Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pacar Yang Perhitungan
Cahaya mentari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden tipis yang tak sepenuhnya tertutup. Ruangan sederhana itu perlahan dipenuhi kilau hangat, membuat sosok gadis di balik selimut tipis menggeliat resah.
Ia mengerjap pelan, mengangkat tangan untuk menutupi wajahnya dari cahaya yang menyilaukan mata.
Dengan malas, Kinara meraba nakas di sisi ranjang, mencari ponsel yang semalam ia letakkan di sana. Begitu layar menyala, matanya sontak membesar.
“Astagaaa!” Serunya kaget. “Jam segini?! Sial! Jangan sampai terlambat ke kantor.”
Ia bangkit tergesa, hampir tersandung ujung selimut. Tanpa banyak pikir, ia bersiap secepat mungkin.
Rambut hitam panjangnya hanya dikuncir seadanya, wajahnya nyaris polos tanpa riasan, namun kecantikan alaminya tetap memancar. Dengan langkah terburu, ia memasukkan beberapa berkas ke dalam tas kerja.
“Jam, tas, handphone, berkas, kunci motor… oke, udah semua.” Gumamnya sambil menghela napas, mencoba memastikan tak ada yang tertinggal.
Namun tepat saat tangannya meraih gagang pintu, suara berat itu terdengar.
“Kinara!”
Langkahnya terhenti. Bahunya menegang. Ia menutup mata sejenak, berusaha menahan rasa kesal yang mendesak keluar. Perlahan ia menoleh, menatap ayahnya yang berdiri di ruang tengah dengan wajah keras.
“Apa lagi, Pa? Kalau Papa manggil cuma buat bahas masalah tadi malam, jawaban aku masih sama. Aku nggak mau!” Suaranya tegas, meski jantungnya berdegup cepat.
“Mau nggak mau, suka atau nggak suka, kamu harus nurut perintah Papa.” Arbian Bramasta melangkah mendekat, sorot matanya dingin. “Atau…”
“Atau apa, Pa? Papa mau ngusir aku dari rumah ini?” Kinara menantang, meski hatinya bergetar.
Wajah sang ayah mengeras. “Papa kasih kamu pilihan. Kamu punya waktu tiga hari. Kalau kamu bisa dapetin uang sepuluh miliar untuk bantu perusahaan Papa, Papa nggak akan maksa kamu menikah sama Arman. Tapi kalau kamu gagal, mau nggak mau kamu harus nurut sama Papa!”
Kinara membeku. Sepuluh miliar? Angka itu bahkan mustahil ia bayangkan.
“Pa… kita masih punya rumah ini. Kenapa nggak dijual aja? Uangnya pasti lebih dari cukup, kan?”
Namun ayahnya menggeleng keras. “Rumah ini merupakan salah satu tanda keberhasilan Papa dalam membangun perusahaan. Papa nggak akan pernah jual! Sudah saatnya kamu balas budi. Papa yang membesarkanmu, ngasih makan, ngasih pendidikan. Sekarang giliran kamu berkorban!”
Kinara tersenyum miris. “Apa gunanya semua itu, Pa… kalau dari dulu aku nggak pernah ngerasain kasih sayang Papa?”
Ucapan itu menghantam hati Arbian. Ia terdiam, wajahnya mematung. Entah karena tersadar atau karena tak tahu harus menjawab apa.
Tanpa menunggu reaksi, Kinara melangkah keluar. Ia menyalakan motor tua yang setia menemaninya sejak kuliah, lalu melaju kencang meninggalkan rumah, berusaha menekan rasa sesak yang menumpuk di dadanya.
Setibanya di kantor, ia sedikit bersyukur karena datang tepat waktu. Kinara meletakkan tas di atas meja kerjanya, lalu menghela napas panjang. Namun kepalanya masih dipenuhi ucapan sang Papa.
