NovelToon NovelToon
Rawa Dibelakang Rumah

Rawa Dibelakang Rumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Anak Genius / Penyelamat
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak yang disembunyikan hutan

Pagi di Kampung Ciburial datang bersama kabut tipis yang turun perlahan dari lereng Gunung Ciremai. Udara terasa dingin, tetapi cukup segar. Burung-burung mulai berkicau dari balik pepohonan kopi yang mengelilingi rumah Pak Rahman.

Arga terbangun lebih awal.

Semalaman ia hampir tidak bisa memejamkan mata. Potongan peta tua itu terus memenuhi pikirannya. Tanda silang merah. Tulisan Rawa Belakang Rumah. Dan kalimat terakhir dalam buku catatan pendaki misterius itu.

"Jangan masuk..."

Namun justru larangan itulah yang semakin membuat rasa penasarannya tumbuh. Ia membuka kembali potongan peta itu di atas meja kayu. Dengan cahaya matahari pagi yang masuk dari sela-sela dinding bambu, garis-garis pada peta terlihat sedikit lebih jelas dibanding semalam.

Ada jalur setapak.

Ada gambar aliran air.

Lalu sebuah lingkaran kecil yang diberi tanda silang merah.

Arga mengernyit.

"Kalau ini benar peta..."

"...berarti rawa itu bukan tujuan akhirnya."

Ia memperhatikan lagi. Di sebelah utara tanda silang terdapat garis putus-putus yang nyaris hilang dimakan usia.

Seolah jalur itu masih berlanjut.

"Ke mana sebenarnya?"

Belum sempat ia berpikir lebih jauh, terdengar suara Pak Rahman dari luar.

"Arga."

"Iya, Pak."

"Sudah bangun?"

"Iya."

"Ayo sarapan."

Di beranda rumah, Pak Rahman sudah menyiapkan kopi panas dan singkong rebus. Mang Jaya pun datang membawa sebuah bambu kecil berisi air nira segar. Namun sejak duduk, Pak Rahman langsung melihat mata Arga yang tampak sembap.

"Kamu tidak tidur?"

Arga tersenyum kecil.

"Sedikit."

"Pikirannya ke peta itu ya?"

Arga mengangguk.

Pak Rahman menghela napas panjang.

"Arga..."

"Kadang ada hal yang memang lebih baik tetap menjadi rahasia."

"Tapi kalau rahasia itu menyangkut nyawa seseorang?"

Pak Rahman terdiam.

Mang Jaya ikut duduk.

"Semalam aku juga kepikiran."

"Kalau memang benar ada pendaki yang hilang..."

"...barangkali keluarganya sampai sekarang tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi."

Suasana kembali sunyi.

Pak Rahman akhirnya berkata pelan,

"Kalau kalian memang ingin mencari jawaban..."

"...jangan pergi berdua saja."

Arga menoleh.

"Maksud Bapak?"

"Nanti kita ajak beberapa warga."

"Kalau memang harus masuk hutan..."

"...harus ramai."

Arga mengangguk.

"Itu lebih aman."

Selesai sarapan, Arga mengembalikan buku tua dan potongan peta kepada Mang Jaya. Namun sebelum disimpan kembali, ia sempat memotret seluruh halaman menggunakan telepon genggamnya. Sinyal memang tidak ada. Tetapi setidaknya ia memiliki salinan jika sewaktu-waktu buku itu rusak. Saat kamera diarahkan ke salah satu halaman...

Arga tiba-tiba menghentikan jarinya.

"Tunggu..."

Ia memperbesar foto itu.

Di balik noda tinta yang pudar ternyata ada tulisan lain yang semalam tidak terlihat.

Tulisan itu sangat tipis.

Seolah dibuat menggunakan pensil.

Arga memperbesar lagi.

Perlahan beberapa huruf mulai terbaca.

"Pos..."

"dua..."

"bukan..."

"jalur..."

