Dua jam sebelum akad, Devon tiba-tiba dijebak masuk penjara. Demi harga diri keluarga, Liam terpaksa turun tangan menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Mira Hazelya.
Namun, malam pertama yang seharusnya indah justru berubah menjadi neraka. Liam murka saat mendapati fakta bahwa istri barunya ternyata sudah tidak lagi perawan!
"Kau memanfaatkanku?! Kau menjebakku untuk menjadi penanggung jawab dosa orang lain?!" bentak Liam penuh amarah, siap melayangkan talak.
Tepat sebelum Liam melangkah pergi, sebuah rahasia besar terbongkar. Noda di tubuh Mira bukan karena ia wanita murahan, melainkan bukti pengorbanan berdarah demi menyelamatkan keluarga Liam dari kehancuran.
Saat rasa benci dalam semalam berubah menjadi rasa bersalah yang mencekik dada, sanggupkah Liam menyembuhkan luka di hati Mira? Sementara di kampus, mereka harus bersandiwara seolah tidak saling kenal!
Kita Simak Yuk Kisah Selanjutnya Di Novel => Istri Pengganti Yang Terluka.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Cahaya matahari pagi yang cerah menerobos masuk melalui deretan jendela besar ruang kuliah teater Fakultas Ilmu Sosial. Ruangan berundak itu masih sepi, hanya ada beberapa mahasiswa yang duduk berjauhan sembari memainkan ponsel mereka.
Di barisan tengah, tempat yang biasa ditempatinya, Hilmira Hazelya melangkah masuk dengan anggun. Pagi ini ia mengenakan gamis berwarna khaki pastel dengan khimar hitam panjang. Cadar sifon hitamnya terpasang rapi, membingkai sepasang netra bulatnya yang jernih.
Namun, langkah Hilmira terhenti tepat di depan mejanya.
Di atas permukaan kayu jati meja kuliahnya, terletak sebuah kotak kado berukuran sedang yang dibungkus kertas tebal berwarna biru dongker satin yang elegan. Di atasnya, terikat pita sutra perak yang rapi, memperlihatkan sebuah kartu ucapan kecil dengan tulisan tangan yang sangat rapi.
"Untuk Hilmira. Semoga harimu menyenangkan dan tidak terganggu oleh badai kampus lagi. Dari seseorang yang mengagumi ketenanganmu."
Hilmira tertegun. Tangannya yang mungil masih memeluk buku catatan di dada. Ia menengok ke kanan dan ke kiri, namun tidak ada satu pun mahasiswa di ruangan itu yang memberikan tanda-tanda sebagai pengirimnya. Dengan ragu-ragu, ia mengulurkan jemarinya, menyentuh permukaan pita perak tersebut.
Brak!
Pintu depan ruang kuliah berdentum terbuka dengan ketukan yang teramat familier. Suasana hangat di dalam ruangan seketika menyusut, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk.
Arkan Oliver melangkah masuk.
Pria tegap itu mengenakan kemeja rajut putih bersih dengan potongan slim-fit yang menonjolkan bentuk dada bidang dan bahu kokohnya, dibalut celana bahan hitam berpotongan lurus yang elegan.
Rambut hitamnya ditata sedikit acak-acakan namun tetap berkelas, memberikan kesan casual-boss yang sangat memikat. Tas kulit premium tersampir di bahu kanannya, dan sebuah tablet kerja berada di genggaman tangan kirinya. Sebagai asisten dosen sekaligus pengawas, ia selalu datang lebih awal.
Mata elang Arkan yang tajam langsung menyapu seisi ruangan, dan dalam hitungan detik, fokusnya langsung terkunci pada kado biru dongker di atas meja Hilmira.
Rahang tegas Arkan seketika mengeras. Kilat amarah yang pekat dan keposesifan yang tak tertahankan langsung membakar netra hitamnya. Langkah kakinya yang berat dan berwibawa berdentum di atas lantai berundak, berjalan lurus menuju barisan tengah, mengabaikan sepenuhnya aturan pura-pura asing yang biasa ia agungkan.
Sret.
Tanpa permisi, tanpa sepatah kata pun, tangan kanan Arkan yang kekar menyambar kotak kado tersebut dari atas meja Hilmira.
"K-Kak Arkan?" Hilmira tersentak, matanya membelalak kecil dari balik cadar.
Arkan tidak menjawab. Wajah tampannya sedingin es batu, memancarkan aura membunuh yang begitu pekat. Jam tangan perak di pergelangan tangannya berkilau tajam saat ia membalikkan tubuh tegapnya, melangkah dua jengkel ke arah sudut depan kelas tempat sebuah tempat sampah besar berbahan besi berada.
Plung!
Dengan gerakan yang sangat santai, tak acuh, namun penuh dengan penekanan agresi, Arkan menjatuhkan kado mewah berpita perak itu ke dalam tempat sampah. Kotak itu menghantam dasar besi dengan bunyi berdentang yang keras, menggema di dalam ruang kuliah yang sunyi.
Hilmira berdiri dari kursinya dengan sentakan kaget. Seluruh tubuhnya gemetar, bukan lagi karena ketakutan trauma, melainkan karena rasa syok dan amarah yang mendadak meluap di dadanya atas tindakan sewenang-wenang pria itu.