“Sepuluh miliar… dari mana aku bisa dapat uang sebanyak itu?” Bisiknya getir.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Bayu Minoto muncul di layar. Hati Kinara sempat lega. Bayu adalah kekasihnya sejak kuliah, pria keturunan campuran yang kini bekerja di perusahaan keluarganya sendiri. Mungkin, inilah jalan keluarnya.
“Halo, sayang. Kamu udah di kantor?” Suara Bayu terdengar hangat di seberang, membuat dada Kinara sedikit lega.
“Udah…” jawab Kinara pelan. Ada jeda, seakan ia ragu untuk melanjutkan. “Eh, Bayu… aku mau minta tolong. Kamu bisa bantu aku, nggak?”
“Tentu, sayang. Apa aja buat kamu.” Sahut Bayu tanpa ragu.
Kinara menggigit bibir bawahnya, hatinya berdegup cepat. “Kamu… ada uang sepuluh miliar?” Tanyanya lirih, seolah kata-kata itu terasa asing bahkan di telinganya sendiri.
Hening. Hanya terdengar suara napas Bayu yang tiba-tiba terdengar berat. “Hah? A-ada sih… tapi itu tabungan aku, Kinara.”
Air mata yang tadi pagi berhasil ia tahan, kini mulai menggenang. “Aku boleh pinjam, Bayu? Aku janji… aku akan balikin semuanya. Aku mohon…” Suaranya bergetar, hampir patah.
Di seberang, Bayu menarik napas panjang, terdengar bimbang. “Sayang…” ucapnya akhirnya. “Bukan aku nggak mau. Tapi… uang itu cukup banyak, Kinara. Aku takut kamu nggak bisa balikin. Kalau sampai begitu, aku yang rugi. Kamu ngerti, kan?”
Seolah seluruh dunia runtuh menimpa bahunya, Kinara terdiam. Dadanya terasa sesak. Ia menutup matanya rapat-rapat, menahan isak yang nyaris pecah. Harapannya yang sempat membuncah, kini hancur berkeping-keping oleh jawaban orang yang paling ia percaya.
“Oh… gitu ya.” Ucapnya pelan, berusaha menahan kecewa. “Yaudah, aku ada rapat dulu. Nanti aku hubungi lagi.”
Segera ia memutus sambungan. Tangannya gemetar. Bahkan orang yang paling dekat dengannya pun tak bisa ia andalkan saat ini
Hari ini memang ada rapat besar, dipimpin langsung oleh CEO yang selama ini hanya jadi legenda di perusahaan.
Renald Dirgantara.
Nama itu begitu terkenal. Pewaris sekaligus pemimpin Merta Dirga, perusahaan konstruksi raksasa dengan tingkat keberhasilan proyek nyaris sempurna.
Selama sepuluh tahun terakhir, ia lebih banyak tinggal di luar negeri, membesarkan bisnis di negara Papanya. Baru kali ini ia kembali ke tanah kelahiran ibunya. Kehadirannya membuat heboh.
Semua karyawan bersemangat, terutama para wanita. Bagaimana tidak? Renald tak hanya sukses, tapi juga berwajah rupawan, sering menghiasi majalah bisnis internasional.
Kinara, sayangnya, tak punya tenaga untuk ikut berdebar. Pikirannya hanya dipenuhi angka sepuluh miliar.
Rapat dimulai. Semua mata tertuju ke layar presentasi, kecuali satu orang: Kinara. Ia melamun, pandangannya kosong.
Tiba-tiba—
“BRAKK!”
Pukulan keras di meja membuat ruangan bergetar. Semua orang sontak menoleh. Tatapan tajam Renald Dirgantara tertuju padanya.
“Kau tahu apa kesalahanmu?” Suaranya dalam, dingin.
Kinara terperanjat. “Ma… maaf?”
“Saya paling benci karyawan yang tak fokus dalam rapat.”
“Maaaf, Pak. Saya tidak akan mengulanginya lagi.”
Renald hanya menatapnya sejenak, lalu kembali memimpin rapat. Kinara menunduk, wajahnya memanas karena malu.
