NovelToon NovelToon
Hujan di Ranting

Hujan di Ranting

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.

Kesimpulan Yu: dia pasti model.

Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.

Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.

"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14: Pangeran Sim

Teori hidup Yu benar-benar retak keesokan paginya.

Ia baru masuk lobby Fasilkom UI ketika tiga mahasiswi di depan mesin kopi berbisik sambil menatap arah tangga.

"Katanya Kak Zhen jadi asisten tamu kelas algoritma hari ini."

"Serius? Pangeran Sim?"

"Iya. Yang IPK-nya empat terus itu."

Yu berhenti di depan mesin kopi.

Pangeran Sim.

Julukan itu terdengar seperti sesuatu yang diciptakan orang-orang kurang kerjaan, tapi ternyata bekerja sangat baik. Begitu nama itu disebut, beberapa kepala langsung menoleh. Dua mahasiswa laki-laki pura-pura tidak peduli, padahal telinganya jelas ikut bergerak.

Yu mengambil kopi kaleng dari mesin dengan gerakan lambat.

Pangeran Sim berarti Sim Zhenyu?

Roommate-nya yang menempel aturan rambut di kamar mandi?

Laki-laki yang semalam memakai celemek Don't touch my pan?

Tidak mungkin orang kampus memberi julukan pangeran pada manusia yang menyusun saus sambal berdasarkan tinggi botol.

"Yu!"

Lily muncul dari belakang dan hampir membuat kopi kaleng Yu jatuh.

"Lo dengar?" bisik Lily dengan mata menyala. "Roommate model lo ternyata legenda Fasilkom."

"Jangan panggil dia roommate model di kampus."

"Oke. Roommate Pangeran Sim."

"Lebih buruk."

Lily menempelkan bahu ke bahu Yu. "Gue tanya senior. Katanya Sim Zhenyu itu semester tujuh, IPK 4.0, juara lomba coding dari tahun pertama, sering bantu Prof. Lim, dan kalau presentasi, dosen aja diam."

Yu menatapnya. "Kamu tanya senior kapan?"

"Tadi pagi. Riset sahabat."

"Kamu menyeramkan."

"Terima kasih."

Kelas algoritma hari itu penuh lebih cepat dari biasanya. Mahasiswa yang tidak mengambil kelas pun berdiri di belakang dengan alasan "mau pinjam teman", padahal jelas ingin melihat Pangeran Sim secara langsung.

Yu duduk di baris tengah, mencoba terlihat normal.

Gagal.

Ketika Zhen masuk bersama Prof. Lim, ruang kelas mendadak turun satu tingkat volumenya. Ia memakai kemeja putih sederhana dan celana hitam, laptop tipis di tangan. Tidak ada helm, tidak ada jaket balap, tidak ada aura model event. Justru karena itu, wajahnya terlihat lebih bersih dan lebih jauh.

Prof. Lim mengetuk meja.

"Hari ini Sim Zhenyu akan membantu membahas optimasi dynamic programming. Kalian boleh bertanya, tapi jangan buang waktu dengan pertanyaan yang jawabannya ada di slide."

Satu kelas langsung duduk lebih tegak.

Zhen membuka laptop, menyambungkannya ke layar, lalu menampilkan kode.

Lima menit pertama, Yu masih mencoba mengikuti.

Menit keenam, ia mulai merasa otaknya tertinggal di stasiun sebelumnya.

Zhen menjelaskan dengan kalimat pendek, tidak banyak basa-basi. Ia menunjukkan satu solusi yang benar tapi lambat, lalu membongkar kelemahannya, lalu menulis ulang bagian inti menjadi lebih ringkas. Kode di layar berubah seperti benang kusut yang ditarik dari satu titik lalu mendadak lurus.

Yu benci mengakuinya.

Tapi Zhen mengajar dengan sangat jelas.

Tidak lembut. Tidak manis. Namun setiap kalimatnya tepat. Ia tidak membuat orang merasa bodoh karena tidak tahu. Ia hanya membuat kebodohan tidak punya tempat untuk bersembunyi.

Seorang mahasiswa di belakang bertanya, "Kak, kalau constraint-nya naik dua kali lipat, pakai pendekatan greedy bisa nggak?"

Zhen menatap kode. "Bisa, kalau kamu ingin salah dengan percaya diri."

Tawa tertahan meledak di kelas.

Mahasiswa itu menutup wajah.

Prof. Lim tidak menegur. Bahkan sudut bibirnya tampak naik sedikit.

Yu menunduk, menyembunyikan senyum. Ini Zhen yang sama. Ternyata di kelas pun mulutnya tetap tidak bisa ramah sepenuhnya.

