NovelToon NovelToon
Setelah 9 Tahun Bersama

Setelah 9 Tahun Bersama

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Selingkuh
Popularitas:25.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.

Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.

Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.

Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.

Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.

Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.

Jena datang dengan penuh harapan.

Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Mulai Berubah

Jena menatap layar ponselnya yang kini sudah menggelap. Ia masih tak percaya Jovian tak jadi datang ke apartemennya. "Ya ampun! Kamu mikir apa sih, Jen? Ya wajar Jovian mengutamakan memeriksa revisian yang dikirim Bu Michelle. Jovian kan selalu profesional." Ia memukul kepalanya pelan. "Stop overthinking, Jen. Mending sekarang kamu tidur." Jena bangkit dari kasur. Ia menyimpan ponselnya ke atas nakas, lalu mematikan lampu. Tubuhnya ia rebahkan perlahan. "Semoga hari esok lebih baik dari hari ini." Mata Jena pun perlahan tertutup.

Di ruang kerjanya, Jovian masih sibuk memeriksa revisian yang dikirim Michelle. Iris hitamnya begitu fokus memeriksa setiap detail dengan saksama. Seulas senyum terukir di bibirnya yang sensual. "Michelle memang sangat teliti. Dia bukan wanita sembarangan. Pekerjaannya sama rapinya dengan Pak Mario. Anak dan ayah sama-sama hebat." Jovian memejamkan mata sejenak. Mendadak wajah Michelle saat sedang presentasi berkelebat, lalu disusul wajah Jena. "Ya Tuhan!" Matanya terbuka seketika. "Fokus, Jov. Besok harus presentasi!" Ia pun kembali menatap layar laptopnya.

***

Mentari pagi membawa udara hangat menyentuh wajah Jena. Gadis itu turun dari taksi online. Kakinya yang jenjang melangkah menapaki pelataran gedung Ardhana Group. "Pagi, Pak." Ia menyapa satpam yang berjaga di lobi.

"Pagi, Mbak Jena."

Jena mengangguk, lalu masuk ke dalam kantor. Pagi itu ia sengaja datang lebih awal ke kantor karena harus menyiapkan presentasi meeting investor.

Jena baru saja tiba di ruangannya ketika ponselnya berbunyi. Nama Jovian muncul di layar. Senyum Jena langsung terbit. "Pagi, Mas."

Namun suara di seberang terdengar terburu-buru. "Jena, file presentasi kerja sama MS Fashion udah siap?"

Jena sedikit terdiam. Biasanya Jovian akan memulai pagi dengan sapaan manis atau menanyakan apakah ia sudah sarapan atau belum. Hari ini langsung pekerjaan. "Udah," jawab Jena pelan. "Nanti aku kirim ke email Mas."

"Oke. Aku lagi di jalan."

"Mas udah sarapan?"

"Nanti aja."

"Oke. Jangan sampai nggak sarapan ya?"

"Iya." Setelah itu telepon langsung terputus.

Jena menatap layar ponselnya beberapa detik. Perasaan aneh itu muncul lagi. Kecil, tipis, namun terasa nyata. Ia menghela napas pelan lalu buru-buru mengusir pikirannya sendiri. "Tenang, Jena. Kamu sudah berjanji untuk tidak overthinking lagi." Ia pun memulai pekerjaannya.

Sekitar pukul setengah delapan, lift privat terbuka. Jovian keluar sambil berbicara dengan seseorang melalui headset bluetooth. Wajahnya terlihat serius. Beberapa staf langsung menyapa, namun lelaki itu hanya mengangguk tipis sambil tetap fokus berbicara. "Kalau timeline berubah, biaya produksi juga berubah," ucapnya. Jena yang sedang berdiri langsung menoleh. "Tidak bisa semaunya, Michelle."

Beberapa detik kemudian, ekspresi Jovian berubah lebih santai. "Ya nanti kita bahas lagi." Ia tersenyum kecil. Senyum kecil yang entah kenapa membuat dada Jena terasa tidak nyaman. "Oke. Sampai nanti." Panggilan berakhir. Baru setelah itu Jovian berjalan mendekati meja sekretarisnya. "Pagi."