Selesai rapat, Kinara kembali ke ruangannya dengan langkah gontai. Ia duduk, menatap kosong layar komputer.
“Kinara…” Sebuah tepukan ringan di bahunya membuatnya tersadar.
Itu Gisella, rekan kerja sekaligus sahabat terdekatnya. Hampir semua masalah hidup Kinara selalu ia bagi pada Gisella. Namun kali ini, ia masih ragu.
“Kamu kenapa sih? Dari pagi aku lihat kamu murung. Waktu rapat tadi juga, kayaknya jiwa kamu lagi nggak ada di tempat.”
Kinara akhirnya tak kuasa menahan semuanya. Ia menceritakan segalanya—ultimatum ayahnya, penolakan Bayu, juga kebuntuannya sekarang.
"Sinting juga Papa kamu itu ya!" Umpat Gisella dengan menggebu. "Bisa-bisanya anak sendiri di korbanin!"
Ia menatap Kinara dengan tatapan iba, seolah juga ikut merasa sedih dengan nasib yang dialami sahabatnya itu.
Ia ingin membantu, tapi cukup tahu diri. Gaji yang diperoleh dari bekerja di perusahaan itu memang lebih dari kata cukup untuk kebutuhan sehari-hari mereka, tapi jelas jika bekerja seumur hidup pun belum tentu bisa dikumpulkan sebanyak itu.
“Kinara… aku nggak bisa bantu materi. Tapi, di perusahaan ini ada fasilitas pinjaman, kan? Katanya bisa sampai jumlah besar juga, apa kamu nggak mau coba?"
Kinara teringat sekilas tentang aturan itu. “Iya… tapi apa aku bisa langsung ajukan? Prosesnya gimana ya?”
“Nanti waktu istirahat makan siang, ayo kita ke HRD. Kita coba dulu, siapa tahu bisa. Nggak ada salahnya mencoba kan.”
Kinara menatap sahabatnya dengan mata berkaca-kaca. “Makasih ya, Gisel. Kamu udah mau dengerin curhatan aku aja, aku lega.”
Namun ada sesuatu yang tak mereka ketahui. Pinjaman itu memang nyata, tapi syarat tersembunyinya jauh lebih berbahaya. Syarat yang hanya diketahui oleh orang-orang dekat CEO, syarat yang tak pernah ditulis di kontrak resmi.
Dan tanpa sadar, langkah Kinara untuk bertahan hidup akan menyeretnya masuk ke dalam permainan berisiko tinggi, permainan yang melibatkan Renald Dirgantara sendir.
Sepanjang sisa jam kerja, Kinara tak bisa fokus. Bayangan wajah Papanya, angka sepuluh miliar, dan sosok Arman—pria tua yang menjijikkan terus menghantui. Ia tahu, waktu berjalan cepat. Tiga hari bukanlah waktu panjang.
Sesekali ia menatap meja kerjanya yang penuh berkas. Semua terasa hampa. Ia bekerja keras selama ini, tapi kini semua bisa lenyap hanya karena utang Papanya.
“Ya Tuhan… aku harus gimana?” Bisiknya lirih.
Ia menggenggam erat ponselnya. Bayu sudah ia coret dari daftar harapan. Satu-satunya jalan hanyalah pinjaman perusahaan. Tapi… hatinya tak tenang. Ada firasat buruk, seakan jalan itu bukan solusi, melainkan awal dari masalah yang lebih besar.
Namun ia tak punya pilihan lain. Demi kebebasannya, demi menolak pernikahan paksa dengan Arman, ia harus berani mengambil risiko.
Kinara menutup matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam. Hari ini, ia akan melangkah ke HRD. Hari ini, ia akan mengetuk pintu baru yang bisa jadi penyelamat… atau justru penjerat.
Dan tanpa ia sadari, Renald baru saja lewat dibelakangnya. Pria itu jelas menatapnya dengan tatapan dingin. Tatapn yang kelak akan mengubah seluruh jalan hidupnya.