NovelToon NovelToon
Penjara Emas Untuk Ratu Instagram

Penjara Emas Untuk Ratu Instagram

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Angst
Popularitas:32.4k
Nilai: 5
Nama Author: Newbee

Riven Daylon Chamron adalah pria yang memiliki segalanya. Terlahir sebagai putra sulung Thomas Chamron dan Hellary Chamron, ia tumbuh di tengah kemewahan, kekuasaan, dan lingkaran pergaulan elit yang membuat namanya dikenal di banyak kalangan.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis, kekuasaan, ataupun pendidikan terbaik yang pernah ia terima: cinta.

Angelina Angie, seorang gadis yang terlihat polos dan pekerja keras demi mencapai impiannya mampu meluluhkan hati Riven.

Namun, saat perasaannya semakin dalam, Riven mulai menyadari bahwa wanita yang dicintainya mungkin tidak mencintainya dengan alasan yang sama.

Angelina Angie yang tak memiliki apapun tak membawa apapun hingga akhirnya menjadi Ratu Instagram berkat Riven, ternyata memiliki kehidupan yang penuh kontroversi. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi, drama, intrik, serta rahasia yang tak di ketahui.

Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, ambisi, dan harga yang harus dibayar ketika seorang pewaris konglomerat jatuh hati pada wanita yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 22

“Ya, dan istrinya tahu soal itu. Barang-barang itu memang murni hadiah. Bahkan istrinya sendiri yang sesekali membelikanku perlengkapan untuk menunjang foto promosi. Sebenarnya, mereka melakukan semua itu bukan tanpa alasan.”

Riven mengangkat pandangan dari layar, menatap Angie lurus-lurus. “Alasan apa?”

“Aku pernah menolong anak mereka.”

“Menolong?”

“Anak mereka hampir tenggelam di kolam ikan taman pusat kota. Kejadiannya refleks saja. Jadi, mereka membalas kebaikanku dengan cara seperti ini.”

Angie kemudian mengusap layar, menunjukkan beberapa foto lain di akun Instagram miliknya.

“Aku mengunggah semua barang yang mereka berikan. Banyak orang mengira aku sekaya itu karena hasil jadi influencer. Jujur saja, aku risih membaca komentar-komentar sok tahu seperti itu. Tapi anehnya, netizen memang lebih suka melihat unggahan yang berhubungan dengan kemewahan.”

Ia menunjuk salah satu foto. “Lihat yang ini. Aku sedang berlibur bersama teman-temanku. Jumlah likes dan komentarnya jauh lebih banyak. Tapi anehnya mereka tetap tidak mengikutiku. Aku tidak paham cara kerja media sosial.”

Riven memperhatikan layar ponsel itu beberapa saat sebelum kebenaran fungsionalnya terangkai di kepala.

Kini semuanya terasa masuk akal.

Angie memang bergerak di lingkaran pertemanan kalangan atas. Itulah mengapa gadis ini tidak canggung saat mengenali mobil-mobil sport, membuka pintu kendaraan dengan percaya diri, atau terbiasa dengan barang-barang mahal. Bukan karena ia menjadi simpanan pria kaya atau memiliki sugar daddy seperti asumsi buruk yang sempat melintas di kepala Riven.

Riven mengembuskan napas perlahan, merasa lega tanpa alasan yang jelas. Ia mengembalikan ponsel itu ke atas meja tanpa memberikan komentar apa pun.

“Lalu,” Riven kembali menempelkan kompresan es, nadanya melunak, “kenapa ayahmu menamparmu?”

Senyum tipis yang sempat terbit di wajah Angie perlahan surut.

“Aku hanya muak,” suaranya mendadak parau, jauh lebih pelan dari sebelumnya. “Setiap hari dia meminta uang dariku hanya untuk mabuk-mabukan. Memang benar, aku sengaja mendatanginya saat dia sedang minum bersama teman-temannya karena dia menjual salah satu tas branded-ku tanpa izin.”

