Elara Sterling, seorang agen lapangan CIA yang tangguh dan perfeksionis, mengemban misi paling berbahaya dalam kariernya: mendekati dan menghancurkan Dante Moretti, pewaris tunggal kekaisaran mafia Moretti yang kejam dan sulit diprediksi.
Rencana Elara sederhana menyusup, mengumpulkan bukti silsilah keluarga yang ilegal, lalu menghancurkan organisasi Dante dari dalam. Namun, saat Elara terjerat dalam situasi hidup dan mati di tengah udara, di mana pengkhianatan muncul dari rekan terdekat Dante sendiri, garis batas antara musuh dan sekutu mulai kabur.
Dante Moretti bukanlah monster tanpa hati seperti yang digambarkan oleh laporan agensinya. Ia adalah seorang pria yang jiwanya telah dipaksa mati oleh kekejaman ayahnya sendiri, Franco Moretti. Di balik ancaman senjata dan rahasia kelam masa lalu yang menghantui mereka, Elara menemukan bahwa dirinya bukan hanya sekadar mengamati target, melainkan terjebak dalam obsesi yang membakar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hais Tauahh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 | PERJANJIAN
Elara melangkah masuk ke lobi markas besar CIA dengan langkah yang tidak stabil. Ruangan itu terasa menyesakkan, seolah setiap mata yang menatapnya tahu bahwa ia baru saja berlumuran darah baik darah Dante maupun darah orang-orang yang ia hancurkan dalam perjalanannya ke sini.
Di lantai lima belas, ia menemukan Dave yang sedang sibuk di depan layar monitor. Begitu Dave menoleh dan melihat Elara, wajahnya pucat pasi.
"Elara? Kenapa kau di sini? Kita punya protokol khusus jika terjadi exposure di lapangan!" bisik Dave panik, menarik Elara ke sebuah ruangan rapat kedap suara yang paling terpencil.
Elara membanting pintu dan menguncinya. "Dante tahu segalanya, Dave. Dia punya foto keluargaku, dia punya koordinat rumah orang tuaku. Dia bukan sekadar mafia dia memiliki jaringan intelijen yang bahkan bisa menembus firewall kita."
Dave tertegun, tangannya yang memegang tablet gemetar. "Apa dia menyentuhmu? Jika dia melakukan sesuatu, kita akan segera mengaktifkan protokol perlindungan saksi—"
"Berhenti!" Elara memotong, suaranya parau. Ia menatap mata rekannya itu, mencari secercah harapan. "Tadi kau bilang dia pembunuhnya. Katakan padaku bahwa kau salah. Katakan bahwa data itu mungkin teretas oleh pihak ketiga."
Dave terdiam lama, menunduk menghindari tatapan Elara. Hening yang panjang itu menjawab segalanya lebih menyakitkan daripada kata-kata.
"Data itu berasal dari arsip Shadow Protocol yang baru saja kita dekripsi," jawab Dave dengan suara berat. " Semua jejaknya mengarah ke Dante Moretti. Operasi itu dilakukan saat dia masih menjadi eksekutor muda di bawah tangan besi kakeknya. Eleanor dia tahu terlalu banyak tentang konspirasi besar yang Dante bangun saat itu."
Elara merasa jiwanya runtuh. Ia bersandar di dinding, merosot jatuh ke lantai. Kebencian yang ia rasakan terhadap Dante kini berbaur dengan rasa jijik pada dirinya sendiri karena telah sempat merasa 'tertarik' pada pria tersebut.
"Satu hal lagi, Elara," Dave berlutut di depannya, suaranya merendah menjadi bisikan tajam. "Identitas aslimu sebagai pewaris garis keturunan Octavia Spencer harus tetap terkubur. Jika Dante tahu bahwa kau adalah cucu dari wanita yang dulu hampir menghancurkan kekaisaran bisnis keluarganya, dia tidak akan bermain-main denganmu lagi. Dia akan melenyapkanmu secara instan."
"Dia sudah bermain-main denganku, Dave!" Elara mendongak, matanya berkilat dengan kegilaan yang baru. "Dia menjadikanku letnannya. Dia menjadikan hidupku sebagai bidak catur di atas papan miliknya."
"Itu artinya dia sedang mengujimu," Dave menatap Elara dengan cemas. "Jika dia tahu siapa kau sebenarnya, dia akan menggunakan sejarah masa lalu nenekmu untuk menghancurkanmu secara mental sebelum membunuhmu. Elara, kau harus menjauh dari pria itu."
