NovelToon NovelToon
Karang Bolong Buana

Karang Bolong Buana

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rudi Hendrik

Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KBB 31 Bukti di Dalam Celana

Ketika Purwasaga bercerita tentang Negeri Elindra, dia sudah tidak dalam kondisi digantung, tetapi duduk di sebuah drum kayu yang ditidurkan. Kakinya pun sudah tidak diikat. Sementara Ketua Kanan tetap duduk di punggung Denyut Arep yang ternyata tahan lama menjadi kursi bagi pemimpinnya.

“Karena aku menjadi buruan pasukan Kerajaan Elindra, jadi terpaksa aku pulang. Aku tidak mau mati di negeri itu tanpa diketahui oleh keluargaku,” kata Purwasaga setelah bercerita panjang kali lebar. “Setelah masuk ke Karang Bolong, aku tidak sadarkan diri. Aku sudah menjadi tawanan kalian saat aku sadar.”

“Hahaha!” tawa pendek Ketua Kanan mendengar semua cerita Purwasaga yang ingin tetap hidup.

Kali ini Purwasaga ikut tertawa getir. Namun, seketika tawa kakunya memudar saat mendengar pertanyaan Ketua Kanan.

“Apakah kau punya bukti bahwa kau pernah hidup satu purnama di Negeri Elindra, Kopong?”

Terdiam Purwasaga. Dia tidak punya bukti. Dia pulang tanpa membawa apa-apa. Gelang Penanggung yang seharusnya dia kenakan sehari-hari selama di Elindra, telah dia lepaskan saat tinggal di Pulau Hekhek.

“Celana ini. Celana ini dari Negeri Elindra,” kata Purwasaga saat sadar bahwa dirinya hanya memakai celana ketika bangun.

Celananya yang masih lembab memang celana model celana panjang gombrong.

“Celana itu tidak bisa menjadi bukti. Lihat, beberapa anak buahku juga memakai celana yang sejenis,” kata Ketua Kanan, mementahkan bukti Purwasaga. “Karena kau telah mengarang cerita dusta, berarti kau telah membohongi Bajak Laut Tiga Kodok. Hukum harus ditegakkan.”

“Tidak, tidak, tidak! Aku tidak bohong, Ketua. Aku bercerita kenyataan yang aku alami, Ketua!” teriak Purwasaga panik.

“Ikat!” teriak Ketua Kanan dengan raut wajah yang marah.

Maka, sejumlah anak buah Ketua Kanan segera bergerak menyergap Purwasaga. Pemuda itu dipegangi ramai-ramai oleh jari-jari kasar yang besar-besar. Satu orang bertindak sebagai pengikat. Tidak tanggung-tanggung, yang pertama diikat langsung leher Purwasaga.

Set!

“Akk!” pekik tertahan Purwasaga saat lehernya dicekik oleh simpul tali.

“Hahahak!” Pekikan Purwasaga justru memancing para bajak laut itu tertawa mode setan mau kawin.

“Tempelkan umpan ikan agar dimakan ikan seribu gigi!” teriak Ketua Kanan lagi, merujuk pada ikan hiu yang kala itu namanya masih ikan seribu gigi.

Purwasaga yang saat itu tidak bertenaga dalam, tidak berdaya dalam kepanikan. Hingga akhirnya dia masih punya satu peluang. Semoga saja berhasil. Aamiin!

“Tunggu, Ketua!” teriak Purwasaga kencang saat kedua tangannya pun sudah diikat.

Ternyata Ketua Kanan masih sudi menuruti permintaan Purwasaga yang ia kenal masa kecilnya.

“Tahan! Berikan dia permintaan terakhir!” seru Ketua Kanan santai.

“Aku punya bukti, Ketua Kanan. Bukti itu ada di dalam celanaku!” kata Purwasaga berteriak, demi didengarkan.

Perkataan Purwasaga membuat semuanya diam seketika, bahkan saling pandang sesama rekan.

“Hahahak…!” Lalu meledaklah tawa semua bajak laut itu, termasuk Ketua Kanan. Denyut Arep pun tidak bisa menahan tawanya yang ingin bersuara. Mereka semua satu frekuensi dalam menafsirkan kata “di dalam celanaku”.

