Arully Beena sosok seorang gadis yang dilahirkan tanpa ayah. Ibunya korban kebejatan seorang laki-laki yang tidak mau bertanggung jawab. Dia lahir dengan perekonomian yang begitu sulit sehingga ia terjebak dalam kelompok anak-anak punk di kotanya.
Bagaimana Beena bisa melewati kehidupan yang begitu keras sampai ia bisa menemukan jati dirinya melalui pertemuannya dengan sosok bocah cilik yang membawanya berhijrah dengan tulus.
Bagaimana pula kisah percintaannya dengan seorang laki-laki yang begitu sempurna di matanya dengan menikah paksa karena terjebak oleh situasi.
"Anggap pernikahan kita semalam tak pernah ada. Aku tidak pantas menjadi istrimu. Aku hanya gadis punk yang hanya singgah tanpa rencana. Terima kasih sudah menolongku." Arully Beena.
Ikuti kisahnya sampai selesai ya!
Tinggalkan jejakmu like, komen dan subcribe teman-teman!💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 Bertemu di Konser
Lisa berwajah sumringah setelah menerima telepon dari teman SMAnya. Bulan lalu ia melewati acara konser grup band kesayangannya karena tugas pekerjaan yang menumpuk.
Akhirnya sore ini ia diajak bersenang-senang untuk menghadiri konser legendaris yang konon akan berkolaborasi dengan artis lokal pendatang baru.
"Mau ke mana? Tanya Rasya begitu melihat Lisa langsung menyambar tasnya setelah menerima telepon dari seseorang.
"Ke Eldorado, mau lihat konser." Jawab Lisa dengan wajah ceria.
"Ini sudah sore loh. Pasti sampe malam acaranya. Sama siapa ke sana?" Rasya melirik arlojinya.
"Teman-teman SMA Kak."
"Besok kamu kan harus kerja?"
"Ya engga dong kakak ganteng. Besok kan Minggu. Oiya perihal motor nanti aku pikirkan lagi, mudah-mudahan sih masih rezeki. Siapa tahu aku sama lelaki itu bisa bertemu kembali." Jelas Lisa sedikit menenangkan diri sendiri.
"Semoga saja dia memiliki itikad baik untuk mengembalikan motor tersebut. Terus kamu ke sana naik apa?"
"Naik mobil teman. Tuh udah nunggu di depan gerbang. Udah ya Kak. Lisa pamit. Oiya jangan nungguin Lisa pulang, malam ini Lisa pulang ke rumah mama aja."
"Iya. Kalau sudah selesai secepatnya pulang jangan main yang ga penting."
"Iya Kakakku panggantengna sajagat RT ...ha...ha...ha! Makasih sudah diberi izin." Lisa meraih punggung tangan Rasya.
"Eeeeh kenapa Kakak ikutan keluar?" Begitu melihat Rasya mengekor di belakangnya.
"Kakak hanya ingin memastikan kamu pergi dengan orang yang tepat." Kata Rasya khawatir.
"Iiish Kakak masih ga percaya aja sama adeknya." Gumam Lisa kesal pada kakaknya yang selalu overprotektif.
"Biarin yang penting kamu selamat."
Terlihat sebuah mobil Brio berwarna merah bertengger di depan rumahnya. Di dalam mobil terdapat 4 orang wanita berpenampilan trendi. Salah satu wanita keluar dari mobil tersebut dengan senyuman manisnya.
"Pak dokter, Lisanya dipinjam dulu ya. Nanti kubalikin malam." Sapa salah satu wanita yang bertopi hitam bergaya metal.
"Boleh saja asalkan bawa lagi pulang. Oiya nama kamu siapa?" Tanya Rasya pada wanita yang bergaya metal tersebut.
"Aku Menala dok. Dokter tenang saja. Nanti aku anterin pulang lagi kok." Jawab Menala meyakinkan Rasya.
"Sebentar. Aku minta nomor hapemu." Rasya menyerahkan hapenya agar Menala menyimpan nomornya.
"Iiish Kakak buat apa sih?" Protes Lisa gemas.
"Ini penting buat jaga-jaga. Khawatir kamu kenapa-napa. Sedia payung sebelum hujan." Jelas Rasya setengah berbisik penuh kekhawatiran.