Jena tersenyum kecil. "Pagi, Mas."

Jovian meletakkan tablet di meja. "File presentasi?"

"Udah aku kirim."

"Good."

Jena menunggu. Biasanya setelah itu Jovian akan duduk sebentar, menggodanya, atau sekadar menanyakan kabarnya. Namun hari ini lelaki itu justru tampak sibuk membuka email.

"Mas udah sarapan belum?"

"Nanti aja."

"Kopi?"

"Hm."

Jena bangkit berdiri hendak mengambil kopi ke pantry, tapi tiba-tiba Jovian berkata tanpa mengalihkan pandangan dari layar, "Oh ya, nanti jam dua Michelle datang."

Langkah Jena terhenti sesaat. "Meeting lagi?"

"Iya."

"Bukannya kemarin baru saja meeting ya, Mas?"

"Dia mau bahas campaign baru."

Jena mengangguk kecil. "Oh."

"Aku ke ruanganku ya." Tanpa menunggu jawaban dari Jena, Jovian langsung pergi.

Jena menatap kepergian lelaki itu dengan hati yang tak menentu karena

nama Michelle kini mulai terdengar terlalu sering di telinganya.

Tepat pukul setengah satu siang, Jena masuk ke ruang CEO membawa makan siang. Ia tersenyum kecil saat melihat Jovian masih sibuk bekerja. "Mas belum makan kan?"

"Hm."

"Aku bawain makanan."

Biasanya Jovian akan langsung mendekat atau menariknya duduk bersama. Namun hari ini lelaki itu hanya mengangguk sambil tetap fokus membaca dokumen. "Taruh situ dulu ya."

Jena sedikit terdiam. "Oke." Ia akhirnya mengangguk. Ia menata makanan di meja kecil dekat sofa lalu melirik Jovian lagi. "Mas pasti capek?"

"Lumayan."

"Meeting investor tadi susah?"

"Bukan."

"Terus?"

Jovian mengusap tengkuknya pelan. "Michelle banyak maunya." Kalimat itu terdengar seperti keluhan biasa. Namun anehnya, Jovian mengucapkannya sambil tersenyum tipis.

Jena berusaha ikut tersenyum. "Namanya juga partner kerja."

"Iya sih."

Beberapa detik hening. Lalu tiba-tiba ponsel Jovian berbunyi. Nama Michelle muncul jelas di layar. Dan yang membuat dada Jena terasa aneh, Jovian langsung mengangkatnya. "Halo?" Nada suaranya berubah lebih ringan. "Iya, aku udah lihat."

Aku.

Bukan saya.

Jena membeku sesaat. Karena selama ini Jovian selalu profesional dengan rekan kerja. "Aneh?" Gadis itu membatin.

"Enggak, itu bisa direvisi." Jovian berdiri lalu berjalan mendekati jendela besar sambil tetap berbicara di telepon.

Jena menatap punggung lelaki itu dalam diam. Perasaan asing itu kembali muncul. Kecil, namun perlahan mulai menusuk.

Tak lama kemudian panggilan berakhir.

Jovian kembali duduk.

"Mas makan dulu, ya?" ujar Jena pelan.

"Hm? Iya." Jovian akhirnya mulai makan, sementara Jena duduk di seberangnya. Biasanya mereka akan mengobrol santai saat makan siang.

Namun hari ini, Jovian lebih banyak memeriksa ponselnya. Dan Jena mulai merasa sendirian meski duduk tepat di depan lelaki yang ia cintai. Akhirnya ia memilih kembali ke ruangannya, dan Jovian mengizinkan tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.

Jena menutup pintu ruangan Jovian dengan gerakan pelan. Mendadak ia jadi ingin menangis. "Astagfirullah! Jangan mikir yang aneh-aneh, Jen." Meski perasaan asing itu kerap kali muncul, tapi Jena tetap berusaha berpikir positif.

