Di hari pernikahannya, seharusnya Leticia menikahi pria yang dicintainya, bukan pria yang terkenal memiliki sifat begitu kejam dan menyeramkan.
Dan Leticia baru menyadari, kalau semua ini permainan dari Ibu dan adik kembarnya yang sejak awal sudah memaksanya untuk memakai penutup mata saat pernikahan berlangsung.
Leticia harus menikahi calon suami sang adik kembar, dan adiknya… Leila menikahi pria yang sangat dicintai oleh Leticia.
Awalnya Letcia ingin mengajukan surat perceraian kepada Maximillan, tetapi pria itu tidak mau dan memaksanya untuk tetap mempertahankan pernikahan yang dari awal sudah salah.
Dan Leticia baru tahu kalau suaminya adalah seorang mafia kejam yang sangat posesif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Jackson berlari keluar rumah, tetapi ia tidak melihat Tobert yang sudah melarikan diri.
“Brengsek! Dia mencuri semua perhiasan Savanya! Aku tidak akan melepaskanmu!” Jackson segera melaporkan perampokan ini kepada pihak berwajib.
Setelah selesai, ia kembali masuk dan mengentut pintu kamar Betty.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Betty keluar dari kamarnya dengan wajah yang masih mengantuk.
“Ada yang bisa bantu, Tuan?” Tanya Betty yang sebenarnya sudah mendengar suara teriakan Jackson, tetapi ia berpura-pura tidur.
“Sejak tadi kau tidur? Apa kau tidak tahu kalau Tobert mencuri semua perhiasan istriku?” Marah Jackson.
Bettty berpura-pura terkejut, sampai menutup mulanya. “Saya tidak tahu, Tuan. Saya baru saja bangun, karena Tuan membangunkan saya.”
Jackson menahan geramannya, di rumah ini hanya ada Tobert dan Betty yang memang sudah tidur sejak tadi. Semuanya sudah Jackson pecat dan hanya menyisakan dua orang yang menurutnya sangat penting untuk menjaga, dan membersihkan mah ini.
“Kau di sini dan tungggu polisi datang! Aku akan pergi ke rumah Tobert dan nanti kau menyusul ke sana bersama polisi!” Titah Jackson, sebelum kembali keluar dari rumahnya.
Betty menahan tawanya sampai suara mobil Jackson benar-benar hilang. Setelah itu, ia tertawa sangat puas.
“Suruh siapa jadi orang tua sangat jahat, sekarang kau kebingungan dan orang dipercaya ternyata maling,” kekeh Betty yang memang selalu menyumpahi Jackson, karena selama berada di rumah ini… Betty selalu mendengar Jackson menjelek-jelekkan Leticia.
“Hampir satu bulan di sini, akhirnya sebentar lagi aku akan bebas dan menjadi pelayan pribadi Nona Leticia yang sangat manis.”
Betty tidak sabar untuk kembali bekerja di Mansion milik Max dan melayani Leticia yang kini sudah menjadi nyonya di dalam Mansion tersebut.
“Aku lupa memberitahu Tuan Max tentang kegaduhan di sini,” wanita paruh baya itu segera mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Max.
...***...
Max baru menyelesaikan sebagian pekerjaannya yang dibawa ke Mansion, sebab ia akan pergi ke markas dan melihat barang yang sudah datang untuk dijual lagi lusa.
“Dia tidur begitu nyenyak,” Max menatap wajah lelap istrinya.
Pria itu melirik ponselnya yang baru saja menyala, ternyata ada pesan masuk dari Betty dan ia segera membukanya.
“Belum apa-apa, mereka sudah kacau?” Kekeh Max yang merasa cukup terhibur membaca pesan dari Betty.
Pria itu mematikan ponselnya, lalu bersiap-siap mengganti pakian untuk pergi ke markas. Di depan sudah ada Kai yang menunggu, jadi Max harus segera berangkat… agar pulangnya tidak sampai Leticia bangun.
“Aku ingn menciumnya, tapi nanti dia akan terbangun,” gumam Max yang baru keluar dari walk-in closet.
Pria itu bergegas keluar dari kamarnya, karena kalau lama-lama di dalam sana… nanti ia bisa kelepasan mencium Leticia dan membuat perempuan itu terbangun seperti tadi di balkon.
Di bawah, Mabel sudah menunggu Max turun dari lift. Setiap biasanya, Mabel selalu menyiapkan senjata untuk Max bawa ke markas.
Ting!
Lift terbuka dan Max keluar dari benda kotak tersebut. Mabel langsung menyodorkan pistol dan pisau lipat kepada pria itu.
