NovelToon NovelToon
Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.

Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.

Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DuaBelas—Kau Harus Mengganti Yang Kau Rusak!

Kasim istana membuka gulungan dekret tersebut dengan anggun, lalu membacakannya dengan lantang:

"Mengingat jasa besar Jenderal Agung Shen Mufeng dalam menjaga perbatasan serta demi mempererat fondasi negara, dengan ini Kaisar menganugerahkan Pernikahan Titah Kekaisaran.

Putri sulung Keluarga Gu, Gu Mingyue, dianugerahkan sebagai istri utama Jenderal Agung Shen Mufeng.

Pernikahan dilangsungkan pada hari yang sama dengan pernikahan putri kedua Keluarga Gu.

Seluruh harta mas kawin peninggalan mendiang Nyonya Besar Gu berada di bawah perlindungan titah kekaisaran. Siapa pun yang berani merampas atau mengusiknya dianggap menentang titah Kaisar dan dihukum mati.

Hormati titah ini."

Kata-kata "dihukum mati" menggema di dalam ruangan yang mendadak sepi senyap.

"Hamba menerima titah Kaisar, panjang umur Yang Mulia Kaisar," ucap Gu Mingyue dengan nada suara yang sengaja dibuat lembut dan patuh, sementara kedua tangannya terangkat ke atas untuk menerima gulungan dekret emas yang diserahkan oleh kasim istana.

Begitu kasim istana berbalik dan meninggalkan ruangan, Selir Lin langsung jatuh terduduk di atas lantai dingin. Wajahnya pucat pasi bagaikan mayat, dan seluruh tubuhnya gemetar hebat. Sutra kuning mencolok dan perhiasan emas yang dipakainya kini tampak seperti lelucon yang memalukan.

Jebakan hukum dari kaisar ini telah mengunci mati seluruh rencana serakahnya. Menyentuh satu keping perak saja dari harta mendiang ibu Gu Mingyue berarti bersiap untuk menyerahkan leher mereka ke pedang algojo eksekusi.

Gu Mingyue bangkit berdiri dengan perlahan, mendekap dekret emas itu di dadanya. Ia menoleh ke arah Selir Lin, lalu menatap ayahnya yang masih terpaku tidak percaya.

"Ayahanda, sepertinya pernikahan saya dan Gu Lian memang akan berjalan di hari yang sama," ucap Gu Mingyue dengan nada datar namun sarat akan penekanan. "Hanya saja... mas kawin ibuku kini memiliki pelindung yang jauh lebih tinggi daripada hukum keluarga Gu."

Selir Lin tertegun mendengarnya. Begitu langkah kasim senior menjauh, meninggalkan keheningan di antara Jenderal Besar Gu, Selir Lin, dan Gu Mingyue, gadis itu kembali bersuara.

"Ayah, sejujurnya... aku juga ingin menyampaikan ketidakadilan yang kuterima hari ini," lirih Gu Mingyue. Ia mengeluarkan secarik kertas dari balik lengan pakaiannya, lalu menyerahkannya kepada Jenderal Besar Gu.

Itu adalah Catatan Barang Rusak. Seketika itu juga, Selir Lin yang tengah mengintip kertas tersebut langsung terkejut. Matanya mendelik dengan wajah yang kian pucat pasi.

"Barang-barang di paviliunku hampir hancur, bahkan beberapa perhiasan raib setelah penggeledahan tadi siang. Ayah, aku menuntut keadilan," lanjut Gu Mingyue pilu, aktingnya begitu sempurna.

"Kau mengada-ada!" bentak Selir Lin, kehilangan akal sehatnya.

"Ayah, bahkan para pelayan belum selesai membereskan paviliunku."

Plak!

Belum sempat Selir Lin melanjutkan makiannya, Jenderal Besar Gu langsung melayangkan satu tamparan keras ke pipi wanita itu hingga Selir Lin terhuyung mundur beberapa langkah.

"Sudah kubilang jangan membuat masalah! Apakah kalian belum puas membuat malu keluarga Gu?!" bentak Jenderal Besar Gu dengan napas memburu, meluapkan seluruh rasa frustrasi dan ketakutannya pada dekret Kaisar tadi kepada Selir Lin.

Tanpa menunggu kelanjutan drama itu lagi, Gu Mingyue membalikkan badannya dengan anggun. Wol sederhana yang dikenakannya berkibar pelan seiring langkah kakinya yang mantap meninggalkan aula utama, meninggalkan Selir Lin yang meratapi kehancuran rencananya dalam keheningan yang mencekam.

