Kanaya Tabitha adalah definisi wanita sempurna. Cantik, pintar, dan mandiri, dia sukses membangun bisnisnya dari nol. Di balik keanggunannya, Kanaya adalah sosok wanita tangguh yang menguasai seni bela diri tingkat tinggi, dan jangan harap ada pria yang bisa mendekatinya dan mengusik hidup tenang nya, hubungan dan cinta tidak ada di dalam daftar hidup nya.
Namun, dunia indahnya runtuh saat sebuah rahasia besar mendadak memutarbalikkan hidupnya. Tubuhnya mengalami perubahan aneh yang tak masuk akal. Bagaimana bisa dia hamil tanpa pernah disentuh pria mana pun?
Kanaya tidak tahu bahwa setiap malam, rahimnya telah diklaim oleh Alexander Giorge, Raja Vampir yang posesif dan berbahaya di balik kegelapan.
"Kamu milik ku, Kanaya. Berlari lah sejauh apa pun, darah daging ku akan selalu membimbingku kembali ke tempat tidurmu. Jika ada pria lain yang berani menyentuhmu, ku pastikan namanya tinggal sejarah."_ Alexander Giorge.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIKSAAN
Fanya terdiam seribu bahasa, penjelasan pria ini sangat cocok dengan keluhan Naya yang merasa lelah luar biasa dan perutnya yang membesar tiga kali lipat lebih cepat dari ukuran normal.
"Bagaimana aku bisa percaya?" bisik Fanya, suaranya mulai melemah.
"Anda bisa mencampurkannya ke dalam minuman Nona Naya tanpa sepengetahuannya, atau memberikannya langsung. Cairan ini akan mengurangi rasa sakit di rahimnya dan menjaga kondisi nya tetap stabil, jika dalam tiga hari kondisi Nona Naya tidak membaik setelah meminum ini, Anda boleh membuangnya," jawab James meyakinkan.
"Tugas saya hanya menyampaikan amanah dari Tuan saya. Saya harap Anda bijaksana demi keselamatan sahabat Anda sendiri. Selamat malam, Dokter Fanya," lanjut James kembali mundur satu langkah, lalu menunduk hormat.
Tanpa menunggu jawaban lagi dari Fanya, James berbalik dan berjalan menuju pintu.
Begitu dia melangkah keluar dan pintu ruang kerja itu tertutup rapat, Fanya langsung terduduk lemas di kursinya, dia menatap botol kecil di atas mejanya dengan perasaan yang berkecamuk antara tidak percaya, ngeri, namun juga cemas akan keselamatan Naya.
"Siapa sebenarnya anak yang kamu kandung Nay, kenapa pria tadi seolah tahu semua yang terjadi pada kamu..." bisik Fanya, pelan.
Malam semakin larut, di dalam kamar nya Naya sedang berbaring miring di atas ranjang king size milik nya.
Naya mengusap perutnya yang terasa sangat kencang dan panas, malam ini, denyutan di dalam rahimnya terasa lebih kuat dari biasanya, seolah-olah makhluk kecil di dalam sana sedang bergerak aktif mencari posisi yang nyaman.
"Sshh... tenang ya, Nak, ini sudah malam, waktunya tidur," bisik Naya lembut, mencoba menenangkan bayinya.
Anehnya, setiap kali Naya berbicara dengan nada lembut seperti itu, gejolak di dalam perutnya perlahan-lahan mulai mereda, menyisakan rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Naya memejamkan matanya, mencoba untuk tertidur setelah seharian menghadapi drama dari Catalina Wijaya, dia tidak tahu, bahwa di luar jendela balkon kamarnya yang berada di lantai tiga puluh, beberapa bayangan hitam dengan mata merah sedang mengintai nya.
Sementara itu, di dalam kamar tidur utamanya yang bernuansa mewah, Catalina Wijaya sedang duduk di tepi ranjang dengan tubuh yang gemetaran.
Kejadian di kantor Naya tadi siang benar-benar menghancurkan harga diri nya.
Ayahnya sudah menghubunginya berkali-kali dengan suara panik karena pihak kejaksaan mendadak mengirimkan surat panggilan pemeriksaan sore tadi.
"Sialan! Sialan! Ini semua gara-gara pelacur itu!" teriak Catalina frustrasi, melempar bantal gulingnya ke lantai.
Bruk
Napas Catalina memburu saat dia mengingat kembali bagaimana Naya memojokkannya di ruang rapat, rasa iri dan bencinya membuat dadanya terasa sesak.
"Awas kamu, Kanaya, aku tuda akan membiarkan anak haram di perut kamu itu lahir dengan selamat! Aku akan-"
"Uuungghhh!"