"Menjauh?" Elara berdiri, wajahnya kini datar tanpa emosi. "Aku sudah tidak bisa menjauh, Dave. Aku baru saja membuat kesepakatan dengan iblis. Aku akan masuk ke dalam lingkaran terdalamnya, aku akan memenangkan kepercayaannya, dan di saat dia menganggapku sebagai miliknya... aku akan menjadi orang terakhir yang dia lihat sebelum dia mati."
Dave menatap Elara dengan horor. "Itu bunuh diri, Elara! Kau akan menjadi seperti dia!"
"Aku sudah menjadi seperti dia," jawab Elara dingin, lalu berbalik meninggalkan ruangan rapat. "Katakan pada Evan, aku akan menjadi agen ganda. Tapi jangan pernah, sekali pun, mencoba untuk menarikku keluar tanpa izinku. Karena jika aku mati, setidaknya aku akan memastikan Moretti pergi bersamaku ke neraka."
Dave terpaku di ruangan rapat itu, menyadari bahwa Elara yang ia kenal baru saja mati, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya dan tak terduga.
Elara melangkah gontai menyusuri lorong markas CIA yang terasa semakin panjang dan dingin. Setiap langkahnya terasa berat, dibebani oleh beratnya kebohongan yang kini ia tanggung sendirian. Air matanya sudah lama mengering, menyisakan ruang kosong yang kelam di dalam dadanya.
Ia berhenti di depan jendela besar, menatap cakrawala yang mulai menggelap. Awan hitam berarak cepat, menyelimuti kota dengan aura badai yang akan segera pecah. Pemandangan itu memicu memori kelam yang tak pernah bisa ia hapus: hari kematian Grandma Beatrice.
Dunia luar mengenal ibunya, Elena, sebagai satu-satunya pewaris tunggal keluarga Vanderbilt yang selamat dari tragedi kecelakaan pesawat dua puluh tahun lalu. Namun, sejarah yang tercatat di dokumen publik itu adalah fabrikasi murni.
Kebenaran yang sebenarnya tersimpan rapat dalam brankas besi di memori Elara Setelah Elena berhasil melarikan diri dari sekapan sindikat yang menculiknya saat remaja, ia ditemukan hampir mati oleh Beatrice seorang legendaris di dunia intelijen yang telah pensiun dan hidup dalam isolasi. Beatrice tidak hanya menyelamatkan nyawa Elena; ia mengadopsinya secara diam-diam. Beatrice menyadari bahwa musuh-musuhnya—termasuk kakek Dante yang licik selalu mengawasi setiap gerak-gerik keluarga Vanderbilt. Mereka memalsukan segala jejak silsilah demi melindungi Elena, dan kemudian, melindungi Elara yang lahir setelahnya.
Beatrice adalah perisai sekaligus pedang yang tersembunyi. Dan kini, perisai itu telah hancur, meninggalkan Elara sendirian di tengah medan perang.
Elara membuang napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia harus segera melapor kepada komandannya. Tanpa ragu, ia melangkah menuju kantor Evan, sang direktur operasional.
Ia tidak mengetuk. Ia langsung mendorong pintu ruang kerja itu hingga terbuka lebar dengan dentuman yang memicu perhatian.
Pemandangan di dalam ruangan membuat Elara terpaku sejenak. Chloe, agen lapangan yang merupakan rival terberatnya, sedang berdiri di dekat meja Evan. Kemeja sutra putih Chloe terlihat kusut di bagian kerah, dan rambutnya yang biasanya tertata rapi kini berantakan. Evan sendiri duduk di kursi besarnya dengan napas yang sedikit memburu, kancing atas kemejanya belum terpasang dengan benar.
Seringai sombong tersungging di wajah Chloe saat melihat Elara berdiri mematung di ambang pintu. Ia tidak tampak malu sedikit pun; justru ia sengaja membusungkan dada, memamerkan kekacauan yang baru saja terjadi.
Damian berdeham keras, mencoba menutupi kegugupannya dengan wibawa yang dipaksakan. Ia segera merapikan dasinya. "Elara? Apa yang kau lakukan di sini? Kita punya protokol masuk ruangan."
