NovelToon NovelToon
Takdir Baru di Malam Lamaran

Takdir Baru di Malam Lamaran

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Chicklit / Tamat
Popularitas:67.8k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 03 - Harga Malu

Amplop itu tidak tebal.

Isinya hanya uang simbolis untuk lamaran, bukan mahar akad nikah. Tapi begitu Nadia mengangkatnya, semua mata mengikuti gerakan tangannya seolah ia sedang memegang bara api.

Bu Lilis langsung berdiri.

"Itu uang lamaran dari keluarga kami."

"Untuk siapa?" tanya Nadia.

Bu Lilis tertahan.

Nadia menatapnya tenang.

"Malam ini keluarga Ibu datang untuk melamar saya. Kalau uang ini diberikan sebagai tanda keseriusan kepada calon pengantin perempuan, berarti ini untuk saya."

Eyang Marni menyahut cepat, "Itu untuk keluarga. Belum akad, belum jadi mahar. Jangan serakah."

Nadia menoleh.

"Serakah?"

"Iya. Baru juga ada masalah sedikit, kamu sudah pegang uang."

Sari langsung naik darah.

"Masalah sedikit? Calon suaminya ketahuan dengan Bella, Bu!"

"Kamu diam, Sari. Kamu sudah menikah, jangan ikut campur rumah ini."

Sari terdiam, wajahnya memucat. Kalimat itu selalu dipakai Eyang Marni untuk membungkamnya. Begitu seorang anak perempuan menikah, ia dianggap tamu di rumah orang tuanya sendiri. Tidak punya suara, kecuali diminta membawa oleh-oleh.

Nadia meremas amplop.

"Mbak Sari boleh bicara. Dia kakak kandungku. Justru orang-orang yang menjual harga diriku malam ini yang seharusnya diam."

"Nadia!" Pak Darto berseru lagi.

Nadia tidak menoleh.

Ia sudah terlalu hafal nada itu. Nada bapak yang malu pada tetangga, tapi tidak cukup marah pada orang yang menyakiti anaknya.

Pak Hendra mengusap wajah.

"Baik. Kita jangan berputar. Nadia, kalau kamu merasa perlu kompensasi, sebutkan angka yang wajar."

Bu Lilis langsung menarik lengan suaminya.

"Pak, jangan turuti. Nanti anak ini makin menjadi."

Nadia tersenyum.

"Saya memang akan menjadi. Menjadi orang yang tidak bisa kalian injak lagi."

Arman mendengus.

"Kamu berubah sekali malam ini."

Nadia menatapnya.

"Kamu juga. Tadi sore masih jadi calon suamiku. Sekarang jadi calon suami adik tiriku."

Wajah Arman merah.

Bella yang sejak tadi diam akhirnya berkata pelan, "Kak, jangan memperpanjang. Kalau uang yang kamu mau, nanti aku dan Mas Arman akan menggantinya setelah menikah."

Nadia tertawa.

"Kamu mengganti dengan apa? Dengan uang Mas Arman yang masih minta bensin ke ibunya?"

Beberapa saudara menoleh ke Arman. Arman tampak ingin meledak.

Bu Lilis tersinggung.

"Anak saya tidak seperti itu."

"Kalau begitu bagus. Berarti keluarga Wiratmaja mampu mengganti malu saya."

Eyang Marni menunjuk Nadia.

"Kamu ini benar-benar tidak tahu malu. Di depan calon mertua sendiri bicara seperti pedagang pasar."

Nadia melangkah mendekat ke neneknya.

"Calon mertua siapa, Eyang?"

Eyang Marni terdiam.

"Bu Lilis sebentar lagi jadi mertua Bella, bukan aku."

Bella menunduk. Bu Ratna memeluk bahunya lebih erat, seperti sedang melindungi anak tersayangnya dari seluruh dunia.

Nadia melihat pelukan itu.

Dulu ia sering bertanya-tanya, kenapa Bu Ratna tidak pernah memeluknya seperti itu. Kenapa setiap ia sakit, Bu Ratna hanya menaruh obat di meja dan berkata ia tidak boleh manja. Kenapa setiap Bella menangis sedikit, seluruh rumah berlari.

Jawabannya baru ia ketahui di kehidupan lalu, saat semuanya terlambat.

Bella bukan anak pungut yang kebetulan dibawa pulang.

Bella adalah anak kandung Bu Ratna.

Anak yang disembunyikan agar Bu Ratna bisa menikah dengan Pak Darto.

Nadia menahan napas.