Raut wajah Angie berubah total. Mata yang biasanya jernih dan cerah itu mulai digenangi air, memerah kusam seolah menahan badai yang siap pecah.

“Aku benar-benar kesal tadi...”

Untuk beberapa saat, Riven kehilangan kata-kata.

Melihat wajah cantik yang berusaha keras menahan tangis itu, dada Riven mendadak dihantam rasa sesak yang asing.

Ada dorongan aneh dan kuat yang menggelitik jemarinya, keinginan untuk merengkuh dan menghapus semua kesedihan dari wajah baby face di hadapannya. Namun, Riven tidak tahu harus memulainya dengan cara apa.

Riven sempat membeku mendengar pengakuan Angie. Namun tanpa berkomentar apapun, ia kembali menempelkan serbet es itu ke pipi sang gadis dengan gerakan yang jauh lebih lembut dari sebelumnya.

Setelah itu, keheningan kembali mengambil alih ruang keluarga.

Mereka duduk berhadapan dalam senyap. Angie menunduk, berusaha keras meredakan badai emosi yang sempat meluap di dadanya. Beberapa tetes air mata yang telanjur lolos dari sudut mata segera ia seka dengan punggung tangan, berharap Riven tidak menyadarinya.

Namun, entah siapa yang memulai, jarak di antara mereka perlahan mengikis.

Fokus Riven awalnya masih tertuju pada kompres dingin di tangannya. Tetapi ketika ia menurunkan sedikit serbet tersebut, ia baru menyadari bahwa wajah mereka sudah berada begitu dekat.

Lalu, di sela embusan napas yang beradu, pandangan mereka bertemu.

Tak ada kata-kata. Mereka hanya saling mengunci tatapan selama beberapa detik yang terasa berjalan melambat.

Jantung Riven mendadak bertalu sedikit lebih cepat dari normal. Dan sebelum pria itu sempat mencerna apa yang sedang terjadi, Angie bergerak lebih dulu.

Gadis itu memajukan wajah, lalu mengecup bibir Riven dengan amat lembut. Riven seketika terpaku. Tangannya yang memegang kompresan es mendadak kaku di udara.

Belum sempat Riven merespons, Angie kembali mendekat. Kecupan kedua, yang sama lembut dan ringannya, kembali mendarat di bibir Riven, seolah gadis itu hanya ingin memastikan bahwa kehangatan yang ia rasakan bukanlah khayalan dan bukan sebuah kesalahan.

Riven menelan ludah pelan. Ciuman tak terduga itu membuat jemarinya melemas, bungkusan es di tangannya terlepas begitu saja, jatuh ke atas lantai dan membuat beberapa bongkah es batu berserakan di dekat kaki mereka.

Melihat Riven yang masih bergeming seperti patung, Angie perlahan menarik diri lalu menundukkan kepala dalam-dalam.

“Maaf…” bisiknya lirih, sarat akan penyesalan. “Kurasa aku kembali terbawa suasana. Aku... terlalu mudah hanyut pada kebaikanmu.”

Angie bergerak gelisah, bersiap untuk berdiri dan melarikan diri dari rasa malu.

Namun, sebelum gadis itu sempat menjauh, Riven bergerak secepat kilat. Ia mencengkeram pergelangan tangan Angie. Dengan satu sentakan tegas, pria itu menarik Angie kembali hingga gadis tersebut kehilangan keseimbangan dan jatuh tepat di atas pangkuannya.

Angie membelalak kaget, napasnya tertahan di tenggorokan.

Sebelum Angie sempat memprotes, tangan Riven sudah bergerak menyusup ke tengkuk Angie, menahannya dengan lembut namun posesif, sementara tangan yang lain melingkar erat di pinggang ramping gadis itu, mengunci tubuhnya agar tidak bisa kabur.

Untuk sesaat, keduanya kembali saling menatap dari jarak yang nyaris mematikan. Tatapan Riven begitu gelap dan dalam, menelanjangi seluruh keraguan yang sempat ia pertahankan sejak tadi.

Malam itu, untuk pertama kalinya, Riven berhenti berpikir rasional dan membiarkan egonya menuntut apa yang diinginkannya.

