Berawal dari petaka sebuah konser band terkenal, seorang gadis harus membuatnya menerima reward besar karena baru putus cinta. Gadis itu tidak tau bahwa dirinya sedang di kerjai teman kuliahnya hingga membuat seorang Letnan terkena imbasnya.
Disisi lain, akibat petaka tak sengaja, sang Letnan terpaksa harus menanggung akibatnya. Bukan hal mudah menaklukan hati pria yang ternyata adalah Abang dari gadis tersebut, namun pada kenyataannya, lebih sulit menaklukan gadis yang tiba-tiba masuk dalam hidupnya tanpa permisi, apalagi jejak kehidupannya kini di mulai pada wilayah dengan resiko yang cukup tinggi, wilayah yang bisa di katakan rawan, KARANG HITAM.
KONFLIK.. Harap SKIP bagi yang tidak bisa ber KONFLIK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Curahan hati.
Malam ini Phia duduk sambil menatap keluar jendela. Angin kencang, gerimis masih belum juga berhenti.
Bang Riegan menutupi kedua bahu Phia dengan sehelai kain hangat lalu melangkah pergi.
"Aku ingin kita pisah."
Langkah Bang Riegan terhenti mendengarnya, ia menarik napas panjang lalu membuangnya perlahan. "Alasannya?" Bang Riegan masih merendahkan suara, tidak ingin bumil lebih tertekan dengan keadaan.
"Aku tidak mau punya anak, masih ingin menikmati dunia dan tidak ingin anak ku punya ayah sepertimu." Jawab Phia lantang.
Bang Riegan tidak peduli, ia lebih memilih menutup telinganya dan duduk di beranda rumah sambil merokok. Percuma saja berdebat dengan bumil, wanita yang hormonnya selalu naik turun.
Melihat reaksi Bang Riegan, Phia sungguh kesal dan merasa semakin tertekan. Tadinya ia berharap Bang Riegan akan tersinggung, marah sampai memukulnya. Tapi, pria itu seakan tuli atau mungkin menganggap dirinya tidak ada.
"Bagaimana sih caranya buat dia marah?????? Seharusnya dia benci perempuan kasar, kan???" Gumamnya.
Lelah dengan perasaannya, Phia berjalan pelan menuju tempat tidur. Ia berpegangan pada apapun yang bisa ia pegang sebagai tumpuan tubuhnya.
Sejenak merebahkan tubuhnya, jujur ia merasakan kasurnya itu menjadi hangat dan empuk. Baunya pun juga wangi, khas bau bunga bercampur wangi maskulin yang membuat hatinya perlahan ikut tenang.
***
Malam berganti, Bang Riegan masuk ke dalam kamar. Phia sudah tidur, tapi istrinya itu nampak gelisah dan kurang nyenyak.
Hati-hati sekali Bang Riegan mengatur posisi kepala Phia agar bersandar dengan benar pada bantal, ia juga menutup tubuh sang istri dengan selimut tebal dan hangat.
Bang Riegan sendiri menggelar tikar kecil di lantai kayu dan merebahkan tubuh lelahnya di sana. Ia sama sekali tidak mengambil pusing sikap dan ucapan Phia. Yang ia pikirkan kini hanya bagaimana caranya agar Phia bisa tenang serta membesarkan berkah calon bayi kecil yang kini tumbuh sehat dalam rahim istri kecilnya.
Matanya menatap langit-langit kamar, pikirannya terus tertuju pada calon buah hatinya.
'Papa akan mengusahakan apapun yang terbaik untuk kamu dan juga Mama, Nak. Papa tidak menyalahkan kemarahan Mama, itu adalah konsekuensi dari perbuatan Papa. Tapi percayalah, Papa sangat sayang sama kamu.'
Jemari Bang Riegan mengusap lembut perut datar Phia. "Bagaimana pun caranya kamu hadir, Papa senang kamu ada."
-_-_-_-_-
Pagi sekali Bang Riegan sudah berangkat ke Batalyon. Tapi di rumah itu sudah ada dua orang ajudan Bang Riegan berjaga.
"Hmm.. Om.. Bisa minta tolong belikan sesuatu??" Tanya Phia pada Prada Guntara.
"Siap, Ibu. Ijin arahan..!!"
"Tolong belikan a*ak dan rokok, ya..!!" Pinta Phia.
Prada Guntara dan Prada Rivan saling melempar pandangan.
"Tadi suami saya yang minta. Kalau pulang, sudah di siapkan rokok dan a*ak." Kata Phia memutus keraguan ajudan suaminya. "Oiya, kalau saya titip obat batuk aja deh. Saya sedikit nggak enak badan." Imbuhnya.
"Oohh.. Baik, Bu. Siap. Kami belikan sekarang."
...
Bang Riegan pulang ke rumah, berkas amelden sudah selesai di periksa sekaligus berkas pengajuan nikah Bang Riegan yang hanya tinggal menunggu pengesahan dari Danyon.
"Bagaimana istri saya?? Ada masalah yang menonjol??" Tanya Bang Riegan.
"Siap.. Tidak, Danton." Jawab kedua ajudan.
Bang Riegan pun masuk ke dalam rumah, ia langsung masuk ke dalam kamar.
"Astaghfirullah hal adzim..!!!!! Phiaaaaaa..!!!!!!!"
Jantung Bang Riegan serasa berhenti berdetak melihat Phia merokok sambil meneguk minuman keras. Amarahnya memanaskan ubun-ubun kepala.
"B*****t... Kau apakan anak saya??" Umpatnya geram.
Bang Riegan merampas gelas dari tangan Phia lalu membantingnya kasar.
Pyyyrrrr...
