Dua saudara berstatus kakak beradik tinggal bersama sejak usia remaja tanpa kedua orang tua. Karena kedua orang tuanya sudah bercerai dan memilih tinggal bersama keluarga baru masing-masing.
Hal itu membuat mereka harus berjuang untuk bertahan hidup, dan takdir mereka berubah ketika dewasa.
Namun, suatu ketika kedua orang tuanya memperebutkan anak kedua , di situlah kakak membela adiknya tidak membiarkan mereka mengambil adiknya.
Lalu, bagaimana mereka melalui masa-masa sulit?
Ikuti terus kisahnya dan dukung karya author,
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28.
Di sebuah apartemen mewah Salindra tertidur dalam keadaan terikat. Ia mulai mengerjapkan mata, pandangannya terlihat samar saat pertama kali matanya terbuka dengan sempurna melihat seorang pria duduk sambil merokok di sebuah balkon bersama seorang perempuan duduk di pangkuannya.
Salindra tidak melihat dengan jelas siapa mereka namun, suara perempuan itu tidak asing di telinganya. Saat menyadari pergerakan mereka, Salindra memejamkan mata kembali berpura-pura tidur.
Pria dan perempuan itu adalah Arbian dan Citra yang bekerja sama untuk menyingkirkan Salindra. Arbian berdiri di tepi tempat tidur sambil melihat Salindra dari atas sampai bawah, sedangkan Citra berdiri di sampingnya dengan tatapan benci.
“Apa rencana selanjutnya?" tanya Arbian melirik Citra.
“Aku ingin dia malu seumur hidupnya dan membuatnya menyesal karena sudah berani melawanku," jawab Citra dengan tatapan dingin.
Salindra mengepalkan tangannya dalam hatinya tidak menyangka jika mereka sudah bersekongkol. Dalam pikirannya Salindra memutar otak untuk melepaskan ikatannya dan melarikan diri dari tempat tersebut.
“Bagaimana kalau aku yang buat dia malu setidaknya ini adalah awal buat dia menyesal atas apa yang terjadi hari ini dan akan menjadi kenang-kenangan untuknya," kata Arbian tersenyum penuh makna.
Citra tidak setuju dengan ide Arbian, ia sudah rela menjadi pemuas nafsunya agar Arbian mau bekerjasama dengannya justru ingin membuat Salindra menyesal. Citra menahan amarah dan rasa cemburunya karena jujur saja dalam hatinya merasa iri dengan kecantikan Salindra. Ia tidak akan membiarkan Arbian melakukannya, Arbian hanya miliknya seorang.
"Aku tidak setuju jika kamu yang melakukannya, tapi aku akan membuat ide lain dan lebih seru," sahut Citra berlalu pergi meninggalkan kamar.
Arbian masih berdiri memperhatikan Salindra, saat melihat bentuk tubuh Salindra merasa ada sesuatu yang menarik dan penasaran. Ia mendekat dan duduk di samping Salindra sambil menyentuh merasakan bagaimana bentuk tubuh itu. Arbian merasa sesuatu di dalam tubuhnya bergerak aktif ketika menyentuh paha Salindra. Kepalanya berdenyut dan gejolak birahinya menuntun lebih.
Salindra merasakan sentuhan Arbian tubuhnya merinding dan hendak menolak tapi ia berusaha menahan karena ingin tahu apa yang mereka rencanakan. Di saat Arbian ingin melakukan hal terlarang kepada Salindra, pintu terbuka Citra berteriak memanggil Arbian.
“Arbiaaaaan,"
Sontak Arbian langsung beranjak dari tempat dan menjauhkan diri dengan wajah merah menahan malu yang luar biasa. Citra berjalan dengan langkah cepat mendekati Arbian dan tamparan mendarat di wajah pria tampan tersebut sangat keras.
"Lancang sekali kamu, Arbian. Kamu berani sekali menggunakan kesempatan. Sempit sekali cara berpikirmu, kalau tahu kamu begini lebih baik aku secepatnya cari orang lain," sewot Citra dengan napas memburu.
Arbian menatap nyalang Citra yang terbakar emosi tidak terima membalas dengan menampar Citra. Membuat perempuan itu melotot sangat tajam.
"Memangnya kenapa kalau aku yang menginginkan dia daripada kamu, kamu itu hanya modal cantik tapi licik dan bodoh," sindir Arbian meninggalkan kamar dengan langkah lebar.
Citra menghentakkan kakinya melihat tubuh Arbian menghilang di balik pintu, sambil menggerutu. Pandangannya beralih pada Salindra.
Citra menghubungi seseorang datang ke apartemennya. Selang kurang satu jam datanglah dua orang pria masuk ke apartemennya. Citra menyambut mereka dengan senyum senang.
"Silahkan masuk, dia ada di dalam," perintah Citra menunjuk sebuah kamar.
...----------------...
Jayanti dan Hezel mencari petunjuk di berbagai tempat bahkan sampai di perusahaan tempat Salindra bekerja. Mereka bertanya kepada Sekuriti yang sedang bekerja, mengenai Salindra.
"Maaf, apakah Bapak melihat Salindra pulang sore kemarin?" tanya Hezel.
"Saya tidak melihat Nona Salindra keluar," jawabnya sambil berpikir.
"Coba saja tanya sama teman satu Divisi, siapa tahu mereka mengetahui keberadaan Nona Salindra," kata Sekuriti.
"Terimakasih, atas informasinya. Kalau begitu saya permisi," sahut Jayanti berpamitan.
