Sepasang kekasih yang terlihat baik-baik saja, pada akhirnya bisa berakhir juga. Ayra Grizelle mengakhiri hubungannya pada Bagas Cakra Wardana kekasihnya, di hari bahagia mereka yaitu saat wisuda. Keduanya tampak bahagia, tapi sayang seribu sayang Bagas mendengar ucapan Ayra bahwa wanita itu ingin mengakhiri hubungan mereka.
Bagas sangat terkejut dan tidak suka dengan keputusan Ayra secara sepihak yang menurutnya egois. Bahkan Bagas belum mengetahui penyebab Ayra memutuskan hubungan mereka.
Maka dari itu, Bagas bertekad untuk membuat Ayra kembali padanya sekaligus ingin mengetahui penyebab Ayra meninggalkan dirinya. Semua usaha Bagas untuk mendapatkan Ayra menjadi miliknya kembali haruslah dia tempuh dengan caranya sendiri. Setiap perjuangan bahkan ujian akan dia hadapi walau itu membuat dirinya kecewa. Tapi kalau jodoh pasti tak akan kemana. Bagas yakin jika Ayra memang jodohnya maka dia pasti akan bersatu dan kembali bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rati Tiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melihat Kamu lagi
Satu Minggu berlalu, kini Ayra dan Bagas mulai akur kembali. Janji Bagas pun sudah ditepati yaitu Bagas sekarang sudah tidak pernah membuat ulah lagi pada Ayra. Melihat perubahan sikap Bagas, akhirnya Ayra begitu nyaman kembali berada di dekat Bagas. Ya walaupun suka menggombal tipis-tipis. Tapi masih bisa dimaklumi. Toh namanya juga laki-laki.
Di kantor, Ayra sudah mulai terbiasa bekerja sebagai sekretaris nya Bagas. Mereka berdua bekerja profesional. Itu membuat Ayra semakin nyaman dengan tempat kerja yang baru ini. Terkadang pun Ayra bersyukur kembalinya ke tempat kota lahirnya sejak kecil. Dan sungguh baru dirasakan akhirnya penyesalan itu berubah menjadi rasa syukur.
Pertemuannya dengan Bagas kembali mungkin adalah salah satu hikmah yang sangat baik yang bisa diambil oleh Ayra. Bisa bertemu dengan ibu dan anak-anak panti yang paling utama dia syukuri. Dan juga bertemu dengan tante Rima rasanya cukup lega walaupun ada rasa was-was yang melanda. Takut jika Tante Rima tau asal usul Ayra.
"Ay, makan di luar yok? Udah siang nih," ajak Bagas pada Ayra yang nyatanya sudah berada di hadapannya.
"Astaga, ngagetin aja sih. Bentar, aku nyusun berkas ini dulu. Kamu tunggu aja di ruangan kamu," kata Ayra.
"Nggak mau ah, kelamaan. Aku disini aja nungguin kamu, lumayan sambil lihat sesuatu yang indah," ucap Bagas sambil senyum nyengir.
"Maksud kamu apa?" tanya Ayra menyelidik.
Ayra melepaskan sebelah sepatunya, lalu dia gantungkan keatas menggunakan tangan nya. Bagas yang melihat itu pun mengerti apa maksud Ayra melepaskan sepatunya. Bagas mulai ketakutan.
"Emm...mak-sud-nya yang indah itu...ini bunga mawar ini, indah sekali bukan?" ucap Bagas sambil menunjuk bunga mawar di meja atas dengan suara bergetar cemas.
"Heleh, bohong kamu, dasar genit. Keluar sana, nanti aku ke ruangan kamu kalau sudah selesai," ujar Ayra yang hendak melayangkan sepatunya ke arah Bagas.
"Ok, ok, ok...aku pergi, aku tunggu di ruangan ku!" ujar Bagas sambil melangkah cepat ke arah luar sambil sedikit teriak.
Ayra tersenyum mengembang, dia senang bisa jahil pada Bagas. Itu menjadi kebahagiaan tersendiri baginya.
*******
Malam hari, tepat di malam Minggu, entah mengapa Bagas ingin sekali mengajak Ayra pergi jalan dan makan diluar. Ya mungkin karena ingin meluangkan waktu yang telah lama hilang dahulu pada wanita pujaan hatinya, Ayra. Sampai-sampai Bagas mencari alasan untuk kerja lembur agar bisa berduaan dengan Ayra dan mengajaknya bermalam mingguan.
Setelah mereka makan malam, ada selintas dipikiran Bagas untuk mengajaknya ke rumah mama Rima terlebih dahulu. Karena lelaki itu sangat merindukan mamanya. Apalagi mama Rima berpesan jika mau kerumahnya, dia meminta untuk ajak Ayra. Maka dari itu Bagas ingin mengajak Ayra datang menemui mama Rima lagi.
"Ay, kita mampir ke rumah mama dulu ya. Aku ingin lihat keadaan mama. Nggak apa-apa kan, Ay? Mau kan?" tanya dan pinta Bagas dengan alasannya.
"Emm...kamu saja yang kesana Bagas, aku mau pulang saja, mau istirahat!" ujar Ayra yang beralasan.
"Tolong lah Ay, mama juga ingin kamu datang sama aku, mama suka sama kamu loh," ungkap Bagas.
"Kok bisa? Kamu nggak bilang kita ini pacaran, kan?" tanya Ayra menyelidik.
