NovelToon NovelToon
Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / TKP
Popularitas:316
Nilai: 5
Nama Author: Chocolate Chase

Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sang Buronan di Lampu Merah

Pintu baja kamar mayat tertutup di belakang mereka dengan bunyi berat yang menggema di lorong bawah tanah rumah sakit. Arthur menyelipkan tangan ke dalam saku jaketnya, sementara Manuel berjalan di sampingnya dengan langkah yang lebih ringan dibanding saat mereka datang. Ada kepuasan tertentu dalam melihat seorang dokter forensik yang sombong dipaksa mengakui bahwa ia telah melewatkan petunjuk vital.

"Kau tahu, Arthur," kata Manuel saat mereka menaiki tangga menuju lobi rumah sakit, "kalau saja kau tidak bersikeras memeriksa kuku korban itu dengan lebih teliti, kita mungkin masih terjebak dalam laporan palsu polisi lokal tentang bunuh diri."

Arthur tidak langsung menjawab. Matanya menyapu lorong rumah sakit yang terang benderang namun terasa suram. "Orang orang seperti Elias Thorne tidak menyerah begitu saja, Manuel. Mereka menghabiskan seluruh hidup mereka untuk mencari celah dan menemukan apa yang disembunyikan orang lain. Seorang auditor forensik yang membunuh dirinya sendiri karena depresi? Itu adalah narasi yang terlalu malas untuk dipercaya."

Mereka keluar dari pintu otomatis rumah sakit dan disambut oleh udara sore yang mulai mendingin. Langit di atas kota pusat keuangan mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan, memantulkan cahayanya ke permukaan kaca gedung gedung pencakar langit di sekeliling mereka. Manuel mengeluarkan ponselnya dari saku jas, berniat memesan mobil dinas yang akan membawa mereka kembali ke markas federal di lantai empat puluh dua.

Namun, sebelum jari Manuel sempat menyentuh layar ponselnya, sebuah panggilan masuk muncul di layarnya. Nama yang tertera di layar adalah Divisi Lalu Lintas Kepolisian Metropolitan. Manuel mengerutkan keningnya, lalu mengangkat panggilan tersebut dan mengaktifkan pengeras suara agar Arthur juga bisa mendengar.

"Kapten Vin? Ini Sersan Rodriguez dari Divisi Lalu Lintas Sektor Tujuh," suara seorang pria muda terdengar dari ujung sambungan, terdengar sedikit gugup namun bersemangat. "Saya menelepon karena, well, saya pikir Anda perlu mendengar ini secepatnya."

"Ada apa, Sersan? Kami sedang dalam perjalanan kembali ke markas," jawab Manuel dengan nada tegas namun sabar.

"Sebenarnya ini berkaitan dengan kasus yang Anda tangani, Kapten. Kasus kematian auditor di apartemen lantai delapan puluh itu," kata Sersan Rodriguez, suaranya sedikit merendah seolah khawatir didengar orang lain. "Kami baru saja menahan seorang pria di persimpangan Jalan Utama dan Avenue Kelima. Pelanggaran lalu lintas biasa, menerobos lampu merah dengan kecepatan tinggi. Tapi ketika kami memeriksanya, ada beberapa hal yang sangat mencurigakan."

Arthur yang sedari tadi mendengarkan dengan saksama, tiba tiba mencondongkan tubuhnya ke arah ponsel Manuel. "Hal mencurigakan seperti apa, Sersan?" tanyanya langsung, nadanya tajam dan penuh kewaspadaan.

Ada jeda sejenak di ujung sambungan sebelum Sersan Rodriguez melanjutkan. "Pria ini mengendarai sebuah mobil sport hitam dengan pelat nomor yang terdaftar atas nama sebuah perusahaan cangkang. Perusahaan itu beralamat di distrik yang sama dengan gedung apartemen tempat korban ditemukan meninggal. Dan yang lebih aneh lagi, Pak, pria ini memiliki luka cakaran yang sangat segar di sisi kanan wajahnya. Tiga garis paralel, seperti goresan kuku manusia. Dia mencoba menutupinya dengan riasan tebal dan kerah jaket yang dinaikkan, tapi di bawah lampu interogasi, riasan itu tidak bisa menyembunyikan bekas lukanya."

