Patah hati terhebat adalah, mencintai seseorang yang sudah tak ada lagi di dunia ini.
Walau 10 tahun telah berlalu, faktanya hati Luna belum mampu merelakan kepergian Evan, kendati 6 tahun sudah ia menjalin kasih dengan Nathan.
Ketika Luna sudah berpasrah dengan takdir diri dan cintanya, semesta seolah kembali berhasil mengaduk perasaannya.
Tiba-tiba ia kembali di pertemukan dengan pria dengan wajah dan suara menyerupai Evan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28•
#28
“Seperti pohon besar yang sudah mengakar dengan kuat, seperti itulah dalamnya perasaanku. Walau dia telah tiada, sampai kapanpun memori tentang dia, tak akan pernah terhapus, seperti halnya jejak digital seseorang di server.”
“Entah kenapa aku punya pemikiran yang lain.”
Luna menoleh menatap wajah Mike yang terlihat santai tanpa rasa berdosa.
“Menurutku, hadiah terbaik yang bisa kita berikan untuk seseorang yang sudah meninggal, adalah melupakannya.”
Wajah Luna yang semula rileks usai makan di pagi buta, kini berubah, “jelaskan maksud perkataanmu?” tanyanya datar serta dingin tanpa emosi.
Evan mengangkat kedua pundaknya. “Entahlah, tapi jika kita berpikir secara logis, orang yang sudah meninggal tak mungkin hidup kembali, kan? jadi buat apa kita terus mengingatnya, bukankah hanya akan membuat perasaan semakin sakit, karena rindu yang tak pernah menemukan obatnya?”
Air mata Luna menetes, “semudah itukah bagimu? apa kamu pernah merasakan cinta begitu dalam? apa kamu pernah merasakan debaran sedikit saja, hanya karena menatap kekasih hatimu?” tanya Luna meradang. “Ah, iya aku lupa, kamu adalah seseorang yang dingin dan berhati batu. Maka pantas saja jika kamu tak pernah merasakan debaran orang-orang yang sedang jatuh cinta.”
“Aku punya kekasih, dan aku juga mencintainya, jadi aku rasa penilaianmu itu hanyalah omong kosong.” Entah kenapa Evan tan suka mendapatkan penilaian dari orang lain.
“Oh, ya? tapi aku tak yakin kamu mencintai kekasihmu," tuding Luna.
“Jangan menilai sembarangan!!” jawab Mike dengan nada sedikit emosi. “Kalau aku tak mencintai Valerie, buat apa aku bertunangan dengannya, jika saja kamu tidak tiba-tiba hadir diantara kami, tentu saat ini kami sedang sibuk menyiapkan pernikahan.”
“Bagaimana rasanya? kamu marah, bukan? kalau begitu jangan sok-sokan menilai perasaanku. Kami mulai saling mencintai dengan perasaan yang sangat sederhana, bukan kata romantis palsu, atau rayuan gombal. Melainkan dari perasaan yang murni, polos, tanpa ada embel-embel yang lain.”
Luna pun berlalu, tapi kemudian ia ingat sesuatu, kemudian kembali berbalik menuruni tangga. “Daripada pada waktumu sia-sia untuk mengurusi perasaanku. Lebih baik kamu mencari penyebab kenapa Pelangi selalu ketakutan, setiap kali melihat kehadiran Valerie.”
“Kamu baru mengenal Pelangi, bagaimana mungkin bisa menerjemahkan perasaannya.”
Luna tersenyum, “terserah, aku sudah ingatkan, jangan sampai kamu terlambat mengetahui kondisi anakmu sendiri.”
…
Beberapa hari berlalu, sikap Luna terhadap Mike jadi semakin dingin, begitu pula sebaliknya. Tak ada komunikasi diantara mereka selain hanya soal Pelangi, bahkan usai mengantar Pelangi menjalani pemeriksaan, serta melepas gips di Rumah Sakit, Mike segera kembali ke tempat kerja. Sementara Pelangi bersama Luna pergi ke Sekolah, karena Pelangi sudah tak sabar untuk kembali belajar.
“Baik-baik sama Mama, yah?” pesan Mike ketika memasang safety belt di kursi Pelangi.
“Iya, Pa.” Gadis kecil itu menjawab dengan riang, karena sudah terbayang bisa ke sekolah hari ini.
“Sini, peluk Papa. Dan ingat, jangan pergi kemanapun sebelum Mama datang.”
Di pelukan Mike, Pelangi mengangguk. “Bagus," puji Mike dengan usapan di kepala Pelangi. “Pelangi tahu, kan? Kalau Papa sangat sayang pada Pelangi?”
Pelangi mengangguk, “Ceritakan semuanya, apapun semua hal yang selama ini tidak Papa ketahui, hem?”
Pelangi kembali mengangguk dalam diam namun kedua matanya tampak berkaca-kaca.
Kemudian Mike menutup pintu mobil, “sementara ini, kalian akan kemana-mana diantar sopir.”
“Aku bisa melindungi diri,” jawab Luna.
“Tidak! jika kau sedang bersama Pelangi." Kalimat tegas seketika keluar dari mulut Mike, nampaknya ia benar-benar tak ingin hal buruk kembali menimpa Pelangi.