Arga membelalak.

"Pak!"

Pak Rahman dan Mang Jaya segera mendekat.

"Ada apa?"

"Lihat ini."

Mereka bertiga memperhatikan layar ponsel.

Mang Jaya menyipitkan mata.

"Itu tulisan?"

"Iya."

Arga membaca perlahan.

"Pos dua..."

"bukan jalur..."

"jangan ikuti..."

Kalimat itu terputus.

Namun cukup membuat mereka saling berpandangan.

Pak Rahman bergumam pelan.

"Kalau begitu..."

"...mereka mungkin tersesat."

Arga menggeleng.

"Belum tentu."

"Lihat kalimatnya."

"'Bukan jalur'."

"Seolah mereka sadar sedang berjalan di tempat yang salah."

Mang Jaya menelan ludah.

"Kalau begitu..."

"...kenapa mereka tetap masuk?"

Tak seorang pun mampu menjawab.

Menjelang siang, Arga memutuskan berjalan mengelilingi kampung untuk menenangkan pikirannya. Anak-anak kecil berlarian di jalan tanah. Beberapa ibu sedang menjemur kopi. Para petani baru pulang membawa hasil kebun. Semua tampak begitu damai. Sulit membayangkan bahwa hanya beberapa ratus meter dari kampung itu tersimpan sebuah rawa yang penuh misteri. Saat melewati musala kecil, seorang kakek memanggilnya.

"Nak Arga."

"Iya, Kek?"

"Kamu yang kemarin ikut melihat barang-barang Mang Jaya?"

Arga mengangguk.

"Iya."

Kakek itu memandang ke arah hutan.

"Dulu..."

"...orang tua saya pernah bilang."

"Kalau hutan itu suka menyimpan orang."

Arga tersenyum kecil.

"Maksudnya tersesat?"

Kakek itu menggeleng.

"Bukan."

"Disimpan."

"Orang bisa berjalan berputar-putar."

"Merasa sudah keluar."

"Padahal kembali ke tempat semula."

Arga terdiam.

Ucapan itu mengingatkannya pada isi buku catatan.

"Kompas mulai aneh."

"Mendengar suara air tetapi tidak menemukan sungai."

Semua terasa saling berkaitan.

Sore harinya, Pak Rahman mengumpulkan beberapa warga yang biasa masuk hutan.

Mereka duduk melingkar di balai kecil.

Arga membentangkan salinan peta.

"Kalau menurut Bapak-Bapak..."

"...jalur ini ke mana?"

Seorang warga bernama Kang Ujang langsung menunjuk salah satu garis.

"Ini jalur lama."

"Sekarang sudah tertutup."

"Kenapa?"

"Sejak longsor belasan tahun lalu."

Arga memperhatikan.

"Lalu ini?"

Ia menunjuk garis putus-putus menuju arah utara.

Kang Ujang mengernyit.

"Aneh."

"Saya tidak pernah melihat jalur itu."

"Padahal saya lahir di sini."

Pak Rahman ikut memperhatikan.

"Berarti..."

"...jalur ini mungkin memang sudah sangat lama."

Atau...

Beliau menghentikan kalimatnya.

"Atau apa, Pak?"

Pak Rahman memandang Arga cukup lama.

"Atau jalur itu memang tidak pernah ada di peta kampung."

Kalimat itu membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.bMenjelang Magrib, rapat kecil itu selesai. Diputuskan bahwa mereka akan melakukan penelusuran dua hari lagi. Mereka membutuhkan tali, parang, kompas, dan perbekalan yang cukup.

Pak Rahman tidak ingin ada yang bertindak gegabah.

Apalagi jika benar ada bagian hutan yang belum pernah dijelajahi warga.

Malam kembali turun.bSetelah salat Isya, Arga duduk sendirian di beranda rumah.

Kabut mulai turun perlahan.

Angin dari arah rawa kembali berembus.

Anehnya...

