BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎
Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.
Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Sabotase di Subuh Buta
Dunia belum sepenuhnya terbangun saat jarum jam baru menunjukkan pukul 03.30 subuh. Kabut tipis masih menyelimuti jalanan aspal Jakarta yang sepi, dan udara dingin menusuk hingga ke tulang. Di dalam ruang kerja eksekutif, Rani baru saja memejamkan matanya selama kurang dari tiga puluh menit di atas sofa, dengan jas milik Riko yang tersampir hangat menyelimuti tubuhnya.
Bzzzz! Bzzzz! Bzzzz!
Suara getaran keras dari ponsel Riko yang terletak di atas meja kaca seketika memecah kesunyian. Riko, yang memang hanya tertidur ayam di kursi kerjanya, langsung menyambar ponsel tersebut dalam satu gerakan refleks yang cepat. Begitu melihat nama kepala armada lapangan—Yadi—tertera di layar, firasat buruk Riko langsung terbukti.
Riko menggeser tombol hijau. "Ya, Yadi. Bagaimana situasi di lapangan?"
"P-Pak Riko! Darurat, Pak!" Suara Yadi di seberang telepon terdengar sangat panik, terengah-engah dengan latar belakang suara riuh kegaduhan dan benturan besi yang samar. "Dua truk gardu depan kita dicegat di pintu keluar jalur sekunder menuju Cikarang, Pak! Ada tiga mobil minibus hitam yang sengaja memblokang jalan, dan belasan orang membawa balok kayu serta senjata tajam memaksa supir-supir kita turun! Mereka mengancam akan membakar armada kalau kita nekat lewat!"
Rahang Riko seketika mengencang sempurna. Mata elangnya berkilat dingin, memancarkan aura membunuh yang sangat pekat. "Siapa mereka? Apa mereka menyebutkan nama?"
"M-mereka tidak bilang, Pak! Tapi salah satu dari mereka sempat berteriak kalau kawasan ini adalah wilayah kekuasaan konsorsium Hendra! Kami harus bagaimana, Pak?!"
"Tahan posisi kalian, jangan ada yang turun dari truk atau melakukan tindakan gegabah! Kunci semua pintu! Aku ke sana sekarang!" perintah Riko tegas, lalu langsung mematikan sambungan telepon.
Suara percakapan telepon yang tegang itu rupanya telah membuat Rani terbangun sepenuhnya. Dia terduduk di sofa, menatap Riko dengan wajah yang sarat akan kekhawatiran. "Ada apa, Riko? Apa orang-orang Hendra melakukan sabotase?"
"Ya. Mereka mengepung dua truk gardu depan di gerbang jalur sekunder," jawab Riko sembari menyambar jaket kulit hitamnya dari gantungan. "Hendra tahu rute ini adalah satu-satunya urat nadi penyelamat proyekmu. Dia mencoba memotongnya sebelum armada kita sempat masuk ke kawasan industri."
Riko menoleh menatap Rani, suaranya kembali melunak namun penuh dengan ketegasan seorang pria sejati. "Kamu tetap di sini, Rani. Ini urusan lapangan yang berbahaya. Biar aku yang selesaikan bersama tim keamananku."
Rani melompat bangun dari sofa, melepaskan jas Riko yang menyelimutinya, lalu menyambar tasnya dalam satu gerakan tanpa ragu. "Tidak! Aku ikut!"
Riko mengernyitkan alisnya, menahan langkah Rani. "Rani, di sana ada belasan preman bersenjata. Ini bukan ruang rapat!"
Rani mendongak, menantang tatapan mata Riko dengan sorot mata Alpha Woman-nya yang kembali menyala berkobar. "Dan aku adalah pemilik Rani Group, Riko! Aset yang mereka coba hancurkan adalah masa depan perusahaanku, dan armada yang mereka cegat adalah milik suamiku! Aku tidak akan duduk diam bersembunyi di ruangan ber-AC ini sementara kamu mempertaruhkan nyawamu di luar sana. Kita hadapi ini bersama, seperti yang kita katakan semalam!"
Mendengar kalimat "milik suamiku" dan komitmen tegas dari Rani, Riko tertegun selama satu detik, sebelum akhirnya sebuah senyuman bangga terukir tipis di bibirnya. "Baiklah. Ikut di belakangku, dan jangan pernah lepas dari jangkauan pandanganku."
