Aghnia Khalid adalah putri bungsu salah satu Emir Qatar dan putri Emir Al Jordan, Alexander Khalid dan Kalila Al Jordan. Gara-gara kakaknya, Kaysan mengundang band rock favorit nya di acara ulang tahunnya yang ke 24, Aghnia yang berusia 22 tahun berkenalan dengan Mark Becker, sang vokalis.
Tanpa dinyana Mark jatuh cinta dengan putri Emir itu tapi Aghnia tidak menyukai kehidupan bebas Mark yang memiliki banyak cewek-cewek groupies. Aghnia menolak mentah-mentah perasaan Mark.
Tanpa Aghnia tahu, Mark menyimpan identitas rahasia dan mau tidak mau, demi mendapatkan putri Emir, Mark harus melepaskan kehidupan hedonisme nya lalu kembali ke kehidupan aslinya.
Generasi Ketujuh Klan Pratomo
Jangan plagiat !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aghnia Memancing
Mark dan Pedro pun turun menuju ruang kerja SSA FBI itu dan tampak Jordy sudah di dalam bersama dengan Agen Dazzle.
"Are you okay Boss ?" tanya Jordy khawatir dengan kondisi psikis Mark.
"Honestly? Kacau .." jawab Mark lelah.
"Boss minum apa ?"
"Hanya bir, Jordy. Don't worry..." ucap Pedro.
Jordy mengangguk.
"Ayo kita semua duduk ..." ajak Pedro Pascal. "Kita bicarakan tuntutan hukum apa yang akan diterima Lunox ..."
***
Suite Room Aghnia
"Mark mengkonfrontasi Lunox ?" tanya Aghnia saat Jeddah melaporkan dari kiriman pesan Jordy.
Naradipta dan Rylee saling berpandangan.
"Iya nona ... Dan kondisi mental Mr Becker dalam keadaan tidak baik-baik saja.." jawab Jeddah.
"Aku tidak heran, Jeddah, karena bagi Mark, Lunox itu macam teman dekat apalagi lima tahun bersama di band, touring, rekaman bersama dan hampir setiap hari ketemu ... Makanya langsung kena mental deh ... " komentar Rylee.
"Terkadang teman yang dianggap sangat kita kenal, bisa jadi menusuk dari belakang..." sahut Naradipta yang dengan santainya menonton proses autopsi mayat dari Ipad-nya.
"Seriously, Dipta ... Tontonan kamu aneh seleranya..." ejek Rylee.
"Ini keren lho ..." balas Naradipta sambil tersenyum manis.
"Untung elu lahir di keluarga waras sebab bisa-bisa kamu jadi smile face killer ..." sungut Rylee.
Aghnia hanya mendengar percakapan kedua adiknya yang serius ingin menjadi bagian dari FBI seperti ayah dan Oom mereka.
"Rylee ... Bisa temani aku ke kantor Oom Pedro?" Aghnia menatap ke arah Rylee yang terkejut.
"Kamu mau apa ?"
"Menghadapi Lunox di ruang interogasi."
Ketiga orang disana melongo.
"You're kidding!" seru Naradipta dan Rylee bersamaan.
***
FBI Headquarters Quantico Virginia
Mark dan Pedro terkejut saat Naradipta mengubungi mereka dan mengatakan akan ke kantor FBI.
"Aghnia ngapain kemari?" tanya Mark bingung karena dirinya sudah bersiap hendak pulang bersama Jordy.
"Entah ... Tapi kalau sama Dipta dan Rylee, pasti dia merencanakan sesuatu..." jawab Pedro yang tidak heran kalau keponakannya sama saja macam ibunya yang badass.
"Oom... Apakah Aghnia ..." Mark menatap horor ke Pedro.
"Oom tidak mau memikirkannya..." jawab Pedro.
***
"TIDAK!"
"Tapi Oom ..." protes Aghnia.
"Sayang, kamu itu diincar... Nyawa kamu kemarin hampir melayang ... Dan sekarang kamu minta bertemu dengan Lunox berduaan di ruang interogasi ?" pendelik Pedro.
Mark dan Jordy melongo saat mendengar permintaan Aghnia karena bagi mereka itu adalah perbuatan nekad.
"Jeddah ... Kasih tahu nona kamu itu ... Jangan nekad !" pinta Mark ke Jeddah.
"Masalahnya Mr Becker... Ibu nona Aghnia lebih nekad juga..." senyum Jeddah membuat Mark memegang dahinya.
Ya Tuhan ...
"Oom, aku tidak akan apa-apa. Santai saja ..." jawab Aghnia dan Mark bisa melihat bagaimana gadisnya tampak santai dan cenderung dingin.
