NovelToon NovelToon
DURI YANG TERSEMBUNYI

DURI YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Meindah88

Aluna Anna harus menelan kenyataan pahit ketika ibunya, Yusi, memaksanya mengakhiri rencana pernikahan dengan pria yang sangat dicintainya, seorang dokter muda bernama Alvaro Alexander. Di balik keputusan itu tersimpan keinginan Yusi yang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan putrinya sendiri: ia ingin Alvaro menikahi Elizabets, adik Anna yang hidup dengan keterbatasan fisik, dengan harapan sang dokter dapat merawat dan membantu kesembuhannya.

Keputusan tersebut menghancurkan hati Anna dan Alvaro. Cinta yang telah mereka bangun harus dikorbankan demi tuntutan keluarga dan rasa tanggung jawab. Di tengah luka dan air mata, Anna berusaha menerima nasib yang tidak pernah ia pilih, sementara Alvaro terjebak antara cinta sejatinya dan kewajiban yang dipaksakan kepadanya.
Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mudah dipisahkan oleh keadaan. Mampukah Anna dan Alvaro memperjuangkan kebahagiaan mereka, atau akankah mereka selamanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meindah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 26

Alvaro kembali bekerja seperti biasanya. Pagi itu, ia sudah tiba di rumah sakit sebelum matahari benar-benar meninggi. Jas dokter putih yang melekat di tubuhnya kembali menjadi simbol profesionalisme yang selama ini ia junjung. Senyum tipis ia berikan kepada setiap perawat dan rekan kerja yang menyapanya, seolah tak ada beban yang sedang mengusik pikirannya. Hanya dia yang tahu apa yang terjadi pada dirinya. Semenjak pertemuannya dengan Anna

"Selamat pagi, Dok Alvaro," sapa seorang perawat.

"Pagi...Bagaimana kondisi pasien di ruang ICU?" tanyanya sambil menerima berkas laporan.

"Sudah stabil, Dok. Tapi pasien di ruang 205 masih mengeluhkan nyeri hebat."

Alvaro mengangguk pelan. Tanpa membuang waktu, ia langsung melakukan visite dari satu ruang ke ruang lainnya. Dengan penuh ketelitian, ia memeriksa kondisi setiap pasien, mendengarkan keluhan mereka, lalu memberikan penjelasan yang menenangkan. Sikapnya yang ramah membuat para pasien merasa lebih tenang meski sedang berjuang melawan penyakit.

Namun, di balik ketenangannya, pikiran Alvaro sesekali melayang pada Eliz. Pertengkaran mereka beberapa hari lalu masih membekas di benaknya. Selain itu, Anna adalah masalah terbesarnya. Gadis itu berusaha menghindar dan bahkan menjauhinya. Ia menghela napas pelan sebelum kembali memusatkan perhatian pada pekerjaannya.

Menjelang siang, setelah menyelesaikan operasi yang berlangsung hampir tiga jam, Alvaro keluar dari ruang bedah dengan wajah lelah. Keringat masih membasahi pelipisnya ketika seorang dokter senior menghampiri.

"Operasinya berjalan lancar, Al. Kerja bagus."

"Terima kasih, Dok," jawab Alvaro sambil tersenyum tipis.

Saat hendak menuju ruangannya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat dikenalnya.

"Kamu habis ketemu mantanmu?" Sebuah pesan masuk yang membuat tangan Alvaro menggenggam erat ponselnya.

"Aku tidak punya waktu buat perempuan sepertimu," balasnya dingin. Hati Eliz perih, bukannya dibujuk, Alvaro malah semakin menunjukkan sikap dinginnya.

"Nanti kita akan terikat janji suci, suka atau tidak, kamu harus punya waktu untukku." Pesan Eliz hanya dibaca oleh Alvaro tanpa sedikit pun niat membalas.

Hari itu Alvaro benar-benar menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan. Sejak pagi, ia sudah berdiri di ruang praktik dengan jas dokter yang masih rapi, sementara antrean pasien terus mengular tanpa henti. Wajahnya tampak tenang, tetapi sorot matanya menyimpan kegelisahan yang tak mampu ia sembunyikan.

Beberapa kali ponsel di saku jasnya bergetar.

Namun, Alvaro hanya melirik sekilas sebelum kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia memilih mengabaikannya.

Bagi Alvaro, bekerja adalah satu-satunya cara agar pikirannya tidak dipenuhi bayang-bayang yang terus menghantuinya. Selama ia sibuk memeriksa pasien, menulis resep, dan mendengarkan keluhan mereka, hatinya terasa sedikit lebih tenang.

"Dok, saya sudah tiga hari demam," ujar seorang pasien.

Alvaro tersenyum tipis. Dengan penuh perhatian, ia memeriksa kondisi pasien tersebut, mengajukan beberapa pertanyaan, lalu memberikan penjelasan mengenai pengobatan yang harus dijalani. Sikap profesionalnya membuat siapa pun tak akan menyangka bahwa di balik ketenangan itu, hatinya sedang dilanda badai.

Belum sempat ia merapikan berkas pemeriksaan, ponselnya kembali berdering.

Kali ini lebih lama.

Tangannya hampir saja meraih benda itu, tetapi ia mengurungkan niatnya. Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang, lalu kembali memanggil pasien berikutnya.

"Silakan masuk."

