Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.
Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peringatan!
Perempuan itu kini beralih mengusap-usap rambut Sri dengan penuh sayang. Menatap Sri penuh cinta yang dalam.
"Ibu dan yang lain begitu senang melihatmu." Katanya lagi.
"Ibu... dan yang lain?" batin Sri bertanya-tanya, rasa penasaran kembali mencuat di tengah rasa nyaman yang menghanyutkan. Siapa yang dimaksud dengan yang lain?
Perempuan itu tampaknya tidak menyadari pergolakan batin Sri. Ia kini beralih mengusap-usap rambut Sri dengan penuh sayang, sebuah gerakan yang begitu membuai, seolah-olah Sri adalah seorang anak balita yang sedang dihantar menuju gerbang tidur.
Tatapannya menyorot lekat, memancarkan cinta yang begitu dalam, sebuah tatapan yang murni, tanpa cela, dan begitu menuntut kepatuhan.
Di bawah usapan lembut itu, Sri merasa kepalanya kian berat. Hutan yang semula penuh teror, seolah-olah bergeser menjadi realitas yang sangat jauh, tidak lagi penting.
Sentuhan tangan perempuan itu seperti candu yang mematikan nalar sehatnya.
Sri ingin sekali berteriak, menuntut jawaban tentang siapa sebenarnya perempuan di hadapannya ini.
Pertanyaan-pertanyaan itu bergaung hebat di dalam kepalanya, mendesak untuk dikeluarkan. Bagaimana sosok ini bisa berada di tengah hutan ini? Mengapa wajahnya begitu mirip dengannya? Dan yang paling penting, dari mana ia mengenali nama ibunya, Lela?
Namun, sekeras apa pun Sri mencoba, tenggorokannya bagai dikunci rapat. Lidahnya mendadak kelu, membeku menjadi gumpalan daging yang tak berdaya.
Jangankan menyusun kalimat, bahkan untuk mengeluarkan satu lengkingan cicitan pun suaranya sama sekali tidak dapat keluar.
"Ibu sudah lama menunggumu, karena dendam kita sudah Ibu mulai," perempuan itu berucap lagi dengan tangan yang masih terus mengusap lembut kepala Sri.
Kalimat yang semula terdengar syahdu itu mendadak berubah menjadi bisikan dingin yang mengerikan. Detik itu juga, kehangatan yang menjalar di tubuh Sri mendadak membeku.
Wajah cantik yang begitu mirip dengannya itu mulai berkerut hebat, kulitnya mengelupas cepat, bola matanya menghitam pekat, dan senyum tulusnya berubah menjadi seringai lebar yang mengerikan.
Sri membelalak, jantungnya seperti melompat ke dasar lambung. Ia mencoba melangkah mundur, namun kakinya bagai tertanam di dalam tanah.
Belum sempat ia mencerna kengerian di depannya, kabut di belakang perempuan itu mendadak menyibak.
Dari kegelapan, sesosok makhluk berdiri tidak jauh dari mereka. Jantung Sri serasa berhenti berdetak saat melihatnya.
Sri mengenali sosok itu. Itu adalah hantu tanpa kepala yang tempo hari sempat ia lihat dengan jelas di monitor yang diperlihatkan oleh Susan!
Sri tersentak hebat. Rasa nyaman dan kantuk yang sempat melumpuhkannya tadi sirna, digantikan oleh terror murni yang membekukan darah.
Namun, ia masih tak bisa bergerak. Genggaman perempuan di depannya, yang kini wajahnya telah hancur dan mengerikan, terasa seperti cengkeraman es yang membeku di pergelangan tangannya.
"Jangan percaya siapa pun di desa itu. Jangan!" Perempuan itu memberikan peringatan terakhir dengan nada yang begitu tajam dan penuh tekanan. Wajah rusaknya bergoyang misterius di balik kabut.
"Dan, kamu akan menjadi saksi pembalasan ini!" Ujar perempuan itu.
"Sri! Sri, bangun!"
Sebuah guncangan hebat tiba-tiba menghantam bahu Sri disusul tepukan keras di pipinya. Dimensi kabut kelam dan dua sosok mengerikan itu langsung pecah berkeping-keping.
Sri tersentak hebat, matanya terbuka lebar dengan jepretan napas yang memburu seolah oksigen di sekitarnya baru saja habis. Keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya, sementara tenggorokannya terasa sangat kering dan panas.
Di hadapannya, terbata Bagas sedang menggoyangkan tubuh Sri untuk membangunkan Sri yang sempat tertidur di bawah pohon besar itu. Wajah Bagas pucat pasi, matanya membelalak penuh kepanikan yang teramat sangat.
Di sampingnya, Pak Basri sedang memegang dahi Sri sambil merapalkan doa dengan suara bergetar, sedangkan Tedi dan Kang Tono berjaga di sekeliling mereka dengan parang terhunus, menatap liar ke arah kegelapan hutan.
"Alhamdulillah! Sadar kamu, Sri! Istighfar, Sri!" seru Bagas setengah berteriak, napasnya ikut tersengal-sengal karena lega sekaligus ketakutan.
"Aku... aku kenapa, Gas?" tanya Sri parau, suaranya akhirnya bisa keluar meskipun terdengar sangat lemah.
"Kamu tadi ketiduran, tapi malah mengigau ketakutan, dan mengumamkan hal yang tidak jelas." jelas Bagas dengan yang masih gemetar memegangi pundak Sri.
Sri termenung, dadanya masih kembang-kempis hebat. Peringatan dari perempuan misterius yang berwajah mirip dengannya itu masih terngiang-ngiang jelas di telinganya, menancap kuat di dalam benaknya.
Jangan percaya siapa pun di desa itu. Persis seperti pesan ibunya saat dia akan kedesa Selogiri ini.
Sri perlahan melirik ke arah Pak Basri, lalu ke arah Tedi, Kang Tono. Rasa curiga dan ngeri yang baru mendadak menyergap hatinya.
Apa yang di maksud oleh ibunya, dan perempuan tadi? Apakah itu hanya mimpi buruk karena lelah? Atau ada makna di balik mimpinya itu?