“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”
Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.
Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 : Rumah Baru
Tatapan Luna masih mengikuti kepergian Nathan hingga sosok pria itu benar-benar menghilang di balik temaram malam.
"Terkadang aku melihatnya memang seperti anak kecil," ucap Luna sambil mengalihkan pandangannya kepada Aldo.
Aldo ikut menoleh ke arah Nathan pergi, meski sosok pria itu sudah tidak terlihat lagi.
"Menurutku, dia laki-laki sejati," ucap Aldo dengan nada serius setelah beberapa saat terdiam.
"Laki-laki sejati?" Luna tertawa kecil. "Jadi begitu cara kalian para pria menyebutnya?" Senyumnya semakin lebar.
"Kenapa kau menertawakanku?" protes Aldo. Ia lalu menghampiri Luna dan memeluk tunangannya itu.
Pelukan Aldo semakin erat hingga membuat Luna kesulitan bergerak.
"Berapa banyak yang kau minum?" tanya Luna sambil melirik meja. Botol whisky di sana ternyata hanya menyisakan sedikit isinya.
"Aku mabuk," gumam Aldo dengan suara serak dan sedikit manja. Wajahnya kini bersandar di lekuk leher Luna, sementara kedua lengannya masih melingkari tubuh wanita itu.
"Sebentar..." ucap Luna pelan sambil berusaha meraih ponselnya yang berada di dalam tas di sampingnya. Pelukan Aldo yang begitu erat membuatnya sulit bergerak.
Begitu berhasil mengambil ponselnya, Luna segera memesan kamar hotel yang letaknya tidak jauh dari kafe. Setelah itu, ia juga memesan taksi online untuk mereka.
"Sayang..." gumam Aldo lagi. Pelukannya semakin mengerat, sementara matanya mulai terpejam.
"Jangan tidur di sini," ucap Luna lembut sambil menggenggam pipi Aldo dan menepuknya perlahan agar ia tetap terjaga.
Tak lama kemudian, notifikasi menunjukkan bahwa taksi yang mereka pesan telah tiba di depan kafe.
Luna segera memberi isyarat kepada pramutama yang sedang melintas untuk membantunya membawa Aldo ke dalam taksi.
Pramutama itu pun membantu Luna hingga Aldo berhasil masuk ke dalam taksi. Setelah mengucapkan terima kasih dan memberikan tip, Luna ikut masuk. Taksi itu kemudian melaju menuju hotel yang telah ia pesan.
...*****...
Ting
Nathan langsung melangkah keluar begitu pintu lift terbuka. Sesampainya di apartemen matanya segera menyusuri ruangan, mencari sosok Arin. Namun, ia tidak menemukannya.
Sambil menggenggam pengisi daya yang baru dibelinya Nathan berjalan menuju kamar Arin. Begitu tiba di depan pintu ia mengetuknya dua kali.
Tidak ada jawaban.
Nathan sempat mengurungkan niatnya untuk mengetuk lagi. Namun, setelah berpikir sejenak, ia memutuskan mencobanya untuk terakhir kali.
Tok... tok...
Ia kembali mengetuk pintu itu dua kali.
Beberapa saat berlalu, tapi tidak ada tanda-tanda Arin akan membukakan pintu. Nathan akhirnya berbalik dan melangkah menuju kamarnya. Tapi baru beberapa langkah ia menjauh, pintu kamar itu perlahan terbuka.
Nathan segera menoleh. Tatapannya langsung bertemu dengan Arin yang tampak baru saja terbangun. Rambutnya sedikit berantakan dan matanya masih menyisakan kantuk.
Nathan pun kembali menghampiri Arin. "Maaf aku membangunkanmu, Ini" ucapnya sambil menyodorkan pengisi daya yang telah ia beli.
Arin menerima pengisi daya itu. "Terima kasih" balasnya pelan.
Setelah itu, suasana kembali hening. Tak satupun dari mereka berniat mengakhiri keheningan itu lebih dulu. Arin masih berdiri di ambang pintu, sementara Nathan tetap berada di tempatnya.
"Baiklah, aku kembali ke kamarku. Kau bisa lanjut tidur,"
Nathan berbalik dan mulai melangkah pergi. Namun, tanpa sadar pendengarannya tetap menunggu suara pintu kamar Arin yang menutup.
Klik.
Nathan menoleh sekilas, pintu itu kini telah tertutup rapat.