“Tenang, tenang, tenaaang!” seru Ketua Kanan sambil mengangkat tinggi tangan kirinya. Dia masih duduk di punggung Denyut Arep.

Suara tawa mereka pun mereda lalu hilang.

“Apa yang ada di dalam celanamu, Kopong?” tanya Ketua Kanan dengan tatapan curiga.

Para bajak laut itu sebenarnya ingin tertawa lagi, tetapi mereka tahan karena sang ketua sudah memerintahkan untuk tenang.

“Kejantananku, Ketua,” jawab Purwasaga.

“Hihihik!” Sebagian anggota bajak laut itu tidak bisa menahan tawanya, tetapi masih berusaha ditekan, sehingga yang terdengar adalah suara tawa cekikikan.

Barulah suara seperti sekumpulan anak tikus itu lenyap ketika Ketua Kanan melirik ke kanan dan ke kiri.

Setelah suasana kembali senyap, Ketua Kanan kembali fokus kepada Purwasaga yang dalam posisi berdiri seperti mumi dililit tali tambang.

“Wanita Elindra memiliki kewanitaan yang berduri. Setelah aku melakukan adu bawah, kejantananku menderita luka sampai berdarah-darah. Lukanya masih memiliki bekas di kejantananku,” ungkap Purwasaga.

Mendengar itu, tidak ada yang tertawa. Ketua Kanan dan semua anak buahnya jadi kerutkan kening karena masih perlu mencerna dan menafsirkan cerita kajantanan itu.

“Oooh! Maksudmu, kau melakukan hubungan suami istri. Ternyata, punya istrimu sampai membuat belut sawahmu itu berdarah-darah?” tanya Ketua Kanan untuk mempertegas penafsirannya.

“Benar,” jawab Purwasaga.

“Haaah!” desah para bajak laut itu serentak terperangah. Menurut mereka itu perkara yang sangat ajaib. Sebagai orang dewasa, semuanya sangat tahu bahwa mahkota wanita itu adalah tempat ternyaman dan terdamai di dunia bagi laki-laki.

“Aku menikah dengan gadis Negeri Elindra dan aku dibuat hampir mati saat malam pertama. Bukan istriku yang berdarah, tetapi justru aku. Luka di belutku masih membekas. Itu adalah bukti kuat bahwa aku tidak berbohong,” tandas Purwasaga.

“Berarti harus aku lihat untuk membuktikan bahwa cerita tentang belutmu ini juga bukan dusta,” kata Ketua Kanan dengan senyum tipis yang bermaksud misteri.

“Hahahak!” tawa para bajak laut mendengar perkataan ketuanya.

“Tapi hanya kau yang boleh melihatnya, Ketua,” kata Purwasaga memberi syarat.

“Aku melihatmu mandi telanjang di pantai saat kau masih remaja. Jadi, tidak perlu malu kepadaku, Kopong,” kata Ketua Kanan. Lalu perintahnya kepada seluruh anak buahnya, “Kaliam semua berbalik arah!”

Maka, semua anak buah Ketua Kanan segera berbalik arah agar mereka tidak melihat proses pembuktian belut di dalam celana.

Set!

Sekali bergerak, tongkat Ketua Kanan sudah memotong tali di bagian bawah perut Purwasaga.

Set!

Gerakan tongkat kedua tahu-tahu sudah merobek kain celana Purwasaga tepat di bawah perut.

Purwasaga hanya menarik napas panjang karena terkejut bukan main. Apa jadinya jika yang dirobek oleh kelebatan tongkat itu adalah isi celananya? Bisa-bisa dia tidak bisa kawin lagi di alam manusia.

Singkat cerita dan waktu.

Ketua Kanan memeriksa sendiri secara langsung isi celana Purwasaga yang tangannya masih terikat.

Setelah memeriksa dan memerhatikan dengan seksama kejantanan Purwasaga, bahkan memegang langsung, Ketua Kanan jadi manggut-manggut dan geleng-geleng.

