NovelToon NovelToon
Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Lari Saat Hamil / One Night Stand / Anak Genius / Cinta Lansia / Mandul
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21

Nada pertama jatuh seperti tetes hujan di kaca.

Ballroom yang tadi dipenuhi bisik-bisik perlahan diam. Orang-orang yang semula berdiri sambil memegang gelas berhenti bergerak. Bahkan pembawa acara di dekat panggung menurunkan mikrofon, seolah takut suaranya mengganggu sesuatu yang tidak biasa.

Raka Wijaya tidak pernah dikenal sebagai pria yang tampil untuk menghibur orang.

Ia dikenal sebagai laki-laki yang membuat orang menunggu di ruang rapat, menutup kontrak tanpa senyum, dan memotong pembicaraan investor dengan satu kalimat dingin. Tidak ada yang membayangkan ia akan duduk di depan piano dalam acara amal hanya karena seorang perempuan dihina.

Maya berdiri beberapa meter dari panggung.

Tangannya masih dingin.

Namun ketika nada kedua, ketiga, lalu rangkaian melodi mengalun, sesuatu di dadanya perlahan menghangat. Lagu itu bukan lagu populer. Bukan juga lagu yang ia kenal dari radio atau acara pernikahan. Melodinya tenang, dalam, seolah seseorang yang tidak pandai bicara sedang berusaha menyusun kalimat lewat bunyi.

Raka tidak melihat penonton.

Ia hanya melihat Maya.

Itu yang membuat ruangan semakin sunyi.

Sabrina berdiri di dekat pilar, wajahnya membeku. Beberapa tamu yang mengenalnya saling pandang. Tidak ada yang berani berkomentar, tapi semua orang memahami satu hal: pertanyaan Sabrina tadi sudah dijawab.

Sah bukan berarti dicintai.

Raka menjawabnya dengan memainkan piano di depan seluruh orang.

Maya merasa wajahnya panas. Ia ingin menunduk, tapi ingat kata-kata Raka berkali-kali.

Jangan menunduk saat tidak bersalah.

Ia berdiri tegak.

Di sebelahnya, seorang ibu sosialita berbisik kepada temannya, "Aku baru tahu Pak Raka bisa main piano."

Temannya menjawab pelan, "Aku juga baru tahu dia bisa melihat perempuan seperti itu."

Maya mendengarnya.

Ia tidak tahu harus malu atau ingin menangis.

Lagu itu berakhir terlalu cepat.

Nada terakhir menggantung sebentar di udara sebelum hilang. Tepuk tangan muncul perlahan, lalu membesar. Raka berdiri dari piano. Ia tidak membungkuk. Tidak tersenyum. Ia hanya berjalan turun dari panggung menuju Maya.

Setiap langkahnya membuat orang-orang membuka jalan.

Maya menatapnya seperti lupa cara bernapas.

Raka berhenti di depannya.

"Sudah cukup sebagai jawaban?" tanyanya pelan.

Maya mendengar beberapa tamu di dekat mereka menahan napas.

"Mas Raka," bisiknya, "semua orang melihat."

"Aku tahu."

"Mas tidak malu?"

"Kenapa aku harus malu?"

Maya kehilangan kata.

Raka mengulurkan tangan.

"Menarilah denganku."

Maya membelalak.

"Apa?"

"Menari."

"Saya tidak bisa."

"Aku bisa."

"Itu tidak membantu. Kaki saya tetap kaki saya."

Seseorang di belakang mereka tertawa kecil, lalu cepat-cepat diam saat Raka menoleh sekilas.

Maya panik. "Mas Raka, jangan. Saya sungguh tidak bisa. Nanti saya menginjak kaki Mas."

"Aku punya dua."

"Itu bukan alasan untuk merusaknya."

Tatapan Raka sedikit melembut.

"Maya."

Satu kata itu membuatnya berhenti.

"Kamu tidak perlu terlihat sempurna di sini. Kamu hanya perlu berdiri bersamaku."

Jari Maya bergerak di sisi tubuhnya.

Ia merasakan seluruh ballroom menunggu. Sabrina menatap mereka. Para tamu menunggu apakah perempuan yang tadi disebut tidak pantas itu akan berani mengambil tangan Raka.

Maya menarik napas, lalu meletakkan tangannya di telapak Raka.

Genggamannya langsung menutup.

Hangat.

Kuat.

Mereka berjalan ke area kosong di tengah ballroom. Musik lembut mulai dimainkan oleh pianis lain, kali ini mengikuti isyarat panitia yang buru-buru menyesuaikan suasana.

Raka meletakkan satu tangan di punggung Maya.

Maya langsung kaku.

"Santai."

"Saya sedang berusaha."

"Kamu seperti papan."

"Mas Raka benar-benar tidak pandai membuat orang santai."

