia nggak ngertiin gue sama sekali. Udah tahu gue pusing, malah dipanggil pakai nama lengkap," sahut Valeska dengan nada sebal.
Ujian berakhir dengan begitu lama, bagi seorang Valeska, dan dia mendapati dirinya terduduk di taman sekolah, menatap langit dengan tatapan kosong. Semua usahanya untuk berkonsentrasi seakan sia-sia, dan kini hanya ada rasa kecewa menyelimuti.
"Gue udah belajar sebulan penuh, tapi semuanya kayak sirna begitu aja," batinnya, perasaan sesal pun mjlai menggerogoti.
Tak lama kemudian, Prisha, Laksha, dan Anaya mendekat, menemui Valeska yang ternyata sedang duduk di taman seorang diri.
"Val, kok tadi bisa kayak gitu? Padahal lo udah belajar keras," tanya Anaya hati-hati.
Valeska menghela napas panjang. "Entahlah. Tiba-tiba otak gue nge-blank. Semua materi yang kita pelajari hilang gitu aja,"
"Lo nggak lagi banyak pikiran, kan?" tanya Laksha penuh perhatian.
Valeska menggeleng, mencoba tersenyum walau terasa pahit. "Nggak usah sedih, kalau lo kena remedial, kita semua bakal ikut remedial kok," kata Prisha sambil merangkul Valeska.
Anaya dan Laksha mengangguk setuju. "Satu remedial, semua remedial!" ujar Laksha dengan riang, mengepalkan tangan lalu diangkat ke udara.
Valeska tertawa kecil melihat solidaritas teman-temannya, namun tak bisa menyembunyikan rasa sesalnya.
"Kalian nggak usah ikut-ikutan. Kita udah belajar mati-matian, masa mau remedial bareng? Nggak enak sama orang tua kalian."
Mereka hanya tersenyum, mengabaikan protes Valeska. Di tengah rasa kecewanya, Valeska merasa beruntung karena memiliki teman dekat seperti mereka. Meskipun ujian ini terasa berat, dia tahu, selama ada mereka, segalanya tak akan pernah sia-sia.
"Gue kaget, waktu Bu Findri manggil nama lo," ujar Anaya.
"Mana pake nama lengkap lagi," sahut Laksha.
"VALESKA DELINA PUTRI!" lanjut Prisha, persis seperti guru biologinya.
"Nggak usah teriak, telinga gue sakit dengernya." Tangkas Valeska, tidak suka.
Mereka berempat akhirnya memutuskan untuk pergi ke kantin, menyadari bahwa jam pelajaran berikutnya hampir dimulai sementara perut mereka masih kosong dan menuntut diisi.
***
Di tengah kesibukan kampus, Kaivandra duduk di sudut kantin fakultas teknik, mencoba berdiskusi terkait materi tadi pagi. Namun, bunyi notifikasi di ponsel memecah konsentrasinya. Sebuah pesan muncul dilayar.
Papaku
|Bang, Malam ini Papa mau ajak kamu dan Valeska untuk makan di luar. Papa lagi pengen ketemu kalian.
Kaivandra terdiam, alisnya berkerut dalam. Matanya menatap pesan itu dengan sendu, dan jari-jarinya dengan cepat mengetik balasan.
|Nggak bisa, Pa. Abang lagi ada kegiatan di kampus, dan adek pun sama, dia ada kerja kelompok bersama temannya.
Tangan Kaivandra gemetar, marah bercampur kecewa. Baginya, ini terlalu mendadak, seperti sebuah pengkhianatan terhadap kenangan keluarganya yang dulu utuh. Ia masih belum siap menerima kesalahan yang dilakukan oleh papanya beberapa waktu yang lalu. Lebih parahnya, dia tak ada niatan untuk memberitahu soal ini, takut adiknya kenapa-napa.
Bagaimana bisa hal seperti ini terjadi padanya? Bukan membanci, namun dia butuh waktu dalam menerima semua ini. Rasa kesal semakin menyesakkan dada Kaivandra. Ia menyimpan ponselnya ke dalam ransel dengan kasar. Pikirannya melayang, dia ingin melarikan diri dari semua ini, tak peduli apa pun.
Waktu berjalan begitu cepat dan pukul 15:00, waktunya Valeska pulang dari sekolah. Langit mulai gelap dan saat ini Kaivandra belum sadar jika dirinya belum menjemput Valeska, dia masih duduk sendirian di taman kota sambil menatap kosong ke langit.
Namun rasa marahnya masih menguasai pikiran. Ponsel yang ada di dalam ransel dibiarkan tanpa sentuhan sejak pesan papanya masuk, dan tanpa ia sadari, ada beberapa pesan dari adiknya.
Di apartemen, Valeska duduk di tempat tidur, sambil memeluk lututnya erat-erat. Suasana terasa sunyi dan dingin. Sudah larut malam, tapi Kaivandra belum juga pulang. Tidak ada kabar dari ketiga sahabat abangnya, maupun dari Kaivandra sendiri. Valeska merasa bingung dan takut, bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Karena terkahir Kaivandra seperti ini, waktu orang tua mereka berpisah rumah.
Kaivandra masih duduk di bangku taman, membiarkan malam menelannya. Tak ada niatan untuk pulang atau memberi penjelasan pada adiknya. Yang ada hanyalah amarah dan kecewa, membuat dia lupa bahwa diapartemen, ada seseorang yang selalu menunggunya pulang.