NovelToon NovelToon
Hazelnut Di Dusun Teduh

Hazelnut Di Dusun Teduh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Romansa
Popularitas:938
Nilai: 5
Nama Author: Dzie Drafir

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.

Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.

Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.

Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.

Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.

Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nikah Saja, Tidak Usah Sekolah

Hari masih pagi. Kabut tebal baru saja beranjak perlahan meninggalkan dusun yang telah diselimutinya sejak semalam. Bening embun di dedaunan, bergoyang-goyang diembus semilir angin.

Pagi-pagi sekali, Yanto sudah minum kopi di teras rumah dinas Pustu. Sedang asyik minum kopi, dari kejauhan terdengar suara motor matic berhenti di luar pagar rumdin.

Dokter Prasetyo bergegas masuk ke halaman rumdin setelah parkir motornya, "Assalamu'alaikum. Sudah lama, Mas?"

"Mboten, Dok. Barusan juga, ini kopinya masih mengepul asapnya. Hehe ... Eh, wa'alaikumussalam. Sampai lupa jawab salam," Yanto menjabat tangan Dokter Pras erat.

"Dusun yang akan kalian kunjungi, jauh kah?" tanya dr. Pras sambil menggosok-gosokkan tangannya mengusir dingin.

"Lumayan, Dok. Melewati satu dusun dan menyebrangi danau pakai perahu kecil." Yanto berdiri dan mengambil sesuatu dari tas kerjanya, "Ini agenda di Pustu hari ini. Kata dr. Azra tadi malam sudah disampaikan via telepon."

"Iya, sudah." jawab dr. Pras sambil membaca jadwal terlampir.

"Selamat pagi, Dokter Pras. Bagaimana di jalan tadi? Lancar ya perang sama kabutnya?" Linda datang sambil membawa teh panas di nampan, menghidangkan kepada dr. Pras yang tidak terbiasa ngopi.

"Alhamdulillah, sambil jalan tadi saya keluarkan ajian hempas halimun. Jadi sepanjang jalan, kabutnya lari kocar kacir," jawab Dokter Pras sambil menggerakkan tangan layaknya mengeluarkan aji-aji kesaktian, meladeni bualan Linda.

Linda dan Yanto tertawa mendengar gurauan receh dr. Pras. Terdengar langkah kaki mendekat ke arah mereka jagongan.

"Ya Allah, padahal saya selalu berdoa semoga Dokter Pras tidak ketularan keanehan penghuni Pustu Sukamakmur. Ternyata, bibit-bibit keanehan itu sudah menular."

Mereka bertiga kembali tertawa lebar mendengar keluhan dr. Azra yang baru keluar dari rumah dinas.

"Mau berangkat jam berapa, Dok?" tanya Dokter Pras setelah meminum teh yang sudah menghangat.

"Insya Allah sebentar lagi. Tinggal menunggu Mbak Siti, ada hal yang mau saya sampaikan." jawab Azra sambil memasukkan tangannya ke dalam saku snelli untuk mengusir dingin.

"Perihal tadi malam, yang Dokter bahas sama saya via ponsel?" tanya dr. Pras lagi.

"Iya."

"Kalau Dokter Azra tidak keberatan, saya bisa menyampaikan ke Mbak Siti." Sambil membetulkan letak kacamatanya, Dokter Pras mencoba menawarkan bantuan.

"Dokter Pras tidak apa-apa menyampaikan itu?"

"Insya Allah tidak apa-apa. Nanti coba saya bicarakan pelan-pelan." angguk Dokter Pras mantap.

"Alhamdulillah, terimakasih sekali, Dokter. Sudah banyak membantu. Kalau begitu apa sebaiknya kita berangkat sekarang saja, Mas Yanto?" tanya Dokter cantik itu sambil memandang Yanto.

Yanto mengangguk, bersegera membawa tas dan peralatan medisnya ke sepeda motor.

