NovelToon NovelToon
Kehendak Atau Pilihan

Kehendak Atau Pilihan

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Wanita Karir / Keluarga & Kasih Sayang / Karir / Persahabatan / Romansa / Tamat
Popularitas:21.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Elga Rista

#Terkadang yang kita anggap obat ternyata adalah luka terhebat#

Novel ini menceritakan seorang laki laki yang bernama Raka Pratama. Raka pernah berpacaran dengan seseorang 5 tahun. Tetapi Ia menjalin hubungan dengan perempuan yang Pondasi hidup nya berbeda. Sehingga Membuat kedua orang tuanya tidak merestui hubungan mereka. Dan akhirnya, Ia memilih menyerah.

Luka di hati Raka yang masih basah tersebut , Ia malah bertemu dengan perempuan yang sedang patah hati. mengapa begitu? Rara baru saja mendapatkan kabar bahwa kekasihnya itu dijodohkan dengan perempuan lain. Padahal mereka berdua sudah memikirkan untuk lanjut kejenjang lebih serius.

Dua orang yang sudah patah, bertemu dalam keadaan rapuh. Tanpa sadar mereka saling menjadi sandaran. Bagaimana mereka mengatasi perbedaan dan tekanan dari orang sekitar? Apakah mereka bisa saling menyembuhkan atau justru saling melukai atau bahkan orang yang mereka temui adalah " Jodoh Orang lain "?

Bagaimana kelanjutan ceritanya? Ikutin terus yaaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elga Rista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal Yang Baru

Tapi takdir…

sudah mulai bekerja diam-diam.

---------------------------------------------------------------------------------------------

Malam sudah terlalu larut untuk pulang.

Itulah alasan sederhana yang akhirnya membuat Nayla kembali menginap di kos Rara.

Padahal, kalau dipikir-pikir, jarak kos mereka tidak sejauh itu. Tapi ada hal-hal yang tidak bisa diukur dengan jarak.

Seperti luka.

Seperti kesepian.

Dan seperti kebutuhan untuk tidak sendirian.

Rara duduk bersandar di kepala ranjang, rambutnya masih sedikit basah setelah mandi. Ia mengenakan kaos longgar dan celana panjang, sederhana, tapi cukup membuatnya merasa nyaman.

Di sampingnya, Nayla sibuk membuka tasnya, mengeluarkan skincare, charger, dan entah apa lagi yang seolah menjadi “perlengkapan wajib menginap mendadak”.

“Kamu tuh ya,” gumam Rara sambil tersenyum kecil, “kayak pindahan.”

Nayla menoleh cepat. “Ini bukan pindahan. Ini survival kit.”

Rara tertawa pelan.

Tawa yang tidak lagi dipaksakan.

Dan itu kemajuan.

Nayla akhirnya duduk di kasur, menghela napas panjang sambil merebahkan tubuhnya setengah.

“Capek juga ya hari ini,” katanya.

“Iya,” jawab Rara pelan.

Hening sebentar.

Tapi hening kali ini tidak canggung.

Lebih seperti jeda yang nyaman.

Seperti dua orang yang tidak perlu bicara untuk saling mengerti.

Malam yang Lebih Tenang

Lampu kamar diredupkan.

Hanya menyisakan cahaya kecil dari lampu tidur di sudut ruangan.

Rara menarik selimut sampai pinggang, lalu menatap langit-langit.

Nayla di sampingnya masih memainkan ponsel.

“Eh,” Nayla tiba-tiba bersuara.

“Hmm?”

“Kamu masih kepikiran dia?”

Pertanyaan itu keluar ringan.

Tapi tidak sembarangan.

Rara diam sejenak.

Mengambil waktu.

Lalu menjawab jujur.

“Masih,” katanya pelan. “Tapi… nggak seberat kemarin.”

Nayla menoleh.

Menatap Rara beberapa detik.

“Progress,” ucapnya sambil mengangguk.

Rara tersenyum kecil.

“Iya… mungkin.”

Ia menarik napas pelan.

“Sekarang rasanya bukan kayak kehilangan… tapi lebih kayak… menerima.”

Nayla tidak langsung menjawab.

Ia hanya menggeser tubuhnya sedikit, lalu berbaring menghadap Rara.

“Proud of you,” katanya pelan.

Rara menoleh, sedikit terkejut.

