Banyak sekali yang harus dilakukan Ananta Shakira sebagai bukti baktinya pada orang tuanya. Demi mendapatkan simpati publik, papanya memasukkannya sebagai tenaga pengajar di sebuah Taman Kanak Kanak.yang sudah terkenal dedikasinya dalam menelurkan anak anak pintar yang berbakat.
Kemudian dia juga harus mau dijodohkan dengan Arsen Angkasa, pewaris pengganti yang sedang naik daun, karena pewaris sebelumnya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.
Pewaris pengganti itu butuh power keluarganya yang merupakan pengusaha lokal dan salah satu wakil ketua dewan yang terhormat untuk memperkuat posisinya. Sedangkan keluarganya membutuhkan pewaris ini untuk bisa sejajar di kalangan bisnis dengan menjadikannya sebagai menantu keluarga konglomerat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marah
"Kamu kenapa?" tanya Arsen heran melihat kediaman Ananta yang duduk di sampingnya di dalam mobil yang sedang disupiri Keto. Sementara dia sibuk menelpon klien kliennya sambil membaca kertas kertas yang ada di atas pangkuannya.
Ananta hanya menggelengkan kepalanya dan malah merapikan kertas kertas Arsen yang berserakan di pangkuannya. Sikapnya sudah seperti asisten pribadi Arsen saja.
Arsen tidak bisa lama lama memperhatikan raut wajah tak biasa Ananta. Dia kembali melanjutkan telponnya karena kliennya sedang memaparkan hal hal yang sangat serius.
Ananta menatap ke arah lain. Ternyata dia sesibuk ini, batinnya.
Walaupun orang tuanya sudah memberitaunya, tapi Ananta baru melihat dengan mata kepalanya sendiri kesibukan luar biasa Arsen. Selain di dalam mobil, tadi di perusahaannya juga Ananta melihat hal yang sama.
Tapi perasaan Ananta saat ini benar benar ngga nyaman. Dia paling ngga suka lama lama menyimpan kecurigaannya. Apalagi ini menyangkut dengan calon suami yang akan menikahinya beberapa hari lagi.
Ananta hanya malu mengungkapkannya karena ada Keto yang bisa mendengar kata katanya nanti.
Atau Keto memang tau semua rahasia Arsen?
Arsen jadi memperhatikan wajah Ananta saat menelepon. Beberapa kali dia hilang fokus apalagi ketika melihat tengkuk putih yang terlihat jelas karena seluruh rambutnya yang dikuncir ke atas menyisakan anak anak rambut yang seolah memanggil bibirnya datang untuk mengec-upnya di sana.
Arsen membuang nafas akibat pikiran kotor yang bersemayam di dalam benaknya.
"Kamu ngga apa apa, kan, Ananta? Atau kamu ketular sakitnya istri teman papamu?"
Mendengar disebutnya teman istri papanya, kekesalan Ananta yang sudah hampir menguap, jadi menggumpal lagi.
Ananta ngga menjawab tapi memasang wajah masam menatapnya.
Loh, dia kenapa? Arsen malah kaget mendapat respon yang ngga dia sangka.
Dia meletakkan ponselnya. Sabarnya mulai hilang.
"Keto, berhenti di depan minimarket itu," perintahnya ketus.
"Siap, bos," sahut Keto patuh. Dia segera memasuki parkiran minimarket.
"Kamu belanja yang lama. Satu jam kalo perlu," usirnya membuat Keto langsung paham.
"Siap, bos."
Ananta kaget mendengarnya.
"Bukannya nanti kamu akan terlambat?"
"Itu karena kamu." Tegas Arsen dengan sorot menyalahkan.
"Karena aku?" Tanpa sadar Ananta berteriak.
Keto buru buru keluar dari dalan mobil karena ngga mau mendengar.pertengkaran calon suami isti yang akan menikah itu. Dia berjalan cepat menuju minimarket.
Ananta menghembuskan nafas kasar. Dasar egois, makinya geram. Dia bermaksud keluar dari dalam mobil. Tapi Arsen lebih cepat menarik tangan Ananta hingga tubuhnya jatuh ke pelukannya. Kertas kertas yang sudah dirapikan Ananta tadi di atas pangkuan Arsen jatuh berserakan. Bahkan ada yang keinjak dan ketindihan tubuh Ananta dan Arsen.
"Kamu ngga bisa pergi sebelum masalah kita selesai."
"Masalah apa? Kamu terlalu mengada ngada," bantah Ananta membalas tatapan Arsen, tapi hanya sebentar karena Arsen malah mengeratkan pelukannya.
Ananta tiba tiba jadi takut. Posisi mereka cukup intin. Teringat lagi kejadian di perpustakaan. Sekarang dia berusaha melepaskan pelukan Arsen. Tapi calon suaminya tidak membiarkannya.
"Katakan apa yang mengganggu pikiranmu?"
Ananta memalingkan kepalanya.
"Ngga ada."
"Atau kita malam pertama sekarang?" ancam Arsen dengan mata yang sudah menggelap. Tangannya meraih dagu Ananta dan menghadapkannya ke arahnya.