Pukul dua siang, Michelle datang lagi ke kantor. Kali ini penampilannya lebih formal dengan blazer putih dan rok span hitam. Namun tetap saja, perempuan itu terlalu cantik untuk diabaikan. "Hei, Jena," sapanya ramah.

"Selamat siang, Bu Michelle."

"Jovian ada?"

"Ada, Bu. Pak Jovian sudah menunggu Bu Michelle di dalam."

Michelle tersenyum lalu berjalan masuk tanpa banyak formalitas.

Jena mencoba fokus bekerja. Namun samar-samar suara tawa terdengar lagi dari dalam ruang CEO. Ia menggigit bibir pelan. Mungkin ia memang terlalu sensitif. Namun insting perempuan jarang salah.

Satu jam berlalu.

Dua jam.

Michelle masih di dalam.

Menjelang sore, pintu ruang CEO akhirnya terbuka. Michelle keluar sambil tertawa kecil. "Kamu tuh ternyata susah diajak kalah ya."

Jovian ikut tertawa. "Karena kamu keras kepala."

"No! No! Aku bukan keras kepala. Tapi perfeksionis."

"Bedanya tipis."

Michelle tertawa lagi.

Dan untuk pertama kalinya, Jena melihat Jovian tertawa sebebas itu dengan perempuan lain. Dadanya langsung terasa sesak.

Michelle lalu menoleh pada Jena. "Jena, boleh pinjam Jovian bentar malam ini?"

Jena spontan membeku. Michelle buru-buru melanjutkan sambil tertawa kecil. "Eh maksudku buat meeting dinner. Bahas campaign."

Jovian terlihat santai. "Nanti aku kabarin jamnya."

"Sure." Michelle tersenyum manis lalu pergi meninggalkan ruangan itu diantar oleh Jovian.

Jena masih duduk di mejanya sambil mencoba mengatur napas. Entah kenapa kalimat tadi terus terngiang di kepalanya.

"Pinjam Jovian bentar malam ini?"

Dan yang lebih mengganggu pikirannya,

Jovian tidak terlihat terganggu sama sekali.

***

Jena terus melirik jam dinding di apartemennya. Sang penunjuk waktu itu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Namun belum ada kabar dari Jovian. Padahal biasanya lelaki itu selalu menghubunginya sebelum tidur.

Jena akhirnya memberanikan diri menelepon lebih dulu. Sambungan diangkat setelah beberapa kali dering.

"Halo?" Suara musik samar terdengar dari seberang sana.

"Mas masih meeting?"

"Iya."

"Kok malam banget?"

"Lagi bahas konsep campaign belum beres."

"Oh ..."

Beberapa detik hening. Lalu samar-samar terdengar suara perempuan tertawa. Jena langsung mengenalinya.

"Jovian, coba lihat ini deh-" Suara itu terdengar cukup jelas sebelum telepon sedikit menjauh.

Tak lama kemudian Jovian kembali bicara. "Jena?"

"Iya."

"Aku mungkin pulang agak malam."

"Mas udah makan?"

"Udah."

"Kamu jangan bergadang."

"Iya."

Lalu telepon itu diakhiri Jovian tanpa basa-basi lain seperti biasanya.

Jena menatap layar ponselnya lama. "Mas, kenapa aku merasa kamu mulai berubah?"

