Alya Mahendra, gadis kota yang harus menjalani KKN di Desa Sukamaju, sebuah desa pelosok yang jauh dari kehidupan nyamannya. Karena tingkahnya yang sering mengeluh dan tak terbiasa hidup sederhana, teman-temannya mulai menjulukinya “Nona Kota.”
Di tengah hari-hari KKN yang penuh tantangan, ada Arga Pratama, cowok dingin dan kaku yang diam-diam sering membantu Alya meski wajahnya selalu terlihat tak peduli. Namun saat konflik mulai muncul di posko, mampukah Alya bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28.
Keesokan paginya, mereka kembali dibuat tercengang oleh penampilan Alya.
Jika biasanya Alya tampil santai, kali ini ia benar-benar terlihat seperti orang yang siap turun ke lapangan.
Ia mengenakan celana kodok yang kedua talinya dikaitkan di bahu, dipadukan dengan kaus putih berlengan panjang. Rambutnya dikuncir rapi, sementara sepasang sepatu boots sudah terpasang di kakinya.
Di atas kepalanya masih bertengger topi koboi berwarna cokelat.
Meski berpakaian sederhana, penampilannya tetap terlihat cantik.
Adrian langsung bersiul pelan.
“Wih… nona kota kita kayaknya beneran siap tempur buat kerja bakti.”
Dion ikut mengangguk sambil tertawa.
“Iya, lihat aja. Sampai pakai sepatu boots segala.”
Belum selesai mereka menggoda, Kevin kembali menimpali.
“Topi koboinya juga jangan dilupain.”
“Waduh… lengkap banget.”
Mendengar itu, bukannya malu, Alya malah tersenyum bangga.
“Ya iyalah, Namanya juga harus siap.”
Jawabannya kembali mengundang tawa teman-temannya.
Bahkan Arga yang sedang berdiri di dekat pintu sempat melirik sekilas ke arah Alya sebelum kembali mengalihkan pandangannya.
Setelah semua siap, mereka pun berjalan bersama menuju balai Desa Sukamaju untuk mengikuti kegiatan kerja bakti bersama warga.
Udara pagi masih terasa sejuk saat rombongan KKN berjalan menuju balai Desa Sukamaju.
Di sepanjang jalan, warga yang berpapasan tak lupa menyapa mereka dengan ramah.
“Pagi, Nak!”
“Pagi, Bu...”
“Pagi, Pak...”
jawab mereka bergantian sAmbil terus melangkah.
Begitu tiba di balai desa, suasana sudah cukup ramai. Beberapa warga membawa cangkul, sapu lidi, parang, hingga gerobak dorong.
Anak-anak karang taruna juga sudah berkumpul sejak tadi.
“Pagi semuanya!” sapa Fajar sambil melambaikan tangan.
“Pagi, Kak,” jawab mereka serempak.
Tak lama kemudian Pak Arya datang membawa pengeras suara.
“Baik, semuanya.”
“Terima kasih sudah hadir pagi ini.”
“Hari ini kita akan kerja bakti membersihkan lingkungan sekitar balai desa, jalan utama, dan lapangan.”
“Semoga kegiatan ini bisa membuat lingkungan desa kita semakin bersih dan nyaman.”
“Aamiin,” sahut beberapa warga.
Setelah pengarahan selesai, warga mulai mengambil peralatan masing-masing.
Fajar kemudian membagi kelompok kerja.
“Kelompok pertama bersihkan halaman balai desa.”
“Kelompok kedua ke jalan utama.”
“Kelompok ketiga ke lapangan.”
“Mahasiswa KKN nanti dibagi ke setiap kelompok supaya bisa membantu warga.”
Arga mengangguk memahami pembagian tersebut.
“Baik, Kak.”
Saat semua mulai bergerak menuju kelompoknya masing-masing, seorang ibu paruh baya memperhatikan Alya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Ibu itu tersenyum geli.
“Nak Alya…”
“Iya, Bu?”
“Kok hari ini beda banget?”
Alya menatap dirinya sendiri.
“Bedanya di mana ya, Bu?”
Ibu itu tertawa kecil.
“kemarin kayak turis, Sekarang malah kayak mandor kebun.”
Ucapan itu langsung disambut gelak tawa warga dan teman-teman KKN.
“Hahaha...”
“Nah kan!”
“Naik level lagi, Al,” goda Dion.
Alya hanya menggaruk pipinya sambil ikut tertawa malu.
“Yang penting siap kerja, Bu.”
“Bukan siap foto-foto.”
Jawaban polosnya membuat tawa kembali pecah.
Bahkan Pak Arya sampai menggelengkan kepala sambil tersenyum.
“Kalau semangatnya begini, mudah-mudahan kerjanya juga semangat.”
“Iya, Pak!” jawab Alya mantap.
Melihat ekspresi antusias Alya, Arga tanpa sadar tersenyum tipis.
Hari itu sepertinya akan menjadi hari yang melelahkan.
Namun, melihat semangat Alya yang begitu besar, suasana kerja bakti terasa jauh lebih menyenangkan.
Setelah semua kelompok terbagi, warga dan mahasiswa KKN langsung menuju lokasi masing-masing.
Alya satu kelompok dengan Arga, Laura, Dion, Adrian, nadia, serta beberapa anggota karang taruna.
Tugas mereka adalah membersihkan taman kecil di samping balai desa dan memangkas rumput liar yang sudah mulai meninggi.
“Yang pegang sabit hati-hati, ya,” pesan Fajar.
“Iya, Kak,” jawab mereka bersamaan.
