Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 001: Bangun di Kain Kafan
Bau kapur barus menusuk hidung Sari Wulandari begitu keras sampai dadanya refleks mencari udara.
Ia tidak langsung paham kenapa tubuhnya sulit bergerak. Ada kain kasar membungkus sampai ke leher, ada suara orang membaca istighfar di dekat pintu, dan ada tangis perempuan yang ditahan-tahan seperti takut mengganggu orang mati. Untuk beberapa detik, Sari hanya terbaring dengan mata masih tertutup, mendengarkan dunia berjalan tanpa menunggunya.
"Kasihan Bu Sari. Seumur hidup kerja buat keluarga, akhirnya pulang begini."
"Yang lebih parah, belum dimakamkan saja Pak Hendra sudah bikin resepsi."
"Pelan-pelan. Jangan sampai Nadia dengar."
"Satu komplek juga sudah tahu. Istrinya meninggal pagi, sorenya dia menikah dengan Ratna."
Nama Ratna membuat kesadaran Sari naik seperti air panas. Ia mencoba menggerakkan jari. Kaku, dingin, tetapi bergerak. Telapak tangannya menyentuh kain yang menutup dadanya, lalu ia membuka mata dan melihat kipas ruang tengah berputar lambat di atasnya.
Kain kafan.
Sari menarik napas, tersedak, lalu menggerakkan tangan lebih jelas. Seorang tante di dekat pintu menjerit. Kursi terseret, piring jatuh, dan beberapa orang mundur sambil menyebut nama Tuhan.
Di samping tikar, Nadia mematung dengan kerudung hitam miring. Mata anak bungsunya bengkak, botol minyak kayu putih masih tergenggam di tangan.
"Ibu?"
Sari ingin menjawab, tetapi tenggorokannya seperti penuh pasir. Ia hanya mengangkat tangan sedikit. Nadia jatuh berlutut, menyentuh pipinya, lalu tangisnya pecah.
"Ya Allah... Ibu hangat. Ibu masih hidup."
"Bantu Ibu duduk," bisik Sari.
"Jangan, Bu. Aku panggil ambulans lagi. Ibu baru saja dinyatakan..." Nadia tidak sanggup menyelesaikan kalimat.
Sari menggenggam pergelangan anaknya. Tenaganya kecil, tetapi cukup untuk menahan Nadia. "Ayahmu di mana?"
Wajah Nadia berubah sebelum ia sempat menjawab.
Sari melihat sekeliling. Tidak ada Hendra. Tidak ada Raka. Tidak ada Bayu. Rumah yang katanya sedang berduka hanya dipenuhi tetangga, beberapa kerabat jauh, dan Nadia yang tampak seperti satu-satunya orang yang benar-benar kehilangan dirinya.
"Mereka di mana, Na?"
"Kita ke rumah sakit dulu, ya. Aku takut Ibu pingsan lagi."
"Jawab."
Nadia menggigit bibir sampai pucat. Ia mengambil ponsel dari tas, membuka video yang masih tersimpan di galeri, lalu menyerahkannya pada Sari dengan tangan gemetar.
Di layar, Hendra Prasetyo berdiri di panggung kecil memakai batik baru. Di sebelahnya, Ratna Lestari tersenyum dalam kebaya merah marun, sementara di belakang mereka tertulis Selamat Menempuh Hidup Baru. Raka dan Bayu berdiri di barisan depan, rapi, seolah hari itu memang hari bahagia keluarga.
Sari menatap video itu sampai layar meredup.
"Hari ini?"
Nadia mengangguk sambil menangis. "Aku telepon Ayah berkali-kali. Katanya semua sudah telanjur diatur. Katanya Ibu sudah pergi, jadi jangan bikin keluarga besar malu."
Sari tertawa pendek. Rasanya kering, hampir tidak terdengar seperti tawa. Setelah tiga puluh tahun ia menambal utang pabrik, membuka kios dari uang receh, membayar sekolah anak-anak, mengurus kebun yang dulu ditertawakan Hendra, rupanya kata malu baru muncul ketika ia bangun dari kafan.
"Siapa yang membawa Ibu pulang dari rumah sakit?"
"Aku. Dokter bilang Ibu tidak merespons. Aku panik. Ibu Sri mendesak jenazah dibawa pulang cepat karena katanya pemakaman jangan ditunda. Ayah tidak mengangkat telepon. Mas Raka cuma bilang ikut keputusan keluarga. Mas Bayu juga."
"Surat lengkap resmi dari rumah sakit tadi?"
"Ada di map."
"Simpan. Jangan hilang."
Nadia menatapnya seperti tidak percaya. "Ibu baru sadar, masih sempat mikir bukti?"
"Kalau mereka sempat menikah saat Ibu dikafani, Ibu juga boleh sempat berpikir."
Nadia membuka map kecil di samping tikar. Di dalamnya ada salinan surat keterangan kematian sementara, kuitansi ambulans, catatan IGD, dan fotokopi KTP Sari yang tadi pagi dipakai untuk mengurus pemulangan jenazah. Ujung kertasnya kusut karena Nadia terlalu sering menggenggamnya.
Sari menatap namanya di dokumen itu. Tanggal lahir, alamat, nama suami, semua tertulis rapi. Hidup tiga puluh tahun sebagai istri Hendra ternyata bisa diringkas menjadi beberapa lembar kertas dan satu kain putih.