Arthur dan Manuel saling bertukar pandang. Kilatan pemahaman melintas di antara mereka seperti sambaran listrik. Jaringan kulit yang mereka temukan di bawah kuku Elias Thorne, asumsi Arthur tentang pelaku yang memiliki luka cakaran di wajah, semuanya kini terhubung dengan sempurna.

"Di mana pria itu sekarang?" tanya Arthur, suaranya kini dipenuhi oleh urgensi yang terkontrol.

"Dia sedang berada di ruang interogasi Sektor Tujuh, Pak. Kami menahannya dengan alasan mengemudi secara membahayakan dan menolak menunjukkan identitas. Tapi dia sudah mulai meminta pengacaranya, dan pengacara dari firma hukum besar sudah dalam perjalanan ke sini," jawab Sersan Rodriguez.

Arthur menatap Manuel, lalu mengangguk tegas. "Jangan biarkan dia berbicara dengan siapa pun sebelum kami tiba. Dan Sersan, jangan catat nama atau identitasnya ke dalam sistem komputer. Simpan semua informasi ini secara manual saja. Mengerti?"

"Siap, Pak. Saya mengerti," jawab Sersan Rodriguez sebelum sambungan terputus.

Manuel segera memasukkan ponselnya kembali ke saku, lalu melambaikan tangan ke arah sebuah taksi yang sedang melintas di depan rumah sakit. "Kita tidak punya waktu menunggu mobil dinas. Ayo."

Keduanya masuk ke dalam taksi, dan Manuel memberikan alamat kantor kepolisian Sektor Tujuh kepada pengemudi. Selama perjalanan, Arthur duduk diam dengan tatapan kosong yang hanya ia miliki saat otaknya sedang bekerja pada kecepatan penuh. Jari jemarinya mengetuk ngetuk pelan di atas lututnya, sebuah ritme yang hanya ia sendiri yang pahami.

"Kau berpikir terlalu keras," komentar Manuel sambil melirik Arthur dari samping.

"Aku sedang mempertimbangkan kemungkinan," jawab Arthur tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela taksi yang menampilkan jalanan kota yang semakin padat oleh lalu lintas sore. "Peluang kita menemukan pelaku dengan luka cakaran di wajah sudah sangat kecil. Tapi sekarang, divisi lalu lintas secara kebetulan menangkap seseorang yang cocok dengan deskripsi kita, di lokasi yang terhubung dengan tempat kejadian perkara. Ini terlalu nyaman, Manuel."

Manuel mengernyitkan dahinya. "Kau pikir ini jebakan?"

"Aku tidak bilang ini jebakan. Aku bilang ini terlalu nyaman," koreksi Arthur, matanya kini beralih menatap Manuel. "Ada dua kemungkinan. Pertama, ini memang kebetulan murni. Pelaku kita panik setelah melakukan pembunuhan, melarikan diri, dan melakukan kesalahan bodoh di jalan raya. Kemungkinan kedua, seseorang di atas sana sengaja melemparkan anak buahnya yang satu ini kepada kita sebagai kambing hitam, sementara pelaku sebenarnya tetap aman di balik bayang bayang."

Taksi berhenti di depan sebuah gedung kantor polisi yang tampak jauh lebih sederhana dibandingkan markas federal mereka. Lampu neon di atas pintu masuk berkedip kedip, memberikan kesan bahwa gedung ini sudah tua namun masih berfungsi dengan baik. Arthur dan Manuel turun dari taksi, lalu melangkah masuk ke dalam lobi yang dipenuhi oleh suara dengung aktivitas petugas dan tahanan.

Sersan Rodriguez, seorang pemuda berambut hitam pendek dengan seragam yang sedikit kebesaran untuk tubuhnya, sudah menunggu mereka di dekat pintu masuk. Wajahnya tampak lega saat melihat kedatangan mereka.

"Kapten Vin, Konsultan Rutherford, silakan ikuti saya," kata Sersan Rodriguez sambil berjalan cepat menuju lorong belakang yang mengarah ke ruang interogasi. "Pria itu sangat gelisah. Dia terus menerus melihat ke arah pintu, seolah menunggu seseorang datang. Bukan pengacaranya, melainkan seseorang yang lain."