Kalimat Catalina terputus seketika, rasa sakit mendadak menghantam ulu hatinya, menjalar cepat ke seluruh area perutnya seolah-olah ada pisau panas yang sedang mengaduk-aduk organ dalamnya.
"A-akh! Sakit... Perutku...!"
Jerit Catalina, langsung jatuh tersungkur dari atas ranjang ke lantai, tubuhnya meringkuk, kedua tangannya mencengkeram perutnya sendiri dengan kuat.
"Aakkhhhh...."
Keringat dingin sebesar biji jagung mulai membanjiri dahinya, rasa sakit itu begitu nyata dan menyiksa.
Di tengah rasa sakit nya, pandangan mata Catalina mendadak menangkap sesuatu yang mengerikan di sudut kamarnya yang remang-remang.
Sesosok bayangan hitam bertubuh tinggi dengan mata merah menyala tampak berdiri di sana, menatapnya dengan seringai mengerikan yang memperlihatkan deretan gigi tajam.
"S-siapa... siapa di sana?!" bisik Catalina dengan suara parau yang nyaris habis karena ketakutan.
Bayangan itu tidak menjawab, melainkan perlahan-lahan bergerak mendekat, siap menjalankan perintah dari sang Raja Vampir untuk menghukum Catalina Wijaya karena sudah berani mengusik seorang Kanaya Tabitha.
"T-tolong... jangan mendekat... Akh! Sakit!" rintih Catalina dengan sisa-sisa tenaganya.
Bayangan hitam itu kini sudah berdiri tepat di ujung kaki Catalina, wajah makhluk itu perlahan berubah, membusuk, dan mengeluarkan bau anyir darah yang sangat menyengat.
Di sela-sela kulit bayangan itu, ratusan ulat fana tampak menggeliat keluar masuk, persis seperti apa yang diperintahkan sang Raja Vampir.
"Pergi... pergi dari sini! Aku tidak salah! Kanaya yang bersalah!" teriak Catalina dalam benaknya.
Namun, setiap kali nama Naya atau niat buruk muncul di kepalanya, rasa sakit di perutnya justru semakin menjadi-jadi, seperti sedang diremas oleh tangan monster.
"Pergi...."
Catalina memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini semua hanyalah halusinasi akibat stres.
Namun, saat dia membuka mata, bayangan itu justru merangkak naik ke atas tubuhnya, membisikkan suara-suara kematian yang membuat air mata Catalina mengalir deras karena ketakutan.
Malam itu akan menjadi malam terpanjang dan paling mengerikan dalam hidup seorang Catalina Wijaya.
Sementara itu, James sedang berjalan santai di koridor rumah sakit setelah keluar dari ruangan Dokter Fanya, dia merapikan kerah jasnya sambil bersiul kecil, merasa tugasnya malam ini berjalan dengan sangat lancar.
Namun, langkah James mendadak terhenti ketika dia merasakan sebuah energi yang tidak asing di area parkir rumah sakit yang sepi.
Mata James yang semula tampak seperti manusia biasa, sedetik kemudian berkilat tajam memancarkan warna merah yang samar.
"Keluar! Jangan bersembunyi seperti tikus got di hadapanku," ucap James dingin, menatap ke arah bayangan besar di sudut parkiran.
Dari balik kegelapan, muncul dua orang pria dengan pakaian serba hitam, penampilan mereka berantakan, dan dari sudut bibir mereka, terlihat taring yang menyembul tidak beraturan.
Mereka adalah kaum pemberontak tingkat rendah, vampir liar yang sudah kehilangan akal sehatnya karena keserakahan.
"Aroma darah murni... di mana jalang manusia yang membawa anak haram itu?!" tanya salah satu pemberontak dengan suara serak yang mengerikan.
Air liurnya bahkan menetes mendengar desas-desus tentang janin darah murni di rahim Naya.
James mendengus pelan, lalu tertawa remeh seolah baru saja mendengar lelucon paling lucu, dia melangkah maju dengan santai, sama sekali tidak merasa terancam oleh dua makhluk di depannya.
"Jalang katanya? Dan anak haram?" ulang James menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ekspresi prihatin.
"Kalian berdua benar-benar bodoh. Membicarakan calon penerus klan Vampir dengan bahasa sekotor itu di depanku, apa kalian sudah bosan hidup, heh?" tanya James dengan nada yang sangat meremehkan.
"Jangan banyak bicara, serahkan lokasinya atau kami akan mencabik mu!" ancam pemberontak kedua, yang langsung melesat maju menerkam James dengan kuku-kukunya yang tajam.
James tidak bergeming sedikit pun dari posisinya, saat jarak makhluk itu tinggal beberapa senti dari wajahnya, James bergerak secepat kilat.
Bhuk
Tangan kanannya langsung mencengkeram leher pemberontak itu dengan kekuatan yang luar biasa.