Sejak SMA, Amelia Hartono diam-diam mencintai Evan Cristian. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali setelah lulus kuliah, Amelia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan cintanya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Hartono, Amelia yang polos dan kesepian menyerahkan seluruh kepercayaan kepada pria yang dicintainya.
Namun, cinta itu ternyata hanyalah jebakan.
Satu per satu aset perusahaan berpindah tangan. Pernikahan yang selama ini diyakininya sah ternyata palsu. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa ternyata bukan darah dagingnya. Amelia hanyalah seorang ibu pengganti yang ditipu.
Di balik semua itu berdiri Evan Cristian dan istri sahnya, Carolin Baskara, model papan atas sekaligus putri keluarga konglomerat Baskara. Namun, saat semuanya hancur, Elang Anderson teman lamanya muncul kembali, pria yang diam-diam pernah jatuh cinta padanya kini membantunya.
"Kau boleh menangis hari ini, Amelia. Tapi besok, aku akan memastikan mereka yang menangis di hadapanmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Di sisi lain kota.
Carolin duduk di ruang kerjanya dengan wajah serius. Riasan yang sempurna tak mampu menyembunyikan kegelisahan di matanya.
Sejak pagi, firasatnya terus mengatakan ada sesuatu yang janggal tentang Laras.
Ketukan pelan terdengar dari balik pintu.
"Masuk."
Asistennya melangkah masuk sambil membawa sebuah map berwarna cokelat.
"Mbak Carolin. Ada perkembangan."
Carolin yang semula bersandar langsung duduk tegak.
"Sudah ketemu?"
Asisten itu mengangguk.
"Saya memang tidak menemukan masalah pada identitas Laras di Indonesia."
"Tapi..." Ia membuka map tersebut.
"Saya mencoba memperluas pencarian sampai ke luar negeri."
Carolin langsung menatapnya penuh perhatian.
"Dan? Awalnya semua data tetap bersih. Tetapi setelah saya membayar seseorang yang memiliki akses ke arsip rumah sakit di Berlin..."
Asisten itu menarik selembar dokumen.
"Saya menemukan satu catatan."
Carolin meraih berkas itu dengan cepat. Matanya menelusuri setiap baris tulisan.
"Rawat inap..." Gumamnya pelan.
"Iya."
"Asalnya dari salah satu rumah sakit di Berlin. Waktunya juga berdekatan dengan kepulangan Laras ke Indonesia."
Kening Carolin langsung berkerut.
"Diagnosisnya?"
Asisten itu menggeleng. "Tidak ada."
"Datanya sudah dikunci. Orang yang membantu saya hanya berhasil mendapatkan bukti bahwa Laras memang pernah dirawat di sana. Untuk alasan apa, mereka tidak bisa membukanya."
Carolin mengepalkan map itu. "Kenapa dia dirawat?"
Asisten menggeleng pelan. "Saya juga belum tahu. Tapi kalau dipikir-pikir ... Laras mengaku pernah bekerja di Hong Kong. Lalu tiba-tiba menjalani perawatan di Berlin. Menurut saya, ada bagian dari masa lalunya yang sengaja disembunyikan."
Carolin terdiam, tatapannya semakin tajam.
"Aku sudah bilang ... perempuan itu tidak sesederhana yang terlihat."
Ia menutup map tersebut perlahan.
"Dia pasti menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun."
Asisten itu mengangguk.
"Kalau Mbak mengizinkan, saya akan terus menyelidikinya."
"Lakukan." Jawab Carolin tanpa ragu.
"Aku tidak peduli berapa biayanya. Aku ingin tahu siapa sebenarnya Laras. Dan kenapa dia sampai harus dirawat di Berlin. Asal-usulnya harus jelas."
"Baik, Mbak." Asisten itu segera keluar dari ruangan.
Setelah pintu tertutup, Carolin kembali membuka map di tangannya. Tatapannya berhenti pada tulisan Berlin. Entah mengapa, instingnya mengatakan bahwa kota itu menyimpan jawaban atas semua kejanggalan yang selama ini ia rasakan.
Sementara itu, jauh di tempat lain. Elang Anderson sama sekali tidak menyadari bahwa ada satu jejak yang luput ia bersihkan. Jejak kecil itu, kini mulai mengarah pada rahasia terbesar yang selama ini mereka sembunyikan.
Sore itu, sebuah mobil mewah berhenti dengan kasar di halaman rumah keluarga Baskara.
