Lima tahun setelah kepergian sang istri, Wijaya berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi kelima anaknya. Di balik sosoknya yang tampak tegar, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui anak-anaknya hubungan dengan seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hidupnya.
Owen, si sulung yang selalu memikul tanggung jawab keluarga. Rafa, yang keras kepala dan mudah terbakar emosi. Lily, putri kesayangan ayahnya yang selalu berusaha menjadi penengah. Wafa, anak yang selalu tenang dengan senyum dan tawanya. Dan Ell, si bungsu yang menjadi pelipur lara keluarga.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, ikatan keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja perlahan retak. Penyesalan datang terlambat, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.
Di antara cinta, amarah, dan pengorbanan, mereka akan menyadari bahwa tidak semua kesempatan datang untuk kedua kalinya. Sebab, ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung... waktu yang tersisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabina Lutfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawa yang Masih Utuh
Pukul tiga sore, suasana di SMA Gemilang mulai sepi. Seorang gadis masih duduk sendirian di halte depan sekolah. Kedua kakinya berayun pelan, sementara pandangannya sesekali mengarah ke jalan raya, berharap seseorang segera datang menjemputnya.
"Kak Owen mana sih", gumamnya kesal.
Ia menoleh ke arah gerbang sekolah yang kini sudah hampir kosong.
"Udah sepi lagi...."
Lily mengembuskan napas panjang.
Ting.. Ting..
Suara notifikasi pesan masuk membuatnya segera merogoh saku rok dan mengambil ponselnya.
📱Kak Owen 🌱🌺📱
- Duh kakak lupa ngabarin, kalo kakak pulang malem
- Maaf ya nggak bisa jemput kamu jadinya
"Bagus... setelah nunggu tiga puluh menit, baru ngabarin," gerutu Lily. "Tau gitu tadi aku langsung pesan taksi online aja."
Ia pun membalas pesan itu.
^^^Iya kak nggak papa -^^^
^^^Biar Lily pesen taksi online aja -^^^
- Kamu lagi sama Wafa nggak dek?
^^^Wafa udah pulang duluan kak -^^^
^^^Katanya bareng Malik -^^^
- Kalo gitu kamu minta jemput Rafa aja dek
- Dari pada dia nongkrong nggak jelas
^^^Nggak deh kak takut -^^^
- Biar kakak yang chat dia
^^^Nggak usah kak -^^^
- Tunggu
Lily menatap layar ponselnya dengan gelisah.
"Ih, Kak Owen nyebelin banget, sih," keluhnya sambil mengacak rambut sendiri.
Di sisi lain, Owen sudah lebih dulu menghubungi adik pertamanya.
📱Adek 1📱
- Raf jemput Lily gih
^^^Gue sibuk -^^^
^^^Biasanya juga sama Lo -^^^
- Gue lagi ada acara Raf, sibuk yang Lo maksud cuma nongkrong kan
- Tolong kerja samanya lah
- Lagian kalo papi juga nggak sibuk, gue nggak akan minta tolong ke Lo
^^^ Hem -^^^
Beberapa detik kemudian, ponsel Lily kembali berbunyi.
📱Kak Owen 🌱🌺📱
- Kamu masih di sekolah kan dek?
^^^Iya kak -^^^
- Rafa otw ke tempatmu
^^^ Aku takut kak -^^^
- Udah tenang aja
- Kalo dia marahin kamu, nanti langsung laporin ke kakak
- Biar kakak marahin balik
^^^ Iya kak -^^^
"Enggak bisa tenang, Kak," gumam Lily pelan. "Bang Rafa kalau marah udah kayak mau makan orang."
Sepuluh menit kemudian, sebuah motor sport hitam berhenti tepat di depan halte. Pengendaranya mengenakan jaket hitam dengan helm full face senada.
"Nih, pakai", Rafa menyodorkan sebuah helm hitam kepada Lily.
Dengan sedikit kikuk, Lily menerimanya lalu mengenakannya.
'Ni bocah kenapa diem aja? Biasanya juga paling cerewet. Apa gara-gara kejadian kemarin?' batin Rafa.
Sepanjang perjalanan pulang, tak ada satu pun percakapan di antara mereka. Hanya suara deru mesin motor yang memecah keheningan. Lily sesekali mengembuskan napas, memainkan bibirnya ke kiri dan ke kanan karena bosan.
Begitu rumah mereka mulai terlihat dari kejauhan, wajah Lily langsung berbinar.
'Akhirnya...'
Motor berhenti di halaman rumah. Lily segera turun dan melepas helmnya.