"Ya nggak lah, aku nggak seberani itu Ay. Jangan asal nuduh loh," kata Bagas mengingatkan Ayra.
"Lagian sih kamu selalu ngajak aku ke rumah mama kamu," ujar Ayra.
"Ya nggak masalah juga kan. Toh kalau kita berjodoh maka kamu akan jadi milikku, kok!" ujar Bagas.
"Kamu kalau ngomong jangan asal kayak gitu, aku nggak suka," kata Ayra.
"Lah apa yang salah? Bener kan? Jodoh itu ditangan Allah, kalau kita bersatu kembali itu semua sudah menjadi takdir," ucap Bagas menjelaskan seolah-olah Ayra tidak mengerti apa maksud Bagas.
"Nggak ada yang salah. Yang salah itu kamunya, banyak berharap dan menghayal," ujar Ayra.
"Berharap juga nggak apa-apa kali," timpal Bagas.
Ayra hanya diam, tidak ingin berdebat dengan Bagas. Kalau dibalas maka perdebatan akan semakin panjang dan itu akan menjadi tidak baik. Ujung-ujungnya akan bertengkar lagi, sangat membosankan.
"Ya udah, ayo masuklah mobil. Aku janji nggak akan lama di rumah mama," ucap Bagas meyakinkan.
Akhirnya Ayra masuk mobil dan Bagas pun mengendarai mobilnya sampai ke rumah orangtuanya.
"Assalamualaikum, Mama!" ucap Bagas saat bibi membuka pintu rumah.
"Wa'alaikumussalam, waduh Bagas kamu akhirnya datang Nak," ucap mama Rima dengan sangat bahagia.
"Eh ada Ayra juga, sini-sini ayo masuk, mama buat brownis coklat loh" kata mama Rima sambil menggandeng lengan Ayra melangkah ke arah ruang santai.
"Iya Tante," ucap Ayra tersenyum.
Sedangkan Bagas, dia manyun karena mama Rima lebih memilih Ayra yang digandeng oleh beliau. Tapi Bagas senang dan bahagia karena mamanya sangat menyukai Ayra. Dan Ayra pun bisa membuat suasana hari mamanya bahagia.
"Ini Ay, Tante buat brownis coklat tadi sore. Karena tau akan kedatangan kalian. Kamu suka brownis kan?" tanya mama Rima.
"Suka kok Tante," jawab Ayra.
"Mama, Ayra, aku ke kamar dulu ya," ucap Bagas pada dua wanita kecintaannya itu.
"Ya silahkan saja," ujar mama Rima santai sedangkan Ayra hanya diam.
Disela memakan brownis yang disediakan oleh mama Rima, tak hentinya mama Rima menelisik wajah Ayra, sesekali dia memakan brownis bersama Ayra, namun dia begitu pasat dengan wajah Ayra. Beliau ingat sekali bahwa dulu seseorang anak perempuan yang wajahnya mirip Ayra itu mempunyai tahi lalat di lengan kanannya. Maka dari itu, mama Rima tidak ingin berlama-lama penasaran terhadap apa yang diragukannya.
Diam-diam mama Rima melihat lengan kanan Ayra. Dan ternyata alangkah terkejutnya beliau bahwa yang dia yakini selama ini terjawab sudah. Ternyata Ayra mempunyai tahi lalat yang sama persis dengan anak perempuan yang dulu dekat dengannya dan hampir ingin menjadi anak angkatnya.
"Ella," ucap mama Rima bersuara sangat pelan.
"Kenapa Tante?" tanya Ayra yang sedikit mendengar mama Rima berkata sesuatu tapi Ayra tidak mendengarnya dengan jelas.
"Oh, tidak apa-apa. Makan lah yang banyak brownis nya. Kamu suka kan?" tanya mama Rima beralasan.
"Enak Tante," ujar Ayra.
"Ella, akhirnya Tante bisa melihat kamu lagi, sayang. Maafin Tante karena waktu itu Tante nggak bisa mengadopsi kamu karena Bagas," batin mama Rima terharu sekali.
Tak terasa malam pun sudah sangat larut, Bagas dan Ayra pamit untuk pulang. Mereka pun sudah berada diluar teras.
"Mama jaga kesehatan ya. Nanti Bagas sering-sering kesini," ucap Bagas.
"Ya harus dong, ini kan rumah kamu juga sayang," kata mama Rima.
"Tante, Ayra pamit pulang ya. Terimakasih untuk brownis nya enak banget buatan Tante," ucap Ayra tersenyum.
Mama Rima tersenyum pula, kemudian berjalan menuju Ayra dan memeluknya tiba-tiba. Sontak Ayra dan Bagas pun bingung dengan perlakuan mama Rima.
"Kamu baik-baik ya sayang. Jaga kesehatan kamu juga," ucap mama Rima, matanya berkaca-kaca tapi tak terlihat oleh Bagas dan Ayra.
"I-iya Tante, terima kasih atas kepedulian Tante," ujar Ayra sedikit gugup.
"Pelukan ini begitu nyaman dan aku sangat merindukan pelukan ini puluhan tahun lalu," batin Ayra yang menahan air matanya agar tak tumpah.
"Kenapa Mama memeluk Ayra seperti itu? Seperti Ayra adalah anak kandungnya saja," batin Bagas yang sangat bingung dengan perlakuan mamanya terhadap Ayra.
Bersambung....