1
Kota Tegalan
apaan sih Jo ,, siap siap aja' adek lu Jihan nangisss kejerrr 🤣🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: wkwkwk
total 1 replies
Mundri Astuti
untung ada si Toto yak
Ama Apr: iya, dia buat jovian kena mental
total 1 replies
Nining Sariningsih
good👍,,,,tuh si Jo gak punya malu kali ya dah tidur ma si michi juga masih mau ma jena jijik gua thoorrrrrr,kalo bisa cepat2 deh ada karma buat keluarga si Jo biar pada instrospeksi kelamaan dibiarkan malah entar menjadi2 mereka 😅😅😅
Ama Apr: haha sabar, biarkan mreka senang2 duyu
total 1 replies
Yeyet Rohaeti
dasar orang kaya sombong, semoga bangkrut perusahaan ny, biar keluarga nya jatuh miskin.
Ama Apr: iya pantes Allah tk mempersatukan jena dan jovian
total 1 replies
partini
ternyata sama kaya ortu nya suka menghina orang miskin
Ama Apr: ya, namanya juga turunan kk😂
baiknya selama ini cuma kedok
total 1 replies
nunik rahyuni
siapa sih..ganggu aja?klo jo yg datang simbur pakai banyu cucian j jena...orang g tau diri..😡
Ama Apr: hahaha mantap
total 1 replies
Nining Sariningsih
jangan sampai si jovian yang datang ganggu orang aja kalau bener,kalo bener si Jo tendang aja jena jangan kasih kesempatan orang gila itu tuk masuk lagi ke hidup mu,,,,,,semangat thoorrrrrr 💪💪💪
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
Inarrr Ulfah
waduh siapa.tuh apa si Jo
Ama Apr: besok ya🤭
total 1 replies
mama
kyk kerbau aj km jo jo nurut amat jdi laki..gk ada tegas2 ny sm sekali,gk sreg blas sm karakter ny di Jovian ..laki2 kok lembek amat
Ama Apr: anak mami
total 1 replies
nunik rahyuni
lgsg di buat part kawinan j thor...bosen sma micin nag g punya harga diri mau maunya jd tempat pembuangan limbah j..habis dipke lgsg di tinggal .mana merengek rengek supaya di masuki..kan g ada harga dirinya..murahan.....di obral.
Ama Apr: biarin kk😂, itu gambaran klo manusia nggk ada yg sempurna. Michelle boleh punya sglanya, tapi dia nggak punya malu🤭
total 1 replies
Kota Tegalan
nungguin part Jihan Toto Jena nihhh , apalagi Jihan ngarep banget di jodohkan sama anak tunggal dari keluarga milyader gongnya Toto Jena yg nikah padan muka tuh Ardhana family 🤣🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: wkwwk🤭
total 3 replies
Yeyet Rohaeti
iya sama, saya juga pas si jovian ama si Michelle aku skip sebel banget.
Ama Apr: hehe jng gitu kk😂
total 1 replies
partini
jujurly Thor kalau pas part si Jo aku skip kalau Jena aku baca
Ama Apr: jangan dong😂
total 1 replies
nunik rahyuni
toto anak ceo yg menyamar ya thor🤔🤔
yg di incer sifa buat jihan...
Ama Apr: hihi, tunggu sj kk
total 1 replies
nunik rahyuni
itu jatahnya jena thor...awas lo klo di kasihkn kutu kupret itu...😡
Ama Apr: hahaha🤭
total 1 replies
nunik rahyuni
ya mereka sangat cocok...yg satu g punya pendirian satunya tukang memaksakan kehendak
.cocok kan
Ama Apr: betul, klop
total 1 replies
falea sezi
buang berlian demi jalang 🤣🤣 tinggal nunggu penyesalan mu joo😒
Ama Apr: pastii itu😂
total 1 replies
Nining Sariningsih
jijik sama keluarga si jovian,tuhan masih sayang ma jena makanya segera dijauhkan sama keluarga tonik itu,Thor jangan2 Toto itu yang punya perusahaan taksinya🤭,,,,,semangat thoorrrrrr 💪💪💪
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
Eneng Farida
thor jangan bilang toto yg punya perusahaan taksi itu dia yg menyamar trus d jodohin sm jihan ngga rela smpqi itu terjadi
Ama Apr: belum tentu jg kk🤭
total 1 replies
partini
keluarga gila harta dan tahta mau jodohin juga bagus sih biar tambah kaya raya 👍👍👍👍
Ama Apr: kayknya semua negara y kk😂
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!