Belum waktunya.

Kalau ia membongkar sekarang, mereka akan panik dan menyangkal. Bukti belum ada di tangan. Lebih baik ia biarkan Bu Ratna merasa masih aman.

Orang yang merasa aman biasanya lebih ceroboh.

"Saya minta tiga hal," kata Nadia akhirnya.

Pak Hendra mengangguk pelan. "Sebutkan."

"Pertama, keluarga Wiratmaja harus menjelaskan kepada Pak RT dan para tetangga bahwa saya tidak bersalah. Arman dan Bella yang mengkhianati lamaran."

Bu Lilis hendak menolak, tapi Pak Hendra mengangkat tangan.

"Masuk akal."

"Pak!" Bu Lilis menatap suaminya.

"Diam dulu," kata Pak Hendra.

Nadia melanjutkan, "Kedua, uang lamaran dan seserahan yang memang ditujukan untuk saya tidak boleh diambil keluarga ini. Semuanya jadi milik saya."

Eyang Marni berdiri dengan tongkat gemetar.

"Tidak bisa! Itu untuk biaya acara. Kursi, tenda, makanan, semua pakai uang rumah."

"Acara untuk lamaranku. Yang merusak acara Bella dan Arman. Kalau mau ganti biaya, tagih mereka."

Bella terkejut. "Kak..."

"Apa? Kamu mau laki-lakinya, tapi tidak mau biayanya?"

Bu Ratna menatap Nadia tajam.

"Nadia, jangan membuat adikmu makin tertekan."

"Aku tidak membuatnya masuk kamar. Aku hanya membuatnya membayar pintu yang ia buka sendiri."

Pak Hendra menekan pelipis.

"Baik. Yang ketiga?"

Nadia memandang keluarga Wiratmaja satu per satu.

"Lamaran keluarga Wiratmaja kepada saya tetap harus diselesaikan."

Semua orang kaget.

Arman yang pertama tertawa.

"Tadi kamu bilang tidak mau denganku."

"Memang."

"Lalu siapa? Kamu mau ayahku menikahimu?"

"Jaga mulutmu," Pak Hendra membentak.

Nadia tidak marah. Ia justru menatap Arman dengan senyum kecil.

"Keluarga Wiratmaja bukan hanya kamu, Mas Arman."

Bu Lilis langsung memahami arah kalimat itu. Wajahnya berubah.

"Tidak."

Pak Hendra menoleh. "Lilis."

"Tidak, Pak. Jangan bilang anak ini mau menyeret Raka."

Nama itu jatuh di ruangan seperti gelas pecah.

Om Raka.

Adik bungsu Pak Hendra. Usianya hanya beberapa tahun di atas Arman karena lahir dari pernikahan kedua kakek mereka. Tubuhnya lemah sejak kecil setelah hanyut saat banjir besar. Ia jarang ikut acara keluarga karena mudah lelah, tapi malam ini ia datang, duduk di kursi dekat pintu dengan wajah pucat dan batuk tertahan.

Sejak Nadia keluar kamar, Raka belum banyak bicara.

Tapi Nadia tahu.

Di kehidupan lalu, Raka mati muda.

Ia pernah mendengar ibu mertuanya berkata sambil menangis bahwa Raka terlalu baik untuk keluarga mereka. Nadia saat itu masih menjadi istri Arman, masih terlalu sibuk bertahan dari pukulan dan fitnah untuk memahami duka itu.

Sekarang Raka duduk di sana.

Hidup.

Matanya tenang, tapi tidak kosong. Ia melihat semua kekacauan ini seolah sedang menimbang satu per satu kebusukan yang disembunyikan keluarganya.

Nadia menatapnya.

"Om Raka belum menikah, kan?"

Bu Lilis langsung berseru, "Kamu lancang!"

Arman tertawa kasar.

"Kamu mau jadi tanteku?"

Nadia menatap Arman.

"Kenapa? Takut harus memanggilku Tante Nadia?"

Wajah Arman mengeras. Tawa beberapa orang tertahan di tenggorokan.

Bella mendadak panik.

Kalau Nadia menikah dengan Raka, posisinya berubah. Nadia tidak lagi menjadi perempuan yang kalah. Ia akan masuk keluarga Wiratmaja dari pintu yang lebih tinggi. Ia akan menjadi istri orang yang dihormati Pak Hendra.

"Kak," Bella berkata cepat, "jangan begini. Om Raka sakit. Kamu nanti menderita."

Nadia menoleh pelan.

