Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.
Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?
Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?
Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?
Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Teh Oolong dan tiga macam kue lezat, disuguhkan oleh Guang Meilan, kehadapan Bai Anshu dan Hanzi, guna menemani obrolan mereka perihal kesepakatan bisnis.
Menara Guangdong ditutup sementara, sebab perbincangan kerjasama itu dilakukan diruangan tunggu toko.
Bangunan ruko itu tidak memiliki ruangan khusus. Jika ada tamu, sales marketing barang baru, atau kunjungan dari kolega bisnis, semua dilakukan dikubikel transaksi.
Untuk pembukaan, kedua belah pihak saling memperkenalkan diri.
"Hak eksklusif bagi menara Guangdong untuk menjual produk sabunmu, bagaimana..?" tanya kakek Guang dengan masih mempertahankan pahatan senyum berbinarnya.
Bai Anshu mengangguk tanpa ragu "baik kakek..!"
Tuan tua Guang dan kedua cucunya terpekik senang. Harapan untuk menyelamatkan bisnis peninggalan nyonya tua Guang akhirnya terbuka jalan.
"Sekarang berapa harga dari setiap ukuran produk ini..?" tanya kakek Guang lagi.
"Sabun mandi yang paling besar lima ratus koin, tiga ratus lima puluh, dan dua ratus. Untuk yang paling kecil dengan bungkus kertas minyak ini dua puluh sen saja."
"Semurah itu..?" seru ketiga keluarga Guang kompak.
Kacang mandi saja satu tael perak yang cuma bisa bertahan selama dua minggu pemakaian. Ini sabun yang awet sampai satu bulan hanya lima ratus koin.
Siap-siap saja para pengusaha kacang mandi bangkrut.
"Tidak murah kalau bagi orang miskin seperti kami." balas Anshu terkekeh.
Kakak Guang ikut tertawa, disusul oleh kedua cucunya.
"Jangan suka merendahkan diri sendiri, yang terpenting hati dan akhlak berbudi luhur." ucap tuan tua Guang.
"Baik kakek..!" balas dua bersaudara Bai.
"Em, untuk harga jual terserah kakek. Tapi aku minta yang dibungkus kertas minyak jangan terlalu mahal agar masyarakat miskin bisa membeli, meski mungkin mereka harus menabung terlebih dulu." kata Anshu.
"Baik, baik, aku setuju..!" jawab mantap kakek Guang.
"Untuk shampo harga sama saja, sedangkan sabun cuci yang besar empat ratus koin, tiga ratus, dua ratus, dan sepuluh wen."
"Ada seberapa banyak yang kalian miliki..?"
"Dirumah masih ada, tapi belum dikemas karena kotak kertasnya sedang proses pemesanan. Nanti coba kami mampir ketoko percetakan sebelum pulang. Jika ada yang sudah jadi, besok kami bisa melakukan pengiriman."
Bai Anshu menunjuk dua keranjang jumbo dan satu sedang yang ia bawa bersama sang adik.
"Didalamnya ada seribu dua ratus sabun dari semua jenis dan ukuran, untuk------
Bai Anshu menyebutkan jumlah yang kali ini dibawa sembari menyodorkan catatan tulisan tangannya.
Guang Yulong dan Guang Meilan, menghitung ulang semua sabun.
"Benar, jumlahnya pas sesuai nota." ucap Guang Yulong.
Guang Meilan dengan semangat empat lima, menata sabun ditempat yang paling mencolok agar terlihat langsung oleh para pengunjung.
Klak Klak Klak
Suara sempoa lirih terdengar, menciptakan simfoni merdu penuh keakraban, hingga melonggaran urat saraf yang sudah lama mengencang tegang.
"Total seluruhnya delapan ratus lima puluh dua tael tujuh ratus empat puluh wen." ucap Guang Yulong.
Bai Anshu mendesis, darah berdesir mendidih. Sebanyak itu uang yang bisa ia dapatkan setelah berkutat selama lima hari.
Padahal, kalau dihitung-hitung, modal produksi seribu dua ratus pics sabun tak sampai seratus tael. Sebab delapan puluh persen bahan didapatkan dari hutan.
"Kakak Long, potong sekaligus dengan dua kacang mandi yang tadi aku gunakan promosi." balas Anshu.
Tiga anggota keluarga Guang kompak menggelengkan kepala.
"Tidak perlu..!" balas kakek Guang.
Kontrak dibuat.
Bai Anshu membacanya dengan cermat, sebelum memberikan cap lima jari.
Dua belah pihak masing-masing memegang satu salinan.
Bai Anshu dan Bai Hanzi menyengir kuda. Kilat rakus melintas dipupil mereka kala melihat tumpukan uang kertas serta lempengan perak diatas meja.