Sebenarnya Rasya pun ingin mengikuti konser tersebut apalagi yang konser grup band tersohor di jagad raya ini, namun ia teringat keinginan istrinya belum dibeli.
"Tenang aja dok, Lisa akan dijaga dengan sepenuh hati kupastikan tidak ada yang lecet sedikit pun." Menala berusaha menenangkan Rasya agar tidak khawatir terhadap adiknya.
"Oke aku jaga ucapanmu. Kalian kembalikan Lisa tepat jam sembilan malam. Pergilah sebelum pikiranku berubah. Hati-hati di jalan!" Tegas Rasya sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.
"Siap Pak dokter, Assalamualaikum!" Ucap mereka kompak.
...****************...
Suasana Eldorado Convention Center kota kembang begitu terlihat ramai pengunjung. Menala memarkirkan mobilnya di area parkir.
Netra Lisa tidak berkedip begitu melihat seorang laki-laki yang keluar dari sebuah mobil jeep. Dengan sigap Lisa turun begitu mengingat kejadian kemarin. Ia begitu yakin laki-laki tersebut yang sudah menolongnya kemarin dan yang ia titipi motor tanpa berpikir panjang.
"Eh Lis, kamu mau kemana? Brenda cepat susul Lisa!" Titah Menala begitu melihat Lisa keluar dari mobilnya.
Lisa berjalan cepat di belakang laki-laki yang menggendong gitar di pundaknya. Laki-laki tersebut dijaga ketat oleh aparat, karena memang dia artis lokal yang akan berkolaborasi dengan Sleng.
Ingin rasanya Lisa berteriak memanggil namanya. Namun ia bingung. Dia sama sekali tidak mengetahui namanya.
"Bang Berryyyyyyy!" Seorang gadis berteriak memanggil nama laki-laki tersebut sambil setengah berlari.
"Bang minta waktunya sebentar buat foto, ya Bang sebentar aja!" Mohon gadis belia yang begitu antusias bertemu dengan artis lokal.
Berry menurut. Ia begitu terlihat sangat ramah. Selain sesi foto, banyak orang juga yang meminta tanda tangannya.
"Ooh ternyata namanya Berry dia artis lokal?" Gumam Lisa bergeming melihat interaksi keduanya.
"Sudah ya aku masuk dulu! Sebentar lagi acara segera dimulai." Ujar Berry ramah, senyumnya selalu mengembang.
"Sepertinya dia memang orang baik." Gumam Lisa lagi.
Lisa terhenyak begitu ada yang menyenggol tubuhnya. Dia langsung setengah berlari menghampiri kerumunan orang yang hendak mengikuti artis tersebut. Kelamaan melamun sampai baru menyadari kalau dirinya sudah tertinggal jauh
"Pak aku mohon sebentar saja. Aku mau bertemu dengan Bang Berry. Aku temannya. Ini penting Pak!" Lisa memohon pada satpam yang berjaga di pintu belakang gedung.
"Tidak bisa Mbak. Sebentar lagi acara akan dimulai. Mbak bisa masuk lewat depan bukan lewat sini!" Tegas satpam tersebut.
"Bang Berry ini Lisa. Motorku mana Bang!" Lisa berteriak lantang.
Suara Lisa terdengar jelas oleh Berry sehingga Berry pun menoleh. Seraya menyapu penonton yang masih berjubel hendak memasuki area konser.
Berry melihat lambaian tangan seorang wanita cantik berhijab pasmina berwarna merah. Berry membalas lambaian tersebut dengan melambaikan tangannya sambil tersenyum.
Ada rasa tenang menyelimuti hati Lisa manakala Berry menatap ke arahnya. Setidaknya Berry masih mengingatnya. Lisa berharap setelah ini Berry mau mengembalikan motor kesayangan kakaknya.
ini mah mau masukin hotel prodeo lagi kan ktnya udah biasa......
hadooohh jadinyav kasian si beena alamat bakal di kekesek yeu mah sm ibunya elzan
Tapi dari sini kayaknya bakal susah dapat restu si Beena,Awal pertemuan dengan Mertua aja udah ada salah paham gitu..