Nala putri, seorang gadis yatim piatu yang miskin, nekat merantau ke ibukota berbekal kejujuran dan keberanian yang membaja.
Namun, nasib membawanya masuk ke ruang wawancara PT Dirgantara Megah Utama, tepat di hadapan Adrian Dirgantara _ Sang CEO tampan yang terkenal kejam, arogan, dan sangat membenci wanita akibat penghianatan masa lalu.
Bagi Adrian, semua wanita adalah makhluk bermuka dua yanh menjijikan, Namun, saat ia mencoba menindas Nala, gadis desa itu justru menatap matanya dengan berani dan membalasnya dengan kalimat menohok yang meruntuhkan harga dirinya.
Alih-alih memecatnya, Adrian yang penasaran justru menjebak Nala dengan menjadikanya sekertaris pribadi demi menyiksanya dengan tugas-tugas mustahil. Adrian mengira Nala akan menamgis dan menyerah. ia keliru, Nala tidak sekedar bertahan, gadis itu justru perlahan- lahan meruntuhkan dinding pembatas di hati Adrian dengan ketulusannya dan ketegasannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sevda Aryan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Sandiwara di Bandara, Foto Usang Masa Kuliah, dan Jebakan IP Nala
Sementara itu. di halaman kediaman utama, tumpukan bunga mawar premium dan dedaunan segar dekorasi kendaraan logistik telah tertata rapi. Sisil berdiri di sana dengan jepit mawar merah terpasang Kokoh di rambutnya.
Sifat pemberaninya telah bangkit. rasa trauma dan ketakutannya beberapa hari lalu kini telah sepenuhnya runtuh, digantikan oleh kobaran semangat yang berapi-api demi membela Nala.
Nyonya Victoria, melangkah keluar dari lobi rumah dengan gaun elegannya. begitu melihat Sisil yang kembali aktif bergerak ke sana kemari, berteriak cempreng memberikan komando dengan sifat barbarnya yang khas.
Air mata haru langsung mengenang di sudut mata sang Nyonya besar. wanita paruh baya yang dulu pernah ditolong oleh Sisil dari copet jalanan itu langsung berlari kecil dan memeluk erat tubuh Sisil dari belakang.
"Sisil...ya ampun, sayang! mama senang sekali melihat kamu sudah sembuh. dan kembali bersemangat seperti ini!" ucap Nyonya Victoria.
Sambil mendekap Sisil penuh kasih sayang, merasa sangat lega karena keceriaan di rumahnya telah kembali.
Sisil melepaskan pelukannya perlahan sambil tersenyum lebar yang menular, "tentu saja" Nyonya!
Aku nggak boleh loyo lagi. begitu aku mendengar tuan kaku kalau si Haryanto brengsek itu mau merusak pernikahan sahabatku, darah barbar ku langsung mendidih!
kalau sampai aku melihat muka si Haryanto. atau anak buahnya di gedung nanti, aku sendiri yang akan menghajar mereka pakai vas bunga besi!"...seru sisil berapi-api sambil mengepalkan tangannya.
"Membuat Nyonya Victoria dan Nala yang menyusul keluar tertawa lepas penuh kebanggaan."
Di sudut halaman, asisten Han yang berdiri siaga menjaga Sisil. hanya bisa menyunggingkan senyum tipis yang teramat tampan, merasa lega sekaligus makin jatuh cinta melihat singa barbar desanya telah kembali ke garis depan.
Suasana di lobi kedatangan privat bandara internasional. Halim Perdanakusuma, jakarta. sore itu tampak tenang namun sebenarnya sarat akan ketegangan.
Sebuah jet pribadi berlogo korporasi global asal, Amerika Serikat baru saja mendarat dengan mulus di landasan pacu.
Di dalam jet tersebut. papa dan mama Angel bersiap melangkah turun membawa, seluruh tim audit forensik dan intelijen cyber terbaik mereka dari New york.
Di area parkir lobi private. Adrian, Nala, kevin, dan asisten Han sudah berdiri siaga menyambut kedatangan mereka.
Penjemputan ini tidak main-main; tiga mobil sedan mewah anti peluru bermerek, eropa telah disiapkan dengan mesin yang terus menyala.
Pengawalan ketat dari tim keamanan internal Pt. Dirgantara megah utama sengaja dibuat, samar dan tertutup rapat agar tidak memancing kegaduhan publik.
Namun, ketajaman radar cyber dan insting taktis yang dipasang oleh empat sekawan tidak bisa terkecoh.
Melalui umpan kamera tersembunyi yang terpasang di sudut lobi, asisten Han mendeteksi keberadaan dua pria berjaket tebal yang berdiri di dekat pintu keluar komersial. tatapan mata kedua pria itu terus mengarah lurus kerombongan Adrian.