Sesampainya di kamar, Nathan langsung melepaskan kemejanya. Rasa lengket dan lelah yang sejak tadi ia abaikan akhirnya benar-benar terasa. Tanpa berpikir panjang, ia pun melangkah menuju kamar mandi.
...*****...
Setelah kepergian Nathan, Arin masih berdiri diam di tempatnya selama beberapa saat. Saat pertama kali datang ke apartemen ini ia hanya berjalan sambil menunduk, bahkan tidak memiliki keberanian untuk memperhatikan setiap sudut apartemen itu lebih lama.
Kini langkahnya membawanya menuju balkon. Di hadapannya terbentang pintu kaca besar yang menutupi seluruh akses menuju area luar. Arin sempat ragu membuka pintu itu, hingga matanya menangkap sebuah tombol di sisi dinding. ia pun menekannya perlahan.
Pintu kaca itu pun bergeser secara otomatis.
Arin melangkahkan kakinya ke area balkon yang begitu luas. Angin malam segera menyapa wajahnya, menerbangkan helaian rambutnya dengan lembut. Namun, udara dingin itu sama sekali tidak membuatnya merasa kedinginan.
Arin pun berjalan hingga ke tepi balkon, lalu meletakkan kedua tangannya di atas pagar pembatas. Perlahan ia memejamkan mata, membiarkan angin malam menyapu wajah dan tubuhnya.
Arin membuka matanya perlahan setelah beberapa saat. "Tidak akan ada yang menemukanku disini," gumamnya pelan. Tanpa disadari, setetes air mata mengalir di pipinya.
Setelah cukup lama menikmati keheningan malam, Arin melangkah kembali ke dalam apartemen dan menutup pintu balkon.
Ia berdiri sejenak di ruang tengah, kali ini memperhatikan setiap sudut apartemen itu dengan lebih leluasa. Meski tampak begitu megah tempat ini terasa sangat kosong. Semua benda tertata rapi nyaris tanpa jejak kehidupan, hingga menurut Arin apartemen itu lebih menyerupai hunian baru yang belum lama ditempati.
Tak lama kemudian, Arin kembali menuju kamar yang sebelumnya ditunjukkan Nathan.
Saat pertama kali memasuki kamar itu ia merasa suasananya begitu asing. Meskipun hangat dan nyaman, ruangan tersebut tetap terasa dingin baginya karena bukan tempat yang dikenalnya.
Namun, ketika kembali memasuki kamar yang sama malam ini, perasaannya sedikit berubah. Ruangan itu tidak lagi terasa seasing sebelumnya, setidaknya kini ada sedikit rasa nyaman yang mulai tumbuh.
Arin pun memutuskan duduk di sofa yang berada di dekat tempat tidur. Tubuhnya yang lelah perlahan terasa semakin berat hingga tanpa sadar matanya terpejam.
Entah sudah berapa lama ia tertidur.
Dalam keadaan setengah sadar Arin samar-samar mendengar suara ketukan di balik pintu kamarnya. Ia sempat mengira hanya sedang bermimpi, tapi suara itu kembali terdengar.
Arin akhirnya bangkit dan berjalan menuju pintu.
Begitu pintu dibuka, ia melihat Nathan yang tampaknya sudah hendak pergi.
Arin hanya menatapnya dalam diam, ia ingin memanggilnya tapi ia tidak memiliki keberanian untuk melakukannya.
Beruntung, sebelum benar-benar melangkah pergi, Nathan lebih dulu menoleh ke belakang.
Arin hanya diam ia tidak berani berbicara. Bahkan saat Nathan memberikan pengisi daya padanya, hanya ucapan terima kasih yang cukup berani ia ucapkan.
Setelah menerima pengisi daya itu, Arin pun masih belum berani menutup pintu ia tetap berdiri di tempatnya, menunggu apakah Nathan akan mengatakan sesuatu lagi.
Namun, ucapan Nathan berikutnya justru membuatnya sedikit lega.
Begitu pintu tertutup, Arin segera mengambil ponselnya dan memasang pengisi daya ia tetap menggenggam ponsel itu, menunggu hingga layarnya menyala. Mungkin karena sudah terlalu lama kehabisan daya, perlu beberapa saat hingga ponselnya akhirnya menyala kembali.
Begitu layar ponsel aktif, puluhan notifikasi langsung bermunculan ada pesan dan panggilan dari beberapa rekan kerjanya di Regen Hotel maupun Virelle Hotel. Bahkan General Manager Virelle Hotel juga mengirim pesan dan beberapa kali mencoba menghubunginya.