"Ikuti langkahku."

Maya mencoba.

Langkah pertama aman.

Langkah kedua hampir menginjak sepatu Raka.

Langkah ketiga benar-benar menginjak.

Raka menahan napas.

Maya pucat. "Maaf!"

"Tidak sakit."

"Mas bohong."

"Sedikit."

Maya menunduk karena malu. Raka mengangkat tangan yang menggenggamnya sedikit lebih tinggi.

"Lihat aku."

"Kalau saya lihat Mas, saya tidak lihat kaki."

"Kakiku sudah menjadi korban. Lihat aku saja."

Maya hampir tertawa, tapi menahannya. Ia mengangkat wajah.

Mata Raka begitu dekat. Dingin yang biasa ia lihat masih ada, tapi di baliknya ada sesuatu yang membuat dada Maya sulit tenang.

Mereka bergerak pelan.

Tidak sempurna.

Beberapa kali Maya salah langkah. Raka menahan tubuhnya sebelum ia goyah. Setiap kali ia panik, tangan Raka di punggungnya menekan lembut, memberi isyarat bahwa ia aman.

Di luar lingkaran, Sabrina melihat semuanya dengan rahang mengeras.

Ia tidak kalah karena Maya lebih cantik.

Ia tidak kalah karena Maya lebih muda.

Ia kalah karena Raka tidak pernah menatapnya seperti itu.

Setelah lagu selesai, tepuk tangan kembali terdengar. Maya ingin segera menarik tangan, tapi Raka tidak melepaskan.

"Mas Raka."

"Hmm."

"Sudah selesai."

"Belum."

"Apa lagi?"

Raka menatapnya. "Kamu belum bernapas."

Maya baru sadar ia memang menahan napas. Ia menarik napas cepat, lalu wajahnya memerah.

Raka akhirnya melepaskan pinggangnya, tapi tetap menggenggam tangannya saat membawa Maya keluar dari lantai dansa.

Pak Surya yang sejak tadi memperhatikan mendekat. Matanya jatuh pada Maya dengan tatapan yang masih aneh, seolah melihat bayangan dari masa lalu.

"Bu Maya," katanya, "terima kasih sudah datang malam ini."

"Saya yang berterima kasih, Pak."

Pak Surya menatap Raka, lalu tersenyum kecil. "Aku belum pernah melihat Raka membuat acara orang lain menjadi acaranya sendiri."

Raka menjawab datar, "Sabrina yang memulai."

Sabrina yang baru mendekat mendengar itu. Wajahnya berubah, tapi ia tetap tersenyum.

"Aku hanya bercanda. Ternyata semua orang terlalu serius."

Maya menatapnya.

"Lelucon yang baik membuat orang tertawa, bukan terluka."

Pak Surya menahan senyum.

Sabrina memandang Maya dengan mata tajam. "Bu Maya semakin pandai menjawab."

"Saya belajar dari banyak hinaan."

Raka menggenggam tangan Maya lebih erat. "Kita pulang."

Kali ini Maya tidak menolak.

Di luar ballroom, Bima sudah menunggu dengan kotak musik yang dibeli Raka. Maya melihat kotak itu dan kembali merasa pusing.

"Mas benar-benar membelinya."

"Sudah dibayar."

"Mas Raka bisa mengembalikannya?"

"Tidak."

"Itu terlalu mahal."

"Kamu mengatakan itu sudah enam kali."

"Karena memang terlalu mahal."

Raka berhenti di depan lift.

"Kalau kamu merasa bersalah, rawat saja."

Maya menatap kotak musik itu.

"Saya?"

"Kamu yang tahu cara membersihkan kayunya."

Jawaban itu membuat Maya terdiam.

Ia mengira Raka membeli kotak itu hanya untuk mempermalukan Sabrina. Ternyata pria itu juga mendengar ucapannya. Menganggap pengetahuannya berguna. Memberinya sesuatu bukan sekadar barang mahal, tapi ruang untuk merasa mampu.

Pintu lift terbuka.

Saat mereka masuk, Maya berkata pelan, "Saya akan rawat."

Raka menatapnya.

"Bagus."

Maya menatap pantulan mereka di dinding lift. Raka berdiri di sampingnya, tangan masih menggenggam tangannya, sementara ia memegang kotak musik yang terlalu mahal untuk hidup lamanya.

Di belakang mereka, Sabrina berdiri di ujung lorong, melihat pintu lift tertutup.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari nomor Dimas masuk.

`Saya butuh bicara. Tentang ibu saya.`

Sabrina menatap pesan itu.

Perlahan, senyum dingin muncul di wajahnya.

"Akhirnya," bisiknya.

1
naira
lanjutkan thor
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍
naira
cerita nya bagus,tapi kenapa bisa sepi pembaca yaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!