Dua minggu pernikahan menjadi neraka bagi Freya Arunika. Ia baru menyadari dirinya hanya dijadikan tumbal saat memergoki perselingkuhan suaminya, Sean Ravindra, dengan Bianca—adik tirinya sendiri. Sejak rahasia itu terbongkar, hidup Freya sepenuhnya terkekang.
Namun, takdir berputar liar ketika Ravael, ayah kandung Sean sekaligus sosok penolong masa lalu Freya, kembali dari luar negeri. Jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa tahu identitas Freya, obsesi Ravael justru semakin membara setelah mendapati wanita itu adalah menantunya.
Kini, Freya terjebak di antara dua pria sedarah: suami kejam yang membencinya, dan papa mertua berkuasa yang terobsesi memilikinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18.
Tiga hari berlalu dalam kesunyian yang membawa sedikit kedamaian bagi Freya. Berkat perawatan telaten dari Bi Sofi dan obat-obatan yang rutin dikonsumsi, luka di punggungnya kini telah menutup, menyisakan bekas samar yang mulai memudar. Freya sudah bisa kembali beraktivitas, meski ia selalu memilih untuk menarik diri.
Setiap kali mendengar suara derap langkah kaki Rafael di lorong, Freya akan segera mengunci diri di kamar tamu atau bersembunyi di taman belakang. Ia tidak ingin lagi bertemu tatap dengan pria itu, apalagi setelah kejadian di ranjang yang membuatnya trauma. Kepergian Sean ke luar kota—yang sebenarnya hanyalah sebuah kebohongan untuk berlibur—justru memberikan ruang bagi Freya untuk bernapas tanpa ketakutan akan siksaan fisik, setidaknya untuk saat ini.
Malam itu, jam menunjukkan pukul sebelas malam. Mansion Ravindra yang megah terasa sangat sunyi. Freya, yang merasa tenggorokannya kering, memutuskan untuk turun ke lantai bawah menuju dapur untuk mengambil segelas air dingin.
Namun, baru saja ia menapaki anak tangga terakhir, ia terdiam mendengar suara gaduh dari arah pintu depan.
Brak!
Pintu utama terbuka kasar. Rafael melangkah masuk dengan setelan jas yang sudah berantakan. Dasi sutranya terlepas, kemeja putihnya terbuka beberapa kancing atas, dan rambutnya yang biasanya rapi kini tampak berantakan. Di belakangnya, Dimas mengikuti dengan raut wajah panik yang tidak biasa.
Rafael berjalan sempoyongan, napasnya memburu dengan suara kasar, dan wajahnya memerah padam seperti sedang menahan panas yang luar biasa.
"Tuan Besar, mari saya bantu ke kamar..." suara Dimas terdengar gemetar.
Rafael mencengkeram bahu Dimas, kukunya menancap kuat hingga sang asisten meringis. "Tidak... jangan ke kamar. Cari aku wanita, Dimas! Sekarang juga!" perintah Rafael dengan suara parau yang sarat akan hasrat yang tersiksa.
Freya, yang mematung di balik bayang-bayang pilar ruang tengah, menahan napas. Ia mendengar dengan jelas kegaduhan itu.
"Tuan, ini sudah terlalu larut. Saya tidak mungkin mencarikan seseorang di jam seperti ini," jawab Dimas serba salah.
"Cari! Rekan bisnis sialan itu... mereka memasukkan sesuatu ke dalam minumanku!" geram Rafael. Suaranya terdengar seperti raungan binatang buas yang sedang menahan rasa sakit sekaligus gairah yang meluap. "Cepat, Dimas! Aku tidak bisa menahannya lagi!"
Tubuh Freya bergetar hebat. Ia mendengar segalanya. Rafael, pria yang selama ini terlihat begitu dingin dan terkendali, kini sedang merintih karena pengaruh obat perangsang yang sangat kuat.
Freya berniat untuk mundur perlahan, kembali ke lantai atas tanpa terlihat. Namun, saat ia hendak berbalik, kakinya menyenggol pot bunga hias di dekat pilar.
Prang!
Suara pecahan keramik itu menggema di ruang tengah yang luas. Rafael dan Dimas seketika menoleh ke arah sumber suara.