“Wah wah wah, benar. Sampai luka-luka parah seperti ini,” ucap Ketua Kanan lirih, tapi masih terdengar oleh sebagian besar anak buahnya. Lalu katanya kepada pemuda berwajah bengkak itu, “Aku percaya, aku percaya. Aku sekarang mempercayaimu. Tapi ingat, Kopong, aku akan tahu jika kau membohongi kami dan kau akan tahu akibatnya.”

“Iya, Ketua,” ucap Purwasaga.

“Lepaskan ikatannya!” perintah Ketua Kanan.

Maka semua anak buah berbalik hadap lagi dan dua anggota segera membuka semua ikatan pada tangan dan badan Purwasaga.

Ketua Kanan lalu menepak pelan bahu Denyut Arep. Dia kemudian bangun berdiri.

Setelah ketuanya tegak, Denyut Arep segera bangun berdiri.

“Jangan siksa dia lagi. Mandikan dan baluri lukanya dengan salep telur kepiting kuning. Jangan cabut dulu belut cintanya. Setelah Kopong segar, bawa menghadap kepadaku!” perintah Ketua Kanan kepada Penjilat Laut.

“Baik, Ketua!” pekik Denyut Arep sambil mendongak memandang bidadari di atas awan.

Legalah Purwasaga mendengar perintah Ketua Kanan kepada anak buahnya.

Tuk! Tuk! Tuk!

Ketua Kanan mulai berjalan pergi dengan ujung tongkat diketukkan di lantai kapal mengikuti ritme langkahnya.

“Bawa Kopong untuk dimandikan!” perintah Denyut Arep lantang kepada anak buahnya secara umum. Ia kembali tampil gagah dan galak.

Meski perintah itu secara umum, tetapi para anak buah itu berebutan untuk mengambil badan Purwasaga, seolah-olah pemuda itu adalah seorang gadis yang jadi rebutan kaum batangan.

Namun, yang pastinya para lelaki Bajak Laut Tiga Kodok tidak ada yang penyuka sesama belut. (RH)

1
rajes salam lubis
lanjut om jangan Malu malu
rajes salam lubis
nenek buyut sandaria mungkin om
rajes salam lubis
aseeekkk....
bersatu kita teguh bercerai kita kawin lagi
rajes salam lubis
terbayang bayang hingga terbang
rajes salam lubis
berarti seperti telur ceplok la y
rajes salam lubis
alaamaak parah bener,,, tapi lebih parah si om,sampai cawatnya aja tau kebalik di dalam
rajes salam lubis
adeknya Dadung kulo
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
sampai bingung mau komen apaan Om kenapa kagak ada kodok emas 🤭🤣🤣🤣🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
wahhh pada penasaran sama cerita Purwasaga yang pernah berada di negeri Elindra jangan sampai dicurigai nanti mau memberontak 🤔
👣Sandaria🦋
nanti saat bulan madu kita, aku mau istilahnya meteor madu ya, Om😉🤧
👣Sandaria🦋
apakah ini artinya Om lebih ganteng dibanding Sukrowo, Om?🤔
rajes salam lubis
khawatir boleh,cemas jangan
rajes salam lubis
ok
rajes salam lubis
hahaha
rajes salam lubis
durian goreng???
Om Rudi: hahahahaha bisa dicoba🤣🤣
total 1 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
atu aja sayangnya gak abis2 ya om 😍🤩
Om Rudi: betuuuul
total 1 replies
👣Sandaria🦋
kalau pegangan cinta Om "nyawa tidak berharga. selingkuhan harus bahagia"🤧
Om Rudi: setuju sih, tapi....
total 1 replies
👣Sandaria🦋
ada hubungan dengan Sanggana, Om? cerita di sebelah kemarin ya?🤔
Om Rudi: heheheheh iya
total 1 replies
👣Sandaria🦋
valid infonya nih, Om? bukannya menguasai pasukan yg sedang mati di Elindra?🤔
Om Rudi: meragukan, habis yg cerita dia
total 1 replies
👣Sandaria🦋
akrab dengan Om juga perkara membanggakan bagi aku yg hanya perempuan paling cantik nomor 3 sesumatera ini, Om🙄
Om Rudi: Om lupa yg paling cantik pertama sama yg kedua
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!