NovelToon NovelToon
PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Istana/Kuno / Transmigrasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29 - RAHASIA KERAJAAN

Wulan sedang duduk di kursi tandu yang indah. Kain kasa tebal berwarna merah dan ungu menutupi sosok mungilnya, dan juga menghalangi pandangan penasaran orang-orang di kedua sisi jalan. Ada musik meriah yang dimainkan sepanjang iring-iringan, dan di tengah riuh suara itu, ia hanya bisa mendengar samar-samar beberapa perbincangan orang-orang di dekatnya. Dari balik celah kain kasa, ia bisa melihat bayang-bayang orang berjejer memenuhi tepi jalan, semua ingin melihat sendiri kemegahan pernikahan yang sedang menjadi perbincangan seluruh kota.

"Saya telah mencari ke seluruh penjuru Kesultanan Tirtaloka dan negeri-negeri seberang, dan hanya ada empat tandu seperti ini. Belum lagi berbicara tentang hadiah pertunangan lainnya, kursi tandu ini saja bernilai setidaknya satu juta keping uang emas." Suara itu penuh kekaguman, berusaha memperkirakan harga mahar yang terlihat mewah itu.

"Satu juta keping uang emas?!" Suara lain menyela dengan tidak percaya, seperti tidak mampu membayangkan angka sebanyak itu.

"Apakah kamu tidak melihat tirai kasa tebal di kursi tandu itu? Itu brokat pasir hisap senilai seratus keping uang emas untuk satu jengkal kain, yang tidak bisa digunakan oleh orang kaya biasa. Hanya kerabat Sultan yang sejati yang boleh menggunakannya." Orang itu menjelaskan dengan nada tahu segalanya, seolah baru saja membuka rahasia besar. Ada decak kagum yang bertebaran di antara para pendengar, dan beberapa di antara mereka menggeleng-gelengkan kepala takjub memikirkan betapa agungnya kedudukan sang pangeran.

"Lihatlah upacara ini, jauh lebih megah daripada pernikahan seorang putri." Perbincangan itu terus berlanjut, dan semakin banyak suara yang ikut bergabung.

"Benar kan? Dalam hal kedudukan, Pangeran Nalendra ini masih akan memanggil Sultan yang berkuasa sekarang dengan sebutan 'saudara'. Bahkan para putri dan pangeran dari keluarga kerajaan akan dengan hormat memanggilnya 'paman' ketika mereka melihatnya. Siapa sebenarnya orang ini? Jangan beri dia tiga sen mie saat kamu melihatnya." Ada nada bercanda di dalamnya, tetapi juga kekaguman yang nyata. Para warga yang mendengarnya tertawa kecil, tetapi tidak ada satu pun yang berani bersuara terlalu keras, seakan takut nama Pangeran Senja akan mendatangi mereka dari jauh.

"Kalau begitu ini aneh. Bagaimana bisa Pangeran Nalendra jatuh cinta pada putri ketujuh dari keluarga Ardani? Bukankah itu berarti putri ketujuh dari keluarga Ardani memiliki hubungan yang tidak bisa dijelaskan dengan Pangeran Cendana?" Suara itu dipenuhi rasa ingin tahu, dan untuk sesaat suasana menjadi hening seolah menunggu jawaban.

"Siapa tahu. Diam. Masalah kerajaan bukanlah sesuatu yang bisa kita orang biasa diskusikan sesuka hati, hati-hati jangan sampai kehilangan akal." Peringatan itu diucapkan dengan suara rendah, dan perbincangan itu pun berangsur-angsur mereda.

Obrolan di telinganya berangsur-angsur menjadi samar, dan Wulan menutup telinga terhadapnya. Ia hanya duduk diam di kursi tandu, memikirkan kehidupannya dulu dan sekarang. Hingga selesai bersembah sujud kepada langit dan bumi serta memasuki kamar pengantin, ia masih dalam keadaan linglung, sepertinya belum sadar bahwa semua yang ia alami hari ini benar-benar nyata. Dua kali ia melewati pintu pernikahan, tetapi hanya kali ini tangannya menggenggam erat jubah pengantinnya sendiri, siap memegang tangan yang akan mengantarnya menuju masa depan.

Ia mengalami pernikahan lagi, tetapi kali ini suasana hatinya benar-benar berbeda. Entah kenapa, tetapi harapan dan rasa malu yang tidak ia miliki di pernikahan terakhir semuanya mengalir deras ke dalam hatinya saat ini. Kini ia tidak lagi terpaksa, dan tidak ada satu pun bagian dari hari ini yang ia sesali.