Dalam keremangan lampu gantung, sepasang mata Rafael yang kini berkilat merah karena pengaruh obat itu menangkap sosok Freya. Tatapan itu begitu tajam, mematikan, dan penuh dengan hasrat yang mendesak.
"Freya..." desis Rafael, suaranya terdengar seperti ancaman sekaligus permohonan. "Dimas, pergi! Tinggalkan kami!"
"Tapi Tuan..."
"Pergi!" teriak Rafael, suaranya menggelegar hingga membuat Freya terjungkit kaget.
Dimas menoleh ke arah Freya dengan tatapan meminta maaf yang tak terlukiskan, lalu dengan cepat berlari meninggalkan ruangan, membiarkan pintu utama tertutup rapat. Freya kini benar-benar terperangkap. Ia tidak punya jalan keluar. Rafael mulai melangkah mendekat, langkahnya tidak stabil namun penuh dengan intensitas yang mengerikan.
*
Jantung Freya berdegup kencang seperti ingin melompat keluar dari dadanya. Ketakutan yang amat sangat melumpuhkan kedua kakinya. Ia menatap Rafael yang terus melangkah mendekat dengan napas memburu dan mata yang menyalang merah, benar-benar dikuasai oleh obat laknat itu.
"P-Papa... jangan mendekat," bisik Freya, suaranya gemetar hebat saat ia mencoba mundur selangkah demi selangkah. "Sadarlah, Paa... ini Freya."
Rafael tidak mendengar. Indra penciumannya kini dipenuhi oleh aroma tubuh Freya yang manis dan memabukkan—aroma yang selama tiga hari ini selalu menghantuinya dalam mimpi. Efek obat perangsang itu membuat akal sehatnya terbakar habis, menyisakan hasrat liar yang menuntut pelepasan segera.
"Freya..." erang Rafael parau, suara baritonnya terdengar begitu rendah dan berbahaya.
Hanya dalam beberapa langkah lebar, Rafael berhasil mengikis jarak di antara mereka. Sebelum Freya sempat berbalik untuk berlari ke lantai atas, tangan kokoh Rafael sudah mencengkeram pergelangan tangannya, menarik tubuh mungil itu dengan sentakan kuat hingga menubruk dada bidangnya yang terasa panas seperti bara api.
"Ah! Papa, lepaskan!" jerit Freya panik. Ia memukul dada Rafael dengan tangan satunya, namun cengkeraman pria itu justru berpindah mengunci kedua tangannya di belakang punggung.
"Aku merindukanmu, Freya... sangat merindukanmu," bisik Rafael tepat di depan wajah Freya. Napasnya yang memburu dan beraroma alkohol serta panas obat menyapu permukaan kulit wajah menantunya.
"Papa, ini salah! Aku menantumu! Aku istri Sean!" teriak Freya histeris, air matanya mulai luruh membasahi pipi. Ia berusaha sekuat tenaga memalingkan wajahnya saat Rafael mulai menundukkan kepala, mencoba mengklaim bibirnya.
"Persetan dengan Sean," desis Rafael dingin di sela napasnya yang memburu. "Dia tidak ada di sini, Freya. Dia sedang bersenang-senang dengan wanita lain, dan malam ini... kau harus melayaniku."
"Tidak! Kumohon, Paa, sadarlah!" Freya menangis tersedu-sedu, meronta dengan seluruh sisa tenaga yang ia miliki. Punggungnya yang baru saja sembuh kembali terasa tegang karena paksaan fisik dari pria paruh baya itu.
Namun, rontaan Freya justru semakin mengobarkan gairah gelap di dalam diri Rafael. Cengkeraman tangannya beralih ke pinggang ramping Freya, mengangkat tubuh ringkih itu tanpa kesulitan dan membawanya menuju sofa panjang di ruang tengah, mengabaikan segala tangisan dan jeritan memohon dari wanita yang kini sepenuhnya berada di bawah kendalinya.
*
*
*
bongkar kebusukan ibu & adik tiri Freya. . udah sabar bgt nih Freya di bully dan diselingkuhi tinggal cerai aja 🔥🔥🔥
semoga aja Freya Nerima Rafael setelah dicerai sean