Ananda tentu sangat takut mendengarnya. Jantungnya berdebar sangat cepat, adrenalinnya seakan dipacu sangat kencang. Apesnya lagi mini market itu cukup sepi. Dan Keto yang penurut itu pasti ngga akan keluar dari dalam minimarket sebelum tuan mudanya selesai dengan urusannya.
"Kamu beneran mau kita malam pertama sekarang?" ancam Arsen lagi. Ujung tangannya mengusap bibir Ananta yang masih menatapnya nanar.
Wajah Arsen makin mendekat. Kerjaan yang menumpuk, masalah masalah di proyek yang ngga ada habisnya, membuat saraf saraf di kepalanya semakin menegang. Kehadiran Ananta yang dia harapkan bisa menurunkan tekanan pikiran sumpeknya tapi kini malah tambah membuatnya sakit kepala.
Sebenarnya dia sudah melakukan kesalahan apa? batinnya makin ngga mengerti dan anehnya kemarahannya makin membuat adrenalinnya naik drastis. Apalagi Ananta sangat dekat dengannya. Tubuh mereka juga tidak berjarak.
Ananta memalingkan wajahnya. Dia ingin memggunakan kedua tangannya untuk menjauhkan wajah Arsen, tapi laki laki itu sudah menahannya.
Ci-um@n panas Arsen menyasar ke rahang Ananta membuat dia melenguh.
"Ja jangaan ....," desisnya lirih.
"Kamu memang mau kita melakukannya di sini, kan?" Ci-uman Arsen mulai menyusuri bagian bawah rahang Ananta. Jantungnya berdebar cepat. Sekarang bukan ujung jarinya lagi yang nakal di sana, tapi bibirnya yang sudah mengeluarkan hawa panas tubuhnya.
"Ti ,,,, tidak. Hen .... tikan. Ak aku marah .... sama kamuh." Akhirnya Ananta bisa mengatakan alasan yang membuat dia marah.
Arsen menjauhkan bibirnya yang hampir saja menyentuh leher Ananta.
"Marah kenapa?" Arsen tidak mengubah posisi mereka. Mereka bisa merasakan detak keras jantung masing masing.
Ananta mengatur nafasnya yang tersengal.
Darah Arsen tersirap merasakan pergerakan tubuh bagian depan Ananta. Sekuatnya dia berusaha menahan gejol@h alaminya
"Kamu kenalkan dengan istri Pak Sudrajat?"
Arsen sudah bisa menduganya karena dia merasakan tatapan Ananta yang mengawasi gerak geriknya dan Emma.
Arsen mengusap kening Ananta lembut. Dia menjatuhkan kepalanya di atas bahu Ananta.
"Dulu aku dan Emma bekerja sebagai model di agensi yang sama." Arsen terdiam sambil menghidu harumnya feronom dari tubuh Ananta.
Arsen menghela nafas panjang membuat Ananta terjengit karena nafas panasnya menyapu kulit selangkannya.
Arsen menatapnya lekat kemudian melonggarkan pelukannya hingga kedua tangan Ananta bisa bebas kembali.
"Aku menyukainya. Dia sangat baik. Tapi saat aku ingin menjadikannya kekasih, aku ditolaknya," jelas Arsen tanpa beban. Seakan cerita itu hanya dongeng anak anak sebelum tidur.
Ananta ngga tau persis bagaimana perasaan Arsen saat ini. Tapi hatinya mendadak merasa sangat sedih.
Tapi Arsen tidak memperhatikannya. Dia melanjutkan ceritanya dengan gamblang.
"Aku patah hati saat itu, karena alasan Emma menolakku tentang materi yang ngga aku miliki. Sejak itu aku tidak pernah bertemu dengannya lagi karena katanya dia sudah punya kekasih dari Asia yang sangat kaya raya."
Arsen masih betah berada di bahu Ananta. Dia meraih tangan Ananta. Menggenggamnya lembut
"Aku tidak pernah punya kekasih sejak itu. Dan setelah papi membawaku ke sini, banyak perempuan yang dulu menganggap rendah diriku, sekarang menawarkan dirinya secara suka rela."
Arsen mendongak hingga ujung hidungnya menggesek rahang bawah Ananta yang menimbulkan gelenyar aneh di dadanya.
Ananta memejamkan mata karena merasakannya juga.
Arsen menunggu saat mata indah itu terbuka.
Dia kemudian melanjutkan kata katanya.
"Hanya kamu yang tidak menyukai aku yang sudah menjadi tuan muda." Arsen tersenyum kemudian mengec-up sekilas bibir Ananta yang masih terdiam dengan pipi yang sangat merona.
Jantung Ananta semakin cepat berdetak. Arsen dapat merasakannya.
"Tadi setelah selesai menelpon, Emma mendekatiku untuk meminta maaf. Tapi aku mengabaikannya. Aku kembali untukmu."
Mata Arsen berubah sayu
DEG
Ananta merasakan kekesalannya menghilang dan berganti dengan perasaan yang membingungkan. Dia merasakan perasaannya sudah dilambungkan sangat tinggi oleh kalimat terakhir Arsen.
Matanya setengah terpejam ketika bibir Arsen menyentuh bibirnya.
semangat😉
cerita keluarga baru apa?