Malam itu ia tidak mencium bau menyengat seperti biasanya.

Sebaliknya...

Ia justru mendengar sesuatu.

Sangat pelan.

Hampir seperti ilusi.

"Ciiit..."

Suara peluit.

Satu kali.

Pendek.

Arga spontan berdiri.

Ia menoleh ke arah hutan.

Gelap.

Tidak ada siapa-siapa.

Ia menahan napas.

Beberapa detik kemudian...

"Ciiit..."

Suara itu terdengar lagi.

Kali ini sedikit lebih jelas.

Persis seperti bunyi peluit logam tua yang ditemukan Mang Jaya.

Bulu kuduk Arga langsung meremang.

Sementara dari dalam rumah, Pak Rahman yang juga mendengar suara itu perlahan keluar membawa lampu minyak.

Wajah beliau tampak berubah pucat.

"Arga..."

"Jangan ke sana."

"Kenapa, Pak?"

Pak Rahman menggenggam lengan Arga erat.

Dengan suara lirih yang hampir berbisik, beliau berkata,

"Peluit itu..."

"...tidak pernah berbunyi sejak tiga puluh tahun yang lalu."

Peluit di Tengah Malam

Suara itu hanya terdengar sesaat.

"Ciiit..."

Pendek.

Melengking.

Namun cukup membuat seluruh tubuh Arga menegang.

Ia memandang ke arah gelapnya pepohonan yang membatasi kampung dengan hutan. Tidak ada cahaya. Tidak ada bayangan orang. Hanya kabut tipis yang perlahan turun mengikuti lereng Gunung Ciremai.

Pak Rahman masih menggenggam lengan Arga.

"Masuk."

Suara beliau terdengar lebih tegas dari biasanya.

"Pak... itu benar suara peluit."

"Aku tahu."

"Kalau begitu kita harus..."

"Masuk."

Kali ini Pak Rahman hampir menarik Arga ke dalam rumah. Arga akhirnya menurut. Begitu pintu ditutup, Pak Rahman segera menguncinya. Lampu minyak diletakkan di tengah ruangan, sementara beliau duduk bersila tanpa berkata apa-apa. Beberapa menit berlalu dalam keheningan.

Arga tidak tahan lagi.

"Pak..."

Pak Rahman mengangkat kepala.

"Bapak tadi bilang peluit itu tidak pernah berbunyi lagi sejak tiga puluh tahun lalu."

"Iya."

"Memangnya dulu pernah terdengar?"

Pak Rahman menarik napas panjang.

"Dulu..."

"...waktu aku masih remaja."

"Malam-malam tertentu, beberapa orang kampung pernah mendengar suara peluit dari arah rawa."

Arga merasakan tengkuknya mulai dingin.

"Lalu?"

"Tidak setiap malam."

"Kadang sebulan sekali."

"Kadang hilang berbulan-bulan."

"Suaranya selalu satu kali."

"Cuma sekali."

"Persis seperti tadi."

Arga menelan ludah.

"Siapa yang meniupnya?"

Pak Rahman menggeleng pelan.

"Tidak ada yang pernah tahu."

Tak lama kemudian terdengar ketukan di pintu.

Tok...

Tok...

Tok...

Pak Rahman membuka sedikit pintu. Ternyata Mang Jaya berdiri di luar sambil membawa lampu senter.

"kamu dengar juga?"

Pak Rahman mengangguk.

"Iya."

Mang Jaya masuk.

Wajah lelaki tua itu terlihat jauh lebih pucat dibanding biasanya.

"Aku kira cuma telingaku."

Arga memandang mereka bergantian.

"Berarti benar-benar ada suara."

Mang Jaya mengangguk.

"Beberapa warga juga pasti mendengarnya."

Belum lama mereka berbincang, dari luar terdengar suara langkah kaki tergesa. Pak Darma datang bersama dua warga lainnya.

"Kalian dengar?"