“Apaan sih.”

“Serius,” Nayla mengangkat alis. “Nggak semua orang bisa sampai di fase itu secepat ini.”

Rara tertawa kecil. “Cepat?”

Nayla mengangguk. “Percaya deh. Ada yang butuh berbulan-bulan cuma buat berhenti nyalahin diri sendiri.”

Kalimat itu membuat Rara terdiam.

Karena ia tahu…

itu benar.

Obrolan Tengah Malam

Beberapa menit berlalu.

Nayla tiba-tiba duduk lagi.

“Eh, ngomong-ngomong…”

Rara melirik. “Apa lagi?”

“Kita besok ke mana lagi?”

Rara mengernyit. “Loh, tadi kan udah pergi.”

“Ya kan itu hari ini,” jawab Nayla cepat. “Besok kan masih weekend.”

Rara menggeleng sambil tertawa. “Kamu nggak capek?”

“Capek,” jawab Nayla santai. “Tapi healing lebih penting.”

Rara menatapnya dengan ekspresi campuran antara heran dan geli.

“Kamu ini ya…”

Nayla menyeringai. “Apa?”

“Kamu punya pacar, loh.”

“Iya, terus?” jawab Nayla santai.

“Ya kasihan dia,” lanjut Rara. “Pacarnya malah sibuk sama aku.”

Nayla langsung terdiam sebentar.

Lalu memasang ekspresi dramatis.

“Ya Allah…” katanya sambil menepuk dada. “Aku lupa aku punya pacar.”

Rara langsung tertawa.

“Serius deh, Nay.”

Nayla mengibaskan tangan. “Dia aman. Lagi sibuk juga.”

“Beneran?”

“Beneran.”

Lalu Nayla tiba-tiba menatap kosong ke arah lemari.

“Eh tapi…” katanya pelan.

Rara menyipitkan mata. “Apa?”

“Kalau besok kita pergi lagi…” Nayla memicingkan mata. “Aku pakai baju apa ya?”

Rara langsung memukul bantal ke arah Nayla.

“Ya ampun, kamu mikirnya itu?!”

Nayla tertawa keras.

“Ya penting dong!”

“Kamu ini nggak serius banget.”

“Ya iyalah,” Nayla menjulurkan lidah. “Kalau aku serius terus, nanti kita berdua nangis lagi.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi tepat.

Rara terdiam.

Lalu mengangguk kecil.

“Iya juga…”

Rara yang Mulai Bangkit

Malam semakin larut.

Suara di luar sudah hampir tidak terdengar.

Hanya sesekali ada motor lewat.

Rara kembali berbaring.

Matanya mulai terasa berat.

Tapi sebelum benar-benar tidur, ia bersuara pelan.

“Nay…”

“Hmm?”

“Terima kasih ya.”

Nayla tidak langsung menjawab.

“Untuk apa?”

“Untuk… hari ini,” jawab Rara. “Dan kemarin. Dan semuanya.”

Nayla menghela napas kecil.

Lalu tersenyum.

“Makasihnya nanti aja kalau kamu udah bener-bener sembuh.”

Rara menoleh.

“Kalau belum?”

Nayla mengangkat bahu. “Berarti aku harus stay lebih lama.”

Rara tersenyum.

Hangat.

Dan kali ini…

lebih tulus.

Pagi yang Berbeda

Pagi datang lebih pelan dari biasanya.

Cahaya matahari masuk dari celah jendela, jatuh tepat di lantai kamar.

Rara terbangun lebih dulu.

Kebiasaan yang tidak berubah.

Ia duduk perlahan, menatap sekeliling kamar.

Nayla masih tidur.

Dengan posisi yang sama sekali tidak rapi.

Rara menggeleng sambil tersenyum.

“Ini orang ya…”

Ia bangkit pelan, mengambil air minum, lalu duduk di dekat jendela.

Untuk beberapa saat, ia hanya diam.

Menikmati pagi.

Tanpa rasa sesak.

Tanpa bayangan yang terlalu berat.

Dan itu terasa… baru.

Ponselnya tergeletak di samping.

Rara sempat melirik.

Tidak ada notifikasi penting.

Tidak ada nama yang dulu selalu ia tunggu.

Dan untuk pertama kalinya…

itu tidak membuatnya sedih.