Arthur menangkap detail itu dan menyimpannya di dalam pikirannya. Mereka melewati beberapa ruangan yang dipenuhi oleh meja meja kerja petugas yang sibuk, lalu menuruni sebuah tangga pendek menuju area ruang interogasi yang terletak di lantai bawah tanah. Lorong di bagian ini lebih sempit dan diterangi oleh lampu fluoresens yang berkedip kedip pelan.

Sersan Rodriguez berhenti di depan sebuah pintu besi berwarna abu abu, lalu membukanya perlahan. Di dalam ruangan kecil yang hanya berisi sebuah meja logam dan dua kursi, duduk seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun. Dia mengenakan kemeja putih yang kini sudah kusut dan sedikit berkeringat di bagian kerahnya. Jaket kulit hitamnya tergantung di sandaran kursi. Sisi kanan wajahnya memang ditutupi oleh lapisan riasan tebal yang kini mulai luntur karena keringat, namun di bawah cahaya lampu interogasi yang terang, tiga garis merah paralel terlihat jelas menyembul dari balik riasan tersebut.

Pria itu mengangkat kepalanya saat pintu terbuka. Matanya yang cekung dan penuh kelelahan menyapu Arthur dan Manuel dengan tatapan yang bercampur antara ketakutan dan kebingungan. Ada sesuatu yang aneh di dalam tatapan itu, pikir Arthur. Ini bukan tatapan seorang pembunuh profesional yang tertangkap. Ini adalah tatapan seseorang yang tahu bahwa ia berada dalam bahaya besar, namun tidak tahu dari arah mana bahaya itu akan datang.

Arthur melangkah masuk ke dalam ruangan terlebih dahulu, menarik kursi di seberang pria tersebut dan duduk dengan santai. Manuel mengikuti dari belakang, memilih untuk berdiri di dekat pintu dengan tangan terlipat di dada, memancarkan aura otoritas seorang kapten detektif.

"Selamat sore," sapa Arthur dengan nada yang hampir terdengar ramah, meskipun matanya yang hijau menatap pria di hadapannya dengan ketajaman seorang predator yang sedang mempelajari mangsanya. "Boleh saya tahu nama Anda?"

Pria itu menelan ludahnya dengan sulit, lalu membuka mulutnya untuk berbicara. Namun, sebelum satu kata pun keluar dari bibirnya, suara ketukan keras di pintu interogasi menggema di seluruh ruangan. Sersan Rodriguez membuka pintu dari luar dan menjulurkan kepalanya ke dalam dengan ekspresi cemas.

"Kapten, maaf mengganggu," bisik Sersan Rodriguez dengan nada mendesak. "Ada dua orang pria berjas hitam di lobi. Mereka membawa surat kuasa dari firma hukum Sterling dan Partners. Mereka menuntut untuk bertemu dengan tahanan ini sekarang juga."

Arthur menoleh perlahan ke arah Manuel, senyuman miring yang khas kembali muncul di bibirnya. Namun, kali ini senyuman itu tidak mengandung antusiasme, melainkan sebuah kewaspadaan yang dingin.

"Tepat seperti yang kukhawatirkan, Manuel," gumam Arthur pelan, cukup keras untuk didengar oleh Manuel saja. "Mereka tidak mengirim pengacara untuk membela anak buah mereka. Mereka mengirim pengacara untuk membungkamnya."

Arthur berdiri dari kursinya, lalu menatap pria beriasan tebal yang kini gemetar di kursinya. "Kita belum selesai berbicara," kata Arthur dengan nada tenang namun penuh tekanan. "Dan aku berjanji, aku akan kembali untuk mendengar seluruh ceritamu."

Arthur melangkah keluar dari ruang interogasi, diikuti oleh Manuel. Pintu besi tertutup di belakang mereka dengan bunyi berat, menyegel pria berwajah terluka itu sendirian di dalam ruangan kecil yang dingin, sementara di luar, dua pengacara berjas hitam sudah menunggu dengan senyuman profesional yang penuh perhitungan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!