Saat melangkah keluar dari paviliun utama, gerak-gerik barisan prajurit yang masuk dengan langkah tegap menyita perhatiannya. Samar-samar, Gu Mingyue mendengar salah seorang prajurit memberikan aduan darurat kepada ayahnya di dalam ruangan, "Tuan! Balai sidang di perbatasan kota telah disegel oleh pasukan Shen Mufeng. Saat ini mereka tengah bergerak menuju barak rahasia milik keluarga Gubernur!"

Gu Mingyue tersenyum tipis mendengarnya. Kegelapan malam menyembunyikan binar kepuasan di matanya. Bidak pertama yang telah berjalan sempurna di papannya.

...----------------...

Suara derap langkah kuda yang masif menghentak keras di atas permukaan tanah berdebu. Siang itu, Balai Sidang Perbatasan Kota tampak riuh rendah oleh kepungan massa yang mengamuk. Wanita-wanita paruh baya—para janda dari prajurit yang tewas dalam perang perbatasan ibu kota beberapa tahun silam—tampak berdemonstrasi dengan keputusasaan yang membara.

Tak! Tak!

Langkah seekor kuda perang berbulu legam mendadak berhenti di gardu depan. Kuda itu meringkik nyaring sesaat. Sang penunggang yang bertubuh tegap segera turun, menyibakkan jubah kebesaran berwarna gelap yang menyapu udara.

Hentakan bot kulitnya yang berat beradu dengan tanah berdebu, menciptakan bunyi konstan yang tegas. Begitu sosok itu melangkah maju, atmosfer di sekitar balai sidang mendadak turun drastis. Kehadirannya yang dominan dan dingin seketika memaku perhatian semua orang di sana.

Beberapa prajurit tampak membeku ketika Shen Mufeng menunjukkan plakat komandonya. Pria itu bergerak masuk ke dalam ruang utama Balai Sidang Perbatasan Ibu Kota. Kepala balai sidang yang sudah tua tampak berjalan terhuyung dengan langkah tak nyaman, mencoba memberikan senyuman ramah yang langsung diacuhkan oleh Shen Mufeng.

Pria itu memilih langsung duduk di kursi utama balai sidang, lalu meraih beberapa gulungan petisi yang tergeletak rapi di dalam nampan. Ia membukanya satu per satu, kemudian membacanya dengan lantang.

Gulungan pertama, sebuah kertas lusuh yang ditulis berantakan.

"Uang pensiun suamiku telah dirampas."

Ia tersenyum sinis, membuangnya asal lalu membuka gulungan kedua yang berwarna merah. Ditulis dengan kuas tebal dan kasar.

"Uang tunjangan suamiku yang kini cacat hanya keluar separuh, tidak sesuai janji."

Shen Mufeng membaca setiap baris keluhan itu dengan tatapan tajam. Intonasi suaranya datar, namun terasa begitu dingin menusuk tulang.

Lalu ia membuka gulungan ketiga, yang kondisinya jauh lebih tidak layak untuk ukuran sebuah kertas. Pengikatnya berupa tali rami usang, seolah-olah diperoleh dari mengais tempat sampah.

"Suamiku telah tewas di medan laga, tapi janji uang pensiun tak kunjung datang."

Shen Mufeng melempar semua petisi itu ke arah samping. Menyebabkan suara debam kertas berserakan yang menggema, bersahutan dengan deru napas kasarnya.

Kepala balai sidang itu tampak kian gugup. Jari-jarinya meremas pakaian kerjanya yang lusuh dengan cemas. Wajahnya pias, berkejaran dengan keringat dingin yang meluncur deras di pelipis.

"Aku sempat berpikir, di bawah pimpinan Gubernur Ibu Kota yang sekarang, maka kejayaan itu nyata," ucap Shen Mufeng, menjeda kalimatnya sejenak.

Pria itu kemudian terkekeh pelan—sebuah kekehan sinis tanpa riak kebahagiaan.

"Nyatanya? Hancur! Militer dibangun atas darah rakyat dan keberanian mereka, tapi justru dirusak oleh tikus-tikus seperti kalian."

Brak!

Pria itu menggebrak meja kayu di hadapannya dengan satu tangan. Suara hantaman yang keras itu bagai petir di siang bolong, menghancurkan sisa-sisa keberanian kepala balai sidang. Tubuh tua itu langsung luruh, menjatuhkan diri ke lantai kayu dan bersujud gemetar.

"Jenderal Agung Shen, tolong... tolong ampuni hamba! Hamba hanya menjalankan perintah!" ratapnya dengan suara parau, tidak berani mengangkat kepala sedikit pun dari tanah.

...----------------...

1
Ana Dww
Hai semua, ini adalah karya pertamaku dengan tema pembalasan wanita bergenre Fantasi Kelahiran Kembali.

Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭

Semoga kalian menyukainya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!