Setelah Nalendra mengirimnya ke kamar tidur, ia pergi ke ruang depan untuk menghadiri perjamuan, hanya menyisakan Intan di kamar untuk merawatnya. Wulan menatap punggungnya yang menjauh, dan untuk sesaat merasakan kehangatan yang sulit ia jelaskan di dalam dadanya.

"Nona, apakah Anda ingin makan dulu untuk menenangkan perut Anda? Perjamuan di aula depan baru saja dimulai. Saya khawatir pangeran akan membutuhkan waktu cukup lama untuk datang." Intan menutup pintu, berjalan ke sisi Wulan, dan bertanya dengan penuh perhatian.

Wulan dengan lembut melepas kerudung yang menutupi kepalanya dan melambaikan tangannya dengan lesu. "Tidak, tekan saja leherku untukku dan itu akan baik-baik saja." Ia tampak lelah, tetapi senyuman kecil tetap tersungging di sudut bibirnya.

Mahkota burung hong di kepalanya penuh dengan manik-manik batu giok, dan bertatahkan permata serta batu giok besar sebagai penghormatan dari negeri asing. Sekilas sangat berharga, tetapi juga sangat berat, dan hampir membebani leher Wulan. Kepalanya terasa seperti akan patah setiap kali ia menggerakkannya, dan ia hampir lupa bahwa ia masih mengenakan benda seberat itu. Baru saat ia duduk diam di tepi pembaringan, ia bisa menarik napas lega dan merasakan beban itu perlahan hilang dari bahunya.

Intan menjawab, meletakkan barang-barang di tangannya, dan memijat lehernya dengan lembut. Tangannya yang terampil bekerja perlahan, melonggarkan otot-otot yang tegang setelah seharian mengenakan mahkota yang berat.

"Nona, Puri Senja ini benar-benar sepi." Intan merendahkan suaranya dan berkata dengan suara rendah sambil menahannya. Ia tidak melihat satu pun pelayan ketika ia datang ke sini tadi, dan suasana yang senyap itu membuatnya sedikit cemas.

Wulan mengangkat dagunya dan tersenyum. Selain penjaga bayangan yang bersembunyi di kegelapan, hanya ada empat atau lima pemuda di rumah Nalendra. Tidak ada wanita, jadi tentu saja tidak semeriah Puri Ardani. Nalendra memang lebih menyukai kesunyian, dan Wulan mulai mengerti mengapa. Di tempat yang hening seperti ini, tidak ada intrik yang harus ia waspadai, dan tidak ada bisik-bisik yang harus ia takuti di balik setiap sudut.

Seperti kata pepatah, semakin banyak perempuan, semakin banyak pula masalah. Puri Ardani ramai dengan kegembiraan, tetapi para wanita di halaman belakang dan keluarga kedua yang tiada henti justru membuat rumah itu berisik dan merepotkan. Kebisingan itu dulu terasa biasa, tetapi kini Wulan baru menyadari betapa melelahkannya. Ia tersenyum kecil membayangkan hidup di tempat yang sunyi seperti ini — jauh dari pergunjingan, jauh dari iri hati, hanya diisi oleh keheningan yang justru terasa menenangkan.

"Bukankah ada rumor di pasar bahwa Pangeran Senja dari Kesultanan Tirtaloka memiliki sifat dingin dan terasing dari orang lain. Anda seharusnya sudah mendengarnya sebelumnya." Wulan memejamkan mata dan menjawab dengan malas, setengah bersandar di tepi tempat tidur.

"Aku pernah mendengarnya sebelumnya, tetapi aku tidak pernah mengira hanya ada sedikit orang di kediaman ini." Intan mengangguk, dan untuk sesaat keduanya terdiam, saling merasakan suasana baru yang tenang dan aneh di tempat yang belum lama mereka kenal ini. Dari luar, suara pesta dan sorak-sorai para tamu terdengar samar, mengingatkan mereka bahwa malam yang sesungguhnya baru akan dimulai ketika sang pangeran kembali ke kamar pengantin.

1
Candra Buwana
novel ini tidak bosan untuk dibaca. keren dah. bikin penasaran terus. lanjutkan thor
Kartika Candrabuwana: terimakasih atas votenya.🙏
total 1 replies
prameswari azka salsabil
keren dah novel ini. membuatku terhanyut dalam emosi. sukses selalu buat penulis.
Candra Buwana: betul sekali
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!