"Saya permisi berangkat sekarang nggih. Pustu saya serahkan Dokter Pras dan kawan-kawan. Linda, bantu dr. Pras baik-baik ya."

"Siap, laksanakan!" jawab Linda. Sebelum pergi Azra yang gemas, langsung mencubit pipi Linda. Si empunya menggerutu marah karena kesakitan.

"Monggo semua. Assalamu'alaikum ..." Azra bergegas membonceng di belakang Yanto. Motor matic biru Pustu, melaju menghalau dinginnya pagi.

Sementara itu, dari kejauhan, Siti datang dengan motornya yang melaju kencang, "Dokter Azra, mana?" tanya Siti setengah berlari begitu turun dari motor.

Bahu Siti ditahan Linda dari samping, "Ojo playon. Kalau jatuh, nggak lucu. Nanti mas Paino sedih, lho."

"Duuh, Mbak Linda. Iki isih pagi lho. Ojo mulai nggudo po yo," protes Siti memasang wajah cemberut, "Dokter Azra, mana? Kemarin katanya ada hal penting yang mau diomongkan."

"Sudah berangkat, Mbak. Baru saja. Tadi sempat menunggu Mbak Siti juga. Tapi karena dikejar waktu, jadi bu Dokter segera pergi." Dokter Pras meminum habis teh di gelasnya

"Nanti saya yang akan menyampaikan hal penting itu ke Mbak Siti, mewakili Dokter Azra." Sambil memakai snelli-nya dr. Pras berdiri dan melangkahkan kaki. Bersiap menuju Pustu

"Ayo, kita bertugas dulu hari ini," ajaknya kepada Linda dan Siti.

"Siap, Dok." sambut mereka berdua. Linda bergegas membereskan cangkir dan gelas di meja teras, lalu mengunci pintu rumah dinas.

Selasa itu, Dokter Azra ada jadwal penyuluhan warga di Dusun Krajan. Letak Dusun yang harus menyeberangi Danau Widuri Asri, mengharuskan Yanto pergi menemani Azra.

_______

Pendopo paseban Desa Sukamakmur, ramai dengan para lelaki berpakaian seragam dan helm pekerja lapangan. Hari itu adalah hari dimulainya proyek perbaikan jalan.

Sesuai instruksi Pak Kades, jalan yang diperbaiki ada di tiga titik. Berdasarkan instruksi itu, perusahaan kontraktor, tempat Lukman bekerja, langsung menerjunkan tiga tim untuk pelaksanaan proyek.

"Untuk Tim pintu masuk desa, pastikan untuk membuat gorong-gorong jalan dulu. Drainase sepanjang jalan itu buruk. Makanya, jika hujan deras, air sering menggenang. Ini yang mengakibatkan aspal cepat rusak berlubang." Lukman memberikan arahan kepada para mandor yang berkumpul di ruang staf TPK Desa.

"Yang perbaikan jalan poros, itu dusun apa, Pak?" tanya salah satu mandor yang bertubuh kecil.

"Itu Dusun Ngestiasri. Letaknya paling ujung. Tapi setelah survey beberapa hari lalu, drainase-nya bagus. Jadi aman, pengerjaan tidak terlalu banyak. Jalan porosnya rusak, karena sering dilewati truk-truk besar muatan tebu," Lukman berhenti sejenak, membuka berkas yang ada di depannya.

"Tolong dipastikan, untuk jalan poros dusun Ngestiasri ini lapisan batu dan agregatnya harus benar-benar padat, sesuai standar kendaraan besar muatan berat. Jangan lupa ketebalan lapisan aspalnya juga harus sesuai aturan." jelas Lukman lagi.