Alya memperhatikan peralatan yang ada di depannya.
Ada cangkul, sapu lidi, pengki, karung, hingga sabit.
Ia menelan ludah pelan.
“Ar...”
Alya mendekati Arga.
“Kalau aku... enaknya ngerjain apa?”
Arga melirik peralatan di depannya, lalu menatap Alya.
“Kamu sapu daun-daun kering aja, Habis itu kumpulin ke karung.”
Alya mengangguk semangat.
“Siap!”
Alya langsung mengambil sapu lidi dan mulai membersihkan daun-daun kering di sekitar taman.
Awalnya gerakannya masih terlihat canggung karena belum terbiasa, tetapi sedikit demi sedikit ia mulai menemukan ritmenya sendiri.
Beberapa warga yang melihat kesungguhannya hanya tersenyum.
“Nak Alya ternyata rajin juga.”
“Iya, Bu,” jawab Alya sambil terus menyapu.
“Kan lagi belajar.”
Tak jauh dari sana, Dion dan Adrian sedang mencabuti rumput liar.
“Buset...Rumputnya banyak banget.”
“Ini rumput apa hutan mini?” keluh Dion.
Adrian tertawa.
“Makanya jangan ngeluh terus.”
“Cepat cabutin.”
“Kalau capek tukeran sama rumputnya.”
“Enak aja,” balas Dion sambil tertawa.
Suasana kerja bakti dipenuhi obrolan dan canda.
Sesekali terdengar suara tawa warga yang ikut menikmati kebersamaan pagi itu.
Di sisi lain, Alya yang terlalu bersemangat menyapu tanpa sadar mundur beberapa langkah.
Bruukk!
Tubuhnya hampir terjatuh karena tumit sepatu boots-nya tersangkut akar pohon.
Untung saja...
Seseorang dengan sigap meraih lengannya.
“Hati-hati.”
Suara datar itu begitu familiar.
Alya menoleh.
Arga masih memegang lengannya agar ia tidak jatuh.
“A-ah... makasih.”
“Lihat jalannya.”
“Iya.”
Arga kemudian melepaskan pegangannya dan kembali bekerja seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun kejadian itu tidak luput dari perhatian Dion.
Dion langsung menyenggol Adrian pelan.
“Lihat tuh.”
“Lagi-lagi pahlawan datang.”
Adrian menahan tawanya.
“Udah nggak heran gue.”
Sementara itu, Laura yang melihat kejadian tersebut dari kejauhan hanya menggenggam sapu lebih erat.
Tatapan Laura kembali jatuh ke arah Alya yang sedang bekerja bersama warga. Senyum di wajahnya perlahan memudar.
Semakin lama, ia semakin sulit menyembunyikan rasa iri yang terus tumbuh di dalam hatinya.
Sedangkan Alya...
Ia kembali menyapu dengan pipi yang sedikit memerah, berharap tidak ada lagi yang memperhatikan kejadian barusan.
Laura yang sejak tadi membersihkan sisi lain taman tanpa sadar menghentikan gerakan sapunya.
Tatapannya tertuju pada Arga yang baru saja membantu Alya.
Lagi.
Selalu begitu.
Setiap kali Alya terlihat kesulitan, Arga pasti menjadi orang pertama yang bergerak.
Laura menggigit bibir bawahnya pelan.
Di sampingnya, Nadia ikut melihat ke arah yang sama.
“Tuh, kan.”
“Makanya gue bilang apa.”
“Kalau lo cuma diam, Arga bakal makin dekat sama Alya.”
Laura mengepalkan gagang sapunya.
“Padahal Alya bisa berdiri sendiri.”
“Kenapa harus dibantu terus?”
Nadia mengangkat bahu.
“Cowok itu kalau udah perhatian sama seseorang, hal kecil juga bakal dibantu.”
“Makanya lo jangan kalah sebelum mulai.”
Laura terdiam.
Beberapa detik kemudian, ia sengaja berjalan menghampiri tempat Arga yang sedang mengangkut karung berisi daun kering.
“Arga.”
Cowok itu menoleh sekilas.
“Iya?”
“Karungnya berat ya?”
“Biar aku bantu.”
“Gak usah.”
“Masih bisa.”
Jawaban Arga tetap datar.
Tanpa menunggu Laura membalas, ia kembali berjalan membawa karung itu menuju tempat pembuangan.
Laura mematung.
Wajahnya tetap tersenyum tipis, tetapi jemarinya menggenggam sapu semakin erat.
Tak jauh dari sana, Alya sama sekali tidak memperhatikan kejadian itu.
Ia masih sibuk menyapu sambil sesekali berbincang dengan beberapa ibu-ibu desa yang mengajarinya cara mengumpulkan daun lebih cepat.
“Nah, begitu, Nak.”
“Daunnya disapu ke satu arah dulu.”
“Iya, Bu.”
“Terima kasih.”
Melihat Alya yang dengan mudah akrab dengan warga, rasa sesak di dada Laura kembali muncul.
Kenapa...
Setiap kali Alya datang...
Perhatian orang-orang selalu berpindah kepadanya?
Entah itu warga desa.
Teman-teman KKN.
Bahkan Arga.
Laura menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya.
Namun jauh di dalam hatinya, mulai tumbuh sebuah tekad.
Ia tidak ingin terus menjadi orang yang hanya melihat dari kejauhan.
Kalau Alya bisa mendapatkan perhatian semua orang...
Maka ia akan mencari cara agar perhatian Arga kembali tertuju padanya.