"Makasih, Kak, udah mau nganterin Lily pulang", Ia mengulurkan helm itu kembali kepada Rafa.
"Hem. Gue balik nongkrong lagi. Jangan lupa pintunya dikunci."
"Iya, Kak. Hati-hati."
Tanpa membalas lagi, Rafa langsung memutar gas motornya dan melaju meninggalkan rumah.
Lily membuka pintu rumah dan langsung melepas sepatunya.
"Wafa!" teriaknya sambil menoleh ke berbagai sudut rumah.
Namun tak ada jawaban.
"Wafaa!"
Masih sunyi.
Lily menghela napas lalu berjalan menuju kamar adiknya. Pintu kamar sedikit terbuka. Ia mengintip ke dalam, tetapi kamar itu kosong.
"Ke mana lagi, tu bocah?" gumamnya pelan.
Karena tak menemukan siapa pun, Lily memilih masuk ke kamarnya. Ia merebahkan tubuh di atas kasur sambil mengambil ponsel dari saku roknya.
Tanpa berpikir lama, ia membuka grup keluarga.
📱 Keluarga Sayang Mami📱
^^^Wafa, lo ke mana sih? : Lily^^^
Ade tiri : Kenapa? Lo kangen sama gue ya? 😏
^^^Najiss : Lily^^^
^^^Gue di rumah sendiri, tau : Lily^^^
^^^Buruan pulang! : Lily^^^
Ade tiri : Ogah
^^^@Papi 💸 : Lily^^^
ADEKK 🦕 : Buruan pulang, Bang. Kasihan Kak Lily di rumah sendirian
^^^Adek 😘😘 : Lily^^^
Ade tiri : Dih, najis. Pake emot begitu segala
Ade tiri : OTW nih
ADEKK 🦕 : Iri bilang, bos tet tet tet 🤙🏻🤙🏻
Ade tiri : Bang Owen emang belum pulang, Ly?
^^^Belum, katanya pulang malam : Lily^^^
^^^Dek, masih lama pulangnya? : Lily^^^
ADEKK 🦕 : Masih Kak, Adek lagi nemenin Papi beli rumah
Ade tiri: Rumah?
Papi 💸 : Rumah-rumahan LEGO 😌
Ade tiri: Itu mah Ell yang mau, kan?
ADEKK 🦕: Emang 😁
^^^Wafa, buruan : Lily^^^
Ade tiri : Iya, Lampir
Ade tiri : Sabar napa
Papi 💸 : Wafa!
Ade tiri : Iya iya Pih iyaaa
Papi 💸 : Buruan pulang
Papi 💸 : Takut ada yang culik anak gadis Papi
ADEKK 🦕 : Iya, Bang @Wafa
Bang Rafa : Lagian, siapa juga penculik yang mau culik dia?
Ade tiri : Nah, iyakan Bang
Ade tiri : Penculik juga pilih-pilih kali
Ade tiri : Lagian Lily makannya banyak kann
Papi 💸 : Kalian berdua, ya....
Papi 💸 : Rafa, kamu juga pulang
Papi 💸 : Jangan asyik nongkrong sampai lupa waktu
ADEKK 🦕 : Wkwkwk... kena marah 🤣
Ade tiri : Mampu lu, Bang 🤙🏻🤭
Bang Rafa : Iya, ini pulang, Pih
Papi 💸 : Jagain adikmu nanti
Bang Rafa : Hemm
Lily berjalan menuju meja belajarnya. Ia menarik kursi, lalu duduk sambil mengambil sebuah kamera yang tersimpan rapi di atas meja.
Jarinya mengusap perlahan permukaan kamera itu.
"Coba aja Mami masih ada...."
Tatapannya menerawang. Ingatan tentang mendiang ibunya kembali memenuhi benaknya.
Di saat yang sama, Wafa baru saja tiba di rumah. Mengetahui Lily berada di kamar, senyum jahil langsung terukir di wajahnya.
Pelan-pelan ia mengendap menuju pintu kamar Lily.
Satu...
Dua...
Tiga...
"DOR!"
"Astaga!"
Lily refleks memeluk kameranya erat karena terkejut.
"Wafa! Bener-bener ya lo!"
"Hahahaha!"
Wafa tertawa terbahak-bahak sampai berguling di lantai.
Namun tawanya perlahan mereda saat melihat Lily hanya diam.
"Lo kenapa, Ly?"
Tak ada jawaban.
"Weh... jangan diem aja, Tuak."
Lily tetap tak menanggapi. Ia hanya menatap kamera di tangannya sambil tersenyum tipis.