Tidak pernah terbayangkan, dua bersaudara akan bisa melihat uang sebanyak itu yang kesemuanya ialah milik mereka sendiri.
Setelah menyimpan uang, memisahkannya menjadi dua kantung. Kakak beradik Bai berpamitan.
Tujuan berikutnya adalah toko kain Luo.
Ketika melewati jalan utama menuju kedistrik barat, dua bersaudara melewati lapak dadakan nenek Pan dan cucu perempuannya.
"Nenek pan, Lin-ya...!" sapa Anshu.
"Shu-ya, A-zi...!"
"Kalian sudah mau pulang..?" tanya nenek Pan, melihat keranjang besar dipunggung kedua bocah Bai telah kosong.
"Belum nenek, kami masih ada empat tempat lagi yang harus dikunjungi." jawab Anshu.
"Nenek dan Lin-ya sudah mau pulang..? apa manisannya habis..?" tanya Anshu kemudian, melihat lapak telah dibenahi.
Nenek pan dan Pan Erlin tersenyum lebar, wajah keduanya teramat cerah berseri. Menandakan jika mereka sudah memperoleh keuntungan besar.
"Berkatmu, hari ini kami mendapat uang banyak, tiga ratus tusuk manisan Haw ludes terjual. Bahkan untuk besok, kami sudah mendapatkan pesanan lima puluh ikat." ucap nyonya tua Pan bahagia.
Nenek Pan menggenggam lembut kedua tangan Bai Anshu, bersama netra berembun kristal.
"Shu-ya, terimakasih untuk semua kemurahan hatimu. Berkatmu kami bisa memiliki penghasilan sekarang, dan tidak kelaparan lagi. Terimakasih Shu-ya, A-zi..!"
Bai Anshu tersenyum penuh syukur, hatinya menghangat. Ternyata seharu ini melihat orang lain bahagia.
"Nenek, tidak perlu sungkan. Ini sudah sepantasnya aku lakukan. Aku juga mendapatkan semua bakat itu secara cuma-cuma. Kalau ingin berterimakasih, seharusnya nenek katakan pada petir yang telah menyambarku."
Anshu tergelak diujung kalimat, begitu juga nenek Pan dan Pan Erlin.
Anshu dan Hanzi pamit, meninggalkan nenek Pan dan cucu bungsunya yang bergerak menuju toko biji-bijian.
"Salam paman, bibi...!" seru Anshu, kemudian menyapa Luo Xia dan Luo Chenji.
Obrolan akrab kekeluargaan pun terjalin, sebelum Anshu mengeluarkan lembaran kertas desainnya.
"Jika paman dan bibi berkenan memproduksi semua ini, aku hanya meminta dua puluh persen saja dari keuntungan penjualannya."
"Ya Dewa, ini cantik-cantik sekali." puji jujur nyonya Luo, memandang terkesima setiap lembaran kertas ditangannya.
"Shu-ya, bakatmu dalam melukis sungguh luar biasa, kau hebat..!" kata Luo Xia, memandang kagum pada gadis kecil yang sebaya dengannya itu.
Bai Anshu tersipu, semburat merah jambu menyembul dipipinya.
Tanpa banyak kata atau keraguan barang secuil pun, tuan Luo langsung membuat kontrak bagi hasil.
Bai Anshu memberi saran soal pemilihan material bahan pada setiap prodak selain pakaian, agar lebih awet dan mewah.
Keluarga Luo mendengarkan dengan seksama.
Selanjutnya, Bai Anshu memeriksa kesehatan Luo Chenji, sebelum berpamitan.
"Salam paman Chun..!"
"Shu-ya, A-zi...!" balas ramah pemilik percetakan.
"Apa ada masalah dengan pesananmu yang kemarin..?"
Anshu menggeleng "semuanya baik-baik saja paman, aku sangat puas."
"Lalu apa yang kalian butuhkan sekarang..?"
"Apa pesanan kertas kami sudah ada yang jadi paman..? kami sangat memerlukannya, berapa saja jumlahnya tak apa."
"Sebagian sudah beres, apa mau dibawa..?"
"Benar paman, sekalian aku memesan lagi tiga ribu lembar."
Bai Anshu melunasi langsung rekeningnya. Paman Chun tentu dengan senang hati menerima.
Tempat ketiga adalah toko biji-bijian, beras putih dua ratus kati diborong.
Lokasi terakhir ialah pasar hewan guna membeli lemak babi dan susu domba.
Karena sudah memasuki jam makan siang, Anshu dan Hanzi membeli roti daging untuk mengganjal perut, sekalian permen serta kue teratai.