"Sayang ... Kamu tidak apa-apa bersama dengan orang gila itu ?" Mark menggenggam tangan Aghnia.
"Tenang saja. Tidak apa-apa..." senyum Aghnia.
"Tapi saya tetap bersama nona Aghnia..." Jeddah menatap ke semua orang. Bagaimana pun, dia harus menjaga keselamatan nonanya.
"Jika Jeddah bersama Aghnia di dalam... Aku tenang" ucap Mark.
"Tapi tidak boleh ada senjata apapun, Jeddah !" Pedro menatap pengawal Aghnia itu.
Jeddah mengeluarkan pistol, pisau dan baton dari dalam tasnya lalu meletakkan diatas meja Pedro. "Tanpa ini pun saya bisa membunuh orang dengan tangan kosong ..." senyum Jeddah membuat semua orang disana tertawa kecil.
Siapapun tidak akan pernah meragukan pengawal para Emir baik Emir Dubai maupun Emir Qatar.
***
Sekali lagi, Lunox dibawa ke ruang interogasi dan kali ini wajahnya langsung berubah dari yang senang karena mengira akan bertemu dengan Mark menjadi wajah dingin dan menyeramkan.
"Dimana Mark?" tanya Lunox.
"Dia tidak akan menemui kamu lagi" jawab Aghnia tenang.
"Aku tidak mau melihat mu !"
"Tapi bukankah kamu ingin membunuh aku ? Jadi saingan kamu berkurang ? Mark akan menjadi milik kamu ?" lanjut Aghnia.
***
Agen Dazzle yang berada di ruang monitor, menoleh ke arah Pedro Pascal.
"Boss, apakah Miss Khalid kuliah di psikologi ?" tanya Agen Dazzle.
"Nope. Dia lulusan desain grafis sepertinya..." jawab Pedro Pascal. .
"Dia macam kamu, Boss... Sangat tenang dan sedikit profiling..." kekeh Agen Dazzle.
"Aku harus bangga sebagai Oomnya dong ..." senyum Pedro.
***
"Sekarang, aku tantang kamu ... Bunuh aku di depan Mark, di depan semua orang yang melihat dari semua kamera CCTV itu. Lakukanlah... Lakukan seperti kamu lakukan pada semua korban-korban kamu ... Daripada kamu menggunakan substitusi dari wanita-wanita tidak bersalah dan berdosa karena tidak tahu apapun, here I am..." tantang Aghnia.
Lunox menatap Aghnia dengan tatapan tidak percaya.
"Apa maksud kamu ?"
"Apa maksud aku ? Oh, Lunox, janganlah pura-pura bodoh ... Kamu ingin aku kan ? Aku kamu anggap sebagai penghalang hubungan kamu dan Mark ? Akulah penyebab bubarnya Kiss of the Dragon macam Yoko Ono membuat John Lennon meninggalkan The Beatles ... Bukankah begitu ?" cecar Aghnia.
"Kamu gila !" bentak Lunox.
Aghnia menaikkan sebelah alisnya. "Aku gila? Really ?"
"Ya ! kamu gila karena mengira aku akan membunuhmu disini karena Mark akan meninggalkan aku selamanya ! Aku akan membunuhmu di luar, bukan di ruang pengap ini ! Lagipula, semua peralatan aku tidak ada disini ! Damn it ! Semua aku tinggal di rumah ! Aku akan membuat rusak wajahmu macam Black Dahlia hingga menjadi jelek !" tawa Lunox.
Aghnia hanya menatap dingin. "Terima kasih ..."
Lunox melongo. "Apa maksud kamu ?"
"Karena FBI lebih bisa masuk ke rumah kamu untuk mendapatkan barang bukti yang lebih banyak ..." Aghnia tersenyum manis. "Thank you ..."
Gadis itu pun keluar dari ruang interogasi diikuti oleh Jeddah. Sebelumnya Lunox tidak mengijinkan FBI menggeledah kediamannya tapi dia terjebak dengan ucapannya sendiri.
"F***** YOU ! F*** YOU B1TCH !" teriak Lunox geram dan mengambil kursi lalu dilemparkannya ke arah kaca dua arah itu. Beruntung kaca itu tebal dan anti peluru jadi tidak rusak.
***
Aghnia menghampiri Pedro Pascal yang tersenyum lebar. Keduanya saling bertost ria.
"Good job Aghnia !" senyum Pedro Pascal. "Sekarang kalian semua pulang, biar FBI yang ambil alih ..."
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
boss dan assisten sama" satu tujuan..
semangat buat kalian berdua
Podo yoo