NovelToon NovelToon
My Fake Bride

My Fake Bride

Status: tamat
Genre:Romantis / Pengantin Pengganti / Tamat
Popularitas:7.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: NadiraBee

Follow ig author @tulisan_bee 😚

Menggantikan posisi anak majikannya untuk menikah dengan seorang lelaki bangsawan, sungguh tidak pernah terlintas dalam benak Luana Casavia.

Karena lelaki itu menatapnya dengan sorot mata dingin, bahkan ketika ia memasangkan cincin ke jari manis Luana.

My Fake Bride: Jika aku ini palsu, akankah kau bisa mencintaiku meski sedikit saja?

Terima kasih sudah mampir dan selamat jatuh cinta~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27 - Kebencian

"Ketidaksadaranku ini baru saja menyebabkan sesuatu yang harusnya tidak terjadi. Sesuatu yang juga mungkin, akan aku sesali di kemudian hari." ~Rey Lueic.

.

.

.

Pelepasan yang tergesa-gesa itu menjadi puncak dari ketidaksadaran Rey yang menguap begitu saja.

Satu kembang api pamungkas yang memang sudah dipersiapkan oleh panitia malam ini, meluncur bebas ke arah langit disusul dengan suara dentuman yang begitu kencang terdengar.

Saat itu pulalah, Rey seakan-akan baru saja bangkit dari kebodohannya ketika menyadari ada suara isak tangis yang terekam oleh telinga.

Seperti batu, lelaki itu mematung dengan tubuh membeku sempurna. Tetapi sama sekali belum berubah posisi, Rey masih berada tepat di atas Luana yang kini membuang muka ke arah lain.

Yang tidak sudi rasanya untuk menatap wajah lelaki itu.

Butuh beberapa detik hingga Rey benar-benar tersadar, meski belum sepenuhnya menyadari kebodohan apa yang baru saja dia lakukan.

"Luana?"

Suara Rey terdengar sedikit gemetar, saat lelaki itu perlahan-lahan bergeser dari posisinya tadi.

Masih abu-abu rasanya, seakan-akan Rey melakukan hal yang membuat Luana tampak menyedihkan itu saat dia kehilangan kesadaran.

Luana terisak. Begitu saja menarik cardigannya yang sudah tersampir entah ke mana, Luana ingin menutupi tubuh bagian atasnya yang sedikit terbuka.

Bahkan dress-nya sedikit terkoyak di bagian atas, akibat perilaku Rey yang memaksa karena perempuan itu sempat berusaha meronta tadi.

Menyugar rambutnya dengan frustasi, Rey terduduk lemas tepat di samping tubuh Luana yang masih kaku terbaring.

"Luana, aku--"

Rey tidak bisa berkata-kata, dengan bola mata yang meremang tanpa pancaran sinar apa pun.

Menyadari situasinya telah berubah kini, Luana menghapus air mata yang sedari tadi membasahi pipi. Menikmati bagaimana denyut dan nyeri itu berlomba-lomba bertalu di dalam dadanya, perempuan itu perlahan-lahan bergerak untuk duduk.

Tidak mempedulikan rasa sakit yang menerpa diri di bawah sana, Luana tidak bisa memikirkan apa pun selain dia harus melarikan diri dari lelaki itu.

Lelaki yang katanya seorang bangsawan, tetapi ternyata berperilaku tidak lebih dari seorang brengsek tengik.

Menghapus sisa-sisa air mata dengan kedua punggung tangan, Luana beranjak untuk turun dari gazebo itu. Menapaki pasir putih yang menggelitik di bawah telapak kakinya, Luana menggeret langkah untuk pergi dari sana.

Rey masih bertapakur dalam pikirannya sendiri, memaki betapa bodohnya dia atas apa yang telah dia lakukan pada gadis itu.

Mencoba menarik benang merah yang menjadi alasannya berbuat demikian, semakin membuat Rey tenggelam dalam penyesalan dengan makian untuk dirinya sendiri yang tidak henti terlontar.

"Sialan, Rey! Kau benar-benar sudah gila!"

Kedua tangan lelaki itu mengepal dengan erat, membiarkan rasa yang bercampur aduk itu bermuara di ujung jemarinya.

Tepat ketika ia menyadari Luana sudah bergerak dari sana, Rey begitu saja mengikuti langkah perempuan itu.