Wajah Wafa yang semula jahil berubah menjadi lebih lembut.
"Lo kangen Mami, ya?"
"Enggak," jawab Lily cepat.
"Terus kenapa ngelamun sambil mainin kamera peninggalan Mami?"
Lily justru tersenyum usil.
"Kepo banget, sih?"
Wafa membelalakkan mata.
"Eh, jangan melotot. Nanti matanya copot loh"
"Gue senggol juga, nih!"
Lily terkekeh pelan.
"Ini lagi lihat foto-foto lama. Nih, waktu lo sama Ell masih kecil."
Ia menunjukkan layar kamera kepada Wafa.
Wafa ikut melihat beberapa foto lama mereka bersama sang ibu.
Untuk sesaat, keduanya terdiam.
Lily kemudian menoleh sambil menutup hidungnya.
"Udah sana mandi. Bau lo kayak kaus kaki yang nggak dicuci tujuh tahun."
"Hidung lo aja yang bermasalah. Cowo sewangi gue dibilang bau."
Mata Wafa tiba-tiba berbinar. Sebuah ide jahil muncul di kepalanya.
Senyumnya melebar.
Tanpa aba-aba, ia mengangkat lengannya lalu mendekatkan ketiaknya ke arah wajah Lily.
"Hueekk!", Lily spontan memalingkan wajah sambil mual.
"Wafa! Bener-bener ya lo!"
Wafa langsung berlari keluar kamar.
"Jangan lari, woy!" teriak Lily sambil mengejarnya.
"Kejar aja kalau lo bisa!"
Mereka berdua berlari menyusuri lorong rumah sambil saling tertawa.
Namun...
Brukk!
"Aduh!"
Tubuh Wafa terpental ke belakang setelah menabrak seseorang yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Kalau jalan tuh pakai mata, Dek!" kesal Rafa, sengaja menekankan kata dek.
Wafa yang masih terduduk di lantai langsung meringis sambil mengusap kepalanya.
"Ck, elah, Bang. Kalau jalan pakai mata, yang ada mata gue perih."
"Wafa!", Lily langsung menjewer telinga adiknya hingga Wafa meringis kesakitan.
"Aduh... aduh... sakit, Ly!"
Lily segera melepaskan jewerannya.
"Duh, maaf, Bang. Wafa nggak sengaja," ucapnya berusaha membela sang adik.
"Enggak kok, Bang. Sebenernya gue emang sengaja pengen nabrak elo."
Wafa masih sempat bercanda.
'Emang bocah edan', batin Lily kesal.
"Wafa, lo nggak kapok? Kemarin gara-gara lo kita jadi dimarahin Bang Rafa", Lily berbisik pelan di telinga Wafa, meski sepertinya Rafa masih bisa mendengarnya.
Setelah mendengar bisikan itu, Wafa langsung memasang senyum selebar mungkin.
"Duh... maaf ya, Bang"
"Sekali lagi, maaf ya, Bang. Kalau gitu kita permisi dulu", Lily buru-buru menarik lengan Wafa hendak pergi.
"Bentar"
Suara Rafa membuat keduanya langsung membeku.
"Abang pengen ngomong sama kalian"
'Mati lah kita...', batin Lily.
Jantungnya berdegup semakin cepat. Ia tak ingin kejadian kemarin terulang lagi.
"Ayo, ke ruang tamu"
Rafa berjalan lebih dulu. Lily dan Wafa saling pandang sebelum akhirnya mengikuti langkah kakak mereka.
Sesampainya di ruang tamu, Wafa tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Lo mau ngomong apa sih, Bang?"
Rafa mengembuskan napas pelan.
"Gue... pengen minta maaf sama kalian"
Lily dan Wafa sama-sama terkejut.
"Maaf ya. Kemarin gue lagi capek banget, jadi nggak bisa ngontrol emosi"
Suasana mendadak hening.
"Iya, Bang. Santai aja. Biasanya juga lo emang begitu", Wafa menjawab santai sambil nyengir.
Lily langsung melotot ke arah adiknya.
"Wafa!"
"Apa? Kan emang bener", balasnya seolah tak memiliki dosa.
Lily hanya bisa menggeleng pelan, lalu kembali menatap Rafa. "Kita juga minta maaf, Bang. Kemarin udah ngerusakin helm Abang."
Rafa mengangguk kecil.
"Udah. Yang penting jangan diulang lagi"
Belum sempat suasana menjadi canggung, suara seseorang terdengar dari arah pintu.