Jam demi jam berlalu. Ruang praktik tak pernah benar-benar sepi. Rekan-rekan dokter bahkan mulai heran melihat Alvaro yang tidak beristirahat sedikit pun.

"Dok Alvaro, istirahat dulu. Dari pagi belum makan, kan?" tanya salah seorang perawat dengan nada khawatir.

Alvaro menggeleng pelan.

"Nanti saja. Masih banyak pasien yang menunggu."

Perawat itu hanya mengangguk, meski dalam hati merasa ada yang berbeda dari dokter yang biasanya ramah dan mudah tersenyum itu.

Sore mulai menjelang. Langit di luar jendela berubah jingga, sementara ponsel Alvaro kembali bergetar.

Tiga panggilan tak terjawab.

Kemudian sebuah pesan singkat masuk.

"Angkat...papa ingin bicara. Penting.

Tatapan Alvaro terpaku pada kalimat itu. Jantungnya berdegup lebih cepat. Untuk beberapa saat, ia hanya diam menatap layar, seolah sedang berperang dengan dirinya sendiri.

Jari-jarinya perlahan bergerak, hampir menekan tombol balas.

Namun akhirnya ia menghela napas panjang, mengunci layar ponselnya, lalu meletakkannya di atas meja.

"Aku belum siap..." gumamnya lirih.

Ia kembali mengenakan stetoskop yang sedari tadi menggantung di lehernya. Dengan senyum tipis yang dipaksakan, Alvaro membuka pintu ruang praktik.

"Pasien berikutnya, silakan masuk."

Ia memilih kembali menjadi dokter yang menyembuhkan orang lain, meski luka di dalam hatinya sendiri masih belum menemukan obatnya.

***

Ruang kerja yang dipenuhi aroma obat-obatan itu mendadak terasa sunyi. Sinar matahari sore menembus celah tirai, memantulkan cahaya hangat di atas meja kerja. Di balik meja itu, Denis duduk dengan kedua tangan bertaut, menatap tajam putranya.

Sementara Alvaro berdiri tegak di hadapannya. Jas dokter yang masih melekat di tubuhnya menjadi bukti bahwa ia baru saja pulang dari rumah sakit. Raut wajahnya lelah, tetapi sorot matanya tetap dingin dan penuh ketegasan.

"Aku belum siap, Pa," ucap Alvaro pelan, namun suaranya mantap.

Denis menghela napas panjang. 

"Belum siap? Sampai kapan?"

Alvaro menundukkan kepala sesaat sebelum kembali menatap ayahnya. 

"Aku masih punya banyak hal yang ingin kukejar."

"Kenapa?" tanya Denis dengan nada mulai meninggi.

 "Apa kamu masih menunggu Anna? Dia sudah bahagia dengan hidupnya."

Nama itu membuat dada Alvaro berdenyut sesaat. Ekspresinya kembali datar, seolah nama itu tak membuatnya terluka.

"Tidak ada kaitannya dengan Anna," jawabnya tenang. 

"Aku hanya ingin mengejar karierku. Aku ingin melanjutkan pendidikan, menjadi dokter spesialis, bahkan jika memungkinkan menjadi konsultan. Itu impianku sejak dulu."

Denis terkekeh pelan. Tawanya terdengar tipis, namun sarat sindiran.

"Karier? Jabatan?" katanya sambil bersandar di kursi. 

"Kenapa baru sekarang kamu antusias mengejar karir? Dulu kami ingin sekali menikah.

Alvaro mengepalkan kedua tangannya. Ia tahu ayahnya selalu menganggap menikah dengan Eliz adalah sebuah penyelamat bagi perusahaannya. Namun baginya, hidup tidak sesederhana itu.

" Kenapa kalian begitu membenci Anna? Apakah Anna bukan anak kandung Tante Yusi?

Kalimat itu membuat Denis terdiam. Wajahnya menegang.

"Kamu menyindir Ayah?"

"Aku hanya belajar dari apa yang kulihat."

Ruangan kembali diselimuti keheningan. Jam dinding berdetak pelan, seolah menghitung setiap detik yang dipenuhi ketegangan.

Denis bangkit dari kursinya, lalu berjalan mendekati Alvaro hingga jarak mereka hanya beberapa langkah.

"Sebagai ayah, aku hanya ingin melihatmu bahagia."

Alvaro tersenyum tipis. Senyum yang lebih menyerupai kepedihan daripada kebahagiaan.

"Versi bahagia Ayah belum tentu sama dengan versiku."

Tatapan keduanya saling bertemu. Tak ada yang mau mengalah.

Denis akhirnya mengembuskan napas berat.

"Baiklah. Kalau itu keputusanmu, Ayah tidak akan memaksamu... untuk saat ini."

Alvaro mengangguk hormat.

"Terima kasih, Pa."

Ia berbalik meninggalkan ruang kerja. Namun baru beberapa langkah, suara Denis kembali menghentikannya.

" Eliz mencintaimu dengan tulus, Papa berharap kamu tidak menyia-nyiakan perasaannya.

Langkah Alvaro terhenti. Kalimat itu menghantam sisi hatinya yang selama ini ia kunci rapat.

Tanpa menoleh, ia kembali melangkah keluar.

1
Novi Tasa
ceritany bgus
Meindah88: Terimakasih..🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!