Elara menatap mereka dengan tatapan jijik yang tak disembunyikan. Ia mengabaikan aura tidak menyenangkan di ruangan itu dan berjalan maju, meletakkan berkas misinya di atas meja dengan kasar.
"Ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada skandal murahan kalian," ucap Elara dingin, tatapannya menghunjam tepat ke mata Evan. "Aku baru saja membuat kesepakatan dengan Dante Moretti. Dan aku membutuhkan akses penuh ke arsip Shadow Protocol sekarang juga, atau nyawa keluargaku akan menjadi tumbal berikutnya."
Evan membeku di kursinya, sementara Chloe menyipitkan mata, menatap Elara dengan campuran antara kebingungan dan ancaman.
" Kesepakatan? Dengan Moretti?" tanya Evan dengan nada tidak percaya. "Elara, apa yang sebenarnya kau rencanakan?"
Evan terdiam cukup lama, jemarinya mengetuk meja kayu itu dengan ritme yang lambat dan mengintimidasi. Chloe yang berdiri di sampingnya tampak tidak puas, matanya terus menelisik Elara seolah mencari kebohongan.
"Ini bukan sekadar misi, Elara," suara Evan akhirnya memecah keheningan, berat dan penuh penekanan.
"Dengan melangkah masuk ke dalam sarang Moretti, kau tidak hanya menggadaikan nyawamu. Kau mempertaruhkan seluruh integritas divisi ini. Jika kau ketahuan, atau lebih buruk lagi, jika kau membelot tidak akan ada tim penyelamat yang akan dikirim untuk menjemputmu."
Elara menatap Evan dengan tatapan yang kosong namun mematikan. "Aku tidak meminta tim penyelamat. Aku meminta akses. Dante Moretti adalah predator yang tidak bisa dikalahkan dengan taktik buku teks kalian."
"Dan apa kau pikir kau bisa menang dengan sendirian?" Chloe menyela dengan nada sinis, melangkah maju mendekati Elara. "Jangan terlalu percaya diri, Letnan. Moretti tidak hanya memiliki senjata, dia memiliki intuisi yang tajam. Dia akan tahu kau adalah mata-mata bahkan sebelum kau sempat membuka mulutmu."
Elara tidak berkedip. Ia mengabaikan ejekan Chloe dan kembali menatap Evan. " Aku tidak akan datang ke kantor lagi untuk waktu yang lama. Aku sedang diawasi ketat. Setiap gerakanku diikuti, setiap detak jantungku mungkin sudah masuk dalam kalkulasi mereka. Jika aku terlihat di sini lagi, itu berarti aku sudah dalam bahaya fatal."
Evan menghela napas panjang, kemudian menatap Chloe dengan kode yang hanya dimengerti oleh mereka berdua. " Baiklah. Kalau itu yang kau inginkan. Kau akan diputus dari akses komunikasi reguler. Semua data yang kau butuhkan akan dienkripsi ke dalam perangkat offline yang tidak bisa dilacak oleh firewall Moretti."
"Terima kasih, Sir," jawab Elara singkat.
"Satu hal lagi," tambah Evan sebelum Elara berbalik.
" Ingat siapa kau. Jangan biarkan permainan psikologis Moretti mengaburkan tujuanmu. Jika kau mulai merasakan empati, atau jika kau mulai meragukan siapa musuh yang sebenarnya... segera hentikan misinya. Kita tidak bisa membiarkan aset terbaik kita menjadi bagian dari koleksi pribadi seorang mafia."
Elara berhenti sejenak di ambang pintu, punggungnya menegang. "Aku tidak punya ruang untuk empati, Sir. Sudah lama sekali aku mengubur perasaan itu bersama dengan orang-orang yang dia bunuh."
Setelah Elara menghilang di balik pintu, Chloe menatap Evan dengan tatapan curiga. "Apa kau benar-benar percaya padanya? Dia baru saja mengaku membuat kesepakatan dengan Moretti. Bagaimana jika dia sebenarnya sedang dimanipulasi?"
Evan berdiri, menatap hujan yang mulai turun membasahi kaca jendela kantornya.
"Jika dia dimanipulasi, maka dia adalah pion yang paling berharga. Tapi jika dia berhasil, maka dia adalah satu-satunya orang yang bisa membawa Moretti ke hadapan kita tanpa perlu memicu perang berdarah di seluruh kota. Untuk saat ini, kita biarkan dia bermain di dalam api itu."
●●●●