"Tuan Adrian, ibu Nala...Mata-mata suruhan Haryanto dari turki ada di sektor utara bandara. mereka sedang mengawasi kedatangan jet pribadi ini," bisik asisten Han melalui earpiece nirkabelnya dengan suara bariton yang sangat tenang namun tajam.
Adrian, Nala, dan kevin yang mendengar laporan itu sama sekali tidak panik.
Sesuai dengan instruksi dan rencana cerdas. yang sudah mereka susun, mereka semua memilih untuk berpura-pura tidak tahu.
Mereka sengaja berakting santai, tertawa, dan melambaikan tangan dengan ramah saat papa dan mama angel, melangkah keluar dari pintu lobi privat bersama mama Angel.
Sandiwara ini sengaja dilakukan agar mata-mata turki tersebut percaya, bahwa kedatangan bantuan dari New york ini murni hanya sebagai kunjungan keluarga untuk menghadiri pernikahan, bukan untuk operasi pertempuran finansial.
Selama proses pelacakan jarak jauh dari Amerika beberapa minggu terakhir. papa Angel murni hanya memeriksa data dokumen mentah, aliran dana perbankan swiss, dan laporan cyber yang dikirimkan oleh Kevin.
"Beliau belum pernah melihat wajah Adrian secara langsung melalui foto, panggilan video, maupun media sosial."
Begitu melangkah mendekat untuk berjabat tangan, papa Angel menghentikan langkah kakinya seketika.
Ia terpaku, menatap Adrian selama beberapa detik tanpa berkedip.
Deg!!!
Wajah tampan, tinggi, sorot mata yang tajam, garis rahang yang kokoh, serta pembawaan Adrian yang dingin dan berwibawa tinggi. membuat memori papa Angel mendadak terlempar pada sosok, teman lama yang teramat sangat ia rindukan di masa muda.
Wajah Adrian serasa tidak asing, dan sangat membangkitkan kenangan mendalam di benaknya.
"Terima kasih sudah bersedia datang langsung ke jakarta, om , tante" sapa Adrian dengan suara bariton yang formal dan penuh hormat.
Papa Angel tersenyum hangat, meskipun pikirannya masih dipenuhi tanda tanya besar yang berkecamuk.
"Sama-sama, Adrian. senang akhirnya bisa bertemu langsung denganmu. mari kita segera berangkat ke tempat yang aman."
Rombongan besar itu segera masuk ke dalam mobil sedan mewah. anti peluru, membelah jalanan ibukota menuju kediaman mewah Nyonya Victoria.
Sesampainya di dalam rumah, Nyonya victoria langsung menyambut Mama Angel dengan pelukan hangat penuh kerinduan.
Namun, perhatian papa Angel langsung tersedak saat langkah kakinya membawanya, menatap ke arah dinding utama ruang keluarga yang megah.
Di sana, sebuah foto besar mendiang papa Adrian terpampang dengan sangat rapi.
Papa Angel melangkah mendekati foto tersebut dengan tubuh yang mendadak gemetar hebat. matanya berkaca-kaca menahan gejolak emosi yang luar biasa mengharu biru.
"Victoria...apakah pria di foto ini adalah suamimu? ayah kandung dari Adrian?" tanya papa Angel dengan suara parau.
Nyonya Victoria menggangguk pelan, dengan kening berkerut heran.
"Iya, benar, Tuan. itu mendiang suamiku, papanya Adrian. memangnya ada apa?"
Tanya Nyonya victoria balik?
Papa Angel langsung merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan sebuah dompet kulit tua dan menarik selembar foto usang yang sudah menguning di bagian ujungnya.
Ia membalikkan badan. menunjukkan foto usang masa mudanya itu kepada Nyonya Victoria, Nala. kevin, dan juga Angel yang sedang berkumpul di ruang tengah.
Di dalam foto itu. terlihat dua orang pemuda tampan dan tinggi dengan jaket almamater universitas Harvard yang sama, sedang merangkul pundak satu sama lain sambil tersenyum lebar di depan gedung kampus zaman dulu.
"Ya Tuhan...takdir macam apa ini?"
Suamimu ini adalah sahabat karib satu kamarku, saat kami masih kuliah dulu!" pekik papa Angel dengan suara tercekat menahan air mata kebahagiaan yang meluap.
Melalui penemuan foto itu, teka-teki perbedaan usia di antara anak-anak mereka akhirnya terjawab dengan sangat mengharukan.
Mendiang papa Adrian dulu menikah muda, tak lama setelah lulus kuliah dan langsung dikarunia Adrian yang kini telah berusia 32 tahun.
Sementara Papa Angel. setelah menikah, mereka sempat menunda cukup lama karena fokus membangun bisnis global di Amerika.
Dan dikaruniai Angel di usia pernikahan yang matang, membuat Angel kini baru menginjak usia 23 tahun -sebaya dengan Nala dan Sisil.
