Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21
Setelah malam email Bima, Naura mengira hidupnya akan sedikit tenang.
Tentu saja ia salah.
Ketenangan di rumah Arkan biasanya hanya bertahan sampai pemilik rumah mencoba melakukan sesuatu sendiri.
Hari Selasa sore, Naura baru masuk rumah Arkan ketika bau hangus menyambutnya dari arah dapur.
Ia berhenti di foyer.
"Pak Arkan?"
Tidak ada jawaban.
Bau hangus semakin jelas.
Naura melepas sepatu dengan cepat, mengganti sandal rumah, lalu berjalan ke dapur. Di sana, Arkan berdiri di depan kompor dengan wajah datar. Di atas wajan, sesuatu yang seharusnya roti panggang sudah berubah menjadi benda hitam tipis.
Asap tipis naik ke udara.
Alarm asap belum berbunyi, tetapi sudah seperti bersiap.
Naura mematikan kompor.
"Pak Arkan sedang apa?"
Arkan menatap wajan.
"Membuat roti."
"Dengan wajan?"
"Pemanggang rotinya tidak menyala."
Naura menoleh ke meja. Pemanggang roti berdiri di sana, kabelnya belum dicolokkan.
Ia menatap kabel.
Arkan mengikuti pandangannya.
Hening.
"Saya lupa," katanya.
Naura menarik napas panjang.
Jangan tertawa.
Ini klien.
Klien yang hampir membakar dapur karena roti.
"Bapak lapar?"
"Sedikit."
"Kenapa tidak pesan makanan atau tunggu saya?"
"Kamu sedang di rumah Kakek-Nenek."
"Bapak bisa pesan."
"Aku..." Arkan berhenti, lalu memperbaiki, "Saya ingin mencoba sendiri."
Naura menatap roti hangus itu.
Ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa marah.
Laki-laki ini bukan tidak bisa membeli makanan. Ia bisa membeli restoran kalau mau. Tapi ia berdiri di dapur, mencoba membuat roti, dan gagal di langkah mencolokkan kabel.
"Pak Arkan," kata Naura pelan.
"Ya."
"Kalau ingin belajar, bilang. Jangan bereksperimen sendirian dengan api."
Arkan menatapnya.
"Kamu marah?"
"Saya sedang mengelola risiko."
"Itu terdengar seperti marah versi profesional."
Naura tidak tahan. Ia tertawa pendek.
Arkan melihatnya, lalu telinganya memerah.
"Saya buang ini," katanya, mengambil spatula.
"Jangan pegang wajannya. Masih panas."
Tangannya berhenti di udara.
"Baik."
Naura membersihkan wajan, membuka jendela dapur, dan menyalakan exhaust. Setelah itu ia membuat roti panggang telur keju yang benar-benar bisa dimakan.
Arkan duduk di meja dapur, memperhatikan setiap gerakannya seperti sedang mengikuti pelatihan investasi.
"Jadi harus dicolokkan dulu."
Naura menatapnya.
Arkan mengangguk sendiri. "Baik."
"Pak Arkan, itu bukan ilmu rahasia."
"Untuk orang yang tidak pernah memakai pemanggang, semua alat rumah tangga adalah alat asing."
Jawaban itu terlalu serius.
Naura meletakkan piring di depannya.
"Makan dulu."
Arkan mengambil satu potong roti. Menggigit. Wajahnya tetap datar, tetapi ia menghabiskan cepat.
"Enak."
"Karena tidak gosong."
"Karena kamu yang membuat."
Naura pura-pura sibuk menutup botol saus.
Kalimat itu sederhana. Tidak menggoda. Tapi entah kenapa, telinganya terasa hangat.
Ia pernah menerima pujian dari klien besar, dari direktur, dari orang yang mengukur nilainya lewat angka transaksi. Pujian mereka selalu terdengar seperti tanda tangan di bawah invoice: berguna, tapi dingin. Kalimat Arkan berbeda. Tidak rapi, tidak disiapkan, dan justru karena itu terasa lebih berbahaya.
"Pak Arkan jangan terlalu mudah memuji," katanya akhirnya.
"Kenapa?"
"Nanti saya percaya."
Arkan menatapnya. "Kalau benar, tidak apa-apa dipercaya."
Naura kehilangan kata selama dua detik, lalu memilih mencuci talenan.
Setelah camilan itu, ia mulai menyiapkan makan malam. Arkan tidak pergi ke ruang kerja. Ia tetap duduk di dapur, membaca dokumen di tablet.
Sesekali ia mengangkat kepala.
"Itu apa?"
"Daun salam."
"Itu?"
"Lengkuas."
"Kenapa dipukul?"
"Supaya aromanya keluar."
