NovelToon NovelToon
Detak Jantung Yang Merahasiakanmu

Detak Jantung Yang Merahasiakanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Aroma es kopi yang mulai mencair berpadu dengan keheningan yang menyesakkan di dalam restoran privat lantai teratas Adhitama Tower.

Alana masih berdiri di dekat jendela besar, menatap hamparan gedung pencakar langit Jakarta yang tampak buram oleh kabut tipis sore hari.

Kepalanya terasa pening, perdebatan tentang pernikahan kontrak beberapa saat lalu masih menyisakan gemuruh di dadanya.

Di sudut lain, Leo tampak duduk di atas karpet bulu, menyusun kembali robot legonya dengan ketukan-ketukan kecil yang ritmis.

Bocah itu sengaja memberi ruang bagi kedua orang tuanya, meski telinga kecilnya tetap terpasang tajam.

Langkah kaki Devran yang berat terdengar mendekat. Namun, kali ini tidak ada aura intimidasi yang menekan.

Pria itu berhenti tepat dua langkah di belakang Alana, memegang sebuah map kulit cokelat yang berbeda dari dokumen kontrak sebelumnya.

"Alana, berbaliklah. Lihat aku," ucap Devran, suaranya rendah dan terdengar begitu lelah, kehilangan seluruh nada diktatornya.

Alana tidak bergerak, ia tetap menatap lurus ke luar jendela. "Jika kamu ingin membahas surat kontrak itu lagi, lebih baik kamu simpan tenagamu, Devran."

"Jawabanku tetap tidak. Aku tidak akan menjadi Nyonya Adhitama pengganti."

"Aku tidak sedang memintamu menandatangani kontrak apa pun," sahut Devran tenang.

"Aku hanya ingin menunjukkan ini padamu. Tolong, lihatlah sebentar."

Mendengar perubahan nada suara Devran yang melembut, Alana akhirnya menghela napas panjang dan membalikkan tubuhnya.

Matanya yang sedikit sembap menatap ket ket ket map cokelat yang disodorkan Devran.

"Apa lagi ini?" tanya Alana dengan nada curiga.

"Buka dan baca sendiri," ujar Devran.

Alana menerima map tersebut dengan ragu. Saat jemarinya membuka ikatan talinya, selembar dokumen resmi dengan stempel notaril legal negara dan tanda tangan dewan komisaris tertinggi Adhitama Group terpampang di baris pertama.

Mata Alana bergerak cepat membaca baris demi baris kalimat hukum di dalamnya.

"Ini... Akta Pembatalan Hubungan Konsorsium dan Pertunangan?" Alana tertegun, matanya membelalak menatap tanggal yang tertera di sana.

"Tanggal ini... ini dua tahun yang lalu? Sebelum aku kembali ke Indonesia?"

"Ya," Devran mengangguk, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana kainnya.

"Pertunangan itu sudah berakhir total sejak lama, Alana."

"Di mata hukum, di mata keluarga, bahkan di depan dewan komisaris, Siska Lorenza bukan siapa-siapa lagi di hidupku sejak dua tahun yang lalu."

Alana menggelengkan kepalanya bingung, menatap Devran dengan pandangan menuntut.

"Tapi... tapi kenapa dia masih berada di mansionmu seminggu yang lalu? Kenapa dia masih bertingkah seolah dia adalah calon istrimu di depan semua pelayan dan kolega bisnismu?!"

"Karena dia dan ayahnya memanfaatkan kondisi kesehatan kakek buyutku yang memburuk untuk terus menempel pada nama Adhitama," jawab Devran, rahangnya mengetat mengingat kelicikan keluarga Lorenza.

"Secara sepihak, mereka menyebarkan rumor ke media sosial bahwa hubungan kami baik-baik saja demi menjaga nilai saham perusahaan mereka yang hampir bangkrut."

"Aku membiarkannya sementara waktu hanya untuk mengumpulkan seluruh bukti kejahatan finansial mereka agar bisa menendang mereka sekaligus tanpa celah hukum."

"Dan malam ini, semuanya sudah selesai. Siska sudah berada di sel tahanan."

Alana terdiam, dokumen di tangannya terasa begitu berat. "Jadi... kamu tidak pernah..."

"Aku tidak pernah menyentuhnya, Alana. Aku tidak pernah menganggapnya sebagai wanita di hidupku, apalagi menjadikannya sebagai prioritas," potong Devran cepat, melangkah satu tapak lebih dekat hingga ia bisa menatap langsung ke dalam netra Alana yang bergetar.

"Pernikahan kontrak yang kutawarkan tadi... itu bukan untuk mencari boneka pengganti Siska."

"Aku menawarkannya karena aku bodoh, karena aku tidak tahu bagaimana cara meminta seorang wanita untuk tinggal di sisiku tanpa menggunakan selembar kertas bisnis."

"Devran..." Alana berbisik, suaranya tercekat di tenggorokan.

"Aku selalu menyelesaikan semua masalah di duniaku dengan kontrak dan angka, Alana."

"Jadi saat aku mengetahui tentang Leo, saat aku melihatnya sekarat di rumah sakit, otak bisnisku langsung berpikir untuk membuat kesepakatan tertulis agar aku bisa melindunginya secara legal," Devran mengembuskan napas berat, matanya memancarkan rasa bersalah yang teramat dalam.