Pagutan itu kian memanas, berubah menjadi ciuman yang intens dan dalam. Riven menyesap bibir Angie dengan ketamakan yang luar biasa, seperti seorang pria kelaparan yang baru pertama kali mencicipi manisnya sebuah ciuman.

Didorong oleh hasrat yang membakar, Angie perlahan mengubah posisi duduknya. Ia beralih menduduki pangkuan Riven dengan kedua kaki yang mengangkang di sisi pinggang pria itu, posisi yang membuatnya jauh lebih leluasa untuk bergerak bebas.

Angie menerima ciuman itu dengan pasrah sekaligus menuntut. Mereka saling memagut, saling memeluk, dan menolak memberikan jarak seujung kuku pun. Tanpa memutuskan tautan bibir mereka, Riven perlahan mendorong tubuh Angie hingga gadis itu telentang di atas sofa, sementara ciuman mereka kian menjerat, membuat bibir mungil Angie mulai membengkak ranum.

Perlahan, jemari Riven yang panas turun menyusuri lekuk leher Angie. Ia menyibak kerah piyama yang longgar itu hingga bahu mulus sang gadis terekspos bebas.

Tanpa memberikan jeda sedikit pun, seperti pria yang didera rasa lapar yang teramat sangat, Riven menurunkan kecupannya ke leher jenjang Angie yang seputih porselen. Isapan-isapan dalam di sana meninggalkan jejak kemerahan yang kontras, sebelum bibir Riven turun lebih jauh menuju bahu mungil Angie yang terlihat ringkih.

Angie melenguh, jemarinya meremas kuat tengkuk Riven seolah memberikan izin mutlak bagi pria itu untuk melakukan apa saja.

Bersambung

1
Hanima
Lanjut Rivvv
Hanima
😍😍
evanindia
paham, paham tpi d blkang lain lagii nihh c angie....
evanindia
iya wajar klo loyal am adek sndri mh....
act service riven bnr² bkin meleyott wkw
btw angie mau k rumah tmn yg mana yaa ??
afifah
Seru
evanindia
panggilan utk kaka.a luar biasa nii elana 😄
nah kan ditnyain kmu kenapa blum ke kantor
wiliss
salting kk?
wiliss
😅😅
wiliss
perhatian bgt ya riv...
Rudy satria
nama "musang"begitu cocok untuk riven emak kelakuannya kaya musang🤣🤣🤣
Rahmat Soiku: bls apaan sih g terbaca dilayar hp
total 11 replies
Rudy satria
antara Maruk dan rakus beda dikit ya Riv,tapi entah kenapa dari awal nggk respek Ama pasangan yang satu ini,bang author bisa nggk sih di ganti alurnya tentang Gavin dengan cwe yang di jodohkan 😔😓
evanindia: wow baru tau gue sejak kapan dy ilang arah 🤣
total 26 replies
Rudy satria
boleh nggk si bilang" KAMU ITU MURAHAN RIF DUAKALI KETEMU DI RAYU DIKIT LANGSUNG BILANG SAYANG" kesel aku😓
afifah: aku mengakak so hard denger kata murahan🙏🤣
murahan itu kalau gonta ganti pasangan terus cowo nya mokondo miskin . ini gentle gini dikata murahan. tolong ya allah lulusan apa kak sskolahnya? 🙏🙏🙏
lagi pula ini cerita tidak tahu alurnya di percepat atau nggak. terus kalau boleh tanya kenapa lama kelamaan komenn nya nggak nyambung dan nggak mutu? nggak berdasar 🥲
total 4 replies
wiliss
merasa di cintai bgt sm riven aku klo jd angie
wiliss
😋😘😘😘😘
wiliss
gk papaa bang santae aja
Hanima
Lanjuttt
evanindia
Riven kerja² jgn kokopan trus am angie 🙊🙊
evanindia
ps tmen q juga samaa wehh 0 4x 😵😵😵
Hanima
🔥🔥
Hanima
Lanjut Akak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!