Setelah sesi selesai, Prof. Lim memberi latihan singkat. Yu mengerjakan dengan serius, tapi bug di kode membuat output-nya selalu melenceng satu angka. Ia menatap layar, menggigit bibir, dan mulai lupa bernapas.

Sebuah bayangan berhenti di samping mejanya.

"Index."

Yu mendongak.

Zhen berdiri di sana.

"Apa?"

"Bug-mu di index. Kamu mulai dari satu, tapi array-mu dari nol."

Yu melihat layar. Benar.

Sial.

"Kamu lihat dari sana?" tanyanya.

"Kode berantakanmu terlihat dari pintu."

"Terima kasih, Kak Pangeran."

Kalimat itu keluar sebelum Yu sempat menahan.

Zhen diam.

Lily, dua kursi di sebelah, menunduk sambil batuk palsu yang terdengar seperti tawa.

Zhen menatap Yu lama. "Kamu juga?"

"Aku cuma mengulang informasi publik."

"Jangan."

"Kenapa? Pangeran Sim bagus kok."

"Kalau kamu mau nilaimu aman, jangan ganggu asisten."

"Ancaman akademik?"

"Peringatan kebersihan mental."

Yu tidak bisa menahan senyum kali ini.

Zhen mengambil pulpen dari meja Yu, menulis satu baris koreksi di samping kertas catatannya, lalu meletakkan kembali pulpen itu tepat di tempat semula. Jari mereka tidak bersentuhan. Tapi Yu melihat, Zhen tidak mengelap pulpen itu setelah memegangnya.

Hal kecil.

Sangat kecil.

Tapi bagi seseorang seperti Zhen, mungkin tidak kecil.

Selesai kelas, Lily menyeret Yu ke kantin.

"Gue revisi sertifikat," kata Lily sambil membuka bungkus roti.

"Sertifikat apa lagi?"

"Dia bukan model event otomotif biasa. Dia model event otomotif, racer, jenius Fasilkom, dan mungkin calon menantu ideal semua tante Tionghoa."

Yu hampir tersedak kopi. "Lil!"

"Apa? Bayangin. IPK 4.0, masak, punya anjing, ganteng, bersih. Kekurangannya apa?"

"Mulutnya."

"Itu bonus. Biar hidup nggak hambar."

Yu memukul lengan Lily dengan bungkus tisu.

Seorang senior yang duduk di meja sebelah ikut menoleh. "Kalau kalian bahas Kak Zhen, dia bukan cuma IPK empat. Tahun lalu dia bantu tim UI lolos final regional, terus nolak diwawancara karena katanya waktunya lebih berguna buat tidur."

Lily menepuk meja. "Lihat? Bahkan cara sombongnya efisien."

Yu tidak tahu harus kagum atau takut. Semakin banyak orang menjelaskan Zhen, semakin laki-laki itu terasa seperti soal yang levelnya belum boleh ia buka.

Namun sepanjang sisa hari, kata-kata Lily mengikuti Yu. Calon menantu ideal. Jenius Fasilkom. Pangeran Sim. Semua label itu membuat jarak antara dirinya dan Zhen terasa lebih jelas.

Ia hanya mahasiswi semester tiga yang masih sering salah index, baru putus, punya kondisi tubuh aneh, dan diam-diam membayar laki-laki itu lima puluh juta untuk sentuhan tangan.

Malamnya, Yu mencoba memperbaiki tugas di meja kamar. Kode sudah berjalan, tapi kepalanya tidak bisa fokus. Setiap kali ia melihat komentar Zhen di kertas, ia teringat tangannya yang memegang pulpen tanpa langsung membersihkan.

Ia membuka folder tugas.

Di sebelahnya, ada folder lain yang selama ini ia sembunyikan dari semua orang.

IkanKertas.

Yu menatap nama itu lama. Setelah hari seperti ini, otaknya tidak sanggup lagi memikirkan array. Yang muncul justru adegan, dialog, dan seorang tokoh laki-laki dingin yang selalu berkata kasar tapi meninggalkan makanan hangat di depan pintu.

Ia membuka dokumen novel.

Lampu meja menyala sampai lewat tengah malam.

Di ruang tengah, Zhen keluar mengambil air. Ia melewati lorong, melihat celah bawah pintu kamar Yu masih terang.

Langkahnya berhenti.

Dari dalam kamar, terdengar suara keyboard yang tidak seperti orang mengerjakan kode.

Terlalu cepat.

Terlalu ritmis.

Seperti seseorang sedang menulis cerita.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!