NovelToon NovelToon
CINCIN PESUGIHAN

CINCIN PESUGIHAN

Status: tamat
Genre:Misteri / Iblis / Kutukan / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Membeli rumah tua di pinggiran kota dengan harga murah adalah impian yang jadi kenyataan bagi Ferdi dan Selfi. Di rumah inilah mereka berencana menyambut kelahiran anak pertama mereka yang kandungannya sudah menginjak usia sembilan bulan. Bersama Siska, adik ipar Selfi yang seorang mahasiswi, mereka mulai menata kehidupan baru.
​Semua terasa sempurna, sampai suatu hari Selfi membersihkan sebuah lemari rias kuno yang ditinggalkan di kamar utama. Di dalam laci tersembunyi, dia menemukan sebuah cincin permata yang sangat indah. Terpikat oleh pesonanya, Selfi mencoba cincin itu. Namun anehnya, setelah terpasang di jari, cincin itu mendadak mencengkeram erat dan tidak bisa dilepas lagi.
​Sejak hari itu, suasana rumah berubah drastis.
​Pak Cahyo, tetangga sebelah yang misterius, sering menatap rumah mereka dengan cemas dan memberi peringatan aneh bahwa rumah itu menyimpan masa lalu yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 21

Beratt tubuh bayi Doni yang menekan dada Siska terasa semakin menyiksa. Setiap kali makhluk berlendir itu bernapas, hawa sedingin es keluar dari mulut keriputnya, membuat paru-paru Siska terasa seperti membeku. Siska sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk meronta. Kedua tangannya yang kotor oleh lumpur terkulai lemas di atas tanah hitam hutan bambu.

​Di dalam benaknya, Siska sudah memasrahkan dirinya. Dia bersiap menyusul Mas Ferdi dan Mbak Selfi ke alam baka. Mulut kecil bayi iblis itu semakin terbuka lebar, memperlihatkan deretan gigi tajam berlumuran darah yang kini perlahan bergerak turun, siap mengoyak kulit dada Siska.

​DORRR!

​Sebuah suara tembakan yang sangat keras mendadak menggema, memecah kesunyian di tengah rimbunnya hutan bambu tua itu.

​Peluru itu memang tidak mengenai tubuh bayi Doni, tetapi kilatan cahaya dan suara ledakan yang dahsyat di dekatnya berhasil mengejutkan makhluk tersebut. Bayi Doni mendesis nyaring penuh amarah. Dia terpaksa melompat turun dari dada Siska, bergulingan di atas tanah berlumpur, lalu menatap tajam ke arah datangnya suara.

​Dari balik kegelapan deretan batang bambu, seorang laki-laki muda berlari terengah-engah dengan wajah yang dipenuhi keringat. Di tangan kanannya, dia memegang sebuah pistol dinas yang masih mengeluarkan asap tipis. Laki-laki itu mengenakan kemeja rapi yang kini sudah kotor oleh daun-daun kering, dan di kantong kemejanya terselip sebuah lencana perak.

​Dia adalah Letnan tian, polisi muda yang beberapa hari ini ditugaskan untuk menyelidiki kasus kematian tragis Mbak Selfi.

​"Pergi dari gadis itu, makhluk keparat!" teriak Letnan Tian dengan suara lantang yang bergetar antara amarah dan rasa tidak percaya atas apa yang baru saja dilihat oleh mata kepalanya sendiri.

​Melihat ada manusia lain yang datang membawa senjata api, bayi Doni mengeluarkan suara geraman rendah yang sangat serak. Lendir di tubuh keriputnya tampak bergolak aneh. Namun, karena hari masih siang dan kekuatan cahayanya terhalang oleh kedatangan Tian, makhluk berkaki patah itu memilih untuk mundur. Dengan gerakan menyeret yang sangat cepat, dia melesat hilang ke dalam pekatnya semak-semak bambu yang gelap.

​Srek... srek... srek... Suara seretan itu perlahan menghilang di kejauhan.

​Letnan Tian tidak berani mengejar makhluk mengerikan itu. Dia segera memasukkan pistolnya ke dalam sarung di pinggang, lalu berlutut di samping Siska yang sudah hampir tidak sadarkan diri.