Dua puluh menit kemudian, mobil SUV hitam milik Riko membelah jalanan lingkar luar dengan kecepatan tinggi, sebelum akhirnya mengerem mendadak di sebuah persimpangan jalan berbatu yang menjadi pintu masuk jalur sekunder Cikarang.
Pemandangan di depan mereka tampak begitu kacau. Dua buah truk kontainer besar milik Pratama Corp terhenti di tengah jalan dengan lampu hazard yang berkedip cepat. Di depan truk tersebut, tiga mobil minibus hitam melintang menutup jalan, dikelilingi oleh belasan pria berbadan kekar dengan jaket hitam yang sedang memukul-mukul badan truk menggunakan balok kayu. Suasana subuh yang gelap itu hanya diterangi oleh lampu sorot truk dan beberapa obor yang mereka bawa.
"Riko..." bisik Rani, tangannya tanpa sadar mencengkeram lengan jaket kulit Riko saat melihat situasi yang begitu intimidatif.
"Tetap di dalam mobil, kunci pintu dari dalam," perintah Riko lirih. Dia melepaskan sabuk pengamannya, mengambil sebuah besi kunci roda berukuran panjang dari bawah jok kemudi.
"Tapi Riko, jumlah mereka terlalu banyak—"
"Aku bilang, tetap di dalam mobil, Rani," potong Riko, suaranya terdengar begitu mutlak dan dalam, memberikan rasa aman yang aneh di tengah kepanikan. "Percayalah padaku. Elang tidak akan membiarkan sarangnya diacak-acak oleh segerombolan anjing liar."
Riko membuka pintu mobil, melangkah turun ke atas tanah berdebu subuh itu. Kehadirannya langsung menyita perhatian belasan preman tersebut. Pemimpin preman—seorang pria bertato naga di lehernya dengan sebilah parang di tangan kanan—melangkah maju dengan senyuman meremehkan.
"Oh, lihat siapa yang datang. Sang mantan bos besar yang sudah bangkrut," ejek si tato naga, meludahkan ludahnya ke tanah. "Riko Pratama. Bos Hendra sudah memberi peringatan, jalur ini tertutup untuk semua armada milikmu. Kalau kamu tidak mau pulang tinggal nama, bawa truk-truk rongsokanmu ini pergi dari sini!"
Riko terus berjalan mendekat dengan langkah yang santai namun sarat akan ketegangan yang mematikan. Dia memutar-mutar besi kunci roda di tangan kanannya, matanya menatap dingin ke arah pemimpin preman tersebut tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Aku akan memberimu dua pilihan," suara berat Riko menggema memecah kesunyian subuh. "Pilihan pertama, kamu dan orang-orangmu masuk kembali ke dalam mobil kalian, pergi dari jalurku, dan katakan pada Hendra bahwa trik murahannya tidak berlaku di depanku."
Si tato naga tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh anak buahnya. "Lalu apa pilihan keduanya, Bos?!"
Riko menghentikan langkahnya, hanya berjarak tiga meter dari sang pemimpin. Sorot mata elangnya berkilat berbahaya di bawah temaram cahaya lampu sorot. "Pilihan kedua... aku sendiri yang akan menyeret kalian semua keluar dari jalur ini dengan patah tulang."
"Sialan! Habisi dia!" teriak si tato naga murka.
Tiga orang preman terdekat langsung merangsek maju, mengayunkan balok kayu mereka ke arah kepala Riko. Namun, Riko bukanlah pria manja yang hanya tahu meja kantor; sebelum jatuh bangkrut, dia adalah seorang praktisi bela diri taktis yang terlatih.
Dengan refleks kilat, Riko merunduk menghindari ayunan balok pertama, lalu dalam satu gerakan memutar yang bertenaga, dia mengayunkan besi kunci rodanya tepat mengenai tulang kering preman pertama hingga terdengar bunyi krek yang keras. Pria itu langsung tumbang mengerang kesakitan.
Tanpa membuang momentum, Riko membalikkan tubuhnya, menangkap pergelangan tangan preman kedua yang mencoba menusuknya, memuntirnya hingga senjatanya terjatuh, lalu menghantamkan sikut kekarnya tepat ke arah rahang pria tersebut hingga pingsan seketika.
