Kaisar Hou adalah seorang kaisar bijaksana dan baik hati. Ia juga menyandang gelar sebagai kaisar termuda di dinasti Ming. Pada umurnya ke 17 tahun ia sudah di nobatkan sebar seorang raja dan mampu membawa kerajaannya pada puncak kejayaan.
Namun hidupnya berakhir dengan begitu tragis di tangan saudaranya. Bahkan kekasihnya juga mengkhianati dirinya.
Namun dewa masih menyayanginya. Alhasil ia bereinkarnasi pada tubuh seorang siswa lelaki pada abad ke 21.
Namun sayangnya kehidupan siswa lelaki itu cukup sulit. Ia di cap sebagai pecundang dan selalu jadi objek bullyan teman temannya.
Lalu bagaimana Hou melalui rumitnya kehidupan barunya itu? Mampukah dia bertahan pada kerasnya dunia asing ini?
Yuk ikuti berjalanan Hou dalam menghadapi keras nya abad ke 21. Next reading guys😀😁😁😁
*Update setiap hari Selasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sofie Otviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Setelah melewati gerbang gaib itu Lino langsung sampai di sebuah tebing dengan pemandangan yang sangat menganggumkan. Sejenak ia meresapi bagaimana dunia berbeda yang mampu membuat matanya tak berkedip beberapa saat itu.
“Lucy..” ucap Lino memanggil macan putih yang sudah menjadi macan betina setinggi pinggangnya dan berukuran 2x lipat lebih besar dari ukuran badan Lino sendiri.
Macan putih itu langsung muncul dari balik bayangan sang tuan. “Ya tuanku.. hampa disini” ucap Lucy dengan berjalan ke samping tuannya yang masih setia memanjakan mataya dengan pemandangan neraka tersebut.
Yang dimaksud mengagumkan bukan lah pemandangan yang indah yang mampu membuatmu kagum dan ingin berlama lama memandangnya. Namun yang di maksudkan mengagumkan, karena pemandangan rusaknya dataran tersebut.
Dihuni oleh puluhan ribu gunung merapi aktif dengan sungai magma yang terbentang sepanjang jalan. Bahkan udaranya terasa sangat panas dan mampu membuat sesak paru paru.
“Yang Mulia.. apa yang harus anada lakukan, hingga sampai pada perbatasan neraka ini?” tanya Lucy menatap majikannya yang sedari tadi hanya diam dengan menghela nafasnya gusar.
“Aku sedang mencari Bland, kawanku. Kemana perginya bocah itu” jawab Lino dengan menyisir pemandangan mengenaskan tersebut secara teliti.
Lucy pun tersenyum, menertawakan majikannya yang selalu saja bersikap konyol. “Untuk apa anda menatap teliti seperti itu tuanku? Kau memilikiku bukan?”
Lino menaikan sebelah alisnya, tak paham akan maksud macan kesayangannya itu.
“Apa maksudmu? Apa kau bisa mencari keberadaan Bland disini? Aku saja kesusahan bernafas! Bagaimana caramu mengendus baunya di udara segersang ini?”
Lucy mengeluskan kepalanya kepada tangan Lino yang menggantung bebas di samping.
“Aku bisa merasakan hawanya tuanku. Mari, aku akan menuntunmu bertemu dengan dia. Namun karna ia sudah terlalu jauh! Aku akan membawa anda di punggung”
Akhirnya Lino pun duduk di punggung Lucy dan macan putih betina kesayangannya itu pun langsung melesat dengan kekuatan super. Lucy berlari dengan sangat cepat, namun tetap tak membuat Lino yang ada di punggunya itu terjatuh karna kecepatan geraknya.
Beberapa saat kemudian ia melihat penampakan Bland yang berada di depan mereka, jaraknya sekitar 6 km lebih dari tempat mereka berdiri. Namun Bland sedang di sibukkan dengan seorang titan yang menyrangnya dengan sangat ganas.
“Makhluk seperti itu juga masih ada di dunia ini ternyata” ucap Lino dan lagi lagi Lucy menertawakannya.
“Tuanku yang konyol. Tentu saja makhluk sepertinya ada disini. Ini adalah tempat atau bisa di sebut sebagai dunia mereka. Jadi bisa saja jumlah mereka lebih banyak dari perkiraan kita. Bahkan masih banyak lagi jenis monster disini” jelas Lucy membuat Lino mengagguk paham.
“Namun tentu saja masih banyak lagi monster baru. Karna jaman yang sudah berkembang ini, membuat kaum iblis juga mampu berevolusi menjadi makhluk baru yang lebih ganas dan mengerikan. Jadi bersiap siaplah berburu jika anda memasuki dunia ini” tambah Lucy membuat Lino mengerutkan keningya tak setuju.
