Felicia Winarko bukan gadis biasa.
Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.
Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.
Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.
Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.
Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.
"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."
Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11 - Silakan Coba
Kamera resmi memang lebih jujur daripada gosip.
Gosip bisa dipelintir.
Kamera hanya perlu diarahkan ke tempat yang tepat.
Sore hari berikutnya, gedung olahraga kembali penuh. Seleksi perwakilan turnamen campuran seharusnya acara kecil, tetapi sejak nama Felicia Winarko masuk daftar peserta mendadak, jumlah penonton naik seperti harga saham yang digoreng.
OSIS menyiapkan dua kamera. Satu di sisi lapangan, satu lagi di tribun bawah. Nathan Salim berdiri dekat meja panitia dengan tablet di tangan, wajahnya tenang seperti biasa. Saat melihat nama Felicia di bagan, alisnya bergerak sedikit.
Sis langsung menangkap itu. "Nathan tampaknya tidak tahu Tuan Rumah dimasukkan."
"Berarti ini bukan rencananya."
"Clarissa dan Yesika?"
"Kemungkinan besar."
Felicia berdiri di tepi lapangan sambil melihat daftar pasangan.
Felicia Winarko.
Pasangan: siswa Kelas F berkacamata yang saat ini berdiri di sampingnya dengan wajah pucat dan lutut gemetar.
Anak itu memegang raket seperti memegang surat pemanggilan pengadilan.
"Aku... aku sebenarnya cuma daftar jadi cadangan," bisiknya. "Mereka bilang kurang orang. Aku nggak bisa main bagus."
"Bisa berdiri?"
"Bisa."
"Bisa menghindar kalau kok mengarah ke wajahmu?"
"Mungkin."
"Cukup."
Anak itu hampir menangis. "Itu cukup?"
"Untuk kamu, iya."
Di seberang lapangan, pasangan lawan berasal dari Kelas A dan klub bulu tangkis. Keduanya jelas bukan peserta mendadak. Sepatu mereka sudah sesuai, gerakan pemanasan rapi, dan mereka beberapa kali melirik pasangan Felicia dengan senyum yang gagal disembunyikan.
Di tribun samping, Clarissa duduk dengan kaki disilangkan. Yesika berada tidak jauh darinya, tersenyum ramah pada kamera OSIS yang lewat mengambil footage.
Cantik. Sopan. Beracun.
"Tuan Rumah," kata Sis, "kamera sisi kiri sedang merekam. Kalau Tuan Rumah terlihat marah pada pasangan sendiri, narasinya bisa buruk."
"Maka aku tidak akan marah."
"Kalau kalah?"
Felicia memutar raket di tangan kiri. "Aku tidak datang untuk kalah."
Wasit siswa memberi aba-aba.
Pertandingan dimulai.
Servis pertama lawan sengaja diarahkan ke pasangan Felicia. Bukan keras, tetapi cukup untuk membuat anak itu panik. Ia mengayun terlalu cepat, raketnya hanya menyentuh angin. Kok jatuh.
Poin untuk lawan.
Tawa kecil muncul dari tribun.
Kamera sisi kiri bergerak mendekat.
Felicia menoleh pada pasangannya. "Berdiri setengah langkah di belakangku."
"Tapi aturan ganda..."
"Aturan tidak melarangmu hidup."
Anak itu langsung mundur.
Servis kedua kembali diarahkan padanya. Kali ini Felicia sudah bergerak sebelum kok melewati net. Ia memotong jalur, mengembalikan dengan drive cepat ke dada lawan laki-laki.
Poin.
Tribun terdiam sebentar.
Lawan perempuan menyipit. Mereka mengubah strategi: bola-bola pendek ke depan, lalu smash ke sisi belakang yang seharusnya tidak mungkin dijaga satu orang.
Felicia menjaga semuanya.
Ia bergerak seperti garis yang ditarik terlalu cepat untuk diikuti mata. Maju, mundur, silang, berhenti. Raket kirinya memukul pendek saat lawan menunggu lob. Kakinya mengunci lantai saat lawan mencoba netting. Ketika lawan laki-laki melompat untuk smash, Felicia sudah membaca bayangan bahunya.
Kok keras itu kembali lebih keras.
Mengenai lantai di antara dua lawan.
Skor berbalik.
Tujuh tiga.
Sepuluh empat.
Lima belas lima.
Pasangan Felicia hanya berdiri di belakang, wajahnya berubah dari pucat menjadi kagum. Setiap kali kok nyaris mengarah padanya, Felicia sudah lebih dulu menutup jalur.
Di meja panitia, Nathan menurunkan tablet.