​"Neng Siska! Neng, sadar! Kamu bisa dengar suara saya?" panggil Letnan Tian dengan panik. Dia membantu Siska untuk duduk, menepuk-nepuk pelan pipi gadis itu yang sudah seputih kertas dan penuh noda lumpur.

​Siska tersedak, oksigen langsung berebut masuk ke dalam tenggorokannya yang perih saat beban berat di dadanya hilang. Dengan pandangan mata yang masih kabur oleh air mata, dia menatap wajah tegas di hadapannya. "Pak... Polisi?" bisik Siska lemah.

​"Iya, saya Letnan Tian. Kita harus keluar dari sini sekarang juga," kata Tian tegas. Dia memapah tubuh lemas Siska, membantu gadis itu berdiri meskipun kedua kaki Siska masih gemetar hebat seperti mau copot.

​Sambil berjalan terhuyung-huyung, Siska menoleh ke belakang, ke arah jasad Mas Ferdi yang terbaring kaku di tengah hutan bambu. "Mas Ferdi... Mas Ferdi di sana, Pak... Dia sudah meninggal..." ratap Siska dengan tangisan yang kembali pecah.

​Wajah Letnan Tian mengeras, ada kilatan rasa bersalah dan penyesalan yang mendalam di matanya. "Saya minta maaf, Neng... Saya benar-benar minta maaf karena gagal menolong kakakmu," ucap Tian dengan suara yang mendadak melunak penuh penyesalan.

​Siska menatap Tian dengan pandangan bertanya-tanya di sela isak tangisnya. "Kenapa... kenapa Bapak bisa ada di sini?"

​Sambil terus memapah Siska berjalan menembus barisan pohon bambu yang rapat, Letnan Tian mulai bercerita dengan kata-kata yang sederhana agar mudah dipahami oleh Siska yang masih dalam kondisi syok berat.

​"Sejak kasus kematian kakak iparmu tiga hari lalu, saya merasa ada banyak kejanggalan dalam penyelidikan ini. Naluri saya sebagai polisi mengatakan ada sesuatu yang kalian sembunyikan. Oleh karena itu, sejak kalian pindah ke hotel melati, saya diam-diam terus mengawasi gerak-gerik kalian dari dalam mobil dinas saya di seberang jalan," cerita Tian dengan napas yang memburu.

​"Lalu, apa yang terjadi tadi siang, Pak?" tanya Siska lirih.

​"Tadi siang, saya melihat kakakmu keluar dari hotel dengan kondisi yang sangat aneh. Jalannya kaku seperti robot, dan matanya melotot kosong. Saya langsung tahu ada yang tidak beres. Saya turun dari mobil dan mulai membuntuti kalian berdua secara diam-diam saat kakakmu berjalan menyeberang menuju hutan bambu ini," lanjut Tian.

​Tian menghentikan langkahnya sejenak, memandangi sekeliling mereka dengan dahi yang berkerut penuh kebingungan. "Tapi... begitu saya melangkah masuk ke dalam area pohon bambu ini untuk menyusul kalian, sesuatu yang gila terjadi."

​"Maksud Bapak?"

​"Jalan yang saya lalui terasa hanya berputar-putar di situ saja, Neng," bisik Letnan Tian dengan bulu kuduk yang mendadak berdiri. "Setiap kali saya berjalan lurus mengikuti arah teriakanmu, beberapa menit kemudian saya justru kembali ke tempat semula, di dekat batang bambu besar yang ada bekas goresan ini. Saya seperti dikurung di dalam sebuah jalan gaib yang tidak punya jalan keluar."

​Tian mengepalkan tangannya dengan geram. "Saya bisa mendengar jeritan kakakmu yang kesakitan, saya juga bisa mendengar teriakan histerismu yang meminta tolong. Saya berlari sekencang-kencangnya, memotong dahan-dahan bambu ini dengan kalap, tetapi jalan di depan saya seolah-olah terus bergeser dan mempermainkan saya. Itu sebabnya saya terlambat... Saya terjebak di tempat yang sama selama hampir setengah jam, sampai akhirnya kekuatan gaib itu melemah dan saya baru bisa menembus jalan ke tempatmu ini."