"Tapi aku salah. Aku tidak menyadari bahwa tindakanku justru melukai harga dirimu sebagai seorang ibu."

Alana memalingkan wajahnya, air matanya kembali menetes. "Kamu tidak tahu bagaimana rasanya bersembunyi selama lima tahun, Devran."

"Aku mengorbankan karierku di Swiss, hidup dalam ketakutan bahwa suatu hari keluarga Adhitama akan datang dan merebut Leo dariku."

"Dan saat kamu mendadak muncul dengan segala kekuasaanmu... aku merasa sangat kecil."

Di sudut ruangan, Leo perlahan bangkit berdiri. Ia berjalan mendekati kedua orang tuanya tanpa suara, lalu berdiri di samping Alana, menggenggam erat ujung baju ibunya.

Devran menunduk menatap Leo, lalu kembali menatap Alana. Keangkuhan seorang CEO Adhitama Group yang biasanya disembah oleh ribuan karyawan seketika luruh menembus lantai.

Secara perlahan dan mengejutkan, Devran menurunkan tubuh tegapnya. Pria penguasa bisnis itu menekuk satu lututnya di atas lantai, berlutut tepat di hadapan Alana dan Leo.

Alana tersentak mundur satu langkah, menutup mulutnya dengan kedua tangan karena terkejut.

"Devran! Apa yang kamu lakukan?! Berdiri!"

"Papa?" Leo ikut membelalakkan matanya, robot lego di tangannya hampir saja terjatuh.

"Papa... ini lantai restoran yang keras, tidak baik untuk lutut orang dewasa."

Devran tidak memedulikan ucapan anaknya. Ia tetap berlutut, mendongak menatap Alana dengan pandangan yang sepenuhnya,ctanpa topeng, tanpa ego, hanya ada kejujuran seorang pria yang sedang memohon.

"Aku tidak akan berdiri sebelum kamu mendengarkanku, Alana," ucap Devran, suaranya bergetar rendah.

Ia meraih jemari dingin Alana, menggenggamnya dengan kedua tangannya yang kokoh.

"Aku tidak meminta pernikahan kontrak itu lagi. Persetan dengan dokumen itu. Aku juga tidak akan memaksamu tinggal di mansionku jika tempat itu membuatmu merasa seperti di penjara."

"Lalu... lalu apa yang kamu inginkan, Devran?" tanya Alana di tengah isak tangisnya.

"Aku memohon kesempatan, Alana," bisik Devran tulus, matanya berkaca-kaca menatap Alana, lalu beralih menatap Leo.

"Beri aku kesempatan untuk menebus lima tahun waktu yang hilang. Beri aku kesempatan untuk berada di sini, di sampingmu, menjaga kalian bukan sebagai seorang bos yang mendikte dengan kontrak, tapi sebagai seorang pria, dan sebagai seorang ayah yang baik untuk Leo."

Devran beralih menatap putranya, melepaskan satu tangannya dari Alana untuk mengusap pipi mungil Leo.

"Leo... Papa minta maaf karena tidak ada di sana saat kamu lahir. Papa minta maaf karena membuat Mommy mu harus menangis sendirian selama ini."

"Mulai hari ini, Papa berjanji tidak akan ada lagi air mata, tidak akan ada lagi pelarian. Papa akan menjadi benteng terkuat untukmu dan Mommy."

Leo menatap ayahnya lekat-lekat. Untuk pertama kalinya, bocah jenius itu tidak mengeluarkan komentar sarkastik atau biner dari mulutnya.

Ia bisa merasakan ketulusan yang berdenyut dari genggaman tangan Devran, darah yang sama yang malam lalu menyelamatkan nyawanya.

Leo mendongak menatap Alana. "Mommy... Papa sepertinya tidak sedang membuat kode enkripsi palsu. Matanya... matanya terlihat jujur."

Alana menunduk melihat Devran yang masih setia berlutut di depannya.

Dinding pertahanan yang ia bangun dengan kokoh selama lima tahun di Swiss perlahan-lahan retak, hancur lebur oleh ketulusan pria yang pernah ia cintai dan benci secara bersamaan ini.

Rasa hangat yang asing namun menenangkan kembali merayap ke dalam hatinya.

Alana perlahan ikut berlutut di depan Devran, mensejajarkan posisi mereka di atas lantai marmer. Ia menatap wajah tegap Devran, lalu mengulas sebuah senyuman tipis di antara sisa air matanya.

"Berdirilah, Devran," ucap Alana lembut, tangannya membalas genggaman tangan pria itu.

"Seorang Adhitama tidak boleh berlutut di lantai seperti ini. Dan tentang kesempatan itu... mari kita memulainya dari awal. Bukan demi kontrak, tapi demi Leo."

Devran tertegun mendengar jawaban Alana, sebelum sebuah senyuman kebahagiaan sejati yang paling murni terukir di wajahnya.

Ia langsung menarik Alana dan Leo ke dalam satu dekapan pelukannya yang teramat erat, mengunci takdir mereka bertiga di bawah langit Jakarta yang sore itu perlahan mulai menampakkan sinarnya yang cerah.

1
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
next kk 💪💪
Rosa Santika: siap kk
total 1 replies
Rosa Santika
makasih kk
Icha Kolin
sangat bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!