Dari dalam mobil, Rani menyaksikan seluruh aksi pertarungan itu dengan napas yang tertahan di tenggorokannya. Jantungnya berdegup begitu kencang—bukan hanya karena takut, melainkan karena rasa takjub yang luar biasa melihat bagaimana cara Riko bertarung. Pria itu tampak begitu dominan, begitu gagah, dan begitu mematikan saat melindungi aset dan harga diri mereka. Monolog batin Rani berteriak egois, menyadari bahwa sosok Riko di matanya malam ini telah menjelma menjadi seorang pelindung sejati yang tidak akan pernah membiarkannya terluka.
Melihat tiga anak buahnya tumbang dalam waktu kurang dari satu menit, si tato naga menjadi gelap mata. Dia berlari maju, mengayunkan parangnya secara membabi buta ke arah dada Riko.
Riko melangkah mundur satu tapak untuk mengukur jarak. Saat parang itu terayun meleset di depannya, Riko maju dengan kecepatan penuh, menepis lengan pria itu menggunakan besi di tangannya, lalu melepaskan satu pukulan jagoan tangan kirinya tepat menghantam telak di ulu hati sang pemimpin preman.
Bugh!
Si tato naga terbatuk darah, lututnya seketika lemas dan dia tersungkur di atas tanah, tidak mampu lagi untuk bangkit. Sisa preman yang lain langsung mundur teratur dengan wajah pucat pasi, melihat pemimpin mereka ditumbangkan dengan begitu mudah oleh satu orang pria.
Riko berdiri tegak di tengah jalan, napasnya memburu pelan dengan keringat yang membasahi pelipisnya. Dia melemparkan besi kunci rodanya ke tanah, lalu menatap tajam ke arah sisa preman yang masih berdiri ragu.
"Bawa pemimpin kalian dan pergi dari sini sekarang juga sebelum aku kehilangan kesabaranku!" gertak Riko dengan suara yang menggelegar bak petir di subuh buta.
Tanpa menunggu perintah dua kali, para preman itu langsung membopong tubuh pemimpin mereka, melompat ke dalam minibus hitam, dan memacu mobil mereka mundur melarikan diri dari lokasi kejadian, meninggalkan kepulan asap debu yang perlahan menipis.
Suasana kembali sunyi. Jalur sekunder kini telah bersih dan aman.
Rani segera membuka pintu mobil, berlari keluar mengabaikan udara dingin subuh dan sepatu hak tingginya yang menghentak tanah berbatu. Dia menghampiri Riko yang sedang memeriksa kondisi supir truknya yang ketakutan.
"Riko! Kamu terluka?!" seru Rani panik, matanya langsung memindai seluruh tubuh Riko, mencari apakah ada bekas darah atau luka sayatan parang.
Riko membalikkan tubuhnya menatap Rani. Melihat gurat kepanikan dan kekhawatiran yang begitu tulus di wajah cantik istrinya, seluruh rasa lelah dan sisa amarah Riko menguap begitu saja. Dia tersenyum tipis, lalu dengan lembut memegang kedua bahu Rani untuk menenangkannya.
"Aku tidak apa-apa, Rani. Tidak ada satu pun luka," bisik Riko lembut, ibu jarinya mengusap pipi Rani yang dingin karena angin subuh. "Jalur kita sudah aman. Armada kita bisa bergerak sekarang."
Rani menatap mata elang Riko yang kini kembali memancarkan kehangatan khusus hanya untuknya. Rasa lega yang luar biasa membuncah di dadanya, mengalahkan seluruh ego dan gengsi Alpha Woman-nya yang selama ini dia pertahankan. Tanpa memikirkan tempat atau situasi lagi, Rani maju satu langkah, lalu melingkarkan kedua lengan rampingnya di sekeliling leher Riko, memeluk tubuh tegap pria itu dengan sangat erat di bawah langit subuh yang perlahan mulai menyemburkan cahaya fajar pertamanya.
Riko sempat tertegun sesaat, sebelum akhirnya dia membalas pelukan hangat Rani, mendekap tubuh ramping istrinya erat-erat ke dalam dada bidangnya, menyalurkan rasa aman yang mutlak di antara deru mesin truk yang siap bergerak membawa mereka menuju kemenangan bisnis pertama mereka.
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