Jayanti dan Hezel bertanya dengan beberapa karyawan Divisi. Tapi, tak satupun yang tahu keberadaan Salindra, membuat Jayanti merasa frustasi.
"Tunggu_“
"Bukankah ini ponsel milik Salindra dan ini ada beberapa barang yang ditinggalkan Salindra. Tapi, kok aku merasa ada yang aneh di sini_" ucap Agil memperhatikan tempat kerja Salindra dengan cermat.
Semua karyawan mendekati tempat kerja Salindra, melihat keadaannya sangat berantakan bahkan ada yang jatuh, itu adalah lembaran kertas kerja yang dibuat oleh Salindra kemarin.
Jayanti dan Hezel mengambil barang milik Salindra dan memeriksa ponselnya. Ia membuka chat benar saja banyak panggilan dan notifikasi masuk tidak terjawab juga tanpa balasan.
Yang menjadi pertanyaan adalah di mana Salindra saat ini dan bersama siapa?
Semua orang saling berpikir mencari jawabannya. Pikiran mereka tertuju pada satu meja kosong yang terlihat rapih, tempat itu adalah milik Citra. Mereka semua saling pandang dan mengangguk paham. Namun, beda dengan Jayanti dan Hezel karena tidak mengenal Citra.
"Aku yakin pasti ada sangkut pautnya dengan Citra," kata Dila.
Semua orang menoleh ke arah Dila, dan Dila mengangguk yakin. Jayanti mengerutkan alisnya penasaran bertanya kepada Dila.
"Siapa Citra dan apa hubungannya dengan Salindra?" tanya Jayanti jantungnya berdegup sangat cepat, merasa sedang terjadi sesuatu pada adik satu-satunya.
"Ya tuhan, lindungilah adikku di manapun ia berada, jangan sampai orang melakukan hal biadap padanya," Jayanti berdoa dalam hati sambil berderai airmata.
"Ruang Cctv," celetuk Hezel.
Idenya di setujui oleh semua karyawan Divisi. "Dimana letak ruang Cctv?"
“Ada di lantai empat," sahut Agil dengan cepat.
“Tunggu! kalian harus minta ijin Direktur Haikal, lebih dulu," kata Dila.
Hezel dan Jayanti segera menuju Ruang Direktur dengan naik lift khusus Direktur. Semua karyawan melihat mereka berdua merasa kagum dengan keberaniannya. Di sisi lain ada yang merasa terpesona dengan Hezel tanpa berkedip hingga orangnya menghilang dari pandangannya.
“Kakak ipar Salindra ganteng banget," ucap Sita membayangkan wajah Hezel.
"Kamu jangan berani deketin suami orang kalau tidak mau kena labrak kakaknya Salindra." Dila memperingatkan.
“Siapa yang mau deketin suaminya kakak iparnya Salindra, aku cuma suka doang, emangnya salah ya..." sewot Sita berlalu pergi ke meja kerjanya.
Para karyawan membubarkan diri menuju meja kerjanya masing-masing dengan pikiran bertanya-tanya. Apa yang terjadi pada Salindra dan kenapa Citra juga tidak masuk kerja? Apakah ini ada kaitannya dengan masalah mereka berdua selama ini?
Berbagai pertanyaan dalam benak mereka akhirnya membuat mereka kehilangan fokus sampai menggerutu kesal karena harus mengulang lagi pekerjaan mereka.
Di ruang Direktur Jayanti dan Hezel membicarakan tentang menghilangnya Salindra. Haikal menatap mereka dengan serius, selama ini ia tidak begitu mengenal semua karyawannya dan tidak memperhatikan kalau ada masalah di perusahaannya.
"Maaf Pak Haikal, kami minta ijin untuk melihat cctv di perusahaan berdasarkan feeling kami, kami mempunyai kejanggalan terhadap adik kami bernama Salindra. Sejak kemarin adik kami belum pulang dan kami menemukan barangnya masih ada di meja kerjanya. Kami curiga telah terjadi sesuatu kepada adik kami," jelas Hezel dengan wajah serius.
“Saya turut sedih atas kejadian yang menimpa adik kalian, silahkan jika membantu memudahkan pencarian adik kalian!" ucap Haikal.
"Terimakasih, Pak Haikal. Kalau begitu kami permisi," sahut Hezel.
Mereka berdua pamit keluar menuju ruang pemantau cctv di lantai empat, mereka turun menggunakan lift. Sampai di lantai empat mereka bertemu dengan petugas yang sedang duduk di dalam ruang pemantau.
"Maaf permisi, kami sudah mendapat ijin dari atasan anda untuk melihat hasil rekaman cctv, kami ingin melihat kejadian kemarin tentang adik kami bernama Salindra," ucap Hezel kepada Petugas.
"Silahkan, Pak, Bu!" Petugas itu mempersilahkan Hezel dan Jayanti melihat rekaman kemarin.
Mereka bertiga melihat semua ruangan yang ada di kantor, begitu masuk ke ruangan Divisi mereka memperhatikan Salindra saat bekerja. Benar saja Salindra sedang berbicara dengan salah satu temannya dia adalah Citra, sedang berdebat.
Tidak lama kemudian datang dua pria membawa Salindra keluar menuju jalan belakang. Hezel mengepalkan tangannya sangat kuat, matanya memanas melihat adegan saat membawa Salindra dengan sangat kasar masuk ke dalam mobil.
"Stop!" perintah Hezel saat melihat nomor plat mobil tersebut.