"Masukkan ke tas," katanya.
"Sekarang?"
"Sekarang."
Beberapa orang yang mendengar langsung menunduk. Seorang paman dari keluarga Hendra mencoba mendekat.
"Sar, jangan gegabah. Ini pasti salah paham. Kita panggil Hendra pulang dulu."
Sari menoleh. "Salah paham apa? Aku salah paham karena belum jadi mayat?"
Paman itu berhenti.
Sari menyingkap kain dari kakinya. Tubuhnya gemetar saat telapak kakinya menyentuh lantai. Nadia langsung menopang, tetapi Sari menolak gamis yang diambilkan dari lemari.
"Biarkan kainnya."
"Bu, orang-orang akan lihat."
"Memang itu tujuannya."
Di sudut ruangan, Ibu RT berbisik ingin menelepon ambulans. Sari mendengarnya dan mengangkat tangan kecil.
"Nanti, Bu. Kalau saya jatuh di jalan, baru panggil ambulans. Sekarang beri saya lima belas menit untuk mengurus hidup saya."
Tidak ada yang tertawa. Tidak ada yang menasihati lagi. Kain putih di tubuh Sari membuat semua kalimat terasa terlambat.
Nadia memasukkan ponsel, dompet, map medis, dan kunci mobil ke dalam satu tas. Tangannya masih gemetar, tetapi matanya mulai berubah.
"Aku punya rekaman suara Ayah tadi pagi," katanya pelan. "Waktu aku minta dia pulang, dia bilang jangan ganggu acara."
"Kirim ke emailmu."
"Sudah."
Sari menatap anaknya. Untuk pertama kalinya sejak membuka mata, ia tidak hanya melihat Nadia sebagai putri yang menangis, melainkan saksi yang sedang belajar berdiri.
Seorang tante dari pihak Hendra berbisik, "Kasihan Hendra kalau acara itu kacau."
Sari berhenti di ambang pintu. Ia tidak mencari siapa yang bicara.
"Kalau kasihan, datanglah ke gedung. Bantu dia menjelaskan kenapa istrinya yang dikira mati bisa berjalan."
Bisik-bisik langsung padam.
Mereka berjalan keluar. Tetangga membuka jalan. Di teras, seorang sepupu Hendra mencoba menahan dengan alasan tidak baik perempuan berkafan keluar rumah.
Sari menatapnya sekali. "Lebih tidak baik suami menikah sebelum istrinya dikubur."
Sepupu itu mundur.
Di mobil, napas Sari tersengal. Nadia duduk di balik setir, ragu menyalakan mesin.
"Ibu bisa pingsan."
"Kalau pingsan, siram air."
"Ibu..."
"Jalan, Na."
Mobil keluar dari komplek. Siang Tangerang Selatan terlalu terang, seperti dunia tidak peduli apakah seorang perempuan baru saja batal mati. Sari menyandarkan kepala ke kursi. Perutnya masih melilit, tangan masih dingin, setiap tarikan napas terasa seperti pinjaman. Namun video Hendra menggenggam tangan Ratna lebih sakit daripada semua itu.
Di lampu merah pertama, Nadia hampir memutar balik ketika melihat bibir Sari memucat.
"Bu, kita ke IGD dulu."
"Setelah gedung."
"Kalau Ibu pingsan sebelum sampai?"
"Rekam juga. Biar lengkap."
"Ini bukan lelucon."
"Ibu tidak sedang melucu," kata Sari. "Kalau Ibu ke rumah sakit sekarang, mereka punya waktu menghapus jejak. Video bisa hilang, tamu bisa pulang, cerita bisa diganti. Ibu sudah terlalu sering kalah karena datang terlambat."
Nadia menggenggam setir lebih kuat. Ketika lampu berubah hijau, ia tidak lagi membahas IGD.
Di perjalanan, ponsel Nadia terus bergetar. Grup keluarga Prasetyo memanggil-manggil namanya, meminta kabar pemakaman, bertanya kenapa rumah duka tiba-tiba ramai. Nadia tidak membuka satu pun.
"Baca yang penting saja nanti," kata Sari.
"Kalau mereka cari Ibu?"
"Mereka tidak mencari Ibu. Mereka mencari cara agar cerita tetap nyaman untuk mereka."
Nadia menelan tangisnya. Kalimat itu pahit, tetapi benar. Sejak kecil, ia melihat ibunya menutup lubang yang dibuat orang lain. Hari ini, untuk pertama kalinya, Sari membiarkan semua orang melihat lubang itu menganga di depan mata mereka sendiri.
"Gedungnya di mana?"
"Dekat jalan utama. Gedung kecil yang biasa dipakai arisan besar."
"Parkir di depan."
"Banyak orang, Bu."
"Bagus." Sari membuka mata. Suaranya serak, tapi dingin. "Ibu mau mereka melihat kain ini sebelum mendengar satu kata pun dari mulutku."
Nadia menatap ibunya dari samping. Seumur hidup, ia melihat Sari menahan diri demi nama keluarga. Hari itu, dalam kain putih yang seharusnya mengantar ke kubur, Sari justru tampak paling hidup.
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
kog bs beda2 yah ??