“Jadi aku harus menghabisakan tenagaku untuk bertahan hidup disini? Begitukah maksudmu?” ucap Lino dengan nada malas dan kesal.
Lucy hanya mampu tertawa ketika mendengar penuturan tuannya tersebut. Bagaimana juga Lino adalah tuan bodoh yang mampu memiliki pemikiran seperti itu. sungguh petarung yang pemalas, batin Lucy masih setia dengan tawanya.
“Blandd...” panggil Lino dengan setengah berteriak. Yang di panggil pun langsung menoleh cepat padanya dan kernyitkan keningnya semakin nyata.
“Apa yang kau lakukan disini?? Ah.. salah! Bagaimana kau bisa masuk kemari??” tanya Bland dengan setengah berteriak, karna keadaan di sekitarnya tengah ribut oleh suara deguman dari titan yang berusaha memukulnya.
“Kita bahas nanti.. sekarang yang terpenting mengalahkan mahluk besar ini” balas Lino yang sudah berada di samping Bland.
Mereka berdua menatap titan yang ada di depan mereka dengan jarak beberapa meter dari tempat mereka berdiri.
“Apa yang harus kita lakukan untuk mengalahkannya?” tanya Lino dengan memandang Bland yang masih tetap serius memperhatikan gerak gerik monster tersebut.
Bland menatap Lino sejenak dan kemudian melesat begitu saja, ke arah titan yang juga tengah berlari ke arah mereka. “Penggal..!”
Singggh...
Lino membulatkan matanya saat kepala monster besar tanpa akal itu, tiba tiba terpisah dari tubuhnya.
“Hebat..” gumam Lino menyaksikan aksi Bland yang begitu tenang ketika menyarang monster yang besarnya berukuran 10x lipat dari tubuhnya.
Tap..
Bland berdiri dengan gagahnya di atas tubuh monster titan tersebut. “Sombong sekali” ejek Lucy membuat Bland membuang mukanya dan menghela nafasnya besar.
“Mari kita lanjutkan” ucap Bland dan memimpin jalan mereka. Lino dan Lucy hanya menurut dan mengikuti kemana lelaki itu pergi.
Lino bahkan tak mau banyak bertanya. Karna berjalan di dalam suhu sepanas ini saja sudah membuat dirinya tersiksa setengah mati, apa lagi harus menghabiskan energinya untuk mengobrol yang tidak terlalu penting.
“Kemana kita akan pergi, tuan sombong???” tanya Lucy dengan menyandingkan langkah nya di sebelah Bland. Sementara Lino masih tetap pada langkahnya yang mengekor jalan nya mereka.
“Inti neraka” singkat Bland dengan nada acuh. Ia juga tak terlalu senang dengan peliharaan Lino yang sombong ini. Bahkan menatap matanya saja Bland merasa sangat enggan.
“Apa yang akan kita lakukan disana??” tanya Lucy tak kalah acuh dengan Bland.
Sementara itu Lino hanya mampu memperhatikan mereka dari belakang.
Setelah beberapa lama berada di wilayah gersang ini, akhirnya ia mampu beradaptasi dengan udara maupun pemandangannya.
Bahkan sedari tadi ia fokus melihat sekelilingnya, asal Lucy dan Bland tidak bertengkar hingga adu tinju saja, Lino masih merasa tenang dan bisa mengalihkan perhatiannya kepada yang lain.
“Kita sampai” ucap Bland dengan bersamaan mereka sampai pada sebuah gerbang tinggi dengan ukiran berbentuk Hydra di pintunya.
Pintu itu menjulang tinggi di langit, bahkan mereka sampai tak bisa mengukur sebara tinggi pintu itu, karna ketika di lihat dengan mata saja, ia mampu menenbus lapisan pertama awan, jika begitu? Berapa ketinggian sebenarnya dari gerbang inti neraka tersebut??
“Ayo masuk..” ucap Bland dan tiba tiba 2 mahluk dengan tanduk yang mencuat dari kepalanya tiba tiba muncul, menghalangi jalan mereka dengan sebuah tombak.
“Siapa kalian? Kami belum pernah melihat kalian disini?” ucap seorang dari mereka dengan nada tak senang.
“Pergi.. sebelum sang raja tahu dan kalian akan di seret ke dalam penjara karna telah menyusup kemari” ucap iblis satunya dengan nada mengusir. Bahkan jari telunjuknya sudah menjuk pada arah awal mereka datang.
“Aku adalah anak dari Raja Adly, beraninya kau bersikap sombong di depanku. Sungguh makhluk rendahan” ucap Bland dengan penuh penekanan.
Namun ke dua iblis itu malah menyungging senyum sinis padanya.
“Hehh.. anak Raja terkutuk saja kau berani sombong. Dasar sampah!”
Selalu Semangat ya kak. Dan Mari kita saling mendukung. Terima-kasih