"Tunggu!" seru sang bangsawan dengan nada ragu-ragu, berharap Luana akan menurutinya dengan menghentikan langkah.

Tetapi kali ini Luana sungguh tidak peduli pada seruan Rey. Walaupun dia mendengar, perempuan itu tetap saja memacu langkahnya meski dengan susah payah.

Rey maju beberapa langkah.

Kaki lelaki itu menapaki pasir putih yang basah, masih berupaya untuk mengekori langkah kaki Luana di depan sana. Suara debur ombak yang terdengar mengalunkan simfoni, dengan desau dan embusan angin yang dingin menusuk tulang.

"Luana, berhenti!" seru Rey lagi.

Tetapi lagi-lagi Luana tidak menggubris, karena satu-satunya hal yang bisa dia pikirkan adalah melarikan diri dari lelaki itu.

Dia tidak punya wajah yang bisa ditunjukkan ke hadapan Rey, karena Luana sudah benar-benar kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam kehidupannya.

Dia kotor, ternoda, dan tidak lagi berharga.

Menggeram karena Luana tidak kunjung memelankan langkah, Rey setengah berlari hingga ia meraih pergelangan tangan perempuan itu.

"Berhenti!"

Sukses menarik tangan Luana, Rey membuat perempuan muda itu berbalik badan dengan satu gerakan tegas.

Hanya cahaya bulan yang berpendar di atas mereka, dengan kegelapan yang sudah sempurna menyelimuti. Hal ini membantu Rey untuk melihat bagaimana rona wajah Luana, meski tidak sepenuhnya jelas.

Perempuan itu masih memiliki sisa air mata di pipinya, dengan kelopak mata yang mulai membengkak. Wajahnya merah menahan amarah, dengan sorot mata yang dilesatkan tajam ke arah Rey.

"Lepaskan!" Setengah berteriak, Luana mengerahkan segala kekuatan yang tersisa untuk tetap pergi dari lelaki itu.

Tetapi Rey Lueic adalah sang dominan, saat kini ia malah semakin mengencangkan genggaman tangannya di pergelangan tangan Luana.

"Dengarkan aku!" pinta Rey berseru. Lelaki itu harus menaikkan nada suara, memastikan suaranya tidak kalah dengan suara debur ombak di belakang sana.

"Aku tidak ingin mendengar apa pun!" balas Luana cepat. "Lepaskan tanganku! Aku tidak sudi bersentuhan ataupun bertatapan dengan lelaki sepertimu!"

Luana tidak bisa menahan kekecewaan yang begitu saja menyelimuti. Dia tahu posisinya di sana, dan dia juga tahu bahwa Rey bukanlah seorang lelaki dengan tingkat kebaikan yang tinggi.

Tetapi apa yang baru saja lelaki itu lakukan padanya, sungguh tidak mencerminkan bagaimana seharusnya seorang bangsawan berlevel tinggi seperti Rey bersikap.

Tidak peduli apakah lelaki itu sadar atau tidak, apa yang Rey lakukan tadi hanya akan membuatnya terlihat sebagai brengsek ulung.

"Hei, dengar!" ulang Rey lagi. "Aku... Aku kehilangan kesadaran. Semua itu terjadi begitu saja dan...."

Terbata Rey dalam menyusun kata demi kata yang ia ucapkan, disusul dengan satu dengkusan kesal yang meluncur dari bibir Luana.

Perempuan itu masih berusaha untuk meronta, tetapi tentu saja tidak semudah itu untuk melepaskan diri dari cengkraman Rey Lueic.

"Diam!" seru Luana kali ini. Dada perempuan itu naik turun, dengan perasaan yang bercampur aduk di dalam hatinya.

Kemarahan, penyesalan, dan rasa malu yang tidak bisa dia takar persentasenya di dalam sana.

"Setelah apa yang kau lakukan padaku, kau seharusnya tahu kau tidak punya hak untuk berkata apa pun!" cerca Luana dengan nada yang naik beberapa oktaf.

"Aku tahu aku mungkin terlihat gampangan bagimu, tetapi ini bukan keinginanku untuk berada dalam pernikahan konyol ini bersamamu!" sambung perempuan itu lagi, masih dengan nada berapi-api.

Rey terhenyak.

Harga dirinya terluka, tetapi dia tidak bisa melakukan apa pun selain mendengarkan semua makian yang diucapkan Luana.