"Apa yang Kak Arkan lakukan?!" suara Hilmira meninggi, bergetar hebat di balik cadar hitamnya. Ia melangkah keluar dari barisan mejanya, berdiri tepat di hadapan Arkan.
Arkan memutar tubuhnya, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana panjang hitamnya dengan gestur yang sangat tenang, angkuh, dan penuh dominasi mutlak khas cold CEO. Ia menatap Hilmira dari ketinggian postur tubuhnya, menunduk dengan tatapan mata elang yang begitu intens dan membakar.
"Membuang sampah," jawab Arkan, suara baritonnya terdengar sangat rendah, berat, dan tanpa dosa. "Ruang kuliah ini tempat untuk belajar, bukan tempat penampungan barang-barang murah dari pengagum tidak jelas."
"Barang murah? Kak Arkan bahkan tidak tahu apa isinya dan dari siapa!" balas Hilmira, dadanya naik turun dengan ritme cepat. Ini adalah pertengkaran mulut pertama mereka setelah berbulan-bulan saling membisu dalam kecanggungan. "Itu milikku! Siapa pun pengirimnya, Kak Arkan tidak punya hak untuk membuangnya begitu saja!"
"Aku punya hak penuh, Hilmira Hazelya," potong Arkan dengan suara yang turun satu oktav, menjadi begitu menekan dan berbahaya. Ia melangkah satu langkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulinnya yang mewah bercampur kesegaran mint langsung mengepung seluruh indra penciuman Hilmira.
Arkan mencondongkan sedikit tubuh bidangnya ke depan, mengunci netra bulat Hilmira dengan tatapan keposesifan yang telanjang.
"Sudah kukatakan di dalam mobil kemarin, bukan? Kontrak kita adalah Satu Semester. Status kita dirahasiakan demi keselamatanmu dari musuh keluarga Oliver. Menerima hadiah misterius dari orang asing di kampus adalah tindakan bodoh yang bisa memicu kebocoran informasi! Bagaimana jika isi kado itu adalah alat penyadap? Atau sesuatu yang membahayakanmu?!"
Arkan menembakkan alibi kontrak itu dengan rentetan kalimat yang logis dan tajam. Namun, kilat di matanya tidak bisa berbohong. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, ego Arkan sedang tercabik-cabik.
Ia meradang membayangkan ada pria lain, mungkin Rian, atau mahasiswa sialan mana pun, yang berani menuliskan kalimat manis dan memberikan hadiah untuk wanita yang secara sah tidur di bawah atap rumahnya setiap malam. Rasa cemburu yang membakar seluruh dadanya membuatnya bertindak nekat seperti ini.
Hilmira menatap lurus ke dalam manik mata hitam Arkan. Di balik kemarahan pria itu, ia melihat seberkas kabut emosi yang terlalu pekat untuk sekadar urusan keamanan kontrak. Rasa canggung yang luar biasa pekat mendadak menyelubungi atmosfer di antara mereka, membuat debaran jantung Hilmira berantakan.
"Jika Kak Arkan cemas soal keamanan, Kak Arkan bisa memintaku memeriksanya, bukan membuangnya seperti ini!" ujar Hilmira, suaranya melunak namun tetap sarat akan kekecewaan. "Kak Arkan selalu egois. Kak Arkan membuat aturan kampus agar kita asing, tapi Kak Arkan sendiri yang melanggarnya demi memuaskan keangkuhan Kakak!"
Bibir Arkan mengatup rapat. Kata-kata Hilmira menampar egonya dengan telak.
Beberapa mahasiswa lain mulai tampak berdatangan dan memasuki ruang kuliah, memandang kedua sosok yang berdiri berhadapan di depan kelas dengan tatapan penasaran. Menyadari situasi yang mulai tidak kondusif, Arkan menarik napas dalam-dalam secara paksa, mengembalikan topeng esnya yang sempurna.
"Kembali ke kursimu," perintah Arkan dengan suara baritonnya yang kembali datar, dingin, dan penuh otoritas mutlak. Ia membetulkan posisi kemeja putihnya dengan gestur yang sangat berkelas sebelum berbalik arah menuju meja dosen di depan.
"Dan ingat satu hal, Hilmira. Apa pun yang masuk ke dalam area kampus ini dan melibatkan namamu... adalah urusanku. Jangan pernah berani mengambil barang itu kembali dari tempat sampah jika kau tidak ingin aku mengambil tindakan yang lebih ekstrem."
Hilmira mengepalkan tangannya di sisi tubuh, menatap punggung tegap Arkan yang kini duduk di kursi pengawas dengan keanggunan yang menyebalkan.
Di balik cadar hitamnya, Hilmira menghela napas panjang yang sesak, merasakan debaran gila di jantungnya yang kian hari kian membingungkan, terjebak di antara kekesalan atas arogansi Arkan, dan getaran asing dari keposesifan sang suami kontrak yang menolak membiarkannya dimiliki oleh dunia.
...----------------...
To Be Continue ....
marah tandanya sayang 🤗
Arkan kamu sudah lupa dengan perjanjian itu 🤸🏼♀️😅
padahal bagus Liam
makanya jangan sok berkuasa 🫤🫤
emangnya seperti apa?