Namun, Arin tidak membuka satu pun. matanya langsung mencari nama Intan.
Benar saja, terdapat lebih dari dua puluh notifikasi darinya, mulai dari panggilan tak terjawab, pesan singkat, hingga pesan suara.
Tanpa membaca semuanya lebih dulu, Arin langsung menekan tombol panggil.
Tut...
Baru satu kali dering, panggilan itu langsung diangkat oleh Intan.
{Kau baik-baik saja?} tanya Intan cepat begitu panggilan tersambung.
{Aku baik-baik saja} jawab Arin cepat menanggapi.
{Syukurlah…} Intan terdiam sejenak. {Apa kau ingin menceritakannya?} lanjutnya, memastikan apakah Arin ingin membahas pemberitaan yang sedang beredar.
{Aku akan menceritakannya} jawab Arin tanpa ragu. Sejak awal ia memang sudah memutuskan untuk tidak menyembunyikan pernikahan ini dari sahabatnya.
{Tan, ayahku memiliki hutang yang sangat besar. Dan jumlahnya mustahil untuk bisa kulunasi sendiri} ucap Arin pelan. Ia terdiam sesaat sebelum melanjutkan, {Sekitar sepuluh miliar, bahkan menurutku mungkin lebih dari itu. dan juga para debt collector terus mencariku, Mereka bahkan sampai datang ke tempat kerjaku.}
{Mereka datang ke Virelle Hotel?} tanya Intan dengan nada terkejut.
{Iya. Dan sebenarnya aku juga bertemu Pak Nathan di hotel itu. Aku tidak tahu pasti mengapa dia memintaku menikah dengannya, tapi ia mengatakan akan melunasi semua hutang itu dan aku hanya perlu menikah dengannya. Jadi... aku menerimanya.}
{Kau tidak pernah menceritakan hutang itu padaku, Selama ini kau menanggung beban sebesar itu sendirian? kau pasti sangat takut} ucap Intan lirih.
{Tan, aku tidak pernah menceritakannya padamu. Aku hanya…}
{Aku mengerti} potong Intan lembut. {Aku mengenalmu. Kau pasti berpikir itu hanya akan merepotkanku, iya kan?. karena itu kau tidak ingin membagi bebanmu padaku}
Arin hanya terdiam.
{Lalu bagaimana dengan pernikahanmu? Semuanya baik-baik saja?} tanya Intan hati-hati.
Sebenarnya Intan masih sulit mempercayai semua ini. Menikah dengan seorang konglomerat besar adalah sesuatu yang biasanya hanya menjadi angan-angan banyak orang. Namun, tanpa diduga hal itu justru terjadi pada sahabatnya.
{...Ini sangat mengintimidasi} jawab Arin jujur.
{Tentu saja} balas Intan cepat dari seberang telepon.
{Aku sangat takut. Rasanya seperti hanyut mengikuti arus. Aku takut, sebenarnya aku hanya melakukan apa pun yang diminta Pak Nathan.}
{Kau masih memanggilnya Pak Nathan? Apa itu memang permintaannya?} tanya Intan.
{Tidak. Sebenarnya kami bahkan belum banyak berbicara. Dan hanya membahas hal-hal yang formal.}
{Ah... kau, sudah bertemu dengan keluarga besarnya?}
{...Sudah.}
Jawaban singkat itu langsung mengingatkan Arin pada kejadian di rumah keluarga Nathan. Jika Intan bertanya lebih jauh, ia benar-benar tidak tahu apakah ia harus menceritakannya atau tidak.
{Mereka menerimamu?}
{Mereka…}
Sebelum sempat melanjutkan jawabannya, suara ketukan terdengar dari arah pintu.
Tok... tok…
Arin langsung menoleh. Ia terdiam sejenak untuk memastikan, beberapa detik kemudian ketukan itu kembali terdengar.
{Tan... sepertinya Pak Nathan sedang mengetuk pintuku} ucap Arin.
{Oh… baiklah Kita lanjut mengobrol nanti kalau kau sudah punya waktu.}
{oke… Nanti aku akan meneleponmu lagi. Kalau situasinya sudah memungkinkan kita bertemu. Jujur... aku merindukanmu.}
Tawa kecil Intan terdengar dari seberang telepon
{Aku juga merindukanmu. Arin, jaga dirimu baik-baik. Ingat aku selalu ada kalau kau membutuhkan seseorang.} Mereka pun mengakhiri panggilan.