"Kamu peduli aku menderita?"

Bella tersedak.

Raka akhirnya batuk pelan. Semua mata beralih padanya.

Ia berdiri, gerakannya tidak cepat, tapi tegap. Wajahnya pucat, namun suaranya jelas.

"Nadia, kamu yakin tahu apa yang kamu minta?"

Nadia menatapnya.

"Saya tahu."

"Tubuh saya tidak sehat."

"Saya lihat."

"Saya tidak bisa menjanjikan hidup mudah."

"Saya tidak mencari hidup mudah."

Raka diam.

Untuk pertama kalinya malam itu, suasana tidak terasa seperti pasar yang ribut. Ada keheningan yang lebih dalam, seolah semua orang tidak berani ikut campur.

Nadia melangkah mendekat.

"Saya hanya ingin keluarga yang berjanji datang melamar saya tidak membuang saya seperti barang rusak karena anaknya sendiri berkhianat. Kalau Om Raka keberatan, saya tidak akan memaksa."

Arman mencibir.

"Bagus. Raka pasti tidak mau."

Raka menoleh ke Arman.

"Kamu diam."

Arman membeku. Seumur hidup, ia jarang mendengar pamannya bicara dengan nada seperti itu.

Raka kembali menatap Nadia.

"Kalau saya menerima, kamu tidak bisa menjadikannya sekadar pembalasan."

Nadia menjawab tanpa ragu.

"Saya tidak akan menikah hanya untuk membalas. Tapi kalau ada orang tersiksa karena melihat saya hidup lebih baik, itu urusan mereka."

Sudut bibir Raka bergerak tipis.

Sari menahan napas.

Pak Hendra memandang adiknya, lalu Nadia, seperti melihat jalan keluar yang tidak ia duga.

Bu Lilis tampak hampir pingsan.

Bella menggenggam tangan Bu Ratna.

Raka berkata, "Baik. Kalau kamu tetap ingin keluarga Wiratmaja bertanggung jawab, saya bersedia melamarmu."

Ruang tengah meledak.

"Raka!" Bu Lilis menjerit.

"Om!" Arman berseru tidak percaya.

Eyang Marni menatap Nadia seperti melihat hantu.

Nadia justru tersenyum.

Ia memandang Arman dan Bella.

"Mulai sekarang, kalian boleh lanjutkan cinta kalian."

Lalu ia menatap Arman lebih lama.

"Tapi lain kali, panggil aku dengan benar."

Arman tidak menjawab.

Nadia membantu dengan suara lembut.

"Tante Nadia."

1
Murni Sumiarti
Bingung
🤣🤣🤣
Endang Sulistia
di bab atas anak sari namanya Rani...trus mereka buka warung ..🤔🤔kok makin bingung ya thor🤦🤦
Endang Sulistia
bingung mbak Lilis apa Bu Lilis 🤦🤦
Endang Sulistia
Arman cucu pak Hendra,trus ortunya siapa ya..🤔🤔
Endang Sulistia
🤭🤣🤣🤣 biar hemat ya
Endang Sulistia
setajam silet ya nad
Endang Sulistia
oke Tante..🤪🤪🤪
Endang Sulistia
🤪🤪🤪🤪
ria sopingi
gw bingung cerita ini, raka adik Hendra tp manggil lilis ibu sementara si Arman manggil ibu katanya keponakan raka hadohhhh
Yan Wui
Kok anaknya sari mana ya kak
chataleya
sakit jiwa nih Arman 🤭
Ari Peny
d sini rada bingung kok sari panggil kak k nadia dan aq penasaran raka kerjanya apa kok uangnya d pakai buat arman
chataleya
dasar Bella.... andalannya cuma tangisan...
chataleya
semestinya keluarga adalah tempat yang teraman bukan membuat rasa terancam. gimana sih pak Darto??!!!
chataleya
sebenarnya Nadia kehilangan. tapi kehilangan kesempatan masuk neraka rumah tangga bersamamu Arman. 🤣 dan kesempatan itu diambil Bella 🤭
chataleya
untung ada mbak sari....👍
chataleya
bagaimana Arman, apa kamu seperti merasa kehilangan sesuatu??? 🤭
chataleya
duar..duar..duar... Shok kan kaliannnn... 🤣🤣🤣 jantung aman kan Arman... Bella... 🙈
chataleya
detik-detik kemerdekaan Nadia 😍
chataleya
aku bacanya seperti sedang menonton film India 🤭 jadi agak greget gitu dengan kelakuan keluarga Nadia 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!