NovelToon NovelToon
My Love Never Left

My Love Never Left

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Zanesa

Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.

Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.

​Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

​Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.

​Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.

​"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Musim gugur mulai menyapa New York. Daun-daun berwarna keemasan dan kemerahan tampak cantik menghiasi sepanjang trotoar jalanan kota. Seperti biasa, tepat setelah kelas terakhirnya usai, Alexander sudah berdiri tegap menyandarkan tubuhnya di depan mobil, bersiap menjemput Aurora.

"Kita mau ke suatu acara," ujar Alexander sesaat setelah Aurora masuk ke dalam mobil.

Aurora langsung menatapnya curiga. "Acara apa?"

"Rahasia," jawab Alexander singkat sembari mengulas senyum misterius.

Aurora menghela napas panjang, memasang sabuk pengamannya dengan pasrah. Ia sudah sangat hafal tabiat kekasihnya itu. Jika Alexander sudah mengunci mulutnya dengan kata "rahasia", itu artinya pria tersebut sedang merencanakan sesuatu yang besar.

---

Satu jam kemudian, mobil mewah Alexander berhenti di sebuah restoran rooftop privat yang mewah. Tempat itu menghadap langsung ke arah lanskap megah cakrawala Manhattan. Lampu-lampu dari gedung pencakar langit New York baru saja menyala, menciptakan pemandangan malam yang teramat sangat memukau.

Aurora sampai terpaku di ambang pintu, matanya berbinar kagum. "Wow..."

Alexander tersenyum puas melihat binar di mata kekasihnya. "Suka?"

Aurora mengangguk cepat tanpa mengalihkan pandangan dari gemerlap kota. "Sangat suka, Alex. Bagus banget."

---

Mereka menikmati makan malam romantis itu sembari mengobrol santai. Mulai dari membahas tugas-tugas kampus yang menumpuk, lelucon di tempat kerja paruh waktu Aurora, hingga membagikan potongan memori masa kecil masing-masing. Namun, perlahan-lahan atmosfer di antara mereka berubah menjadi lebih tenang dan serius.

"Aurora," panggil Alexander lembut, jemarinya tampak memutar-mutar tangkai gelas anggur di tangannya seolah tengah menimbang sesuatu.

"Hm?" Aurora menyahut pelan.

Alexander menghentikan gerakannya, lalu melayangkan pertanyaan yang cukup tak terduga, "Apa kamu percaya pada takdir?"

Aurora sedikit tersentak. Pertanyaan itu terdengar sangat filosofis untuk seorang Alexander Kingsley. "Mungkin... entahlah. Kenapa tiba-tiba tanya begitu?"

Alexander tersenyum tipis, menatap lurus ke dalam manik mata Aurora tanpa sekejap pun beralih. "Aku dulu sama sekali tidak percaya pada hal-hal klise seperti itu."

"Tapi sekarang?" selidik Aurora penasaran.

"Sekarang aku percaya," jawab Alexander mantap.

"Kenapa?" tanya Aurora lagi, menuntut penjelasan.

Alexander terkekeh kecil, mengingat kembali awal mula pertemuan konyol mereka. "Karena dari jutaan manusia yang memadati New York... takdir justru mempertemukan aku dengan seorang gadis ceroboh yang menumpahkan kopi panas tepat ke atas jas mahal milikku."

Tawa Aurora langsung pecah mendengarnya. "Ih, itu kan murni kecelakaan!"

"Kecelakaan yang akhirnya mengubah seluruh hidupku," potong Alexander dengan nada suara yang melembut dalam sekejap.

Deg.

Tawa Aurora mereda. Jantungnya mendadak berdebar kencang. Cara Alexander mengatakannya terdengar sangat tulus, tanpa ada sedikit pun kesan sedang bergurau.

---

Angin malam musim gugur berhembus perlahan, menerpa helai rambut mereka. Keheningan yang tercipta di antara mereka malam ini terasa begitu intim, hangat, dan menenangkan.

Alexander kembali membuka suara. Kali ini intonasi suaranya jauh lebih rendah, namun setiap nadanya bergaung kuat, sanggup menghentikan poros dunia Aurora dalam sedetik.

"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita lima tahun lagi," tutur Alexander pelan. "Sepuluh tahun lagi, atau bahkan dua puluh tahun lagi."

Aurora terpaku, mendengarkan setiap bait kalimat itu tanpa berkedip.

Alexander mengulas senyuman yang teramat manis dan penuh kasih. "Tapi ada satu hal yang aku tahu dengan pasti, Aurora."

Aurora menahan napasnya, menunggu kelanjutan kalimat itu dengan dada yang bergemuruh.

Dan detik berikutnya, kalimat sakral yang akan terus terpatri di dalam ingatan Aurora hingga bertahun-tahun kemudian itu akhirnya lolos dari bibir Alexander.

"Aku ingin kamu tetap ada di dalam hidupku."

Deg.

Aurora merasakan sudut matanya mendadak memanas karena haru. Namun, Alexander belum selesai mengutarakan isi hatinya. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, mengunci tatapan Aurora.

"Entah itu statusmu sebagai pacarku, tunanganku, atau..." Alexander sengaja menjeda kalimatnya sejenak, lalu melanjutkan dengan senyum menawan, "...istriku."

Jantung Aurora serasa berhenti berdetak saat itu juga. Napasnya tercekat di tenggorokan.

"A-Alexander..." lirih Aurora dengan terbata-bata.

Melihat rona merah padam yang menjalar cepat di wajah dan telinga Aurora, Alexander tertawa renyah. "Tenang saja, aku tidak sedang melamarmu sekarang."

Aurora yang terlanjur salah tingkah setengah mati langsung menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Aku juga tahu, ih! Jangan dibahas lagi!"

Tawa Alexander terdengar semakin puas menggema di area rooftop yang sepi itu.

---

Namun, beberapa saat kemudian, kejahilan di wajah Alexander memudar. Ekspresinya kembali berubah menjadi sangat serius—bahkan jauh lebih serius dari sebelum-sebelumnya.

Ia mengulurkan tangan, meraih kedua pergelangan tangan Aurora dan menurunkan tangan gadis itu perlahan, lalu menggenggam jemari mungil Aurora dengan erat di atas meja.

"Tapi suatu hari nanti... aku berjanji akan melamarmu secara resmi," ucap Alexander dengan penekanan di setiap katanya.

Aurora membeku. Tidak ada secuil pun keraguan dalam intonasi suara Alexander. Tidak ada kebimbangan di dalam binar matanya. Pria di hadapannya ini sedang mengikat janji suci dari dalam lubuk hatinya. Untuk pertama kalinya, Aurora benar-benar membiarkan dirinya percaya bahwa Alexander mencintainya sedalam itu.

---

Dalam perjalanan pulang malam itu, Aurora sama sekali tidak bisa menyembuyenikan kebahagiaannya. Sepanjang jalan ia terus tersenyum manis. Bahkan saat mobil mereka berhenti di lampu merah, mata Aurora tanpa sadar memandangi deretan cincin berkilau di etalase toko perhiasan yang mereka lewati. Ia mulai berani membayangkan masa depan yang indah bersama Alexander—sesuatu yang selama ini selalu ia anggap tabu untuk diimpikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!