"Kalau tidak dipukul?"
"Aromanya lebih pelit."
Arkan mengangguk seperti menerima konsep ekonomi baru.
Naura mulai terbiasa dengan pertanyaannya. Tidak seperti Bagas yang bertanya karena malas berpikir, Arkan bertanya karena benar-benar ingin tahu. Perbedaannya terasa jelas.
Ketika makan malam siap, Arkan membawa piring ke meja.
Satu piring.
Utuh.
Naura memberi komentar, "Bagus. Hari ini tidak ada korban pecah belah."
"Ada roti."
"Roti tidak termasuk pecah belah."
"Tetap korban."
Naura tersenyum.
Mereka makan dalam keheningan yang tidak canggung. Naura tetap makan di dapur belakang sesuai batas, tetapi malam itu Arkan menunggu sampai ia keluar untuk bertanya soal rencana usahanya.
"Kamu sudah memikirkan pilot project?"
"Belum matang."
"Ceritakan yang belum matang."
Naura duduk di sisi meja kecil, jarak cukup jauh.
"Saya ingin mulai dari layanan pendamping lansia harian. Bukan perawat medis penuh. Lebih ke pengaturan makan, obat, aktivitas ringan, laporan ke keluarga, dan kebersihan dasar."
"Target?"
"Keluarga kelas menengah atas yang orang tuanya tinggal sendiri atau bersama ART tanpa pelatihan."
"Masalah terbesar?"
"Kepercayaan. Mereka takut membuka rumah untuk orang asing."
"Dan pekerja?"
"Pekerja takut dimanfaatkan, dibayar tidak jelas, atau diperlakukan seperti bukan manusia."
Arkan menatapnya lama.
"Kamu bicara dari dua sisi."
"Karena saya pernah di sisi pekerja."
"Dan sekarang?"
Naura tersenyum tipis. "Sekarang saya sedang mencoba membangun sisi ketiga."
"Pemilik sistem."
"Mungkin suatu hari."
Arkan mengangguk. "Mulai dari SOP kunjungan. Laporan keluarga bisa jadi nilai jual."
"Saya juga pikir begitu."
"Gunakan foto sebelum-sesudah? Tapi hati-hati privasi."
"Iya. Tidak boleh mengekspos lansia."
Percakapan itu mengalir. Bukan seperti klien dan household manager. Bukan juga seperti atasan dan bawahan. Lebih seperti dua orang yang sama-sama menikmati ide yang sedang dibangun.
Pukul sembilan, Naura bersiap pulang.
Arkan mengambil kunci mobil.
"Saya antar."
"Pak, saya bisa..."
Arkan menatapnya.
Naura berhenti.
"Baik."
Di mobil, hujan turun tipis. Jalan kompleks basah dan tenang.
Arkan tiba-tiba berkata, "Kalau nanti kamu membuat perusahaan itu, jangan hilangkan batas seperti yang kamu jaga sekarang."
Naura menoleh.
"Maksudnya?"
"Banyak orang memulai dengan niat baik, lalu ketika bisnis tumbuh, pekerja kembali jadi angka."
Naura diam.
Itu nasihat yang penting.
"Saya akan ingat."
"Tulis."
"Pak Arkan suka sekali menyuruh saya menulis."
"Karena kamu serius kalau menulis."
Naura menatap kaca depan. Butir hujan memantulkan lampu jalan.
"Baik. Saya tulis."
Saat mobil berhenti di rumah Bu Marini, Arkan tidak langsung membuka kunci pintu.
"Besok saya pulang terlambat. Ada makan malam bisnis."
"Baik. Saya siapkan makanan ringan saja untuk setelah Bapak pulang?"
"Tidak perlu."
Naura menoleh.
Arkan menambahkan, "Tapi kalau ada sup ringan..."
Naura tersenyum. "Saya siapkan."
Arkan tampak lega.
Naura turun dari mobil.
Di depan pintu, ia menoleh. "Pak Arkan."
"Ya?"
"Besok kalau lapar sebelum saya datang, pemanggang roti harus dicolokkan dulu."
Wajah Arkan tetap datar.
Telinganya merah.
"Saya sudah tahu."
Naura masuk sambil tertawa.
Dari balik tirai, Bu Marini kembali menurunkannya pelan.
"Aditya," bisiknya.
Pak Aditya tidak membuka mata dari kursi.
"Aku tahu. Kamu mengintip lagi."
"Cucu kita belajar memanggang roti."
"Kemajuan besar?"
"Lebih besar dari merger perusahaan."
Pak Aditya tertawa kecil.
Di luar, mobil Arkan baru pergi setelah lampu kamar Naura menyala.
jgn setengah 2 ya