"Papamu adalah orang terbaik. yang selalu menolongku saat kami masih menjadi mahasiswa miskin dulu, Adrian," ucap papa Angel emosional, menepuk pundak Adrian dengan sangat erat.
"Demi nama persahabatan kami yang terpisah belasan tahun. aku bersumpah akan mengerahkan seluruh tim hukum dan cyberku, dari Amerika untuk membantumu mengepung dan meruntuhkan kekaisaran Haryanto!"
Di sudut ruangan mewah tersebut, Kevin yang berdiri di samping Angel menyaksikan momen reuni yang mengharukan itu dengan perasaan yang campur aduk.
Di satu sisi ia merasa sangat lega karena aliansi mereka kini didasari, oleh ikatan darah persahabatan masa lalu yang teramat kuat.
Namun, di sisi lain. sifat humoris Kevin mendadak terusik oleh rasa cemburu yang menggemaskan, melihat bagaimana keluarga besar itu kini melekat begitu dekat dalam ikatan takdir.
Kevin menyenggol lengan Angel dengan pelan, memajukan wajahnya sambil berbisik merajuk demi mencari perhatian sang model internasional.
"Ngel...Kok bisa sih takdir keluarga kita sedekat ini ? tahu gitu, dari zaman sekolah SMA jakarta dulu harusnya aku udah lamar kamu. nggak usah pakai pacaran lama-lama dan keduluan sama reuni papa."
Angel menaikkan sebelah alisnya, menatap Kevin dengan senyuman manjanya yang mematikan.
"Lho, emangnya kenapa, kev?"
Cemburu ya, melihat papa dan mama langsung akrab sama keluarganya Adrian?
"Iya lah! aku cemburu berat!"
Aku Kevin blak-blakan tanpa gengsi, membuat pipi Angel merona merah padam karena salah tingkah.
"Adrian dan Nala kan sebentar lagi menikah. "aku nggak mau kalah, Ngel.
Begitu seluruh acara pernikahan mereka. dan urusan si penghianat turki ini selesai minggu depan, aku yang akan duluan maju di depan papamu untuk melamarmu secara resmi.
"Aku mau kita segera mengumumkan tanggal pertunangan kita!"
Angel tertawa renyah, memukul pelan lengan Kevin dengan tas jinjing mewahnya untuk menutupi rasa baper yang luar biasa manis di hatinya.
"Iya, iya, tuan kreatif yang tidak sabaran. selesaikan dulu misi kita membantu Nala, baru aku kasih tanggalnya."
Di tengah suasana hangat berkumpulnya keluarga besar di kediaman Nyonya victoria, Nala membuktikan bahwa dirinya bukan sekedar sekretaris biasa yang pasif.
Melainkan seorang wanita cerdas. tangguh dan agresif, dalam melindungi Adrian serta stabilitas Pt. Dirgantara megah utama.
Haryanto dan komplotannya di turki saat ini, pasti sedang tertawa puas di seberang sana.
'Mereka mengira telah menang di atas angin. karena mengira tim IT jakarta terpuruk dan tidak mampu menembus sistem enkripsi militer, mereka yang kokoh setelah kegagalan penyergapan tempo hari.'
Namun, komplotan turki itu salah besar. itu semua hanyalah bagian dari taktik jebakan IP (IP trap) yang dirancang secara jenius oleh Nala.
Nala sengaja membentangkan umpan agresif dengan melonggarkan sedikit enkripsi. pada sistem data logistik dan vendor panggung pernikahannya miliknya bersama sisil.
Langkah ini sengaja dilakukan Nala untuk memancing. Haryanto agar merasa menang di atas angin, dan akhirnya tergoda untuk nekat langsung ke jakarta guna mendatangi gedung pernikahan mereka beberapa minggu lagi.
"Haryanto mengira kita kalah dan tidak bisa melacaknya, padahal dari celah IP palsu yang sengaja aku buka, kita bersama tim cyber New york di depan layar monitor komputer utama taman mewah tersebut.
Adrian berdiri di belakang Nala. merangkul pinggang calon istrinya itu dengan pelukan posesif yang teramat erat, merasa sangat takjub, bangga, dan meleleh melihat bagaimana kepintaran Nala yang luar biasa cerdas. dalam melindungi dirinya dan martabat perusahaan dari ancaman luar.
"Semua umpan sudah dimakan oleh mereka, sayang, "bisik Adrian lembut penuh cinta.
Dengan dukungan penuh dari papa Angel yang menyatukan tim hukum Amerika. dengan kepolisian tingkat tinggi di jakarta, pertahanan mereka kini tidak tertandingi.
Pada hari H pernikahan nanti, seluruh area steril lobi hingga altar utama akan dijaga ketat aparat kepolisian dan tim intelijen internasional.
Mereka semua akan menyamar sempurna. setelan jas formal layaknya tamu undangan VIP kelas atas, bersiap menjatuhkan skakmat mutlak bagi Haryanto tepat di hari bahagia Adrian dan Nala.