“Baiklah, tak masalah, " pungkas Luna.
…
Mobil yang membawa Pelangi dan Luna, tiba di sekolah.
“Pak Edi, nanti jemput saja usai jam Sekolah.”
“Lalu? Nyonya sendiri bagaimana?” Pak Edi bertanya, karena tak biasanya Pak Edi akan pulang bersama Mbak Yuli, kemudian kembali menjemput di jam pulang Sekolah. Tapi ternyata Nyonya mudanya ini meminta hal sebaliknya.
“Tak apa, Sekolah ini ada di bawah naungan Yayasan keluarga kami, jadi aku bisa menunggu sampai jam pulang Sekolah, sambil memeriksa beberapa hal.”
“Baiklah, kalau begitu saya permisi pulang.” Pamit Pak Edi.
“Ayo, Sayang, kamu sudah terlambat.” Luna meraih tangan Pelangi.
Dan dengan riang, Pelangi menyahuti ajakan sang Mama. “Iya, Ma.”
Namun, baru beberapa meter mobil Pak Edi menjauh. Luna melihat punggung seseorang yang ia kenali, dan tak berapa lama, orang tersebut berbalik. “Sandi??” sapa Luna.
Mendengar namanya disebut, Sandi pun mendongakkan pandangannya. “Nyonya … “
“Sedang apa disini?” tanya Luna ketika Sandi sudah berada di hadapannya.
“Mmm … Tuan Mike meminta saya menyelidiki kejadian yang menimpa Nona Pelangi tempo hari.”
“Tunggu di sini, aku akan mengantar Pelangi ke kelasnya.”
“Baik, Nyonya.”
Luna pun membawa Pelangi memasuki gerbang Sekolah, usai mengantar Pelangi sampai di kelasnya, Luna kembali ke depan gerbang Sekolah, tempat Sandi menunggunya.
“Jadi, apa yang sudah kamu temukan?” Luna bertanya.
Sandi nampak kebingungan, sambil menatap istri dari Bosnya.
“Kenapa diam?”
“Tuan bilang, apapun informasi yang saya dapat, sifatnya rahasia.”
“Baiklah, aku akan diam, dan kamu tak perlu jujur pada Mike.” Luna menarik garis dari sudut bibir sebelah kiri hingga ke sebelah kanan, sebuah kode bahwa mulutnya akan tertutup rapat. “Masalah selesai, dan tetap jadi rahasia kita berdua.”
Sandi pun mengangguk, sudah berhari-hari menyelidiki semua TKP, namun tak jua menemukan rekaman CCTV yang ia butuhkan.
Sandi menunjukan hasil rekaman CCTV yang ia dapat dari sekolah Pelangi, dan di situ terlihat, Pelangi sedang menerima telepon, bisa dipastikan kejadian itu usai Luna pergi berfoto dengan para Guru. Karena seingat Luna, Pelangi saat itu hanya melihat ponselnya, bukan melakukan atau menerima panggilan.
Tak lama sesudahnya Pelangi menyimpan kembali ponselnya di tas, kemudian pergi meninggalkan halaman Sekolah, tanpa ada siapapun yang menjemput, atau mendampinginya.
“Hanya ini?” Tanya Luna yang penasaran dengan arah tujuan Pelangi usai meninggalkan Sekolah.
“Benar, Nyonya, dan saat ini saya sangat berharap, ada rekaman CCTV yang mengarah ke pertigaan di depan sana.”
Sandi menunjuk pertigaan jalan, tempat kejadian berlangsung.
Luna nampak terdiam sejenak, “ADA!!!!”
“Iya, Nyonya!?”
“Ada, aku punya rekamannya.” Wajah Luna berseri-seri, karena baru saja terpikirkan bahwa ia memiliki bukti yang Sandi butuhkan.
…
“Aaaahhh… Sayang, aku merindukanmu.” Seperti biasa, Valerie selalu menyambut kedatangan Mike dengan peluk dan ciuman manja.
“Hmm, aku juga,” balas Mike.
“Tapi, suaramu terdengar lemas?”
“Itu karena pekerjaanku yang benar-benar padat.”
“Kalau begitu masuklah, aku akan membuatkan teh herbal untukmu.”
Mike mengikuti langkah Valerie menuju sofa ruang tengah, sambil menunggu Valerie menyiapkan teh herbal tangannya otomatis menekan tombol power pada remote televisi.
Beberapa menit menunggu Mike jadi penasaran, hal apakah gerangan yang membuat Valerie begitu lama hanya untuk menyiapkan secangkir teh untuknya.
“Sayang, kenapa lama sekali?” teriak Mike.
“Iya, sabar, aku tadi sedang mencari-cari stok teh di tempat penyimpanan,” jawab Valerie.
Mike diam, tak lagi bertanya, tapi karena 5 menit kemudian, Valerie tak kunjung datang, Mike pun menghampirinya di dapur.
“Apa yang kamu tambahkan ke minumanku!!??” pekik Mike ketika melihat Valerie memasukkan beberapa tetes cairan ke dalam cangkir teh yang ia siapkan untuk Mike. Bahkan di hadapan Valerie, ada sebuah kotak berisikan botol-botol dengan berbagai macam label, yang tak Mike ketahui.
baru runut ke semua nya