"Nah, gitu kan enak"
Jaya masuk ke dalam rumah sambil tersenyum. Di belakangnya, Ell ikut melangkah masuk sambil membawa kantong belanja berisi kotak LEGO.
"Udah jangan berantem-berantem lagi. Papi maunya kalian akur terus"
"Kak Lily!", Ell berlari menghampiri kakak perempuannya lalu langsung memeluknya erat.
Lily tersenyum dan membalas pelukan adik bungsunya itu.
"Siapa, Pih?", tanya Rafa ketika melihat seorang anak laki-laki seusia Ell ikut masuk bersama mereka.
"Temennya Ell," jawab Jaya. "Mami sama papinya lagi ada kerjaan di luar kota, jadi mereka minta tolong ke Papi buat jagain dia beberapa hari."
"Namanya Kino," ujar Ell sambil berdiri di samping temannya.
"Hai, Kino," sapa Lily ramah.
"Hai, Kak," balas Kino sedikit malu.
"Lo sekelas sama Ell?" tanya Wafa.
"Iya, Kak"
"Dia bakal di sini sampai kapan, Pih?" tanya Wafa lagi.
"Sekitar tiga hari. Minggu sore orang tuanya baru pulang."
"Lama banget. Dikata rumah kita tempat penitipan anak kalik?" gerutu Wafa.
"Ck, bener-bener nih bocah. Kalau ngomong nggak bisa direm", Rafa langsung menutup mulut Wafa dengan tangannya sebelum menyeret adiknya itu menuju tangga.
"Mmm... lepasin, Bang!" protes Wafa dengan suara yang terdengar samar.
Ell hanya menggeleng sambil tersenyum.
"Jangan didengerin ya, Kino. Bang Wafa emang begitu orangnya"
Kino mengangguk pelan.
"Udah, udah. Nih, tadi Papi beliin makan. Sana makan dulu", Jaya meletakkan beberapa kantong makanan di atas meja makan.
"Iya, Pih," jawab Lily.
"Ayo, Kino. Kita makan," ajak Ell.
🌷🌷🌷
Selesai makan, mereka semua berkumpul di ruang tamu.
Ell, Kino, dan Wafa tampak asyik menyusun LEGO yang baru dibeli Jaya. Sementara itu, Lily duduk di sofa sambil membuka ponselnya.
Ia mengirim pesan kepada Owen.
📱 Kak Owen 🌱🌺📱
^^^Kak... -^^^
^^^ Kok cuma centang satu, sih? -^^^
^^^Kakak di mana? -^^^
^^^Apa acaranya belum selesai? -^^^
Namun, tak ada balasan. Lily mulai menggigit bibirnya karena khawatir.
"Kenapa, Dek?" tanya Rafa yang sejak tadi memperhatikannya. "Abang lihat dari tadi kamu gelisah."
"Ini, Bang. Aku chat Kak Owen, tapi cuma centang satu. Biasanya kalau lagi ada acara juga masih bisa dihubungi."
"HP-nya lowbat kali," jawab Rafa, berusaha menenangkan.
Tak lama kemudian...
"Owen pulang!"
"Nah, tuh orangnya," ucap Rafa.
Lily langsung berdiri dan menghampiri kakak sulungnya.
"Kak, HP kakak habis baterai ya?"
Owen mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Dek. Emangnya kamu chat kakak?"
"Iya. Lily khawatir"
"Iya, Bang," sahut Rafa sambil menyeringai. "Dari tadi dia panik nyariin lo"
Owen tertawa kecil. "Maaf ya, adikku sayang", Ia mengusap lembut rambut Lily.
Lily tersenyum tipis lalu menggenggam tangan Owen. "Kak Owen udah makan?"
"Udah. Kakak sempat makan di jalan tadi". Owen melihat jam dinding yang menunjukkan pukul delapan malam.
"Udah malam. Besok kalian sekolah. Sana istirahat"
"Iya, Kak"
🌷🌷🌷
Di kamar Lily.
Ting!
Ponselnya kembali berbunyi.
Lily mengerutkan kening saat melihat pengirimnya adalah nomor yang tidak dikenal.
"Nomor siapa, ya?"
Ia membuka pesan itu.
📱Nomor Tidak Dikenal📱
- Halo, Kak
- Ini Kino, temennya Ell yang tadi
Lily segera membalas.
^^^Oh iya, Dek -^^^
- Save ya, Kak
^^^ Iya, Dek -^^^
kalimat berderet panjang
konflik lambat terasa kurang tajam
penutup agak samar kurang kuat
alur terasa berjalan lambat