​Siska terdiam mendengar penjelasan Letnan Tian. Dia kini paham bahwa bayi Doni—atau iblis pesugihan itu—sengaja menciptakan dinding pembatas gaib agar tidak ada manusia lain yang bisa mengganggu ritual pembantaian darah dagingnya. Letnan Tian yang merupakan seorang manusia biasa dengan pikiran logis telah diputarbalikkan akal sehat dan pandangannya oleh kekuatan kutukan tersebut.

​"Tempat ini sudah tidak aman, Pak. Makhluk itu... Doni... dia bukan lagi bayi biasa. Dia adalah iblis yang lahir dari kutukan pesugihan rumah itu," kata Siska dengan tubuh yang kembali bergetar karena mengingat wajah keriput dan berlendir milik keponakannya.

​Letnan Tian menatap Siska dengan tatapan mata yang sangat serius. Sebagai seorang polisi muda yang dididik dengan logika, pemandangan bayi berlendir bermata merah yang menyerang Siska tadi sudah cukup untuk menghancurkan seluruh logika berpikirnya. Dia tidak lagi menganggap Siska gila. Apa yang terjadi di rumah nomor 14 dan di dalam hutan bambu ini adalah sebuah kenyataan mistis yang teramat sangat mengerikan.

​"Saya percaya padamu, Neng Siska. Saya melihat sendiri bagaimana rupa makhluk itu tadi," kata Letnan Tian sambil mempererat pegangan pada bahu Siska. "Sekarang, fokus utama kita adalah keluar dari hutan terkutuk ini sebelum malam tiba dan makhluk itu kembali mendatangkan kekuatannya."

​Mereka berdua kembali berjalan dengan tergesa-gesa. Berkat pengaruh kekuatan bayi Doni yang sedang mundur, labirin gaib yang sebelumnya menjebak Letnan Tian kini telah runtuh sepenuhnya. Beberapa menit kemudian, seberkas cahaya matahari siang yang terik akhirnya kembali terlihat di ujung jalan setapak.

​Begitu mereka berhasil keluar dari rimbunnya hutan bambu dan menginjakkan kaki di atas trotoar jalan raya yang ramai, Siska langsung jatuh terduduk di atas semen dengan perasaan yang campur aduk antara lega dan hancur. Suasana bising dari klakson kendaraan seolah menariknya kembali ke dunia nyata yang normal, setelah beberapa saat lalu berada di ambang neraka jahanam.

​Letnan Tian berdiri di samping Siska sambil mengatur napasnya yang tidak teratur. Dia memandangi pakaian dinasnya yang kini kotor penuh lumpur, lalu menatap kembali ke arah kegelapan hutan bambu di seberang jalan, tempat jasad Ferdi masih tertinggal.

​"Neng Siska," panggil Letnan Tian sambil berlutut di hadapan gadis itu agar posisi mereka sejajar. "Secara hukum, saya harus melaporkan kejadian ini dan memanggil tim pengidentifikasi untuk mengevakuasi jasad kakakmu. Tetapi secara pribadi... saya berjanji kepada kamu, sebagai seorang petugas, saya tidak akan membiarkan kasus ini ditutup begitu saja dengan alasan yang tidak masuk akal. Saya akan membantu kamu menghadapi teror ini sampai selesai."

​Siska mendongak, menatap mata Letnan Tian yang memancarkan ketegasan dan perlindungan seorang aparat. Di tengah hilangnya seluruh anggota keluarganya, kehadiran polisi muda ini menjadi satu-satunya sandaran bagi Siska untuk terus melanjutkan hidup dan mengakhiri lingkaran kutukan pesugihan darah yang mengerikan itu.

1
andhig Rosdiana
terima kasih udah meninggalkan jejak like dan koment .jangan lupa mampir di karya aku berikutnya BISIKAN LUKISAN BERDARAH ,🤗
Musliha yunos
ceritanya ok cuma kayak gantung end nya..
andhig Rosdiana: siap kak .. terimakasih atas dukungan nya 🙏
total 4 replies
Mega Arum
mampir kak
andhig Rosdiana: mksh udah mampir ... terima kasih atas dukungan nya🤗
total 1 replies
andhig Rosdiana
yuk jangan lupa di like dan komentar nya ya suy ...🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!