Pintu mobil terbuka.
Carolin turun dengan wajah yang dipenuhi amarah. Ia bahkan tidak menyapa para pelayan yang berdiri di depan rumah. Langkahnya cepat, seolah sudah tidak sabar meluapkan emosinya.
Pintu utama dibuka dengan keras.
"Laras!" Suara Carolin menggema ke seluruh rumah.
Di ruang keluarga, Laras yang sedang menggendong Aurora spontan menoleh.
"Nyonya..."
Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Carolin sudah berdiri tepat di hadapannya.
Tatapannya dingin. "Aku sudah cukup bersabar."
"Nyonya, ada apa?"
"Jangan pura-pura tidak tahu!" Bentak Carolin.
"Aku tahu selama ini kamu menyembunyikan sesuatu."
Laras berusaha tetap tenang. "Saya tidak mengerti maksud Nyonya."
"Tidak mengerti?" Carolin tersenyum sinis.
"Kamu pikir aku tidak bisa mencari tahu tentangmu? Aku sudah menyelidikimu."
Jantung Laras berdegup lebih cepat, tetapi wajahnya tetap tenang.
"Aku tahu kamu pernah dirawat di Berlin. Sekarang jelaskan, untuk apa kamu dirawat di sana?"
Laras terdiam beberapa saat. Ia sudah menduga pertanyaan seperti ini suatu hari akan datang.
Namun, ia tidak boleh panik.
"Itu urusan pribadi saya, Nyonya." Jawaban itu justru membuat Carolin semakin emosi.
"Lihat! Kamu memang menyembunyikan sesuatu. Aku yakin ada tujuan lain kenapa kamu datang ke rumah ini."
"Tidak, Nyonya. Saya datang karena menerima pekerjaan. Saya hanya ingin bekerja."
"Bohong!" Carolin menunjuk wajah Laras.
"Kamu pikir aku tidak tahu? Kamu sengaja mendekati suamiku. Kamu membuat Aurora lebih dekat denganmu. Lalu sedikit demi sedikit mengambil perhatian Evan. Bukankah itu tujuanmu sejak awal?"
Laras menggeleng cepat. "Tidak, Nyonya. Demi apa pun, saya tidak pernah berniat seperti itu. Saya sadar posisi saya. Saya hanya seorang ibu susu."
Carolin tertawa sinis. "Ibu susu? Atau perempuan yang ingin merebut suami orang?"
Wajah Laras mulai memucat, matanya berkaca-kaca.
"Nyonya ... Saya bersumpah. Saya tidak pernah memiliki niat untuk merebut Tuan Evan. Saya tahu beliau sudah berkeluarga. Dan saya menghormati pernikahan Tuan dan Nyonya."
Carolin melangkah semakin dekat. "Kalau begitu ... pergi dari rumah ini."
"Nyonya ... tolong jangan usir saya. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini."l Saya mohon."
Laras menundukkan kepala dalam-dalam.
Air matanya mulai menetes.
"Saya berjanji akan menjaga sikap. Saya akan menghindari Tuan. Saya hanya ingin merawat Baby Aurora. Tolong ... jangan pecat saya."
Melihat Laras memohon, Carolin sama sekali tidak merasa iba. Justru ia semakin yakin bahwa perempuan di hadapannya sedang berpura-pura.
"Tidak ada gunanya menangis. Mulai besok, kamu tidak perlu bekerja lagi di rumah ini."
Suasana rumah mendadak sunyi. Para pelayan hanya mampu menyaksikan dari kejauhan. Tak seorang pun berani menyela.
Sementara Laras menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia terus menundukkan kepala, menyembunyikan sorot matanya. Di balik air mata yang terlihat begitu tulus. Ada kemarahan yang perlahan kembali menyala.
Namun, ia tahu dia hanya perlu bertahan sedikit lebih lama. Karena orang yang bisa membatalkan keputusan Carolin, sebentar lagi akan pulang ke rumah.
aku ambil kuaci dulu Thor
mau liat keributan mereka.
panik ga,panik donk ah🤣
kalian bersekongkol untuk menipu dan merampok Amelia
habisi jangan bersisa
biar mereka merasakan neraka dunia yg dulu mereka ciptakan buat dirimu
memainkan peran begitu epic
sampai semua orang tidak ada yg Sadar 👍
Makin seru ajh nih,,