Ia melihat bukan pada skor, melainkan kamera.
Kamera yang seharusnya merekam Felicia memarahi pasangan lemah kini merekam Felicia melindungi pasangan itu sambil menghancurkan dua pemain klub.
Yesika juga menyadarinya.
Senyumnya tetap ada, tetapi jarinya berhenti mengetuk lengan kursi.
Set pertama selesai 21-6.
Saat jeda, Clarissa berdiri dan memberi isyarat pada salah satu siswa panitia. Siswa itu tampak ragu, lalu berjalan ke meja wasit. Tidak lama kemudian, wasit mengumumkan perubahan kecil.
"Untuk set kedua, posisi servis harus mengikuti aturan ganda penuh. Peserta yang tidak menerima servis sesuai giliran dianggap fault."
Bisikan naik.
Itu aturan benar.
Tetapi dipakai pada saat yang terlalu tepat.
Nathan menoleh ke meja panitia. "Siapa yang meminta penegasan aturan?"
Siswa panitia yang tadi bicara dengan Clarissa langsung menunduk. "Ada masukan dari peserta, Nathan. Aturannya memang sudah tertulis."
"Aku tahu tertulis." Suara Nathan tetap halus, tetapi udara di sekitar meja berubah dingin. "Aku bertanya siapa yang meminta."
Tidak ada jawaban.
Yesika mengambil botol minum di pangkuannya, seolah percakapan itu tidak ada hubungannya dengan dirinya. Clarissa pura-pura melihat ponsel.
Felicia melihat semuanya dari lapangan.
Bagus.
Jejak kecil tetap jejak.
Pasangan Felicia langsung pucat lagi. "Maaf. Aku pasti bikin kalah."
Felicia menatap Clarissa di tribun.
Clarissa tersenyum manis.
Felicia juga tersenyum.
"Pegang raketmu," katanya pada pasangannya. "Kalau kok datang, jangan pukul."
"Jangan?"
"Tunduk."
Set kedua dimulai.
Lawan mengirim servis tepat ke arah siswa berkacamata itu. Anak itu, dengan keberanian sisa yang lebih mirip putus asa, menunduk sesuai perintah.
Felicia bergerak dari belakangnya.
Raket kiri menyambar kok pada titik paling rendah yang masih legal. Bola meluncur datar, melewati net, lalu menghantam garis samping.
Poin.
Wasit terdiam.
Nathan mengangkat mata.
Sis bersorak. "Legal! Itu legal!"
Setelah itu, pertandingan berubah menjadi penghinaan yang rapi.
Lawan mencoba memaksa fault. Felicia menjawab dengan posisi yang selalu tepat satu napas sebelum aturan menangkapnya. Lawan mencoba menyerang pasangan lemah. Felicia membuat pasangan itu seperti umpan kosong yang tidak pernah bisa disentuh.
Kamera resmi merekam semuanya.
Skor akhir: 21-4.
Gedung olahraga pecah.
Anak Kelas F berkacamata itu berdiri kaku beberapa detik, lalu tiba-tiba membungkuk pada Felicia. "Terima kasih! Aku nggak ngapa-ngapain tapi menang!"
"Kamu menunduk dengan baik."
"Itu pujian?"
"Untuk hari ini."
Tawa meledak dari beberapa sisi tribun. Bukan tawa mengejek. Tawa yang membuat udara berubah.
Nathan berjalan ke arah kamera sisi kiri dan berkata pada operator, cukup keras untuk didengar orang dekat meja panitia, "Pastikan footage pertandingan ini masuk kompilasi resmi."
Wajah Clarissa berubah.
Yesika berdiri perlahan, senyumnya kembali rapi. "Selamat, Felicia. Ternyata kamu memang bisa membawa pasangan yang lemah."
Kata "lemah" sengaja ia ucapkan di depan kamera.
Felicia menatapnya, lalu menatap kamera resmi yang masih menyala.
"Bukan membawa," kata Felicia. "Melindungi."
Pasangan Kelas F di belakangnya langsung membeku, matanya memerah.
Felicia berjalan melewati Yesika, berhenti tepat di depan Clarissa yang turun dari tribun.
Kamera resmi masih menyala. Operator tidak berani menurunkannya setelah Nathan memberi perintah. Beberapa siswa di barisan depan bahkan ikut mengangkat ponsel, kali ini bukan untuk menertawakan Felicia, melainkan menunggu jawaban Clarissa.
Clarissa membuka mulut, mungkin untuk mengatakan sesuatu yang manis dan tajam.
Felicia lebih dulu tersenyum.
"Silakan coba."