“Jaga Leticia dan pastikan dia tidak curiga ke mana aku pergi!” Pesan Max yang diangguki oleh wanita paruh baya itu.
Setelah Max tidak terlihat lagi, Mabel mengangkat kepalanya dan menghembuskan napas dengan kasar.
“Tapi cepat atau lambat, Nona Leticia pasti akan curiga dan mulai mencari tahu siapa Tuan Max sebenarnya. Bagaimana reaksi Nona Leticia nanti, kalau tahu suaminya adalah orang yang lebih menakutkan?” Gumam Mabel yang berharap kalau Leticia bisa menerima sisi gelap dari Max.
“Mereka adalah pasangan yang cocok, jadi jangan pisahkan mereka… Tuhan.”
Mabel mendoakan keduanya agar terus bersama.
Di lantai empat, tepatnya di kamar utama. Leticia tampak membuka matanya, ia baru saja mendapatkan mimpi buruk yang sangat mengerikan.
“Padahal cuma mimpi, tapi kenapa tanganku masih gemetaran?” Perempuan itu menatap tangannya yang masih gemetar.
Di dalam mimpinya, ia melihat Max membunuh keluarga Morana dengan sadis. Bahkan pria itu juga memisahkan kepala mereka dan menggantungnya di depan gerbang.
“Itu hanya mimpi,” Leticia mengatur napasnya yang memburu.
Perempuan itu mencoba menenangkan dirinya dan mencoba untuk melupakan mimpi buruk yang menyeramkan itu.
“Ini sudah jam berapa?” Leticia melirik ke arah jam, ternyata pukul setengah satu malam.
“Kak Max masih belum selesai ya?” Perempuan itu merubah posisinya menjadi duduk.
Ia melihat ke arah meja kerja Max yang ternyata sudah kosong. Padahal tadi sebelum tidur, pria itu masih ada di sana da menyelesaikan pekerjaannya.
“Ke mana perginya Kak Max? Apa ada di balkon untuk mencari angin segar?” Leticia beranjak turun dari tempat tidur.
Kakinya melangkah menuju pintu balkon yang ternyata terkunci, jadi Max tidak mungkin ada di sana.
“Kak Max?” Perempuan itu mencoba memanggil suaminya.
Namun tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi maupun walk-in closet. Jadi, Leticia memutuskan untuk keluar dari kamar utama dan mencari ke kamar sebelah.
Baru saja Leticia keluar dari kamar utama, ia sudah dibuat terkejut oleh sosok Mabel yang ternyata berdiri di depan pintu.
“Nona membutuhkan sesuatu?” Tanya Mabel yang juga sama terkejut saat melihat Leticia keluar dari kamar di tengah malam begini.
“Kak Max ke mana? Apa dia ada di kamar sebelah?” Tanya perempuan itu.
Mabel tersenyum,, agar tidak menimbulkan rasa curiga dari Leticia.
“Tuan Max tadi bilang mau ke kantor, karena ada dokumen yang tertinggal. Baru saja Tuan Max pergi,” jawab Mabel yang begitu lancar berbohongnya.
“Kenapa Kak Max tidak mengatakannya kepadaku?” Heran Leticia yang membuat senyuman Mabel semakin merekah.
“Karena Nona Leticia tidur begitu nyenyak dan Tuan Max tidak tega untuk membangunkan Nona,” jelas Mabel yang terdengar begitu masuk akal.
“Ya sudah kalau begitu aku mau tidur lagi,” Leticia menguap kecil, karena ia masih mengantuk.
“Baik Nona, selamat beristirahat…”
“Oh, tapi kenapa Bi Mabel bisa berdiri di sini?” Tanya Leticia yang memotong ucapan sang kepala pelayan.
Perempuan itu hanya merasa aneh, karena jam segini Mabel masih belum tidur dan malah berdiri di depan pintu kamar utama.
“Kebetulan saya ingin memastikan keadaan Nona, karena Tuan Max berpesan kepada saya untuk menjaga Nona. Ternyata Nona terbangun,” jelas Mabel.
“Aku baik-baik saja. Bi Mabel bisa kembali beristirahat!” Kata Leticia, sebelum menutup pintu utama.
Mabel menghembuskan napas lega, karena Leticia mempercayainya.
Di dalam kamar, Leticia sebenarnya merasa sedikit curiga dengan Mabel. Sebab wanita paruh baya itu tidak mau menatap matanya, seperti biasanya saat mereka mengobrol.
“Apa benar, Kak Max pergi ke kantor?”
Bersambung!
🌹🌹🌹☺️