Karena ia, memang pantas dicaci maki.

"Aku begitu menghormati bagaimana Madam Collins telah berbuat baik kepadaku selama ini," Luana kembali bersuara. "Tetapi kau baru saja menghancurkan hal itu, saat kini aku sangat menyesal karena menyanggupi permintaan Madam untuk berada di sampingmu kemarin."

Rey masih tergagu, meski ia belum sama sekali melonggarkan cengkeramannya di tangan Luana.

Perempuan itu bernapas dengan susah payah, berusaha untuk tetap berdiri tegak meski lututnya terasa melemas dari waktu ke waktu.

"Kau bukan seorang bangsawan, Tuan Rey!" hardik Luana. "Kau hanya seorang brengsek kotor, yang bahkan tidak bisa menakar toleransimu atas alkohol yang kau tenggak!"

Rey ingin sekali membalas cercaan perempuan ini, tetapi yang dia rasakan hanyalah kekosongan dan hilangnya kata-kata.

Tepat saat kalimat terakhir Luana tadi mengudara, begitu saja cengkraman Rey mengendur perlahan-lahan.

Seakan mendapat satu tamparan keras, Rey semakin merasa kalut dan bersalah atas apa yang telah dia lakukan pada gadis itu.

Dia sungguh tidak bermaksud, dia sungguh menyesali mengapa dirinya bisa berlaku bodoh di luar nalar seperti tadi.

Menyadari tangannya yang mulai terbebas, Luana menghempas tangan Rey dengan satu gerakan tegas.

"Luana, dengar. Aku minta--"

"Aku tidak akan memaafkanmu," potong Luana cepat. "Seumur hidup pun, kau tidak akan mendapat maafku!"

Begitu saja berbalik badan, Luana kembali mencoba mengayun langkah yang sempat tertahan.

Dinginnya pasir yang terasa di bawah sana tidak membuatnya berhenti, saat kini yang ia pikirkan hanyalah bagaimana caranya menghapus jejak yang ditinggalkan Rey di tubuhnya.

Bagaimana dia melupakan hal keji itu, meski harus menghabiskan seluruh sisa hidupnya untuk membenci seorang brengsek seperti Rey Lueic.

.

.

.

~Bersambung~

1
🐻🐧🍊
sedih bacanya
Wheeny Permata
Sukak semua karya author satu ini...jatuh cinta😍😍😍😍
Shifa Burhan
reader2 yang menyukai Pedro

sekarang tanya pada diri kalian jika ada sosok Pedro versi wanita dan menyukai suami kalian, apakah kalian juga akan kagum wanita lain yang itu

pakai ajala biar tidak jadi wanita jablay yang lebih melebih pria lain dari pada suami sendiri
Shifa Burhan
seorang istri nyaman duduk dan ngobrol berduaan dengan pria lain kalian (author) anggap itu hal benar dan buka kesalahan

coba dibalik Thor suami mu nyaman duduk dan ngobrol berduaan dengan wanita lain apakah kau anggap itu hal benar juga

pakai akal sehat biar bisa bedakan mana salah mana benar
baca ulangggg/Drool/
Wulan TitAnica
The Best....
Arida Susida
Luar biasa
Anisa Marcella
Luar biasa
yella xarim
dah baca novel ini berkali2 ttp ga bosen.. keren Thor
Mifta Özil
ntah baca yg keberapa kali ga ngitung, slalu kgn sama novel ini huhu
Ray Aza
dih marah sm org yg salah, berkat gadis itu muka lo msh selamat..
Nafis
ahaa... stelah skian lama tak bca novel² kak bee krna takut kecanduan 🤭 coz 2th kebelakang kerempongan ngurus baby & toddler,luv kak bee 😘
shelome
baca lagi kangen sama tulisan kk bee
Wati Astuti
ku baca ulang ya thorr kangen sm Rey Luana.. Rey yg lama2 bucin tingkat dewa
N. Y
/CoolGuy/
syahira alifa
mantap bee
syahira alifa
salah dia sendiri kenapa lari di hari pernikahannya, sekarang menyesal pun percuma keadaan sudah tak lagi sama
syahira alifa
i love you bee tak kira bakal ada pertentangan antara orang tua rey dan rey gara²status luana..
syahira alifa
benih-benih cinta mulai tumbuh
Sri Lestari
ceritanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!