Nayla akhirnya bangun sekitar setengah jam kemudian.

Dengan ekspresi khas orang yang belum sepenuhnya sadar.

“Jam berapa ini…” gumamnya.

“Udah pagi,” jawab Rara santai.

Nayla langsung duduk.

“Jadi kita pergi lagi nggak?”

Rara tertawa.

“Kamu ini ya…”

“Tanya dulu,” kata Nayla cepat.

Rara berpikir sejenak.

Lalu tersenyum.

“Pergi.”

“YES!” Nayla langsung berdiri.

“Tapi santai aja,” lanjut Rara. “Nggak usah jauh-jauh.”

“Yang penting keluar,” jawab Nayla.

Rara mengangguk.

“Iya. Yang penting… jalan terus.”

Nayla menatapnya.

Dan kali ini, ia benar-benar melihat perubahan itu.

Bukan Rara yang kemarin.

Bukan Rara yang menangis semalaman.

Tapi Rara yang mulai belajar berdiri lagi.

Pelan-pelan.

Tanpa terburu-buru.

#

Kadang, sembuh tidak datang dalam satu malam.

Tidak juga dalam satu keputusan.

Tapi dalam langkah kecil yang terus diambil.

Dalam tawa sederhana.

Dalam obrolan tidak penting.

Dan dalam kehadiran seseorang yang tidak pergi saat kita runtuh.

Rara belum sepenuhnya baik-baik saja.

Tapi ia sudah tidak berada di titik yang sama.

Dan itu…

sudah lebih dari cukup untuk hari ini.

(BERSAMBUNG....)

---------------------------------------------------------------------------------------------

Ikuti terus kisahnya di bab selanjutnya ✨

Jangan lupa beri komentar, saran, dan like 💛

Karena dukungan kalian adalah semangat untuk author terus menulis 🌷

1
Vania M.
kok sedyhhhhh aku nyaaaa/Sob/
Vania M.
ya ampun fajarrrrrrr👍Laki laki tidak suka basa basi ini🤣🤣
Vania M.
semangat fajarr😍
Elga Rista Septina
Hehe makasih banyak ya kakak-kakak. 🤍 Senang banget lihat kalian ikut menebak dan seru-seruan bareng. Semoga alur ceritanya tetap bikin penasaran yaa, jangan lupa ditunggu kelanjutan bab berikutnya. 🥰✨
Elga Rista Septina
makasih banyak ya kakak-kakak semua atas doa, semangat, dan dukungannya. 🥹🤍 Semoga kita semua selalu diberi kesehatan, kebahagiaan, dan dimudahkan segala urusannya. Untuk novel baru, mohon ditunggu yaa, author lagi nyiapin cerita terbaik buat kalian. Semoga nanti bisa nemenin hari-hari kalian lagi. Terima kasih sudah selalu setia menemani perjalanan author. 🤍✨🌷
Andita f.
Lanjut novel baru thor🙏🤣
Andita f.
lanjut💪
Andita f.
ya ampunnn🤣
Melinda Alvina
ya Allah sedihhh😭😭 Semangat terus kak. Ditunggu novel selanjutnya 🤗😁
Melinda Alvina
Alhamdulillah😍👍🙏
Melinda Alvina
loh sama fajar? bagusss😍
Cut Anggraini
Raka & fajar😍😍
alisyha
Alhamdulillah😍ga sesuai ekspektasi ku sih aku pikir sama Raka, ternyata sama fajar🤭 lanjut thor🤣🙏
Alzahra Dwi Anjar
gas poll fajarrrr🤣
Cut Anggraini
plot twist baru nih🤣
Elga Rista Septina
Terimakasih atas dukungannya🤗
Melinda Alvina
Haduh👍
Alzahra Dwi Anjar: astaghfirullah raka🤣
total 1 replies
Cut Anggraini
lanjut 🙏
Elga Rista Septina
WKWKWK ya ampun, kompak banget nih kalian ngerasain gemesnya. 🤣🤍 Makasih ya kakak-kakak udah selalu kasih komentar dan semangat buat author. Ditunggu aja kelanjutannya yaa, semoga nanti bisa menjawab rasa penasaran kalian. Doain author biar rajin update terus. Selamat menikmati ceritanya dan jangan lupa jaga kesehatan yaa. 🥰📚🤍
alisyha
Luar Biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!