"Yang terakhir, Tim tiga, ini lebih banyak anggotanya, karena pengerjaannya ganda: perbaikan drainase jalan dan pengaspalan standar kendaraan besar muatan berat. Titik lokasinya jalan masuk Dusun Teduh. Untuk Tim ini, saya harap ketiga mandor yang sudah ditunjuk, bisa bekerja sama dengan baik. Sampai sini, ada pertanyaan?" Lukman menutup berkas dan mengedarkan pandangan pada bawahannya.

"Tidak, Pak!"

"Baik, kalau tidak ada, saya cukupkan sampai di sini. Akan ada tiga supervisor yang mengawasi proyek ini. Jadi bila ada kendala teknis atau apapun, silakan hubungi supervisor masing-masing. Mari kita awali proyek kita kali ini dengan membaca basmalah ..."

"Bismillaahirrohmaanirrohiim ..." ucap mereka serentak.

Keluar dari ruangan, mereka segera bergerak menempati pos masing-masing. Sementara Lukman, berbincang serius dengan Pak Kades dan staf TPK.

_______

Malam mulai datang. Warga desa sudah jarang yang berkeliaran di luar rumah. Mereka lebih banyak berkumpul dengan keluarga di dalam rumah.

Tak terkecuali anggota keluarga di sebuah rumah bercat hijau yang tidak terlalu besar, tapi apik dan bersih tatanannya.

Siti duduk sambil menundukkan kepala di hadapan kedua orang tuanya. Suasana menegang setelah Siti menyampaikan tawaran dari Dokter Pras.

Flashback On

"Ini tawaran untuk kebaikan masa depan, Mbak Siti. Masalah biaya kuliah, nanti ditanggung _fifty-fifty._ Antara Mbak Siti dan Desa." ujar Dokter Prasetyo siang tadi, setelah selesai pelayanan pasien.

"Memangnya harus ya, Dok? Apakah ijazah saya dari SMK Farmasi tidak mencukupi untuk saya bekerja di Pustu ini?"

"Bukan, bukan begitu, " sanggah Dokter Pras cepat, "Kami sangat senang dengan kinerja Mbak Siti di sini. Dan kami sangat ingin kemampuan Mbak Siti ini juga diakui dan diapresiasi oleh Dinas. Berharapnya sih, bisa diangkat menjadi PNS seperti Mas Yanto dan Mbak Linda. Begitu, Mbak."

Dokter Pras membetulkan letak kacamata dan posisi duduknya, "Dan untuk itu, syaratnya Mbak Siti sekolah lagi. Bagaimana, Mbak? Pikirkan saja dulu tawaran ini, rundingkan dengan orang tua baik buruknya. Baru nanti kasih jawaban ke kami." ucap dr. Pras mengakhiri percakapan.

Flashback Off

"Wis mok pikir, Nduk?" suara renta laki-laki menginterupsi lamunan Siti.

Siti memandang bapaknya sekilas, kemudian menunduk lagi.

"Cah wadon ki nggone neng pawon. Mau sepinter apapun, yo tetap harus masak di dapur, melayani suami dan keluarga. Adhimu laki-laki. Kelas 3 SMP. Sedang butuh biaya banyak. Kalau kamu maksa sekolah lagi, terus bagaimana adhimu. Siapa yang membiayai?" Ibunya Siti terlihat sangat gusar. Gurat-gurat kebingungan nampak di wajahnya.

"Sabar, bune. Kita kan janji ngomong baik-baik ..." Bapaknya Siti menengahi.

"Wis ngene ae lho Nduk. Kalau memang kamu tidak boleh bekerja di Pustu karena sekolahmu kurang

dhuwur kamu NIKAH saja. Nggak usah kerja lagi. Umurmu juga sudah cukup buat Nikah. Wis ngono wae!" Wanita tua itu tidak bisa lagi mengendalikan emosinya. Setelah meluapkan semua uneg-unegnya, dia berbalik pergi meninggalkan ruangan.

Siti masih duduk menunduk. Bahunya bergetar pelan menahan tangis yang akhirnya pecah.

1
ensu77
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!