Setelah itu Bang Riegan mengambil rokok dari sela jemari Phia dan menghisapnya sendiri. Ia mencengkeram kedua pipi Phia agar bisa menatapnya. "Berani kau, bertingkah????"
Prada Guntara dan Prada Rivan terkejut bukan main, apalagi kondisi Ibu Danton sudah dalam kondisi mabuk berat.
Phia menatap wajah Bang Riegan dengan pandang nanar. "Phia juga sayang anak ini, tapi Phia takut sama dia. Setiap hari dia hanya mendiamkan Phia. Phia harus bicara sama siapa?? Phia nggak kuat, Baaang..!!!!" Ucap lirih Phia.
"Bicara yang jelas, Phiaa..!!!!"
"Bang Reigar jahaat.. Tapi Riegan lebih jahaaat..!!!!" Suara Phia pecah, bercampur isak tangis yang terasa sesak, matanya berkaca-kaca tapi pandangannya kabur karena pengaruh minuman dan beban yang sudah lama ia pendam sendirian. Ia melepaskan diri dari cengkeraman Bang Riegan.
Bang Riegan hanya sekedar melonggarkan cengkeraman tanpa melepaskan istrinya itu.
Tangis Phia menjadi tangisan histeris. "Phia masih muda, masih delapan belas tahun,masih ingin melihat indahnya dunia. Sekarang tiba-tiba ada anak ini tumbuh ada di perut Phia, bukan karena Phia mau, bukan karena Phia sengaja. Semua terjadi tanpa Phia sadari, tidak tau bagaimana ini terjadi, dengan seorang pria yang tidak Phia kenal."
Phia memegangi perutnya, seakan-akan ingin melindungi tapi kemudian ia berontak seolah menolak keberadaannya di dalam sana.
"Hanya Phia yang tau rasanya hamil di luar ikatan sah. Bang Reigar bisa di cemooh, nama baiknya di pertaruhkan. Semua karena salah Phiaaaa." Tangisannya makin kencang, napasnya putus sambung.
"Abangku sendiri sangat membenciku, dia memintaku menggugurkan anak ini demi masa depanku, atau..... Menikah dengan pria itu lalu membiarkan anak ini bersamanya. Phia ini ibunyaaa... Seberapapun bo*ohnya Phia, Phia adalah ibunyaaa..!!!"
Phia menatap Bang Riegan dengan pandangan penuh kesedihan dan kebingungan, tangan terulur seolah meminta pengertian, tapi segera ditarik kembali seolah takut tersakiti oleh keadaan.
"Kamu tau Riegan??? Letnan Riegan yang sekarang jadi suami Phia.. Dia terlalu dingin, banyak diam, tidak pernah marah, tak pernah mengomel. Setiap kali Phia bicara, tidak tau dia dengar atau pura-pura tuli lalu pergi. Phia takut sama dia. Phia takut menebak apa yang ada di hatinya, Apa dia memandang Phia dengan sebelah mata?? Phia di nikahi hanya sebatas kewajiban dan tanggung jawab??
Phia meracau tanpa kendali, kata-kata yang selama ini terpendam rapat kini meledak keluar bersama rasa takut yang mendalam.
"Phia sengaja mencoba mencari perhatiannya. Phia bilang ingin pisah, Phia bilang tidak mau punya anak, Phia bicara kasar, semua agar melihat reaksinya. Phia ingin dia marah, ingin dia bicara, agar Phia tau apa yang sebenarnya dia rasakan. Tapi..... dia sangat kaku, diamnya itu lebih menyiksa daripada kemarahan. Phia harus bagaimana??"
Phia pasrah, merebahkan dirinya pada dada bidang Bang Riegan yang kini duduk di lantai bersama Phia. Ia sendiri menyandarkan punggungnya pada dinding kamar sambil terus merokok. Mulutnya memang diam, tapi batinnya begitu tersiksa, air matanya ikut meleleh deras.
"Phia sayang anak ini, hanya takut tidak bisa mendidiknya karena Phia juga belum dewasa hingga membuatnya celaka. Tapi yang paling membuat Phia takut adalah, masa depan yang sudah hilang. Apa kamu tau.. Phia harus menghabiskan waktu dengan pria segalak Riegan, di bawah tekanan Bang Reigar. Phia lelah terus berpura-pura kuat. Bisakah Phia... Mati hari ini???" Gumamnya pelan.
Bang Riegan menengadah, sejenak memejamkan mata. Asap rokok menguar seolah mengiring perasaannya yang juga tak kalah menyakitkan. Ia mengusap kening Phia dalam dekapannya.
"Dek..... Kita di pertemukan Tuhan dengan cara seperti itu adalah kehendakNya. Rumah tangga harus di topang dua kaki, kalau kita tidak saling mendukung, rumah tangga itu akan runtuh. Tidak sedikit pun niat saya mengesampingkan apapun, tapi sekarang.. kamu sudah menjadi istri saya. Dalam rumah tangga ini, saya yang memegang kendali. Ikut apa kata saya jika saya benar, tegur saya jika saya salah. Soal anak.. Menjadi orang tua tidak ada sekolahnya. Kita belajar di setiap harinya untuk anak. Saya harap kita bisa saling mendukung. Bisa???" Kata Bang Riegan.
"Sampaikan sama Riegan.. Phia maunya di sayang, bukan di marahi..!!"
Bang Riegan menoleh pada kedua ajudannya yang hanya diam mematung sejak tadi. Kedua ajudan pun gelagapan lalu memilih menjauh.
"Riegan, ya??" Gumam Bang Riegan pelan.
.
.
.
.
lanjut mba Nara👍👍
Bang Jan...udah beri bang Hernad pencerahan tp knp jadinya kyk gini😄😄🤭
kocak ini ...lanjut mba Nara👍
lanjut mba nara🤭
semangat jg buat mba Nara👍