Arin segera berdiri dan berjalan menuju pintu. Begitu pintu itu dibuka, Nathan masih berdiri di sana.
"Kau belum makan?" tanya Nathan begitu melihat Arin.
Arin baru teringat bahwa ia memang belum makan. Anehnya, sejak tadi ia sama sekali tidak merasa lapar padahal sejak pagi belum ada makanan yang masuk ke perutnya.
"Belum" jawab Arin spontan, seolah jawaban itu keluar tanpa sempat dipikirkannya.
"Ayo, Aku sudah menyiapkan makanan."
Nathan berbalik dan berjalan menuju ruang makan. Arin pun mengikuti beberapa langkah di belakang Nathan.
Nathan mengambil hidangan yang telah disiapkannya. Steak, mashed potato, dan beberapa sayuran panggang tersaji sederhana di atas meja. Hanya itu yang bisa Nathan masak, ia kemudian meletakkan segelas air putih di samping piring Arin.
"Duduklah" ucap Nathan ketika melihat Arin masih berdiri di dekat meja.
Arin segera menarik kursi dan duduk. Nathan meletakkan piringnya sendiri di hadapan kursi yang berada tepat di seberang Arin, lalu ikut duduk.
Keduanya mulai makan.
Makan malam yang sudah larut itu berlangsung dalam keheningan. Tidak ada percakapan di antara mereka, Hanya suara samar alat makan yang sesekali beradu dengan piring.
Setelah menghabiskan lebih dari setengah makanannya, Nathan meletakkan alat makannya. Ia berdiri dan meninggalkan meja makan sejenak menuju kamarnya.
Arin hanya memperhatikannya dalam diam.
Beberapa saat kemudian Nathan kembali sambil membawa sebuah proposal. Ia duduk kembali di kursinya, melirik piring Arin yang hampir kosong lalu menggeser proposal itu ke arahnya.
"Setelah selesai makan, lihat ini."
Arin meletakkan alat makannya, lalu membuka proposal tersebut. Sesaat ia tertegun.
Di dalamnya terdapat beberapa pilihan vila mewah dengan desain dan lokasi yang berbeda. Arin mengangkat kepalanya, menatap Nathan meminta penjelasan.
"Kita akan pindah. Jadi, pilihlah tempat yang ingin kau tinggali."
Arin kembali menunduk menatap proposal itu. Baginya semua vila yang ada di sana terlihat sangat mewah, ia bahkan merasa tidak perlu memilih karena semuanya tampak sama bagusnya.
"Sebenarnya... aku bisa tinggal di mana saja. Semuanya bagus," ucap Arin pelan.
"Coba perhatikan sekali lagi," ujar Nathan.
Arin kembali membuka setiap halaman proposal itu dengan lebih teliti. Hingga akhirnya pandangannya berhenti pada satu vila.
Vila itu memiliki taman yang luas dengan sebuah danau di belakangnya.
Nathan memperhatikan perubahan ekspresi Arin.
"Kau menyukai yang itu?"
Arin segera menoleh.
"Aku... menurutku ini bagus," jawabnya pelan sebelum kembali melihat gambar vila tersebut.
"Boleh kulihat?"
Nathan mengulurkan tangannya.
Tanpa menutup proposal itu, Arin menyerahkannya kepada Nathan.
Nathan melihat halaman yang dipilih Arin beberapa saat, kemudian menutup proposal tersebut.
"Baik. Setelah semuanya selesai diurus, kita akan pindah ke sana." Nathan kembali melirik piring Arin. "Kau sudah selesai?"
"Sudah. Aku akan membereskannya Pak." Arin langsung berdiri.
"Tidak perlu. Besok pagi akan ada yang membersihkannya, Istirahatlah."
Arin mengangguk pelan, lalu berbalik hendak menuju kamarnya.
"Arin."
Langkah Arin terhenti. Ia menoleh menatap Nathan.
"Kau tidak bisa terus memanggilku Pak. Mulai sekarang panggil namaku, kau harus mulai membiasakan diri."
Arin terdiam sesaat. "Aku mengerti Pa..." ia menghentikan ucapannya sejenak sebelum akhirnya memaksakan diri mengucapkan nama itu.
"...Nathan."
"Baik. Istirahatlah."
Arin mengangguk pelan, lalu berjalan kembali menuju kamarnya.