Pak Rahman mengangguk.

"Dengar."

Pak Darma duduk perlahan.

"Sudah hampir tiga puluh tahun..."

"...baru malam ini terdengar lagi."

Ruangan kembali sunyi. Tak seorang pun berani berkata lebih banyak. Malam itu hampir seluruh warga memilih tidak keluar rumah.

Pintu-pintu ditutup lebih awal.

Lampu minyak dipadamkan satu per satu.

Bahkan suara jangkrik yang biasanya memenuhi malam terasa lebih pelan.

Arga tetap terjaga.

Di sampingnya, buku catatan tua dan potongan peta masih terbentang.

Ia mencoba menghubungkan semua kejadian.

Peluit.

Lencana.

Kompas

Peta.

Catatan seorang pendaki.

Dan kini...

Suara peluit kembali terdengar.

"Kalau memang ada orang yang hilang..."

"...apa mungkin ada yang masih hidup dari waktu itu?"

Pikiran itu langsung ia tepis sendiri.

Tidak mungkin.

Sudah terlalu lama.

Namun lalu...

Siapa yang meniup peluit? 

Menjelang tengah malam...

Angin kembali bertiup. Kali ini lebih dingin. Api lampu minyak bergoyang pelan.

Arga baru saja hendak memejamkan mata ketika...

"Ciiit..."

Suara peluit kembali terdengar.

Lebih dekat.

Jauh lebih dekat daripada sebelumnya.

Pak Rahman langsung berdiri.

Mang Jaya yang belum pulang ikut menoleh ke arah pintu. Tidak ada seorang pun yang bergerak.

Mereka hanya saling memandang.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Lalu...

Brak!

Suara sesuatu menghantam dinding bambu bagian belakang rumah.

Arga spontan bangkit.

"Apa itu?"

Pak Rahman segera mengambil golok yang tergantung di dinding.

"Mang Jaya."

"Iya."

"Temani Arga."

"Saya lihat ke belakang."

"Tidak!"

Mang Jaya langsung menahan.

"Jangan sendiri."

Akhirnya mereka bertiga keluar bersama melalui pintu samping. Kabut malam membuat jarak pandang hanya beberapa meter. Pak Rahman mengangkat lampu minyak lebih tinggi.

Tanah di belakang rumah terlihat basah.

Tidak ada siapa-siapa.

Namun di dekat pagar bambu...

Terlihat sesuatu tergeletak.

Arga mendekat perlahan.

"Itu..."

Sebuah ranting?

Bukan.

Ia membungkuk mengambil benda itu.

Sebuah peluit.

Terbuat dari logam.

Sudah berkarat.

Persis seperti peluit yang disimpan Mang Jaya.

Namun peluit ini berbeda.

Masih memiliki tali yang sudah rapuh.

Dan pada salah satu sisinya...

Terukir huruf yang hampir hilang.

Bukan A.R.

Melainkan...

B.S.

Pak Rahman membelalak.

"Bagaimana mungkin..."

Mang Jaya memegang peluit itu dengan tangan gemetar.

"Dulu..."

"...barang yang kutemukan cuma satu peluit."

"Lalu..."

"Ini milik siapa?"

Belum sempat ada yang menjawab.

Dari arah hutan...

Terdengar suara ranting patah.

Krek...

Krek...

Seolah seseorang baru saja berjalan menjauh memasuki gelapnya pepohonan. Ketiganya serentak menoleh. Namun yang mereka lihat hanya kabut putih yang perlahan menelan jalan setapak menuju rawa.

Malam itu...

Misteri yang selama puluhan tahun terkubur tidak lagi sekadar meninggalkan jejak.

Ia mulai mengetuk pintu Kampung Ciburial.

Dan tanpa disadari Arga...

Perjalanan menuju kebenaran telah benar-benar dimulai.

1
Suci Fatana
ikut deg degan
halwa diyah: 😅 selamat deg deg-an kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!